SAYA MAU TETAP WNI

Atasan saya di Amerika pernah mengatakan bahwa saya bodoh karena menolak Green Card. Bagi dia, itu kesempatan emas. Bagi saya, itu bukan panggilan. Saya memilih pulang ke Indonesia.

Jalannya tidak mudah. Tanpa dukungan apa pun. Tidak ada beasiswa negara, tidak ada karpet merah. Bahkan sisa uang di ATM sempat raib dicuri pada 2003–2004. Itu masa yang sangat sulit. Titik nol. Awal yang sunyi.

Dua puluh dua tahun berlalu. Rekan satu tim saya kini sudah menjadi direktur di tempat yang sama. Ia layak mendapatkannya. Sementara saya tetap di Indonesia, melayani sebagai pendeta di gereja yang tidak besar, dan saya bahagia. Sampai hari ini saya tidak pernah ingin menjadi warga negara lain.

Jejak digital saya selama dua dekade menunjukkan satu hal: saya mencintai Indonesia, sekaligus mengkritiknya dengan keras. Dari Putusan 90 MK sampai polemik MBG, saya bersuara. Karena cinta tanpa kritik adalah kemunafikan, dan kritik tanpa cinta adalah kebencian.

Akun Facebook lama saya, Instagram saya, diserang kelompok tertentu. Tetapi itu tidak mengubah keputusan saya. Saya tetap mau menjadi WNI. Bukan karena Indonesia sudah sempurna, melainkan karena saya percaya inilah penempatan Tuhan atas hidup saya.

Kasus “Cukup saya WNI, anak jangan” dari penerima LPDP, Dwi Sasetyaningtyas, memang menjengkelkan. Namun di sisi lain, saya memahami realitasnya. Secara rasional, lulusan luar negeri seperti saya lebih sejahtera jika tinggal dan bekerja di luar, digaji dalam mata uang kuat.

Ketika pejabat pemerintah merespons kasus itu dengan nada pencitraan, sementara pada hari yang sama kebijakan impor mobil dari India berjalan, publik melihat paradoks. Bangsa ini memang belum bebas dari inkonsistensi. Mungkin suara Ibu Dwi sebenarnya mewakili harapan terpendam banyak orang: biarlah anak saya hidup di sistem yang lebih pasti.

Tetapi saya tetap percaya, jika anggaran negara, termasuk untuk MBG, KMP, dan seluruh instrumen APBN, sungguh-sungguh diarahkan untuk membangun ekosistem meritokratis, melahirkan pemimpin unggul di pemerintahan, bisnis, dan masyarakat, ceritanya akan berbeda.

Akan lebih banyak orang berkata dengan bangga:
Saya mau tetap WNI.

Just me,
Hanny

Coretan Lain:

Please follow and like us: