Kristen Tidak Mengenal Golput

Golput itu adalah “roh pilatus” yang cuci tangan dalam kondisi pilihan-pilihan yang sulit. Menariknya spirit ini melekat kepada orang-orang “baik” tapi picik. Picik karena tidak mampu melihat narasi Ilahi yang lebih besar.

*Kemurahan Tuhan*

Untuk bisa memilih secara demokratis adalah hak istimewa dan kemurahan Tuhan. Tidak memilih atau menganjurkan tidak memilih adalah hoax lain yang sebenarnya tdk kalah jahatnya dengan hoax Ratna Sarumpaet.

Daniel 2:21-22 (TB) Dia mengubah saat dan waktu, Dia memecat raja dan mengangkat raja, Dia memberi hikmat kepada orang bijaksana dan pengetahuan kepada orang yang berpengertian;

Dialah yang menyingkapkan hal-hal yang tidak terduga dan yang tersembunyi, Dia tahu apa yang ada di dalam gelap, dan terang ada pada-Nya.

Artinya, siapapun yang jadi pemimpin karena seijin Tuhan. Tugas kita adalah memilih yang terbaik sesuai dengan prinsip, petunjuk, dan hikmat Ilahi yang kita dapat.

*Hikmat Salomo*

Kisah Raja Salomo yang meminta bayi dibagi dua untuk dua ibu yang mengaku sebagai ibu kandung adalah kisah klasik yang tidak pernah lekang oleh waktu.

Kisah yang memberikan kita keyakinan bahwa dalam kondisi sesulit apapun tidak memilih bukanlah pilihan. Selalu ada pilihan Ilahi dan pasti adil dan baik hasilnya.

“Sebagai raja” kita harus selalu mengambil keputusan, termasuk dalam memilih pemimpin. Terutama dalam Demokrasi yang bergantung dengan pemilih, anak-anak Tuhan harus mengerti bahwa pilihan-pilihan kita ikut menentukan jalan cerita bangsa kita.

Sebagai terang dan garam, “teologi golput” tidak bisa fit in dalam usaha kita menjadi bagian dari solusi dan justru malah menjadi bagian dari masalah.

*Baasyir, Ahok, dan Demo Salibisasi*

Sebelum kasus Baasyir, pemilihan baju Koko yang religius oleh Jokowi memperlihatkan bahwa kondisi negara belum aman dari radikalisasi, dan intoleransi.

Ahok biarpun mau disebut BTP ataupun jadi mualaf atau menikah 1000 kali, tidak akan merubah sejarah bagaimana seorang Kristen Tionghoa telah bekerja keras bersih, transparan profesional dan tetap didemo u/ dijatuhkan.

Artinya negara ini sakit, dan perlu “diluruskan”. Kasus terbaru soal konblok di Solo dengan diakhirinya polemik melalui “cat ulang” memperlihatkan bahwa usaha meruwetkan dan merusak merusak negara ini tidak main-main.

Kondisi negara membutuhkan anak-anak Tuhan yang mengerti hatiNya dan bersama-sama mendeklarasikan semua keputusan pengadilan Ilahi. Bukannya menjadi pilatus-pilatus yang ikut menyalibkan Yesus.

Pendekar Solo

Please follow and like us:

Kejahatan Moral Politik SARA

Dalam hitungan hari, Ahok akan keluar dari penjara karena penistaan agama. Sejarah hitam Pilkada DKI 2017 tidak akan dengan mudah, atau mungkin tidak akan terhapuskan dalam sejarah Indonesia.

Pekatnya Politik SARA di Pilkada DKI 2017 melekat kepada sosok kontroversial, Ahok. Seorang yang diakui pekerjaannya, tapi tidak diakui eksistensinya, karena dia suku lain, dan agama lain dari mayoritas negara ini.

Fakta menyedihkan ini semakin membuat Indonesia semakin was-was, karena notabene, simbol perlawanan terhadap nasionalisme Pancasila justru dilakukan orang dua politikus muda Anies & Sandi. Dua politikus muda yang diharapkan membawa kebaruan dalam menenun kebangsaan, akhirnya harus jatuh dalam “kejahatan moral” Politik SARA.

Suara profetis palsu yang membangkitkan pasukan-pasukan tidur, dan robot-robot ideologis telah memunculkan pemimpin-pemimpin muda radikal lainnya, dan ini sangat memprihatinkan dan perlu diwaspadai.

Benteng ideologis PDI-P pun terseok-seok dalam menahan serangan politik identitas karena sudah ada di zona nyaman perpolitikan. Munculnya PSI yang langsung menembak isu-isu ideologis seperti Perda Syariah, poligami, sampai kepada award Hoax mau tidak mau menarik perhatian kita semua. Masih ada harapan.

Nahdlatul Ulama (NU), disisi lain, masih menjadi harapan Indonesia untuk menjadi benteng utama ideologi Pancasila. Dengan paham Islam Nusantara, NU mampu dengan luar biasa memformulasikan nasionalisme Islam yang bisa dipahami lintas agama, seluruh WNI.

Bagaimana dengan agama lain? Terlihat takut, dan ragu-ragu dalam berbangsa. Menjaga “bentrok” dengan mayoritas, membuat agama-agama lain terlihat hanya mengikuti arus pertempuran ideologis teologis yang terpapar dengan jelas di perpolitikan Indonesia.

Perlu dicatat, keputusan Jokowi-Amin untuk memakai baju Koko dan Peci sebagai simbol-simbol pemimpin agama dalam Pilpres 2019 memperlihatkan bahwa ternyata Pilkada DKI 2017 telah membawa dampak parah sampai ke akar rumput. Jokowi-Amin hendak menuntaskannya.

Rusaknya mental anak-anak muda dengan politik SARA sehingga melupakan mimpi bersama Indonesia yang ramah untuk semua agama adalah sebuah kejahatan moral yang harus dicatat dan diingatkan kepada anak cucu kita.

Rekonsiliasi Tidak Bisa Ditawar

Kiai Maruf Amin awalnya menjadi sebuah tanda tanya besar di kubu Jokowi. Tapi sekarang terlihat semakin jelas, KMA memiliki peran penting untuk menjadi Bapak bagi robot-robot ideologis yang sudah bangkit dan hendak digunakan begundal-begundal politik untuk meraih kekuasaan.

Mulai dari KMA justru ada pintu terbuka untuk membangun jembatan yang menenum kembali mimpi Tenun Kebangsaan.

Usaha-usaha untuk rekonsiliasi bangsa harus dimulai sedini mungkin, bahkan dilevel-level SD-SMP-SMA wawasan nasionalisme kebangsaan harus segera diupayakan.

Karena dalam Pemilu 2024, dan 2029 apabila tidak berhasil dijinakkan, kemenangan Jokowi-Amin di 2019, keberhasilan pekerjaan mereka nantinya, akan dinafikan, dan bahkan dihancurkan kembali.

Pertanyaan seorang teman, “Siapa yang tidak mau kekuasaan?” Pada akhirnya pertanyaan itu dapat dijawab dengan jelas, agama telah digunakkan untuk meraih kekuasaan. Mereka hanya ingin kekuasaan. Jahat sekali!

Penulis : Hanny Setiawan

Please follow and like us:

Kelompok Haters Adalah Penyakit Sosial yang Sangat Menular

Demokrasi digital sudah hadir dengan segala kebaikan dan keburukannya. KawalPemilu.org, Jasmev, WikiDPR.org, sampai TemanAhok.com hanyalah sebagian contoh bagaimana demokrasi digital atau politik digital dalam lingkup lebih kecil harus mulai dipelajari dan diperhitungkan.

Salah satu keburukan dari demokrasi digital percepatan penularan kebencian terhadap masyarakat oleh kelompok haters.  Saya menyebutkan hanya kelompok haters karena kelompok lovers, pendukung, simpatisan bukanlah penyakit karena mereka menyebar kebaikan.

Kelompoak haters ada tidak hanya di dunia maya, didunia asli kita mengenal banyak kelompok-kelompok pembenci yang biasanya bersangkutan dengan SARA.  Ada kelompok Nazi yang sangat membenci orang Yahudi, mirip dengan kelompok anti-zionis. Ada juga kelompok benci orang hitam seperti Ku-Klux-Klan dengan simbol-simbol salib.  Ada juga kelompok pembenci LGBT yang justru membuat kelompok minoritas ini bangkit dan menjadi kekuatan laten.

Intinya, kebencian itu hadir bukan karena digital, tapi karena memang itu bagian dari penyakit sosial yang sama tuanya dengan perzinahan, pencurian, penipuan, dan lain sebagainya. Kehadiran teknologi digital hanya berperan mempercepat penularan.

Benar, Anda tidak salah baca.  Kebencian itu menular!  Kebencian bisa berganti obyek yang dibenci tapi sifat menularnya itu tetap.  Jokowi haters, Ahok haters, Prabowo haters, LGBT haters, sampai kepada Islamphobia, Kristenphobia, Hinduphobia, dan yang lain-lain.  Semua itu disadari atau tidak adalah PENYAKIT MENULAR.

***

Jack Scafer P.hd mengembangkan apa yang disebut the saven-stage hate model sebuah model untuk menerangkan psikopat kebencian.  Sangat menarik untuk disimak dan dipelajari sehingga sebagai pelaku demokrasi digital yang aktif, netizen tidak terjangkit wabah kebencian.

Indikasi awal pembenci baik itu karena di-setting (dibayar) atau karena benci secara natural adalah seluruh energi didedikasikan untuk satu obyek semata.  Bagi blogger bisa dicek 10 artikel terakhir apakah menulis hal yang sama dan ditujukkan untuk menjelekkan, mengkritik, mencari kesalahan obyek tersebut.

Ketidaknormalan terjadi diawal penyakit ini ketika kita selalu membicarakan, menuliskan, meneliti, bahkan dalam kasus tertentu sampai mengabadikan dengan foto atau video obyek yang kita tidak sukai.  Manusia normal akan membicarakan dan tertarik dengan apa yang kita sukai, bukan dengan apa yang kita benci. Camkan itu, itulah awalnya.

Dari ketidaknormalan itu, menurut Jack Scafer di Psychology Today, para pembenci obyek yang sama akan berkelompok dan kemudian dengan cepat akan memiliki identitas kelompok.  Kelompok ini kemudian meremehkan (disparage) dan menghina (taunt) obyek atau target kebencian.  Bahasa jawanya suka ngenyek (menghina) dan sangat nylekit (menyakitkan).

Setelah sampai stadium akut haters bisa menyerang baik dengan atau tidak dengan senjata bahkan sampai merusak target atau obyek. Sebagai contoh adalah yang terjadi hari ini dengan perusakan gedung KPK (Demo di Depan KPK Ricuh, Pendemo Lempari Polisi dan Gedung KPK) Gambar berikut memperlihatkan 7 tahap model kebencian tersebut.  Sangat berbahaya.

Ilustrasi: sowhatihearyousaying.blogspot.co.id
Ilustrasi: sowhatihearyousaying.blogspot.co.id

Karena mengerti dan percaya konsep ini, maka saya memang mengambil jarak dengan orang-orang yang terjangkiti dengan penyakit kebencian ini.  Saya melihatnya penyakit ini hanya bisa dikalahkan dengan unconditionalforgiveness atau pengampunan tanpa syarat.  Jadi kalau kita ikut sakit hati, maka kita sudah ketularan. Kita pun akan jadi haters, biarpun obyek/targetnya lain.

Sebab itu, meskipun tidak mendukung Prabowo saya tidak akan menjadi Prabowo haters.  Meskipun saya tidak mendukung LGBT saya pun tidak akan menjadi LGBT haters.  Dari hati terpancar kehidupan, demikan kata buku Amsal.  Lebih baik menjaga hati dan terus tetap waras sehingga tidak terjebak kebencian.

Meskipun sudah dibuat hukum yang melarang hate-speech, kebencian kadang lebih gampang dirasakan daripada dibuktikan. Kita akan merasakan seseorang menghina kita atau menghormati kita.

Sebagai contoh, sebagai keturunan Tionghoa, saya tidak keberatan dan happy-happy saja dipanggil Koh Hanny, dan sampai detik ini banyak yang memanggil saya koh, ko, bahkan yang aneh maskoh Hanny.  Tapi ketika seseorang memanggil ‘koh Hanny’ dengan nada yang berbeda, kita tahu bahwa itu maksudnya mengejek SARA.  Sesuatu yang saya kadang saya alami di kampung-kampung di masa kecil saya.

Intinya, kebencian tidak bisa dilawan hanya dengan dihukum dan dipenjarakan. Kita harus menghentikan penyebaran kebencian dengan berhenti memberikan feedback kepada para pembenci.   Seperti kata Jack Scafer yang adalah Analis Perilaku FBI:

Haters cannot stop hating without exposing their personal insecurities. Haters can only stop hating when they face their insecurities.

Bahasa gampangnya, haters butuh psikolog karena mereka sakit jiwa.  Believe it or not.

Pendekar Solo

 

Sumber : Tulisan ini pertama di unggah di sini

Please follow and like us:

Zaadit Taqwa, Puncak Gunung Es “Keliaran” 10 Tahun SBY

Kartu kuning dan sempritan ketua BEM UI, Zaadit Taqwa, kepada Jokowi ditengah pidatonya menjadi viral. Pak Presiden dengan santai menanggapi, netizen seperti biasa menjadi ribut, sampai level menteri dan anggota DPR pun  ikut bersuara.

Bahkan yang terakhir, Mata Najwa pun menayangkan.  Artinya, Zaadit Taqwa berhasil mendapatkan panggung politik untuk bersuara lebih kencang. Biarpun terlihat Zaadit masih kurang pendukung, paling tidak letusan “bom kartu” bisa mencuri perhatian bangsa ini.  Sekelas ini, apakah kita masih bisa percaya hanya dinamika anak muda? Saya tidak percaya.

Pro dan Kontra masih seputar etis atau tidak, bully membully boleh tidak, sampai ke esensi kritik yang coba disampaikan. Tapi, belum ada yang betul-betul melihat bahwa Zaadit Taqwa hanyalah puncak gunung es dari sebuah keliaran politk selama 10 tahun jaman SBY.

Saya perkirakan Zaadit ada di awal 20-tahunan umurnya.  Di tahun 2004 (14 tahun yang lalu) ketika SBY mulai menjabat Zaadit masih SD-SMP. Umur yang dia belum tahu apa-apa. Minimal dia belum banyak mengerti tentang politik. Lalu pertanyaan besarnya adalah siapa yang meng-grooming (menyiapkan)  Zaadit Taqwa yang menjadi kader yang militan. Ada berapa banyak Zaadit-Zaadit yang lain?

Isu itu lebih menakutkan dan membahayakan negara. Bukan sekedar dinamika. Kartu kuning, bom molotov, sampai bom betulan secara filosofis adalah produk yang sama dari sel-sel radikalisme yang diaktifkan.  I will not take it easy, Mr. President!

10 tahun SBY adalah waktu bertumbuhnya benih-benih radikalisme yang akhirnya mulai kuncup dan muncul di jaman now.  Kebijiakan politik SBY yang selalu abu-abu dan “ngambang” yang terkenal dengan istilah one enemy is too many and a hundred friends too few telah membawa bangsa ini ketitik rawan ini.

Ketidaktegasan, anggap enteng, sampai bermain api dengan radikalisme dan sektarian harus dirubah.  Apabila Pak Jokowi masih menganggap ini hanya sebuah dinamika dan tidak ada narasi besarnya, terlalu naif.  Kalau kita cuma menganggap soal etika, itu juga masih naif.  Kalau kita menganggap kesalahan UI, berapa lama Zaadit Taqwa di UI, belum lama. Tidak dengan cepat dia menjadi seperti itu.

Narasi besar yang sudah disiapkan lama sejak jaman SBY telah terganggu dengan munculnya dua orang gila Jokowi-Ahok yang mampu membuat kelompok besar ini menjadi blingsatan.

BIN (Badan Intelijen Nasional), saya yakin sudah memetakan kekuatan yang mampu mengkaktifkan sel pasif sepert Zaadit ini menjadi aktif.  Kata kunci “Pribumi” sudah di suarakan dengan lantang 2017, mereka sudah siap perang, apakah kita cuma mau berdiam diri dengan pasrah, serta menganggap ini mainan anak-anak?

Saya berdoa dan berharap, para petinggi negara ini waspada, 10 tahun adalah waktu yang cukup untuk menyiapkan dana, tenaga, jaringan, dan rencana.  Apa yang kita lihat hanyalah letupan-letupan kecil untuk testing the water.

Be alert, wasapadah, karena yang Jahat akan bertambah jahat, yang baik akan bertambah baik.  Garis demarkasi hitam dan putih akan semakin kelihatan. Semua demi satu narasi lebih besar dari apa yang mereka bisa bayangkan, yaitu narasi Tuhan untuk Indonesia: Indonesia Baru!

Pendekar Solo

Please follow and like us:

Dalam Konflik Israel Palestina, Apa Yang Seharusnya Dilakukan Pemerintah RI?

Pernyataan Donald Trump di hari Kamis minggu lalu(7/12/2017)  berhasil mempengaruhi arah politik dunia, dan dalam  negeri Indonesia. Jokowi, dengan sigap melihat isu Israel Palestina sebagai isu politik sexy yang bisa digunakan untuk menetralkan politik SARA yang sangat bau di DKI Jakarta.

Tak urung Prabowo, Anies, bahkan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) mau tidak mau harus mengapresiasi langkah politik Jokowi ini. Dan hari ini Selasa, 12/12/2017, Jokowi berangkat ke KTT Luarbiasa OKI (Organisasi Kerjasama Islam) di Istanbul Turki.

Ada dua agenda Jokowi di Istanbul, yaitu menolak pernyataan Amerika melalui Donald Trump, dan memastikan pembelaan terhadap Palestina. Dua agenda yang jelas akan mampu menutup isu politik PKI, pro Amerika, bahkan pro China (karena China juga sejalan dengan Indonesia dalam hal ini).

Kondisi politik ini akan membingungkan dan tidak menguntungkan para radikalis, sektarian, dan oportunis yang hendak menggoyang Jokowi melalui isu ini. Inilah blessing in disguise yang Jokowi terima dari Donald Trump.

Secara politis, langkah Jokowi sudah tepat, tapi secara esensi apakah sudah benar? Artinya begini, isu boikot produk Amerika yang dihembuskan bahlul-bahlul politik SARA Indonesia adalah jebakan-jebakan batmen yang Jokowi harus perhatikan juga.

Jangan sampai Indonesia dibawa masuk perang yang tidak perlu, Indonesia harus tetap fokus untuk mengusahakan PERDAMAIAN bagi Israel dan Palestina. Itu adalah arti penting Indonesia bagi dunia yang harus dibangkitkan lagi.

Kita harus ingat, Soekarno, founding father, bangsa kita adalah pencetus gerakan Non-Blok yang sebenarnya waktu itu sangat cetar membahana, mampu membuat Barat maupun Timur berebut Indonesia. Destiny Indonesia sebagai penyeimbang inilah yang harus terus dipercaya.

Bukan Pro Israel, atau Pro Palestina, tapi harus tetap Pro Perdamaian. Itu posisi yang tepat. Jadi kalau dianggap Israel terlalu negatif, maka Indonesia harus mengingatkan Israel. Tapi kebalikannya kalau Palestina tidak benar, Indonesia juga harus menegur Palestina.

Keberhasilan Jokowi menjadi penengah akan membawa Indonesia ke panggung Dunia dan menjadi bangsa yang besar. Sekaligus, Jokowi akan ada diposisi yang tidak tergoyahkan sebagai politikus-negarawan Indonesia Modern.

Untuk bisa bisa menjadi penengah, Jokowi diuji keberaniannya.  Karena sebenarnya konflik Israel Palestina mirip dengan konflik G30S 1965, dan Reformasi 1998, semua jelas tapi karena politik yang diramu agama dan ideologi menjadi sensitif.

Doa saya untuk Jokowi, diberi Hikmat Tuhan seperti Salomo, dan keberanian seperti Daud  untuk dapat mengambil keputusan yang akan membawa perdamaian Israel Palestina. Bukan sekedar keputusan politis, tapi keputusan humanis negarawan level dunia.

Selamat berjuang, dan bekerja Mr. President!

Pendekar Solo

Please follow and like us:

Mengukur Dampak “Tamparan” Ananda Sukarlan

Jagad sosmed Indonesia kembali bergetar, dan menggeliat. Setelah Pilkada DKI 2017 yang memang mengecewan begitu banyak pihak, tak henti-hentinya Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih menuai berita tak baik. Kali ini, pianis terkemuka Ananda Sukarlan yang menampar muka sang Gubernur demikan telak.

Maestro piano Indonesia yang sudah sangat teruji keIndonesiaannya, melakan Walk Out ketika Gubernur terpilih sedang berpidato.  Bahkan mengkritik secara langsung panita mengapa harus mengundang Gubernur yang secara tidak elok memenangkan Pilkada.  Sangar tenan, bukan? (baca)

Para penulis dan pemerhati isu terkini sosmed seperti Denny Siregar, Eko Kunthadi , Pepih Nugraha dengan gesit menayangkan interpretasi dan opini mereka akan kejadian yang sangat “bersejarah ini”.

Denny dalam tulisannya Perlawanan Ananda Sukarlan pada dasarnya melihat bahwa improvisasi Sang Maestro di acara 90th berdirinya Kolose Kanisus bisa dimaklumi karena masalah hati nurani. Pendukung keras Kebhinekaan ini jelas 100% mendukung Ananda.

Eko lebih lugas lagi bahkan mengajak netizen untuk menjadikan tamparan Ananda ini menjadi sebuah momentum untuk sebuah pergerakan (baca). Pergerakan melawan politisasi agama, dan cara-cara yang tidak benar dalam meraih posisi.

Ajakan Eko ini jelas sangat menarik dikaji. 42% dari penduduk Jakarta (mungkin lebih) masih terluka dan bukan tidak mungkin akan terbakar dengan ajakan ini.  Artinya, Walk Out – Walk Out terhadap pidato DKI1 dan DKI2 akan lebih sering lagi terdengar.  Ngeri juga.

Pepih, dari sudut lain, melihat bahayanya penolakan terhadap gubernur terpilih ini bisa jadi berbau “inkonsistusional” karena sang Gubernur datang melalui undangan resmi bukan penyusup (baca).

Tapi disisi yang lain, dia melihat secara moral tidak bisa dipungkiri luka Pilkada masih mengaga, dan satu-satunya cara bukti kerja DKI1 dan DKI2 harus lebih baik dari Ahok – Djarot, atau Jokowi – Ahok.  Itu yang masih diragukan.

42% adalah sekitar 4 juta penduduk Jakarta, ditambah pendukung Ahok – Djarot dalam dan luar negeri yang kemungkinan bahkan lebih besar jelas bukan hal yang remeh untuk tidak dianggap.

Harapan sang juara untuk merangkul pun sudah pupus dengan pidato pribumi yang seakan-akan memanggil semua sel-sel tidur yang selama jaman reformasi tiarap.

Sebuah “panggilan terselubung” yang sangat meyakitkan hati para pendukung NKRI sejati.  Sudah begitu jauhkan kesesatan itu terjadi, atau memang agenda sesungguhnya baru terlihat sekarang?

Apapaun itu, tamparan Ananda Sukarlan adalah indeed momentum yang baik untuk mengingatkan semua pihak, terutama yang bernafsu jadi pejabat publik dan berlomba di Pilkada 2018.  Mengingatkan bahwa jaman now adalah jaman digital, dimana jejak-jejak digital itu sangat transparan.

Kita bisa berdalih apapun, tapi pada akhirnya rekam jejak kita yang akan menyatakan siapa kita yang sebenarnya. Dan sang Pianis seakan-akan hanya memberikan “Cue” kepada sang Gubernur untuk bertobat.  Mungkin dia tidak begitu mengerti musik. ETA terangkanlah.

Atau mungkin eforia naik jabatan masih belum selesai, sehingga responnya pun tidak pas lagi.  Karena dia menganggap tamparan Ananda sebagai angin lalu, dan berkata

“Bagian kami adalah menyapa semua, mengayomi semua. Jadi itu tanggung jawab saya sebagai gubernur. Jadi saya akan menyapa semua mengayomi semua kalau kemudian ada reaksi negatif, ya itu bonus aja buat saya. Nggak ada sesuatu yang, biasa aja. Rileks” (baca)

Terlihat tidak ada penyesalan sama sekali dengan Pilkada DKI 2017 dan isu yang sesungguhnya yang sedang terjadi. Itu yang sangat disayangkan. Point of No Return, aliran SARA ini terlihat tidak akan dihentikan dan akan terus digunakan untuk tetap menjaga kekuasaan.  Asem tenan!

Benar atau tidak tindakan Ananda, akan bisa dibaca dari banyak sisi, esensi, dan hati nurani. Saya memilih untuk melihat tindakan Ananda adalah ejakulasi kemarahan yang terpendam, dan mewakili ribuan bunga, balon, dan lilin karena begitu laknat dan pekatnya Pilkada DKI 2017.  Anggap saja Ananda sedang berimprovisasi setelah sekian lama hidup dalam musik klasik. Ayo nge-jamz mas 🙂 I love your groove !

Pendekar Solo

Please follow and like us:

Bagaimana Perasaan Ahok Hari Ini?

Hari ini 16 Oktober 2017, Anies – Sandi resmi menjadi Gubernur dan Wakil DKI 2017 – 2022.  Dunia sosmed pun bermunculan opini kanan dan kiri seperti biasa. Proses pahit Pilkada DKI 2017 masih menyisakan luka-luka yang entah kapan bisa sembuh.

Entah dimana Jokowi berpihak, yang jelas sebagai dia tidak mungkin lari dari pelantikan Anies – Sandi. Tahun politik 2019 sudah begitu dekat, Jokowi pun manusia politik yang berhitung untung dan ruginya.  Suara relawan Ahok yang sangat dini menyuarakan mendukung Jokowi terasa sebuah narasi yang sedang dimainkan.

Narasi – narasi tandingan dari pihak Anies – Sandi yang memang lihai dalam membuat framing-framing politis terlihat sedang menyusun cerita baru. Melihat rekam jejak Anies dan timnya, Uno dan gerombolannya, mereka tidak akan kesulitan “membuat bungkusan” menjadi indah, untuk membuat cerita yang indah tentang “Jakarta tanpa Ahok lebih baik.”

Jangan heran juga, kalau berbondong-bodong Prabowo, Setyo Novanto, AHY, Fahri, dan segolongannya muncul dalam pelantikan Anies – Sandi, mereka semua memiliki kepentingan ikut kereta yang sedang berjalan. Sebuah pemandangan yang menggetarkan bagi para relawan Indonesia Baru. Bagaimana nasib Indonesia Baru?

Djarot yang “menolak” untuk hadir bagaikan sebuah oase ditengah pesta kemenangan “tak halal” yang sedang terjadi. Atau mungkin dia hanya lelah melihat semua kemunafikan yang terjadi. Entahlah.

Yang terpikir bagiku cuma satu pertanyaan, “Bagaiman Perasaan Ahok Hari Ini?” Sebuah pertanyaan yang hanya Ahok sendiri yang bisa menjawab selugas-lugasnya.  Meskipun demikan, melihat konstruksi berfikir Ahok, dan pola psikologi dia selama ini, maka kegeraman itu akan tetap ada didalam hati.

Ahok adalah manusia biasa yang memiliki defense mechanism ketika ada pihak lain yang menyerang. Geram melihat ketidakadilan, dan ketidakberdayaan melawan gelombong pengeroyokan politik yang bagaikan begundal-begundal anak sekolah yang menyerang si mata sipit dilorong kampung sebelah rumah.

Tapi Ahok adalah sebuah ciptaan yang baru, yang lama berlalu dan yang baru sudah terbit. Ketika dagingnya dipenuhi dengan kegeraman, ada suara lembut yang memanggil dia, “Ahok, Ahok dimanakah engkau?”

Panggilan itulah yang membuat dia berani mengatakan “Pemahaman Nenek Loe!” demi perang suci melawan korupsi.

Panggilan itu juga yang membuat dia menjadi “binatang yang berbeda” di hutan politik Indonesia.

Panggilan itu jugalah yang akan menenangkan sebuah badai, dan kemustahilan pun menjadi mujizat yang biasa.

Semua orang boleh membuat cerita, narasi, dan frame politiknya, tapi pada akhirnya History adalah His Story – Cerita Nya.  Itulah yang akan membuat Ahok tersenyum, dan bisa berkata, “Setelah aku ingat apa yang mereka lakukan kepadaMu, apa yang mereka lakukan kepadaku tidaklah seberapa“.  Itulah yang disebut percaya.

Be strong my bother. God is with you. 

Pendekar Solo

Please follow and like us:

Politisasi Rohingya Memperlihatkan Pertarungan Sebenarnya

Setelah terbongkarnya kasus Saracen yang telah menjadi “skandal nasional”, lawan politik Jokowi terus mencari celah untuk menghantam Jokowi.  Hadirnya isu Rohingya seakan-akan menjadi jalan orgasme kebencian kelompok anti Jokowi.

Tidak main-main Fadli Zon, Fahri Hamza, Tifatul Sembiring, sampai FPI semua menekan pemerintah, bahkan candi Borobudur pun hendak didemo. Entah kegilaan politik apa lagi yang sedang di rencanakan mereka ini. Mendemo Candi? Come on man.

Meremehkan narasi “Jokowi anti Islam” seperti sudah terlihat dengan jelas sejak Jokowi – Ahok muncul di Jakarta Baru 2012 bukanlah hal yang tepat. Narasi ini telah mampu menjungkalkan, dan membui Ahok dengan memaksa Jokowi melepaskan benteng politiknya. Artinya, narasi ini akan terus dipakai sampai 2019.

Pilihan menggunakan narasi SARA ini adalah pilihan yang tidak bisa dielakkan. Karena pilihan lain seperti “Jokowi tidak mampu”, “Jokowi PKI”, sampai “Jokowi keturunan Cina” ternyata tidak begitu efektif menyalakan sumbu – sumbu pendek.

Tapi kalau sudah sentimen SARA, narasi menjadi liar, ganas, amoral, tapi sangat efektif.  Bagi politikus, godaan menjala pemilih subyektif agama tidak bisa dilepaskan dengan mudah. Sebab itu agama mayoritas akan menjadi sasaran pertempuran para politikus untuk meraup suara.

Kita bisa mengatakan tidak nalar, tidak obyektif, tidak manusiawi, sampai bejar tak bermoral, tapi apakah mereka peduli? TIDAK, dengan huruf besar dan tanda seru yang banyak !!!!!!  Mereka hanya perlu menang dan mendapatkan posisi yang diinginkan. Politikus bro, bukan negarawan. What more can we expect?

Pertarungan sebenarnya Jokowi di 2019, dan bangsa ini secara gambar besar terletak ditangan para pemilih subyektif agamis, selama mereka masih bisa “dibodohi” maka sekuat apapun Jokowi, Ahok, atau siapapun yang melawan arus kebodohan politik SARA ini akan kelibas.

Pendekatan Jokowi dengan Kaos dan Sepeda, yang menjadi puisi  sindiran tidak lucu  Fadli Zon, justru memperlihatkan betapa Jokowi mampu melihat pertempuran yang sebenarnya. Yaitu, pertempuran hati.

Rakyat memilihi Jokowi bukan karena dia gagah perkara dalam diplomasi dan politik, ataupun berhasil di kabinet kerja, ataupun karena infrastruktur yang terbukti benar-benar dibangun. Semuanya itu hanyalah bukti fisik yang bisa diperdebatkan para politikus bermulut nyinyir.

Yang benar-benar membuat rakyat memilih Jokowi, dan terlihat yang pro Jokowi semakin menguat sejak 2014 adalah Jokowi mampu memenangkan hati rakyat. Rakyat jatuh cinta kepada sosok Jokowi sebagai harapan dan pembaharu.

Narasi apapun akan mampu dipatahkan Jokowi, apabila dia tetap dalam track hubungan yang tanpa kepalsuan dengan rakyatnya.

Alias kata, semakin lawan politik Jokowi “neko-neko”(macam-macam, jw), semakin rakyat akan muak dan mengatakan go to hell untuk politisi lintah yang tega menggunakan tragedi kemanusiaan Rohingya untuk kepentingan politik.

Pendekar Solo

Please follow and like us:

Doraemon, Jepangisasi Yang Tidak Terlihat

Siang-siang jalan-jalan bersama dengan keluarga di mall sebelah rumah. Di hall utama terlihat meriah sekali dengan begitu banyak anak-anak. Selidik punya selidik, ternyata ada acara meet and greet Doraemon, si kucing ndut dari Jepang.

Doraemon bukanlah tokoh kartun kucing satu-satunya. Masih ada Garfield, Tom, Felix, Sylvester, dan jangan lupa Hello Kitty. Tapi Doraemon dengan pintu kemana saja, dan baling-baling kayunya mampu menjadi salah satu tokoh kucing yang mendunia, terutama di Indonesia.

Sepintas “bertemu” dengan si Dora dan teman setianya Nobita di Mall yang terletak di Sukoharjo membuat saya tiba-tiba mendapatkan pencerahan tentang terjadinya Jepangisasi di Indonesia.

Bayangkan lagu-lagu dalam bahasa Jepang dengan fasih dinyanyikan anak-anak, bahkan mereka berteriak “aku sayang Doraemon”. Ini luar biasa, karena yang saya lihat tidak terjadi di Singapore, Kuala Lumpur, atau minimal Jakarta dan Surabaya. Semua di Sukoharjo!

Bagi yang belum tahu Sukoharjo, perlu mengerti kabupaten ini pernah “tercemar” dan bahkan masih dikenal sebagai kabupaten yang menjadi zona nyaman teroris. Bahkan pesantren Nruki yang terkenal juga ada di kabupaten ini.

Bukan Arabisasi, Amerikanisasi, atau Chinaisasi, apalagi Israelisasi, yang jelas didepan manta kita adalah Jepangisasi yang dengan aman, tidak pernah didemo, tidak pernah direweli, berjalan dengan sangat smooth dan merata.

Doraemon adalah figur budaya populer Jepang yang mampu memenetrasi ke anak-anak kita dan dibelakang si kucing ndut masih ada raksasa bisnis seperti Honda, Toyota, Yamaha, Suzuki, Toshiba sampai Roland.  Brand-brand yang merupakan nama-nama Jepang yang seakan berdiri tidak tersentuh.

Jepang yang terpuruk di perang dunia kedua mampu kembali dengan demikan kuat di panggung dunia karena mereka fokus dengan membangun masyrakatnya kepada nilai-nilai asli Jepang. Modernisasi yang terjadi di Jepang tidak pernah menghilangkan nasionalisme Jepang yang luar biasa.

Kamikaze dan harakiri dua budaya Jepang yang membuat dunia terbelalak melihat bagaimana WNJ (Warga Negara Jepang) memegang teguh nilai-nilai bushido (tata cara ksatria) yang berakar kepada hormat kepada dewa Matahari.

Martir (marturia), jihad, kamizase, harakiri  adalah nilai-nilai universal yang hampir sama artinya yaitu totalitas dalam menghidupi nilai-nilai.

Disaat pencerahan muncul, dan menengok ke berita yang sedang viral di medsos tentang tukang lapor ke polisi, dan bagaimana anggota dewan yang mulai menjadikan koruptor menjadi narasumber sebuah audit kebijakan, maka lemas dan geramlah hati ini.

Tidak heran dengan gampang Doraemon menghancurkan Unyil, Nina Sahabatku, apalagi si Komo, karena memang tidak ada nilai-nilai lagi yang sedang dipertontonkan di panggung nasional.  Rakyat dan anak-anak tidak lagi paham arti menjadi Indonesia.

Intinya, anak-anak kita butuh CONTOH, bukan sekedar merombak kebijakan pendidikan.  Anak-anak kita butuh TELADAN, bukan sekedar foto-foto pencitraan yang membuat muak dan mual-mual.

Pendekar Solo

Please follow and like us:

Wabah Persekusi Memperlihatkan Wajah Politikus Indonesia

Entah darimana mulainya, tiba-tiba istilah persekusi (persecution)menjadi populer menggantikan kata intimidasi, radikalisme, ataupun anarkis. Kata itu menjadi menarik diamati, karena dalam kitab suci kata persecution (aniaya) itu sangat erat hubungannya dengan penindasan kepercayaan.

Terlepas dari itu, fenomena yang terjadi sebenarnya tidak terjadi in a vacuum. Atau, terjadi dengan sendirinya. Tidak dengan sendirinya, lahir sekumpulan orang anarkis, radikal, dan intoleran.  Semua ini adalah puncak gunung es yang mulai terlihat.

Momentum Pilkada DKI 2017 adalah momentum penting yang membuka penutup (veil) selama ini.  Realitas pahitnya, ternyata sendi-sendi politik, ekononomi, sosial, dan budaya, bahkan sampai ideologi (ipoleksosbud) sudah mulai tercemari dengan virus radikalisme, dan sekatarianisme.

Tidak mengheran, terlihat seorang Jokowi pun menjadi “geram” dan dengan berapi-api mengeluarkan pernyataan “kita gebuk”. Meskipun, menurut beberapa pihak masih terlalu lembek, dan juga agak terlambat, tapi sisi positifnya, pemerintah mulai bergerak dan berpihak kepada rakyat yang was-was dengan kondisi yang memprihatinkan kita semua.

Persekusi yang ditengarai dilakukan ormas  sama dengan yang memotori demo 411, 212, dan juga menjadi pendukung Anies-Sandi jelas membuat kita bertanya-tanya. Tidak bisakah para politikus ini menghentikan, atau minimal menghimbau supaya persekusi dihentikan?

Habis manis sepah dibuang, ketika posisi sudah digapai, kekuasaan sudah ditangan, maka para pelaku persekusi ini terlihat dibiarkan sebagai korban politisasi. Begitulah kejamnya politik, dan begitulah wajah politikus Indonesia.

Terlihat “serigala-serigala” persekusi ini memang sudah dipelihara sejak lama untuk kepentingan politik. Setiap kali ada hajat demokrasi seperti pilpres, dan pilkada, maka dibiarkanlah para serigala ini untuk mencari makan.

Jadi, kalau mau fair, yang paling jahat disini adalah pemelihara dan pemilik gerombolan serigala ini.  Yaitu para politikus yang sudah sulit diidentifikasikan siapa yang memulai.  Paling tidak,  depan mata kita kita melihat, sejarah mencatat nama-nama yang nyaman menunggangi gerombolan ini.

Having all said, momentum sudah berbalik, pemerintah melalui Jokowi, dan Tito mendapatkan kesempatan untuk membersihkan NKRI dari serigala-serigala jahat.  Lupakan dulu para pemilik, pemelihara, pemberi makan yang bersembunyi, rakyat perlu diselamatkan.  Rakyat perlu bukti, bahwa pemerintah memang berani.  Gebuk!

Pendekar Solo

Please follow and like us: