Melampaui Dikotomi Kuda dan Keledai dalam Tafsir Populer
Pembacaan populer terhadap peristiwa masuknya Yesus Kristus ke Yerusalem sering menempatkan keledai sebagai simbol kerendahan hati, terutama melalui kontras sederhana dengan kuda yang diasosiasikan dengan kekuatan dan kemegahan. Namun, dikotomi ini cenderung merupakan konstruksi tafsir modern yang kurang berakar pada sejarah dan teologi Israel. Dalam kerangka Alkitab Ibrani, keledai bukanlah simbol inferioritas, melainkan bagian dari tradisi legitimasi kerajaan yang sah, yang kemudian mencapai puncaknya dalam deklarasi Mesianik Yesus.
Dalam Kitab Ulangan 17:16, teks Ibrani menggunakan frasa:
“lo-yarbeh lo susim” (לֹא־יַרְבֶּה־לּוֹ סוּסִים)
yang berarti “ia tidak boleh memperbanyak kuda bagi dirinya.” Kata sus (סוּס) secara konsisten berasosiasi dengan kekuatan militer, khususnya kereta perang. Larangan ini diikuti dengan:
“velo-yashiv et-ha‘am Mitsraymah” (וְלֹא־יָשִׁיב אֶת־הָעָם מִצְרַיְמָה)
yang melarang kembali ke Mesir. Secara teologis, “kuda” tidak netral, tetapi terikat pada sistem kekuasaan Mesir. Raja Israel tidak boleh membangun kekuasaannya melalui paradigma militeristik.
Sejarah Israel menunjukkan pelanggaran terhadap prinsip ini. Dalam Kitab 1 Raja-raja 10:26–29, Salomo mengimpor kuda dari Mesir. Kata yang sama, susim (סוּסִים), menegaskan kesinambungan pelanggaran tersebut. Dengan demikian, kuda menjadi simbol kompromi politik dan teologis dalam sejarah monarki Israel.
Sebaliknya, keledai dalam tradisi Israel muncul dalam istilah Ibrani:
ḥamor (חֲמוֹר)
yang menunjuk pada hewan tunggangan domestik yang umum, tetapi juga digunakan oleh kalangan elite. Dalam Kitab 1 Raja-raja 1:33, Salomo dinobatkan dengan menunggang keledai milik Daud. Ini bukan simbol kerendahan, tetapi simbol legitimasi dinasti. Keledai Daud menjadi tanda kesinambungan kerajaan yang sah. Dalam konteks ini, ḥamor adalah simbol identitas kerajaan yang tidak bergantung pada militerisme.
Nubuat Zakharia 9:9–10 memperdalam makna ini. Ayat 9 menyatakan:
“‘ani ve-rokhev ‘al ḥamor” (עָנִי וְרֹכֵב עַל־חֲמוֹר)
yang berarti “seorang yang ‘ani dan menunggang keledai.” Kata ‘ani (עָנִי) sering diterjemahkan “rendah hati,” tetapi juga berarti “tertindas” atau “tidak bergantung pada kekuatan sendiri.” Fokusnya bukan sekadar moralitas pribadi, tetapi posisi eksistensial yang kontras dengan kekuasaan militer. Ayat 10 menegaskan:
“ve-hikhratti rekhev… ve-sus” (וְהִכְרַתִּי רֶכֶב… וְסוּס)
yaitu penghapusan kereta dan kuda. Keledai berada dalam konteks penggantian sistem militer.
Dalam Injil, ketika Yesus Kristus memasuki Yerusalem, teks Yunani menggunakan kata:
onos (ὄνος)
untuk keledai. Dalam Injil Matius 21:5, kutipan dari Zakharia dipertahankan secara eksplisit. Ini menunjukkan bahwa tindakan Yesus adalah deklarasi Mesianik yang sadar, bukan kebetulan naratif.
Lebih jauh, tindakan ini memiliki dimensi konfrontatif terhadap struktur kekuasaan pada zamannya, khususnya pemerintahan Herodes Antipas di bawah Kekaisaran Romawi. Jika kerajaan Herodes berdiri di atas kekuatan militer dan legitimasi politik, maka Yesus menghadirkan kerajaan alternatif yang berakar pada kesetiaan kepada Allah. Masuknya Yesus ke Yerusalem merupakan tindakan penobatan tandingan yang menantang sistem kekuasaan tersebut.
Seruan orang banyak, “Hosana,” berasal dari Ibrani:
“hoshi‘ah na” (הוֹשִׁיעָה נָּא)
dalam Mazmur 118:25, yang berarti “selamatkanlah kami sekarang.” Dalam bentuk Yunani:
hōsanna (ὡσαννά)
istilah ini mempertahankan makna permohonan keselamatan yang mendesak. Dalam konteks Paskah, ini adalah seruan eskatologis dan politis, bukan sekadar liturgis.
Dengan demikian, keledai tidak dapat direduksi menjadi simbol kerendahan hati semata. ḥamor dalam tradisi Israel adalah simbol legitimasi kerajaan, dikontraskan dengan sus sebagai simbol militerisme. Dalam diri Yesus, simbol ini mencapai penggenapan penuh. Ia hadir sebagai Raja Mesias yang sah, bukan melalui kekuatan kuda, tetapi melalui kesetiaan pada Allah yang mendirikan kerajaan-Nya.
Hanny Setiawan
PSPI – Pusat Studi Pentakosta Indonesia
Coretan Lain:
- Ekklesia – Israel, Teologi Kristen Yahudi
- Restorasi Teologi Israel: Menemukan Keseimbangan antara Kovenan dan Dispensasasi
- Dua Orang Yahudi : Yesus dan Yudas
- Kontroversi Tuduhan Israel Adalah Penjajah
- ISRAEL – INDONESIA: ANTARA IDEOLOGI, KEYAKINAN, DAN POLITIK