Daripada Selingkuh, Nikahkah Agama dan Politik!

9 Mei 2017 menjadi catatan hitam reformasi Indonesia.  Seringai serigala-serigala orde baru yang selingkuh dengan kekuatan radikal ditunggangi para oportunis sektarian telah menjungkalkan Ahok ke tahanan.

Supaya fair, Ahok jatuh bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Secara pribadi, Ahok sedang menjalani proses kenosis, yaitu proses menjadi kenos atau kosong. Karena semakin dia berkurang, maka Tuhan akan semakin bertambah.  Itulah iman yang Ahok anut.

Dari sudut politik, pemerintahan Jokowi yang sedang membangun jelas sedang dijadikan sasaran tembak, dan Ahok adalah pintu masuk menuju Jokowi. Apakah Jokowi mengorbankan Ahok?

Bisa ya, bisa tidak. Hanya Jokowi yang tahu, tapi yang jelas Jokowi tidak melanggar apapun, dan dia tetap pilihan terbaik melanjutkan reformasi.  Sebab itu dukungan ke Jokowi harus terus diperkuat.

Yang menarik untuk dikaji, supaya kedepan tidak terjadi lagi, adalah hubungan antara agama dan politik.  Jokowi pun sampai harus menyatakan agama dan politik harus dipisahkan.

Dan itupun akan dipermasalahkan orang-orang radikal yang akan mem-frame. Jokowi PKI!  As stupid as it sound, tapi spanduk-spanduk soal PKI ada dimana-mana.  Itulah realitasnya, ada kelompok yang bermain.

Realitas selingkuh agama dan politik terpampang jelas di Pilkada DKI 2017. Bagi Anies-Sandi itu hanya strategi pemenangan.  Bagi kita yang waras, muak bin mules-mules melihat agama digunakan untuk meraih posisi.  So low!

Tapi apakah agama harus dipisahkan dari politik? Bagaimana memisahnya? Sebagai orang beragama, saya juga berfikir bagaimana memisah kedua kekuatan ini.  Ternyata jawabannya, bukan dipisahkan tapi dinikahkan!  

Agama harus dipandang sebagai sumber akhlak, karakter, dan moral. Sebab itu kekuatan agama seharusnya adalah kekuatan yang membuat para pejabat publik alias politikus BERMORAL.  Tapi, ketika agama dijadikan kekuatan politik maka lahirlah radikalisme dan intoleran yang menyedihkan.

Jadi yang disebut pernikahan antara agama dan politik adalah agama tidak diletakkan dimesjid, gereja, kelenteng, atau rumah ketika kita berpolitik. Tapi justru dibawa ke Istana, DPR, Balai Kota, sampai RW & RT supaya semua pejabat yang melayani masyarakat bermoral.

Perselingkuhan agama dan politik membawa kepada imoralitas, pernikahan agama dan politik akan membawa kepada moralitas pelayanan publik. Nikahkan!

Pendekar Solo

Please follow and like us: