Mengapa Umat Kristen Lebih Mendukung Ahok Daripada Hari Tanoe?

Politik, agama, dan bisnis adalah tiga pilar bangsa yang masing-masing memiliki warna dan kekuatan tersendiri.  Pemimpin dimasing-masing bidang ini memiliki kekuasaan yang apabila digabungkan menjadi kekuatan yang luar biasa.  Anies Baswedan membuktikannya di Pilkada DKI 2017.  Hari Tanoe menjadi pemain lainnya yang terlihat menggunakan taktik yang sama.

Anies melalui konsultan politiknya EEP S. Fatah bukan hanya telah berselingkuh dengan para pemimpin agama, di akhir Pilkada terkuak para pebisnis kelas berat juga ada dibelakag mereka.  Lengkap sudah threesome politika yang berakhir dengan kekalahan Ahok, dan menyisakan PR bersama, radikalisme.

Narasi perselingkuhan inilah yang membuat umat Kristen lebih mendukung Ahok daripada Hari Tanoe (HT).

Ahok dengan konsep BTP (Bersih, Transparan, Profesional) sangat kukuh untuk tetap berpolitik dengan murni tanpa melibatkan gereja, mapun bisnis secara langsung.

Meskipun diisukan dibelakang Ahok ada 9 naga, realitasnya dilapangan adalah hal terbalik.  Para pebisnis yang mendukung Ahok menyadari bahwa bisnis akan mengalami disruption apabila revolusi Ahok dilakukan.  Tapi mereka menyadari dan percaya bahwa dikemudian hari ini akan lebih baik untuk anak-cucu.  Nasionalisme yang mengalahkan kapitalisme.

Sebaliknya, pebisnis murni seperti Hari Tanoe dan Sandiaga Uno yang melompat ke politik sulit sekali dilepaskan dari kepentingan bisnis grup dan kelompok masing-masing.

Sandiaga Uno mungkin adalah satu-satunya wagub yang fokus utamanya menjual saham BUMD yang profitable, sementara PR pemprov yang lain masih menumpuk. Mengapa?

Karena memang itu yang biasa dia kerjakan, jual beli saham. Dan dengan lihai dia melibatkan sentimen agama untuk mendukung alasannya.  Itulah pebisnis oportunis, yang penting cuan atau untung.

Bosowa, Kalla Group, MNC Group, Para Group, dll terlihat dengan jelas memiliki kepentingan dan menggunakan kekuatan mereka untuk menghancurkan Ahok dengan segala idealismenya.

Hari Tanoe dan Hasyim Djojohadikusumo adalah dua pebisnis kristen yang tidak malu-malu lagi menggunakan gererja sebagai jaringan mereka meraup dukungan.  Sama dengan Anies-Sandi menggunakan mesjid.

James Riady, adalah pebisnis kristen lainnya yang sering disinggung bersebrangan dengan Ahok, tapi James tidak secara terang-terangan bergerilya menggunakan gereja.

Umat Kristen terutama dari kelompok protestan sejak Martin Luther lebih condong untuk memisahkan agama dan politik terutama secara institusi. Sebab itu, melihat gereja yang diacak-acak secara politis, bukannya dukungan, justru antipati yang didapat.

Sebagai misal, apabila Hari Tanoe vs Jokowi dalam pilpres 2019, hampir dipastikan suara orang Kristen “normal” akan ke Jokowi bukan ke Hari Tanoe. Artinya, orang Kristen tidak pernah diindoktrinasi untuk harus memilih orang kristen siapa yang harus jadi pemimpin bangsa.

Tapi siapa yang berkompeten dan tepat itu yang harus dipilih, dan terutama lagi yang tidak menggunakan nama Tuhan untuk digadaikan justru yang akan mendapatkan simpati.

Realitas threesome politika ini harus menjadi PR bersama dalam usaha mencerdaskan kehidupang bangsa.  Para pemimpin agama (apapun merk-nya), dan pemimpin bisnis telah terbukti menjadi pemain-pemain penting dalam menentukan arah bangsa. Mereka inilah yang akan dirayu para pemain politik.

Para pemimpin agama menjadi titik kunci karena mereka memegang massa, para pemimpin bisnis karena mereka memiliki uang, sementara para pemimpin politik memiliki legalitas.  Oligarki yang sempurna.

Tidaklah heran, gugurnya Ahok adalah sebuah signal bahwa oligarki tidak menyukai pemisahan kekuasan, mereka lebih menyukai perselingkuhan antar mereka.

Tidak penting itu mesjid, gereja, kuil, candi, atau klentheng, yang penting adalah kekuasaan yang didapat, itulah nafsu memimpin sang oligarki.

Jadi jelas, mengapa Ahok lebih disukai umat Kristen daripada Hari Tanoe, karena dengan segala kelemahannya, Ahok mewakili kristen yang benar, sementara Hari Tanoe entah mewakili siapa.

Pendekar Solo

Rekonsiliasi Seperti Apa Mas Anies?

Paska Pilkada DKI, rekonsiliasi adalah kata kunci yang diteriakkan Anies-Sandi dan jendral perangnya Eep S. Fatah yang sukses secara mengejutkan dengan dengan strategi politisasi mesjid.    Suatu himbauan yang positif, dan simpatik yang jelas dengan gampang diterima kita-kita pembela NKRI.

Tapi, realitas kampanye horor 8 bulan yang merobek-robek janji tenun kebangsaan telah membuat skeptis, dan sulit untuk mempercayai lagi ketulusan ajakan itu. Apa yang sebenarnya  menjadi motivasi politik Anies-Sandi?

Apakah cukup dengan mengajak relawan-relawan Badja nonton bioskop, mengumpulkan lagi simpul-simpul relawan nasionalis dan menyuarakan “Ayo Ikut Kerja”.  Kerja apa saudara-saudari sebangsa dan setanah air? Kerja ikut mensukseskan Prabowo jadi Presiden 2019 dan HT menjadi wakilnya?

Melanjutkan merajut tenun kebangsaan?  Maaf ya, saya tidak pernah berhenti untuk merajutnya, sedikit pun tidak pernah mencoba merobek. Tapi kampanye-kampanye SARA yang menyesakkan dada, menyakitkan hati, merusak mimpi, dan sangat tidak manusiawi yang telah menginjak-injak apa yang telah dikerjakan bertahun-tahun.

Tapi rekonsiliasi tetaplah rekonsiliasi. Rekonsiliasi tidak bisa ditawar, itu komitmen kita sejak awal.  Bahkan menurut saya, rekonsiliasi bangsa harus dikerjakan bukan hanya di Jakarta.  Yang menjadi pertanyaan saya, rekonsiliasi seperti apa?

Rekonsiliasi memiliki akar kata konsiliasi yang artinya menghentikan kemarahan.  Dan itu dimulai dari apology atau kata maaf.  Dalam kasus Pilkada, kalau umat Islam marah kepada Ahok, Ahok sudah minta maaf dan sudah diadili secara hukum.  Bahkan sudah kalah Pilkada. Kurang apa lagi?

Tapi sebaliknya, saya ini adalah orang yang marah besar karena seorang Anies yang notabene saya dukung untuk membangun Indonesia Baru ternyata dengan semena-mena melacurkan diri dengan politik SARA.

Dan saya yakin orang seperti saya ini banyak sekali.  Dan sampai detik ini, permintaan maaf itu tidak ada sama sekali.  Merasa bersalah pun tidak.  Rekonsiliasi seperti apa yang ditawarkan?

Saya tidak ada partai politik, saya bukan orang politik.  Saya hanya seorang WNI biasa dipinggiran kota Solo yang tetap mendukung Anies-Sandi menjadi gubernur yang amanah di Jakarta, tapi tidak bisa menerima cara kampanye yang kotor selama Pilada DKI 2017.

Tapi, saya terinspirasi dengan Finding Nemo seperti Ahok untuk melawan arus, mungkin arus yang sangat kecil dalam gelombang samudra politik yang sangat deras.  Tapi saya yakin true voice akan mengalahkan false noise,sekecil apapun suara itu.

Tidak ada mayoritas atau minoritas dalam pandangan tenun kebangsaan. Selama “kredo” ini masih dipercaya, maka langkah awal rekonsiliasi yang harus dilakukan adalah pernyataan apakah hak untuk menjadi pemimpin bangsa ini masih dimiliki semua WNI, atau hanya agama tertentu?

Apabila seorang Anies tidak mempercayai ini lagi, tenunan seperti apa yang diharapkan?

Berhentilah bermain-main dengan kata. Apabila benar mau menjadi pemersatu, dan jembatan bagi semua, marilah kita mulai dari titik nol.

“Maafkan saya Jakarta, karena cara kampanye saya yang menyakiti, saya akan tebus dengan bekerja dengan baik dan benar dalam 5 tahun kedepan.

Kalimat yang saya dan bangsa ini tunggu, untuk awal sebuah proses panjang rekonsiliasi.  I am ready, are you?

Pendekar Solo

Upaya Menjadikan Ahok Kartu Mati

Pilkada DKI sudah selesai, tapi terjadi anomali yang membuat sejarah harus menuliskan dengan tinta emasnya.  “Pesta Kekalahan” Ahok alias BTP telah membuat dunia menengok.  Sampai detik ini, 1000 bunga dikirim ke balaikota untuk menghantar kekalahan BTP. Luar Biasa.

Entah siapa yang memulai, haters akan mengatakan ini rekayasa, berbagai nyinyiran dilontarkan terhadap fenomena alam ini, tapi yang jelas hati nurani melihat Ahok dicintai rakyat DKI, baik yang memilih atau yang tidak.  Paling tidak, 70% menyukai kerjanya.

Arus opini Ahok dizolimi dengan politisi SARA sangat deras karena datang dari luar kota, luar pulau, bahkan sampai luar negeri.  Bahkan tebakan saya, sampai “dunia lain” pun ikut mendukung 🙂  Karena ajaib sekali jalan hidup seorang Ahok.

Bisa dikatakan, bagi BTP,Pilkada DKI 2017 adalah kekalahan yang paling sukses yang pernah dia alami.

Arus yang deras ini diantispiasi pihak lawan maupun musuh politik BTP. Terlihat bahwa mereka membuat sebuah cerita bahwa apabila BTP tetap mendapat posisi di pemerintahan, terutama kabinet, revolusi akan terjadi.
Sebuah intimidasi yang frontal.

Intimidasi yang mungkin bukan omong kosong, karena mereka mungkin membuat strategi mengejar Jokowi melalui BTP.  Tapi kita harus mengerti, persis seperti kata BTP, “kekuasaan itu ditangan Tuhan. Dia yang memberi, dia yang akan mengambil”.

Artinya, mencoba membuat BTP kartu mati di politik Indonesia adalah usaha yang sia-sia apabila Tuhan berkenan yang lain.  Intimidasi seperti apapun, itu hanya seperti singa yang mengaum-aum hendak menerkam, tapi tidak bisa melompati pagar Ilahi yang mengitarinya.

Saat ini, BTP bagaikan sedang memasuki fase kepompong dalam perjalanannya mengabdi ke masyarakat. Fase yang tidak mudah bagi ulat pekerja yang terus menghasilkan karya-karya terbaik. Tapi fase ini adalah fase yang harus dilalui.  Itu saya setuju dan sepakat.

Tapi fase kepompong adalah fase sementara. Cepat atau lambat, kepompong akan jadi kupu-kupu.  So beautiful.  Tugas kita, adalah menjaga tidak ada tangan jahil yang mengganggu kepompong itu.  Tidak untuk dibuka terlalu cepat, apalagi dimatikan.

BTP bermula dari politisi biasa, mungkin dengan kemampuan diatas rata-rata. Tapi sebenarnya banyak politisi yang bisa melakukan pekerjaan sekualitas BTP.

Tapi itulah sejarah, semua adalah cerita Tuhan.  Dan keberanian serta kejujuran yang eksepsional membuat BTP bertahan. Semakin ditekan, BTP telah muncul bagaikan rembang tengah hari.

Pledoi BTP dipengadilan, menjadi pledoi bersejarah yang lucu, inspiratif, religius, pluralis, sekaligus berani dan akademis.  BTP telah berhasil naik kelas.

Selamat saya ucapkan.  Tetap rendah hati dan tunggu kairos, dan waktu Tuhan.  Ketika waktuNya tiba, Indonesia akan menerima BTP.  Bukan sebagai pemimpin Jakarta, tetapi pemimpin Indonesia.

Pendekar Solo

Perang Badar Kembali Disebut, Masihkah Adakah Harapan?

Pilkada DKI 2017 adalah pilkada yang tidak hanya menguras uang, tenaga, dan pikiran para paslon.  Emosi dan kebatinan rakyat Indonesia, baik dalam maupun luar negeri benar-benar terkuras.  Semua nge-fb, nge-blog, nge-tweet, dan nge-nge yang lain mempertanyakan masa depan Indonesia. Mengajak Perang Badar?

Perang antara kewarasan dan kegilaan agama membuat miris orang yang bertaqwa dengan benar.  Ajakan “perang badar” dari Anies dan Amien Rais di malam Pilkada benar-benar diluar nalar kewarasan seorang yang mengaku Pancasilais. Agama diobok-obok sampai titik memalukan.

Kalau dikatakan kita harus selalu optimis, dan punya harapan, di malam pilkada ini harapan terhadap Anies untuk menjadi bapak bangsa semakin menipis atau bahkan sudah menghilang.  Tapi itu tidak membuat harapan akan Indonesia Baru itu lenyap.

Optimisme untuk membangun bangsa dengan kewarasan, niat baik, dan semangat nasionalisme selalu ada.  Karena masih banyak relawan-relawan yang tulus yang bekerja dalam diam, tidak ada dalam radar media manapun, tapi tetap bekerja untuk bangsa dan negara.

Dalam sebuah peperangan, kita tidak bisa mengharapkan semua akan survive, selalu akan ada yang gugur. Biarlah yang gugur dikenang masa lalunya yang indah dan menawan, karena bagi yang mati hanyalah kembang melati dan rasa simpati.

Pekerjaan Rumah (PR) terbesar setelah Pilkada adalah radikalisme, sektarianisme, dan primodialisme yang sudah terbukti adalah kuda-kuda liar yang gampang ditunggangi para opportunis.

Dengan munculnya para opportunis sektarian ke pemermukaan maka harapan untuk sapu bersih Indonesia dari oknum-oknum lebih dipermudah.  Ada analogi lalang dan gandum. Diawalnya, lalang dan gandum kelihatan sama, tapi diwaktu yang tepat, lalang dan gandum akan terlihat dengan jelas.  Sehingga, mencabut lalang tidak akan merusak gandum.

Saat ini, melalui Pilkada, lalang dan gandum terpisah dengan sangat jelas. Seakan-akan Tuhan sendiri yang menarik garis demarkasi.  Dengan dibersihkannya lalang-lalang dari gandum, maka hasil yang diberikan akan semakin besar.  Itulah harapan yang harus terus kita pegang.

Jargon “perang Badar” bagi Anies mungkin sekedar kata-kata memotivasi untuk memenangkan 19 April, tapi bagi WNI itu adalah tanda perang melawan para radikalis, oportunis, dan yang cuma suka manies-manies karena terbukti terlalu banyak makanan manies bisa terkena diabetes.

Masih mau perang? Bukannya takut mas Anies, mbah Amien, tapi maaf ga level lagi.  Karena Nabi Sulaiman mengajarkan:

Batu adalah berat dan pasirpun ada beratnya, tetapi lebih berat dari kedua-duanya adalah sakit hati terhadap orang bodoh

Pendekar Solo

Ketidaksiapan di Musim Menuai

Tuhan bergerak dari musim ke musim. Dari kronos ke kairos, menuju ke kronos yang lain.  Ada musim menabur, dan ada musim menuai. Setiap musim, yang dibutuhkan adalah ketergantungan mutlak kepadaNya. Kehendak Tuhan adalah yang terutama, tidak penting apa yang kita mau, yang terpenting adalah apa yang Dia mau.

Mazmur mengatakan orang yang menabur dengan airmata akan menuai dengan sukacita.  Artinya, Tuhan pastikan apa yang kita kerjakan selalu ada upahnya. Bukan hanya anugerah, kemurahan, dan rahmat, tapi Tuhan secara adil memberikan kembali apa yang sudah kita tabur.  Tuhan tidak pernah berhutang kepada siapapun.

Tuhan bergerak dalam legalitas yang sempurna,  Dia tidak pernah dan tidak bisa menyimpang dari apa yang sudah dikatakanNya. Sebab itu, kita bisa percaya 100% bahwa Tuhan tidak akan lupa dengan semua jerih payah dan apa yang kita kerjakan untukNya.

Tapi menjadi ironis, ketika musim menuai tiba, dan kita tidak ada ditempat dan tidak siap menuai. Inilah kasus-kasus yang memprihatinkan kita semua. Mengapa tidak siap? Karena sudah tidak percaya lagi dengan visi, mimpi, dan tujuan yang ada sehingga digress atau menyimpang.

Pohon jagung akan terlihat hasilnya dalam waktu relatif cepat 3 bulan atau lebih sedikit. Tapi bisa dibayangkan ketika kita harus menanam buah kelapa, dan menunggu bertahun-tahun pohon itu berbuah.  Kadang frustasi, dan tidak tahan membuat kita menyimpang dan mengambil keputusan praktis.

Persistensi atau ketekunan membuahkan hasil yang otentik dan asli. Tapi karbitan dan jalan cepat selalu melahirkan sesuatu yang menyimpang. Musim menuai adalah pesta bagi kita yang bertekun, tapi airmata (baca: karena menabur lagi) bagi orang yang menyimpang.

Sangat penting kita selalu mengerti musim Tuhan dan ikut mengalir didalamnya. Kita harus terus percaya bahwa meskipun manusia tidak melihat, tapi Tuhan melihat.  Meskipun ketika kita dahulu hanya menabur ditempat-tempat yang tidak mendapat spotlight, tapi Tuhan tetap tidak pernah melupakan.

Yang terpenting adalah selalu menjaga hati dalam setiap musim.  Musim boleh berbeda, musim boleh berganti, tapi hati tetap hanya Tuhan semata.

Di gunung maupun dilembah, susah maupun senang, tertindas  ataupun promosi, hati kita cuma terpaut kepada 1 hal.  Biarlah kehendakNya yang jadi, di bumi seperti di surga.  Apakah kita siap menuai?

Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.
(I Kor. 15:58)

Hanny Setiawan

19 April 2017 Akan Memperlihatkan Wajah Indonesia

Demokrasi seringkali hanya dilihat sebagai cara untuk mendapatkan posisi atau kekuasaan dengan cara pemungutan suara atau voting. Tapi sebenarnya demokrasi secara filosofis adalah sebuah sistem yang mampu untuk memetakan kondisi nyata masyarakat.   Diperlihatkannya sebuah wajah.

Apa yang terjadi di Pilkada DKI, sepanas apapun jalannya kampanye, adalah bentuk dari demokrasi.  Dan demokrasi di DKI sejauh ini memperlihatkan wajah Indonesia adalah wajah yang kusut, berkeringat, dan penuh bopeng radikalisme agama.

Demokrasi tidak bisa bohong, karena demokrasi hanyalah sebuah sistem. Manusianyalah yang berbohong.  Politik uang sampai intimidasi memperlihatkan bahwa masyarakat Indonesia masih bisa dibeli, dan ditakut-takuti.

Apabila masyarakat memilih karena uang, maka itulah realitasnya.  Suka atau tidak.  Demikian juga mungkin karena ada intimidasi  maka keadaan itupun harus diterima apa adanya bahwa masyarakt Indonesia itu masih bermental budak yang diliputi roh penakut.

Poinnya, kita tidak bisa menyalahkan demokrasi, karena demokrasi hanya memperlihatkan siapa kita sebenarnya.

Sebab itu, 19 April 2017 akan memperlihatkan wajah Indonesia yang sebenarnya.  Karena Jakarta bisa dikatakan sebagai perwakilan Indonesia, maka wajah Jakarta adalah wajah Indonesia.

Sampai sejauh ini, pertempuran mengerucut menjadi Islam nusantara vs Islam radikal.  Ahok-Djarot mewakili Islam moderat, Anies-Sandi mewakili Islam radikal. Apabila misalnya moderat menang 51-49, maka cara membaca yang benar adalah hampir separo dari Jakarta dipengaruhi Islam radikal.

Hal ini jelas membuat masa depan Indonesia menjadi dipertanyakan. Bahkan jika moderat menang 70-30 pun masih terasa terlalu banyak penyuka radikalisme.  Membayangkan 30% DKI Islam radikal adalah sebuah bayangan yang membuat kita mengerutkan kening.

Lebih parah, apabila moderat kalah.  Sudah tidak bisa mempengaruhi kebijakan karena diluar sistem, di luar sistem pun kalah kuat.  Inilah sebabnya seorang seperti Buya Syafii sampai mengangkat senjata ikut mendukung Ahok (baca : Buya Syafii Angkat Tongkat, Bahaya Radikalisme Masuk Siaga Satu)

Sejauh ini, demokrasi memperlihatkan bahwa bahaya laten radikalisme sudah di lampu merah, itupun merah yang sangat tua.  Kemenangan radikalisme melalui Anies-Sandi akan membuat perjuangan menegakkan Pancasila dan NKRI semakin keras.

Jadi apapun hasilnya, sekarang ini trend yang terlihat masih tidak bagus. Raport demokrasi sejauh ini memperlihatkan akar rumput masyarakat Indonesia masih rawan untuk dimanipulasi.   Artinya masyarakat masih buta politik, buta hati, dan buta mata.  Sebuah pekerjaan rumah yang besar bagi para relawan Indonesia Baru.

Radikalisasi Indonesia tidak terjadi dengan tiba-tiba di Pilkada DKI 2017. Bertahun-tahun proses radikalisasi sudah terjadi, Ahok hanyalah pintu masuk mereka ke panggung yang lebih besar.  Anies hanyalah kuda liar yang dijinakkan untuk kepentingan.  Itulah keadaan Indonesia yang harus kita terus perjuangkan.

Pendekar Solo

Pesan Tuhan Untuk Dilakukan, Bukan Cuma Dimimpikan, Kita Harus Temukan JalanNya!

Dalam perjalanan mengikut Tuhan, baik orang karismatik, ataupun kristen tradisional sama-sama mencari kehendak, dan jalanNya untuk dilakukan. Kadang-kadang istilah seperti nubuatan (prophetia, yunani) menjadi sangat menakutkan dan bahkan mendapatkan nama buruk, karena sering diselewengkan menjadi “Loe Buat”.

Tapi terlepas dari kontradiksi yang ada, sebenarnya setiap orang Kristen yang benar-benar sudah lahir baru percaya bahwa pada akhirnya kita butuh “petunjuk” atau direction  Ilahi dalam perjalanan menuju tujuan akhir kehidupan.  Entah bagaimana bentuk dari petunjuk Tuhan itu.

Ada yang terharu melihat anak gelandangan, dan akhirnya mengerti bahwa itu adalah panggilan Tuhan untuk melayani di bidang sosial.  Atau sangat haus dan lapar dalam menyanyi untuk Tuhan, latihan musik, dan berkumpul mendiskusikan tentang pujian bagiNya.  Ternyata, itu semua petunjuk untuk panggilan menjadi pemusik.

Tuhan adalah gembala (Maz 23) tidak mungkin Dia menelantarkan kita, dan membiarkan kita hidup dalam kegelapan. Di saat yang tepat dengan caraNya, dia akan menunjukkan JalanNya kepada kita domba-dombaNya.

Yang menjadi masalah, kita seringkali terbuai dengan janjiNya, dan lupa untuk terus bertekun menemukan JalanNya bagaimana memenuhi semua janjiNya.

Semua pesan, janji, mimpi, dan/atau nubuatan adalah hal yang sangat menyenangkan untuk dibayangkan. Tetapi, semua itu harus dikerjakan. Tidak berhenti di strategi, tapi harus sampai ke program.  Kira-kira itu istilah manajemen untuk menerangkan betapa pentingnya menemukan jalanNya.

Secara sederhana, dapat dikatakan, setelah kita mendapatkan pesan Tuhan untuk melakukan sesuatu – sebuah visi – maka kita harus memakai semua tenaga, pikiran, dan sumber daya untuk mencari JalanNya.  Find the Way!

Berhenti untuk hanya bermimpi, mulai kerjakan mimpi-mimpi Tuhan dengan mencari JalanNya.  Doa, puasa, nasihat, merenung, apapun usaha harus dikerjakan supaya mimpi Tuhan terlaksana, di waktuNya, dengan caraNya.

Jalan Tuhan mungkin jalan yang sempit, tapi jalan-jalanNya adalah jalan damai sejahtera. Kalau Dia sudah berkehendak, pasti ada jalanNya.  Jangan pernah lupakan hal ini.  Tidak bisa menyerah sampai titik dimana Tuhan katakan “Sudah Selesai!”

Mimpi-mimpi indah, kata-kata nubuatan yang membuat kita melambung tinggi, tidak akan sampai kemana-mana tanpa kerendahan hati untuk terus belajar menemukan hatiNya.  Let’s make it happen, His dream!

Hanny Setiawan

Buya Syafii Angkat Tongkat, Bahaya Radikalisme Masuk Siaga Satu

Selalu ada pelangi setelah hujan, masih ada kupu-kupu setelah ulat dan kepompong.  Artinya, selalu ada berkat dalam setiap peristiwa yang paling buruk pun.

Pilkada DKI sudah hampir sampai titik final, dari dua kubu sudah terasa kelelahan batin, raga, sampai kepada dana. Dari kecapaian politik SARA, Pilkada DKI telah membuka mata kita bahwa bahaya radikalisme sudah masuk siaga satu.

Anies-Sandi terlihat sudah “mentok” dalam bermanuver untuk mencari dukungan, terutama Anies.  Pemilih inti Anies (core votter) yang pada awalnya overlap dengan pemilih Ahok, sekarang ini sudah tidak ada lagi gaungnya. Yang ada hanyalah sisa-sisa robekan tenunan yang entah kapan bisa terajut kembali, itupun apabila mungkin.

Sandi kehabisan modal dana, Anies kehabisan modal sosial.  Nama baik keduanya semakin hancur, dan hanya Tuhan yang tahu sampai titik nadir mana mereka akan meluncur.  Ataukah ini sudah menjadi akhir karir politik mereka apabila kalah di Pilkada?

Pidato kebangsaan Anies terakhir di TV One mempelihatkan bahwa Anies Rasyid Baswedan sudah kehabisan barang dagangan untuk dijual.  Aura negarawan yang biasanya muncul, sekarang ini sudah hilang.

Bukan soal DP 0%,  KJP+, penggusuran, atau reklamasi yang membuat Anies-Sandi ditinggalkan pemilih inti.  Tapi perselingkuhan politik dengan kelompok radikal membuat Anies-Sandi harus menelan pil bunuh diri.

Radikalisme telah membangkitkan para pemilih rasionalis dan bhinneka untuk mendukung Ahok-Djarot berapapun harganya.  Trend H-11 mengarah kepada “Asal Bukan Anies” yang merupakan pembalikan keadaan dari Asal Bukan Ahok yang para haters coba nge-frame.

Setelah GP Ansor yang dengan tegas mendukung Ahok karena tidak mau mendukung Cagub yang didukung kelompok radikal, Buya Syafii kembali bersuara lantang untuk melawan radikalisme yang dia sebut sebagai “Teologi Maut

Syafii Maarif alias Buya Syafii, yang adalah juga mantan ketum pimpinan pusat Muhammadiah ini tidak main-main dengan pernyataannya. Bahkan diberitakan dia mengirim pesan singkat kepada Kapolri supaya  negara tidak kalah dengan radikalisme.

Tongkat otoritas Buya Syafii sebagai ulama berhaluan Islam Nasionalis dan Muhammadiah adalah tongkat yang sangat berpengaruh di perpolitikan Indonesia.  Dengan kata lain, secara politik, Anies-Sandi sudah tersudut ke pinggiran jurang.

Gerindra sebagai partai berbasis kebangsaan yang memiliki jaringan nasionalis pun ternyata sudah sampai titik nadir.  Ketika Rita Tiara Panggabean dari organisasi sayap Gerindra, Kira (Kristen Indonesia Raya) mencoba menggoreng gereja, yang didapat malah antipati yang lebih.

Keponakan Prabowo dan juga putri Hasyim Djojohadikusumo , Rahayu Saraswati, yang beragama kristen ketika muncul di Mata Najwa dengan Pandji sebagai timses Anies-Sandi ternyata juga tidak memiliki kekuatan politik yang cukup untuk mengangkat Anies-Sandi.

Sarah, nama panggilan Rahayu, justru keceplosoan dengan menuduh pendeta-pendeta DKI kampanye mendukung Ahok di mimbar.  Sebuah blunder politik yang memperlihatkan betapa masih hijaunya Sarah.  Sentimen negatif dari kelompok Kristen di trigger karena ulah mereka sendiri.

Seluruh elemen kebangsaan yang bhinneka, dan nasionalis baik muslim maupun non-muslim sekarang ini mulai secara terbuka mendukung Ahok-Djarot.  Bukan karena mereka 100% cocok dengan Ahok-Djarot, tapi karena radikalisme sudah dianggap sampai level berbahaya.

Siaga satu radikalisme ini terus harus dicanangkan bukan hanya di Pilkada DKI 2017, tapi paska 19 April 2017, karena setelah ini mereka akan membidik Jokowi di pilpres 2019.  The clash of two kingdoms has started.  Dimana kita berpihak? Negara Pancasila atau Negara Agama?

Pendekar Solo

GP Ansor Mendukung Ahok, Pertanda Anies Melewati Batas

Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Yaqut Cholil menyatakan dengan blak-blakan mendukung Ahok-Djarot terutama karena hendak melawan radikalisme.  Sikap politik para pemuda ini bagaikan sebuah tempelengan ke Anies-Sandi yang didukung kelompok-kelompok radikal.

Istilah “sangat menolak” yang digunakan Cholil menandaskan bahwa GP Ansor tidak main-main dengan isu kesatuan bangsa. Bisa diartikan, Anies-Sandi dianggap sudah kelewat batas, sehingga membuat GP Ansor yang bisa dikatakan adalah barisan NU Muda meradang.

NU (Nahdatul Ulama) yang mengusung Islam Nusantara dalam berteologi adalah pilar NKRI yang dari waktu ke waktu selalu muncul untuk menyelamatkan bangsa dari perpecahan berbasis agama. Dukungan politik GP Ansor ini mengimplikasikan Anies-Sandi adalah pintu perpecahan bangsa, dan harus dihentikan.

Dengan jumlah Nahdliyin yang puluhan juta, melawan NU jelas merugikan Anies-Sandi sendiri.  Bukan hanya di Pilkada DKI, tapi juga di karir politik kedepan.

Stigma boneka radikal, mencla-mencle, bahkan pemecah belah bangsa bukan hal yang gampang untuk dihilangkan.  Sebuah harga yang seharusnya terlalu mahal untuk ukuran seorang Anies, bahkan Sandi.

Meskipun semua baru ditentukan 19 April 2017, manuver politik GP Ansor memberikan dorongan angin politik yang sangat kencang kepada Ahok. 30% pemilih yang “takut” memilih Ahok walaupun puas dengan kinerjanya mendapat kepastian teologis, praktis, sekaligus politis untuk memilih Ahok.

Apalagi perlu dicatat bahwa GP Ansor bukanlah barisan relawan yang hanya berkoar-koar di media sosial, mereka adalah banser-banser yang bergerak bagaikan panser Jerman di lapangan.

Terbukti, mereka bahkan membuka Posko di 47 tempat pemilihan (TPS) yang disinyalir rawan dengan intimidasi.  Ini merupakan tandem yang luarbiasa dengan relawan-relawan medsos Ahok yang super militan.

Terlepas dari pilhan politik, kepentingan, dan juga selera, keputusan politik GP Ansor ini akan dicatat sejarah sebagai sebuah pembelajaran penting bagi politisi-politisi di Indonesia.

Jangan pernah bermain-main dengan politik SARA, bahaya transnasional yang mengintip akan menyatukan seluruh elemen kebhinekaan di Indonesia untuk melawan siapapun boneka yang dipasang didepan.

Ketegasan GP Ansor dan NU secara keseluruhan adalah sebuah angin sejuk yang menyegarkan ketika Indonesia sedang dilanda badai angin bau SARA. Kamsia GP Ansor, Kamsia NU.  Tuhan memberkati, dan teruslah menjadi Rahmatan ‘lil Alamin.

Pendekar Solo

Nama Yehova, Allah Israel Tiba-Tiba Menjadi Pembicaraan di Media Indonesia

Kampanye kreatif Pilkada DKI 2017 tiba-tiba terasa bagaikan sebuah ibadah pujian dan penyembahan.  Menariknya, kata-kata “sakral” Yehovah biarpun tidak disebutkan menjadi kata yang tersebar dan menjadi pembicaraan.

Lagu yang digunakan untuk kampanye Anies-Sandi ternyata adalah plagiat dari lagu Hashem Meleach dari Band Israel Gads Elbaz (Sumber) yang artinya adalah “The Lord is King, Jehova our Lord and God!”

Bagi orang Kristen, terasa suasana kampanye secara budaya menjadi terasa tidak asing.  Karena memang pada dasarnya Kristen mengakui, Yehovah (Allah Israel) sebagai Tuhan yang berinkarnasi di dalam diri Yesus Kristus.

PKS (Partai Keadilan Sosial) sebagai partai Islam totok mungkin tidak begitu mengerti lagu ini, sehingga akhirnya menjadi bully di medsos.  Tapi, sebenarnya ada baiknya juga fenomena ini menjadi sebuah trigger untuk dialog kebangsaan berbasis agama Semitik.

Yahudi, Kristen, dan Islam adalah tiga agama besar yang berpusat secara historis kepada Ibrahim atau Abraham.  Jadi, sebelum ada perbedaan-perbedaan yang muncul, ketiga agama ini secara historis tidak bisa memungkiri memiliki kepercayaan kepada “Tuhan” yang sama.  Yaitu, Tuhannya Ibrahim atau Abraham.

Ketika pendekatan teologis dihilangkan, dan pendekatan historis lebih dikedepankan Yahudi, Kristen, dan Islam seharusnya bisa hidup lebih nyaman bersama-sama karena semuanya adalah anaknya bapak Ibrahim.  Paling tidak dengan “kecelakaan kampanye” Anies-Sandi dan PKS ini justru membuka wacana kita semua untuk berfikir kebangsaan.  Blessing in disguise.

Pendekar Solo