Pelajaran Sebuah Kapsul Kosong

Ketika kita percaya, maka kita diciptakan kembali, sebab itu disebut ciptaan baru (II Kor 5:17). Kekuatan dari “percaya” tidak bisa dipungkiri lagi. Bahkan dalam dunia kesehatan ada yang disebut efek placebo, dimana kapsul kosong bisa lebih berhasil dari kapsul yang berisi, semua karena percaya.

Martin Luther pun mengingatkan kembali kepada Ekklesia, GerejaNya, untuk kembali kepada simple credo, “percaya saja” dengan mengingatkan bahwa orang benar hidup dari iman (Rom 1:16-17). Artinya, bukan karena perbuatan manusia tapi perbuatan Tuhan.

Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat  (II Kor. 5:7)

Kebenaran-kebenaran Firman Tuhan yang demikan berkuasa menjadi tidak efektif dalam kehidupan sehari-hari orang beriman karena kita tidak trust lagi dengan semuanya.

Pertempuran awal yang menggoyahkan sebuah kepercayaan, dimulai dengan serangan  doubt  atau ragu-ragu.

Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? (Luk 24:38).

Dari keraguan, akan muncul ketidakpedulian (ignorance), yang akhirnya membawa kepada ketidakpercayaan (unbelief). Lebih hebatnya, apabila diteruskan ketidakpercayaan akan membawa kepada kebencian (hate) terhadap orang yang percaya.

Percaya atau trust tidak memiliki level atau tingkatan. Either kita percaya, atau tidak. 99% percaya adalah sebuah keraguan. Dan kita mengerti percaya yang 100% itulah yang membuat kebenaran menjadi hidup (rhema).

Implikasinya, pertempuran antara keinginan daging dan roh (Rom 8:5) sebenarnya adalah pertempuran antara percaya atau tidak. Dan pertempuran itu ada di pikiran dan perasaan kita. Karena kita melihat dengan mata jasmani, merasakan yang terjadi, sehingga untuk percaya menjadi terasa sulit.

Kepercayaan membutuhkan asupan makanan.  Kita perlu banyak mendengar (Rom 10:17). Artinya, tidak mengkonsumsi ketidakbenaran, lebih fokus kepada kebenaran.

Ketika kita paham bahwa inti pertempuran adalah antara percaya atau tidak, kita tidak akan mudah membuka pintu ketidakbenaran, dan kebohongan didalam hidup kita. Ketika Hawa membuka pintu, maka yang terjadi akhirnya dia tidak lagi percaya FirmanNya, tapi justru percaya dusta si jahat.

Ef 4:27 menyatakan untuk kita tidak memberikan kesempatan kepada si jahat. Si bapak pendusta sekarang ini hanya memiliki satu proyek, menyebarkan kebohongan sehingga orang percaya menjadi ragu-ragu, sampai akhirnya menjadi tidak percaya bahkan membenci kebenaran.

Akankah kemenangan salib tidak lebih meyakinkan daripada sebuah kapsul kosong? KorbanNya sempurna, rencanaNya yang terbaik, pertolonganNya tidak pernah terlambat. Apa yang membuat kita ragu? Percaya saja, pasti kita menang. Just believe.

Hanny Setiawan

Please follow and like us:

Pelayanan Apostolik Dan Kekristenan Egosentris

Kecenderungan manusia yang berpusatkan kepada diri sendiri alias egosentris telah mempengaruhi bentuk kekristenan yang egosentris juga. Bukan hanya egosentris soal jasmani, tapi secara rohani pun kristen telah menjadi agama barat yang kapitalis dan egosentris.  Berbeda sekali dengan kekristenan otentik yang berakar kepada pelayanan apostolik.

Pelayanan apostolik yang dipulihkan Tuhan dalam 50 tahun terakhir adalah model pelayanan Alkitabiah yang didesain  untuk membawa ekklesia atau tubuh kristrus atau gereja universal menuju kesempurnaannya.

Pelayanan apostolik secara natural bukanlah pelayanan yang one man show, tapi pelayanan yang saling melengkapi dan bergantung.  Rasul, Nabi, Penginjil, Gembala, dan Guru dikenal sebagai pelayanan lima jawatan (five fold ministry) yang adalah perpanjangan tangan dari Kristus sebagai kepala (Ef 4:11-16).

Lima jawatan ini dipimpin oleh rasul sebagai sebuah keluarga, sekaligus pasukan, dan bagian dari pemerintahan kerajaan yang dipimpin Yesus Kristus sendiri sebagai Raja yang duduk bertahta disebelah kanan Allah Bapa.

Code Archer dari Revive Israel menyatakan dengan jelas pelayanan lima jawatan ini sebagai berikut:

The worldwide church is supposed to be led by apostles, who work with skilled team members of prophets, evangelists, pastors and teachers. Together, they raise up many “colonies” (ekklesia – congregations), all of which have the same mission– to make earth like heaven! The apostle’s job description includes keeping his team unified and focused on the mission for which they were sent, without compromising the King’s commands and desires. (Sumber)

Rasul (apostle)  sebagai leader dari pelayanan lima jawatan berfungsi sebagai jendral lapangan yang memegang otoritas sebagai wakil dari sang Raja sendiri. Sebab itu pelayanan lima jawatan disebut juga sebagai pelayanan apostolik.

Pelayanan apostolik ini selalu melayani dalam konteks ekklesia atau tubuh Kristus tidak dalam konteks untuk pribadi. Panggilan Tuhan selalu pribadi tapi selalu untuk kepentingan tubuh Kristus. Jadi, kekristenan seharusnya tidak pernah bersifat egosentris, tapi Kristosentris.

Tanpa pelayanan apostolik, kekristenan pasti akan egosentris, minimal akan menjadi “grup-centris”.  Artinya, hanya berpusat kepada kelompok sendiri dan melupakan yang lebih besar, ekklesia.

Pemulihan dan pembangunan Ekklesia adalah manifestasi nyata dari doa Kristus di Yoh 17 untuk menjadikan kita semua satu. Ekklesia dibangun dari batu-batu hidup  (I Pet 2:5) menjadi sebuah rumah yang hidup rohani bagi semua orang percaya. Bukan batunya yang penting, tapi rumah rohani itulah yang menjadi tujuan akhir.

Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani (I Pet 2:5a)

Benar kita dipanggil, diproses, bahkan harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita secara pribadi. Tetapi Tuhan tidak pernah mendesain kita hidup untuk diri sendiri, dan semua yang menyenangkan Tuhan dibumi ini adalah untuk kepentingan Ekklesia, tubuh Kristus.

Hanny Setiawan

Please follow and like us:

Terorisme Agama, Bagaimana Gereja Harus Bersikap?

Lagi-lagi bom bunuh diri meledak mengoyak tubuh ibu pertiwi. Di Kampung Melayu (24/5/2017), Jakarta Timur, 5 orang tewas dan sekitar 10 lainnya luka-luka.   Terorisme kembali hadir.

Timeline medsos penuh konspirasi teori, dan terasa ada settingan politik yang sangat teroganisir. Tensi politik Indonesia kembali meningkat, kita kembali was-was. Ibu pertiwi kembali menangis.

Kita hanya bisa menduga dan polisi yang akan bertugas membongkar semuanya. Tapi satu hal yang pasti, luka Pilkada DKI 2017 akibat politik SARA yang masih menganga tiba-tiba bagaikan tersiram cuka, sakit dan pedih rasanya.

Bom Kampung Melayu ini adalah yang ketiga selama periode Pilkada DKI 2017. Bom ke-3 ini mungkin bisa disebut injury time, karena terjadi setelah semua selesai : Pilkada, maupun proses hukum Ahok.

Bom pertama adalah bom molotov yang  ditujukan ke Gereja Oikumene Sengkotek, Samarinda. Bom yang membuat miris karena anak-anak  menjadi korban. Bom ini meledak 8 hari setelah demo 411 yaitu 13 November 2017.

Anak Intan Olivia Marbun berusia 2 tahun meninggal sehari setelah bom, tapi media tidak begitu menggubris kisah ini. Dan setahu saya pejabat tinggi negara pun terlihat tidak begitu mau memperpanjang soal ini.  Pilkada DKI 2017 tetap dengan gaya politik SARA-nya, bahkan menyiapkan yang lebih besar demo 212.

Bom kedua adalah bom panci di Bandung 27 Februari 2017, bom ini disinyalir serupa dengan bom yang meledak di Kampung Melayu. Bom kedua ini meledak setelah putaran Pilkada DKI yang pertama, yang dimenangkan Ahok 43%.

Setelah Bom itu, saya sempat menuliskan supaya Anies-Sandi menghentikan politik SARA supaya tidak membuka pintu dan celah untuk radikalisme menunggangi.

Apa daya, suara kecil saya di media sosial belum mampu mempengaruhi mereka. Putaran kedua menjadi lebih ngeri karena merubah pesta gagasan menjadi perang badar.

REFERENSI : Semoga Bom Bandung Menyadarkan Anies-Sandi Untuk Tidak Bermain SARA Lagi

Dan sekarang, bom ketiga sudah merenggut nyawa. Apa yang saya was-was-kan sudah terjadi.  Mungkin analisa amatir saya terlalu paranoid, ketiga bom itu tidak ada hubungannya dengan Pilkada DKI 2017. Tapi biarlah saya tetap menyuarakannya untuk tidak lagi bermain-main dengan isu sektarianisme.

Akan selalu ada penunggang gelap dalam setiap kampanye, tugas kita adalah membuang dan menjaga masing-masing kubu supaya penunggal gelap itu tidak menemukan momentum.

Jangan justru kita menunggangi penunggang gelap, itulah hancurnya batasan kampanye etika moral Anies-Sandi. Dan sekarang kita satu bangsa harus menghadapi yang lebih besar.

Hubungan bom bunuh diri dengan kepercayaan, dan agama tidak bisa ditutupi lagi. Dan hal ini adalah celah besar untuk dipolitisir lebih lanjut. Disini Gereja Tuhan harus berhikmat sehingga bisa berdiri di posisi yang benar.

Saya setuju dengan Denny Siregar ketika dia mengatakan akar perpecahan di Indonesia bukan syiah dan sunni, tapi salah satu yang terbesar adalah Kristen – Islam, kedua adalah Tionghoa – Pribumi, ketiga adalah PKI.

Ketiga isu besar ini sudah mengakar diindoktrinasi di akar rumput Indonesia, kita tidak bisa menganggap remeh, tapi harus menghadapi dengan kepala dingin dan berani. Bukan untuk saling menyalahkan tapi mencari jalan keluar. Itu semangat rekonsiliasi yang benar.

Dalam konteks terorisme agama, Gereja Tuhan harus menyatakan dengan tegas bahwa terorisme bukan bagian dari Islam.  Dan juga bagian dari agama manapun.  Agama langit haruslah bermanfaat untuk kemanusiaan, apabila tidak maka kita bisa pastikan itu adalah penyelewengan ajaran agama.

Aura adu domba sangat terasa, Gereja sebagai agen rekonsiliasi tidak bisa berdiam diri. Kita harus muncul sebagai anak-anak damai atau peacemakers.  Itulah esensi SALIB yang harus dimanifestasikan dalam kehidupan pengikut Yesus Kristus.

Saat-saat seperti ini adalah saat-saat yang dilematis. Karena kita menghadapi orang-orang yang tersamar dan terbungkus dengan simbol-simbol agama. Menyerang mereka akan bisa dengan gampang diplintir menyerang seluruh agama yang diwakili simbol-simbol tertentu.

Dilematis bukan berarti pasif. Kita harus dengan tegas menyatakan garis batas antara fanatik, sektarian, intoleran, radikal, sampai kepada terorisme. Dimana batasnya? Apakah ada batasnya? Apakah perlu dibatasi?

Pertanyaan-pertanyaan ini perlu diangkat dalam dialog-dialog antar umat beragama seperti yang Jokowi harapkan. Agama harus muncul sebagai kekuatan moral, bukan politik, untuk mengembalikan semangt kebhinekaan, tepo sliro, dan kemanusiaan yang menjadi esensi budaya Indonesia.

Doa kita bersama, para politisi dan pejabat negara BERHENTI memainkan politik SARA, dan kita mulai fokus menghadapi musuh ideologis yang sebenarnya.  Terorisme!

Hanny Setiawan

Please follow and like us:

Perlukah Ahok Kembali ke Politik?

Sehari setelah mencabut hak banding, Ahok mengajukan surat pengunduran diri kepada Jokowi sebagai presiden RI. Dengan ini, secara legal maka Ahok 100% tidak ada ikatan politik  lagi  dengan pemerintahan baik secara hukum maupun praktis.

Ahok benar-benar dalam posisi bebas dari semua yang berbau politik praktis saat ini. Bagi yang punya perusahaan, ini bagaikan kehilangan CEO terbaik yang dimiliki. Bagaikan Steve Job meninggalkan Apple, atau Bill Gates meninggalkan Microsoft.  Bagi yang mengerti.

Berita berseliweran bahwa Ahok tidak mau lagi kembali ke politik, ada juga yang mengatakan Ahok lebih baik keluar negeri dan melupakan negeri ini, atau ada juga yang masih mengharapkan Ahok kembali dengan kekuatan massa lebih besar menghancurkan semua bigot-bigot Indonesia. Semuanya hanya berita.

Kita tidak mengerti apa yang di hati Ahok, bahkan mungkin sekarang ini dia sedang mencari apa yang lebih baik dia lakukan. Tapi, yang jelas, saya berani mengatakan bahwa pasti Ahok kecewa. Itu dinyatakan secara eksplisit dalam suratnya.

Siapa tidak kecewa dengan keadaan yang menyakitkan, memberikan terbaik untuk perusahaan, tapi malah dijebloskan ke penjara oleh majikannya.

Pengadilan mewakili rakyat, hasil Pilkada mewakili rakyat. Terlepas siapa aktor politik yang dibelakangnya, rakyat Indonesia adalah yang pihak yang menolak Ahok. Terutama rakyat Jakarta.  Itulah realitasnya.

Pernyataannya sekarang, apakah nantinya Ahok lebih baik kembali ke politik atau tidak?

Ahok sudah di penjara pun, lawan pun masih begitu takut Ahok kembali lagi ke gelanggang. Amien Rais, sang kakek kontroversial, bahkan berteriak-teriak untuk mengusut korupsi Ahok yang gilanya “buku fiksi” juga dibuat oleh Marwan Batubara dengan judul “Usut Tuntas Dugaan Korupsi Ahok” .  Paranoid!

Dalam prinsip Alkitab, pengikut Kristus tidak memiliki hak lagi. Hidupku bukan aku lagi, tapi Kristus yang didalamku (Gal 2:20).  Paulus mengatakan bahwa kita ini adalah tawanan Roh (Kis 20:22) artinya kita hanya bisa taat saja. Tuhan tahu yang terbaik dalam memutuskan.

Kristen tidak percaya takdir, tapi percaya destiny dan panggilan. Demikian juga Ahok, sebagai Tionghoa Kristen, Ahok sudah menunjukkan contoh bagaimana menjadi WNI Kristen yang baik dan benar, terlepas dari segala kelemahan dia sebagai manusia.

Dan fungsi dia untuk bangsa ini jelas, dia adalah seorang pendobrak, dan pembuka jalan (forrunner). Dalam bahasa kelompok Karismatik terikini, Ahok bergerak di apostolik profetik untuk menjadi garam dan terang di marketplace bukan saja dibalik dinding-dinding gereja.

Jadi, bagi Ahok, sebenarnya kembali atau tidak ke pemerintahan, bukan lagi pendapat pribadi Ahok atau pendukungnya. Tapi apa maunya Tuhan itu yang harus diselesaikan. Secara destiny, jelas Ahok tidak akan bisa dipisahkan dari sejarah perpolitikan Indonesia.

Ahok sudah jadi bagian wall of fame, politikus dan negarawan Indonesia. Tapi, secara panggilan, Apakah musim yang baru Ahok harus di politik praktis, atau menjadi “guru bangsa” hanya Ahok dan Tuhan yang tahu dan kita mendukung dalam doa.

Sebagai rakyat Indonesia, disisi lain, saya melihat bahwa Indonesia membutuhkan Ahok untuk kembali. Kembali bukan untuk menang atau kalah tapi kembali untuk memberi teladan dan contoh bagaimana berpolitik, bernegara, dan menjadi pejabat publik yang benar.

Bagaimana cara kembalinya? Saya juga tidak tahu. Tapi saya cuma percaya, Tuhan buka jalan saat tidak ada jalan. Cuma saya juga menyadari, bahwa Ahok butuh waktu untuk menyembuhkan diri dari luka dikhianati orang yang ditolong.

Jadi, sekarang ini pertanyaan yang benar adalah apakah Indonesia sudah siap menerima Ahok kembali? Karena bukan Ahok yang belum siap, tapi Indonesia yang belum siap.

“Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ.”
Kisah 20:22

Hanny Setiawan

Please follow and like us:

Perjalanan Rohani Ahok di Penjara

Baru kali ini satu bangsa menangis bersama. Airmata ibu Veronika Tan, istri Ahok telah melelehkan Indonesia. Mungkin ini sebuah pernyataan hiperbola, tapi saya yakin yang melihat video pembacaan surat Ahok dari penjara akan tidak kuat melihat ketulusan seorang Vero.

Terasa sekali, dari kata demi kata yang dibacakan Vero, surat tersebut lebih terasa sebagai perjalanan rohani Ahok daripada surat politik apalagi surat hukum.

Ahok yang kasar, berangasan, dan siap untuk berperang dengan koruptor bahkan mati untuk apa yang dipercaya, tiba-tiba terasa sangat mellow dan menyerah dengan keadaan. Apa yang terjadi?

Kita sedang melihat proses transformasi pad diri Ahok yang secara Ilahi selaras dengan proses transformasi yang terjadi di bangsa ini.  Ahok adalah obat paling keras untuk Indonesia, karena dia langsung menghujam ke inti permasalahan di birokrasi, yaitu korupsi-kolusi-manipulasi.

Ketika dia hantam itu tanpa kompromi, maka teriakan kesakitan terjadi di semua lini baik kawan maupun lawan. Dan Indonesia tidak siap menerima perubahan sedrastis itu.  Ketika para elite politikus tidak lagi dapat “asupan anggaran” maka yang terjadi adalah Ahok terpental.

Persoalan penistaan agama, cara ngomong yang kasar, penggusuran, dan/atau reklamasi hanyalah bunga-bunga yang diciptakan untuk melengeser Ahok. Dan Ahok tahu benar hal itu. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan, karena Indonesia telah menolak dia.

Tapi yang tidak masuk hitungan para lawan politik adalah Tangan Tuhan. Kalau sudah memasukkan Tuhan dalam persamaan matematis maka kita sering akan terkejut dengan langkah-langkah ajaibnya.

Sebab itu tepat sekali ketika Ahok tidak bergantung kepada temannya Jokowi, parpol mengusung, atau jutaan relawan Ahok yang terus berkembang. Ahok berpaling kepada Tuhan untuk minta pertolongan. Ini luar biasa.

Sebab itu ayat yang dikutip bu Vero, “Tuhan akan menyelesaikannya” (Maz 138:8a) adalah ayat yang sangat pas dan berkuasa. Kali ini Ahok tidak berusaha untuk menyelesaikan apapun , tugas dia hanya berdiam diri dan mencari Tuhan, karena Tuhan yang akan didepan menyelesaikan semua.

Dalam iman Kristen, setiap kali Tuhan hanya membutuhkan ketaatan kita, karena pada akhirnya peperangan adalah milik Tuhan sendiri. Kalau Tuhan sudah berkehendak, maka pasti terjadi.

Ahok berkoalisi dengan Tuhan untuk menyelesaikan masa hukuman juga “what’s next”. Dan menuruh saya, ini justru lebih menakutkan dari skenario apapun. Semakin Ahok tidak membalas, semakin Indonesia harus merendahkan diri minta pengampunan dari Yang Maha Kuasa.

Perjalanan rohani Ahok dipenjara adalah sesuatu yang divine. Akan sulit untuk memahami apa yang terjadi tanpa melihat gambar besar yang Tuhan sedang kerjakan. Yang pasti adalah Ahok adalah pembuka jalan dan model kepimpinan Indonesia Baru.

Semua pemimpin yang akan maju di panggung nasional akan di-benchmark dengan Ahok.  Itulah sebabnya Tuhan sedang melengkapi yang masih kurang dalam hidupnya, untuk tugas yang lebih besar.  Membangun Keluara Indonesia Baru.

Hanny Setiawan

Please follow and like us:

Mengaburkan Radikalisme Dengan Islamphobia Sebagai Cara Adu Domba

Encounter  langsung pertama saya dengan isu radikalisme dan terorisme justru bukan di Indonesia, tapi di Amerika.  9 September 2001 adalah hari tak terlupakan bagi orang Amerika, bahkan seluruh dunia.  World Trade Center  (WTC) attack yang mengagetkan memperlihatkan bahwa radikalisme, dan terorisme itu sebuah realitas.

Bentuk-bentuk radikalisme ada disemua agama, tapi tidak bisa dipungkiri penggunaan attribut, icon, dan istilah yang Islami membuat agama Rahmatan ‘lil Alamin ini mendapatkan publikasi yang tidak baik di dunia barat.

Hari Minggu pagi, 15 September 2001 tepat 1 minggu setelah ditabrakannya pesawat ke menara WTC, gereja-gereja di Amerika penuh karena ketakutan akan serangan teroris.  Saat itu, saya berdiri di depan sebuah komunitas orang bule dan menyatakan bahwa Islam tidak selalu radikal, apalagi teroris.

Saya merasa bertanggung jawab untuk menerangkan kepada teman-teman bule saya bahwa Islam tidak sama dengan radikalisme, apalagi terorisme. Tinggal sepanjang hidup dengan teman, tetangga, dan rekan sekerja muslim memperlihatkan bahwa Islam bukan seperti yang dibayangkan mereka.

Meskipun demikan, saya menyadari bahwa tingkat kesulitan untuk menerangkan dan menjelaskan sangat sulit terutama karena saya sendiri bukan seorang muslim, kedua dan yang terutama karena begitu banyaknya penggunaan bahasa Islam dalam beberapa kejadian radikalisme dan terorisme.

Dari sana saya mulai mengerti bahwa mewaspadai radikalisme harus dibedakan dari Islamphobia.  Apabila tidak dipisahkan, kerugian tidak hanya ditanggung teman-teman Islam, tapi juga bagi kita semua karena akan gampang di adu domba.

Isu ini sudah terjadi dan meledak di Pilkada DKI 2017. Setiap kali kita menekan para radikal maka dengan licinnnya akan dikatakan kita telah terjangkiti Islamphobia.

Modus operandi ini semakin diperparah oleh politikus-politikus SARA yang dengan tega mengorbankan persatuan bangsa demi posisi sesaat. Menjijikan atau disgusting adalah kata yang menurut saya mungkin  lebih tepat.

PR besar ada di teman-teman Nahdatul Ulama sebagai benteng Islam moderat untuk terus melakukan tindakan-tindakan proaktif menanggulangi berkembangnya paham radikalisme.  Dan NU tidak harus sendiri, karena teman-teman non Muslim dan organisasi yang lain seperti Muhammadiah seharusnya bekerja sama dan bergandeng tangan untuk NKRI yang benar.

Phobia adalah sebuah ketakutan yang irasional.  Tapi takut terhadap para radikal dan teroris yang menggunakan Islam sebagai alasan politis adalah sesuatu yang rasional.

Melawan para radikal adalah kerja kolektif bersama, bukan cuma pekerjaan agama-agama tertentu.  Kita waspadai usah-usaha mengadu domba dan membenturkan kelompok yang satu dengan yang lain.

Cara pertama yang bisa dilakukan, jangan pilih wakil rakyat, dan pejabat publik yang menggunakan isu SARA dalam proses kampanye mereka.  Merekalah pintu masuk all this mess.

Pendekar Solo

Please follow and like us:

Ketidaksiapan di Musim Menuai

Tuhan bergerak dari musim ke musim. Dari kronos ke kairos, menuju ke kronos yang lain.  Ada musim menabur, dan ada musim menuai. Setiap musim, yang dibutuhkan adalah ketergantungan mutlak kepadaNya. Kehendak Tuhan adalah yang terutama, tidak penting apa yang kita mau, yang terpenting adalah apa yang Dia mau.

Mazmur mengatakan orang yang menabur dengan airmata akan menuai dengan sukacita.  Artinya, Tuhan pastikan apa yang kita kerjakan selalu ada upahnya. Bukan hanya anugerah, kemurahan, dan rahmat, tapi Tuhan secara adil memberikan kembali apa yang sudah kita tabur.  Tuhan tidak pernah berhutang kepada siapapun.

Tuhan bergerak dalam legalitas yang sempurna,  Dia tidak pernah dan tidak bisa menyimpang dari apa yang sudah dikatakanNya. Sebab itu, kita bisa percaya 100% bahwa Tuhan tidak akan lupa dengan semua jerih payah dan apa yang kita kerjakan untukNya.

Tapi menjadi ironis, ketika musim menuai tiba, dan kita tidak ada ditempat dan tidak siap menuai. Inilah kasus-kasus yang memprihatinkan kita semua. Mengapa tidak siap? Karena sudah tidak percaya lagi dengan visi, mimpi, dan tujuan yang ada sehingga digress atau menyimpang.

Pohon jagung akan terlihat hasilnya dalam waktu relatif cepat 3 bulan atau lebih sedikit. Tapi bisa dibayangkan ketika kita harus menanam buah kelapa, dan menunggu bertahun-tahun pohon itu berbuah.  Kadang frustasi, dan tidak tahan membuat kita menyimpang dan mengambil keputusan praktis.

Persistensi atau ketekunan membuahkan hasil yang otentik dan asli. Tapi karbitan dan jalan cepat selalu melahirkan sesuatu yang menyimpang. Musim menuai adalah pesta bagi kita yang bertekun, tapi airmata (baca: karena menabur lagi) bagi orang yang menyimpang.

Sangat penting kita selalu mengerti musim Tuhan dan ikut mengalir didalamnya. Kita harus terus percaya bahwa meskipun manusia tidak melihat, tapi Tuhan melihat.  Meskipun ketika kita dahulu hanya menabur ditempat-tempat yang tidak mendapat spotlight, tapi Tuhan tetap tidak pernah melupakan.

Yang terpenting adalah selalu menjaga hati dalam setiap musim.  Musim boleh berbeda, musim boleh berganti, tapi hati tetap hanya Tuhan semata.

Di gunung maupun dilembah, susah maupun senang, tertindas  ataupun promosi, hati kita cuma terpaut kepada 1 hal.  Biarlah kehendakNya yang jadi, di bumi seperti di surga.  Apakah kita siap menuai?

Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.
(I Kor. 15:58)

Hanny Setiawan

Please follow and like us:

Pesan Tuhan Untuk Dilakukan, Bukan Cuma Dimimpikan, Kita Harus Temukan JalanNya!

Dalam perjalanan mengikut Tuhan, baik orang karismatik, ataupun kristen tradisional sama-sama mencari kehendak, dan jalanNya untuk dilakukan. Kadang-kadang istilah seperti nubuatan (prophetia, yunani) menjadi sangat menakutkan dan bahkan mendapatkan nama buruk, karena sering diselewengkan menjadi “Loe Buat”.

Tapi terlepas dari kontradiksi yang ada, sebenarnya setiap orang Kristen yang benar-benar sudah lahir baru percaya bahwa pada akhirnya kita butuh “petunjuk” atau direction  Ilahi dalam perjalanan menuju tujuan akhir kehidupan.  Entah bagaimana bentuk dari petunjuk Tuhan itu.

Ada yang terharu melihat anak gelandangan, dan akhirnya mengerti bahwa itu adalah panggilan Tuhan untuk melayani di bidang sosial.  Atau sangat haus dan lapar dalam menyanyi untuk Tuhan, latihan musik, dan berkumpul mendiskusikan tentang pujian bagiNya.  Ternyata, itu semua petunjuk untuk panggilan menjadi pemusik.

Tuhan adalah gembala (Maz 23) tidak mungkin Dia menelantarkan kita, dan membiarkan kita hidup dalam kegelapan. Di saat yang tepat dengan caraNya, dia akan menunjukkan JalanNya kepada kita domba-dombaNya.

Yang menjadi masalah, kita seringkali terbuai dengan janjiNya, dan lupa untuk terus bertekun menemukan JalanNya bagaimana memenuhi semua janjiNya.

Semua pesan, janji, mimpi, dan/atau nubuatan adalah hal yang sangat menyenangkan untuk dibayangkan. Tetapi, semua itu harus dikerjakan. Tidak berhenti di strategi, tapi harus sampai ke program.  Kira-kira itu istilah manajemen untuk menerangkan betapa pentingnya menemukan jalanNya.

Secara sederhana, dapat dikatakan, setelah kita mendapatkan pesan Tuhan untuk melakukan sesuatu – sebuah visi – maka kita harus memakai semua tenaga, pikiran, dan sumber daya untuk mencari JalanNya.  Find the Way!

Berhenti untuk hanya bermimpi, mulai kerjakan mimpi-mimpi Tuhan dengan mencari JalanNya.  Doa, puasa, nasihat, merenung, apapun usaha harus dikerjakan supaya mimpi Tuhan terlaksana, di waktuNya, dengan caraNya.

Jalan Tuhan mungkin jalan yang sempit, tapi jalan-jalanNya adalah jalan damai sejahtera. Kalau Dia sudah berkehendak, pasti ada jalanNya.  Jangan pernah lupakan hal ini.  Tidak bisa menyerah sampai titik dimana Tuhan katakan “Sudah Selesai!”

Mimpi-mimpi indah, kata-kata nubuatan yang membuat kita melambung tinggi, tidak akan sampai kemana-mana tanpa kerendahan hati untuk terus belajar menemukan hatiNya.  Let’s make it happen, His dream!

Hanny Setiawan

Please follow and like us:

Menjawab Panggilan Ilahi

Panggilan bukanlah pekerjaan. Panggilan cuma satu, tapi pekerjaan bisa banyak. Setiap musim dalam kehidupan adalah tahapan (stage) dimana Tuhan memimpin kita menuju destiny (tujuan akhir) dari panggilan hidup.

Indonesia Baru adalah destiny yang Tuhan tunjukkan, dan panggilan yang sudah Dia kumandangkan. Untuk itu saya berkata, “Ku Jawab Ya Tuhan”.

Dalam perjalanan rohani, Tuhan menyatakan bahwa Indonesia Baru harus dipengaruhi oleh tiga variabel dasar yaitu pemerintahan (government), dunia usaha (marketplace), dan agama (religion) yang tepat.

Tiga trinitas kota ini memiliki kekuasaan politis, keuangan, dan massa, dan ketiganya harus ditaklukkan dibawah kekuasaan Tuhan.

Blog ini adalah pemikiran-pemikiran diketiga bidang ini sebagai iuran saya sebagai WNI Kristen untuk Indonesia Baru.

Salam Damai,

Hanny Setiawan
aka Pendekar Solo

Please follow and like us: