Mengukur Dampak “Tamparan” Ananda Sukarlan

Jagad sosmed Indonesia kembali bergetar, dan menggeliat. Setelah Pilkada DKI 2017 yang memang mengecewan begitu banyak pihak, tak henti-hentinya Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih menuai berita tak baik. Kali ini, pianis terkemuka Ananda Sukarlan yang menampar muka sang Gubernur demikan telak.

Maestro piano Indonesia yang sudah sangat teruji keIndonesiaannya, melakan Walk Out ketika Gubernur terpilih sedang berpidato.  Bahkan mengkritik secara langsung panita mengapa harus mengundang Gubernur yang secara tidak elok memenangkan Pilkada.  Sangar tenan, bukan? (baca)

Para penulis dan pemerhati isu terkini sosmed seperti Denny Siregar, Eko Kunthadi , Pepih Nugraha dengan gesit menayangkan interpretasi dan opini mereka akan kejadian yang sangat “bersejarah ini”.

Denny dalam tulisannya Perlawanan Ananda Sukarlan pada dasarnya melihat bahwa improvisasi Sang Maestro di acara 90th berdirinya Kolose Kanisus bisa dimaklumi karena masalah hati nurani. Pendukung keras Kebhinekaan ini jelas 100% mendukung Ananda.

Eko lebih lugas lagi bahkan mengajak netizen untuk menjadikan tamparan Ananda ini menjadi sebuah momentum untuk sebuah pergerakan (baca). Pergerakan melawan politisasi agama, dan cara-cara yang tidak benar dalam meraih posisi.

Ajakan Eko ini jelas sangat menarik dikaji. 42% dari penduduk Jakarta (mungkin lebih) masih terluka dan bukan tidak mungkin akan terbakar dengan ajakan ini.  Artinya, Walk Out – Walk Out terhadap pidato DKI1 dan DKI2 akan lebih sering lagi terdengar.  Ngeri juga.

Pepih, dari sudut lain, melihat bahayanya penolakan terhadap gubernur terpilih ini bisa jadi berbau “inkonsistusional” karena sang Gubernur datang melalui undangan resmi bukan penyusup (baca).

Tapi disisi yang lain, dia melihat secara moral tidak bisa dipungkiri luka Pilkada masih mengaga, dan satu-satunya cara bukti kerja DKI1 dan DKI2 harus lebih baik dari Ahok – Djarot, atau Jokowi – Ahok.  Itu yang masih diragukan.

42% adalah sekitar 4 juta penduduk Jakarta, ditambah pendukung Ahok – Djarot dalam dan luar negeri yang kemungkinan bahkan lebih besar jelas bukan hal yang remeh untuk tidak dianggap.

Harapan sang juara untuk merangkul pun sudah pupus dengan pidato pribumi yang seakan-akan memanggil semua sel-sel tidur yang selama jaman reformasi tiarap.

Sebuah “panggilan terselubung” yang sangat meyakitkan hati para pendukung NKRI sejati.  Sudah begitu jauhkan kesesatan itu terjadi, atau memang agenda sesungguhnya baru terlihat sekarang?

Apapaun itu, tamparan Ananda Sukarlan adalah indeed momentum yang baik untuk mengingatkan semua pihak, terutama yang bernafsu jadi pejabat publik dan berlomba di Pilkada 2018.  Mengingatkan bahwa jaman now adalah jaman digital, dimana jejak-jejak digital itu sangat transparan.

Kita bisa berdalih apapun, tapi pada akhirnya rekam jejak kita yang akan menyatakan siapa kita yang sebenarnya. Dan sang Pianis seakan-akan hanya memberikan “Cue” kepada sang Gubernur untuk bertobat.  Mungkin dia tidak begitu mengerti musik. ETA terangkanlah.

Atau mungkin eforia naik jabatan masih belum selesai, sehingga responnya pun tidak pas lagi.  Karena dia menganggap tamparan Ananda sebagai angin lalu, dan berkata

“Bagian kami adalah menyapa semua, mengayomi semua. Jadi itu tanggung jawab saya sebagai gubernur. Jadi saya akan menyapa semua mengayomi semua kalau kemudian ada reaksi negatif, ya itu bonus aja buat saya. Nggak ada sesuatu yang, biasa aja. Rileks” (baca)

Terlihat tidak ada penyesalan sama sekali dengan Pilkada DKI 2017 dan isu yang sesungguhnya yang sedang terjadi. Itu yang sangat disayangkan. Point of No Return, aliran SARA ini terlihat tidak akan dihentikan dan akan terus digunakan untuk tetap menjaga kekuasaan.  Asem tenan!

Benar atau tidak tindakan Ananda, akan bisa dibaca dari banyak sisi, esensi, dan hati nurani. Saya memilih untuk melihat tindakan Ananda adalah ejakulasi kemarahan yang terpendam, dan mewakili ribuan bunga, balon, dan lilin karena begitu laknat dan pekatnya Pilkada DKI 2017.  Anggap saja Ananda sedang berimprovisasi setelah sekian lama hidup dalam musik klasik. Ayo nge-jamz mas 🙂 I love your groove !

Pendekar Solo

Please follow and like us:

Nama Yehova, Allah Israel Tiba-Tiba Menjadi Pembicaraan di Media Indonesia

Kampanye kreatif Pilkada DKI 2017 tiba-tiba terasa bagaikan sebuah ibadah pujian dan penyembahan.  Menariknya, kata-kata “sakral” Yehovah biarpun tidak disebutkan menjadi kata yang tersebar dan menjadi pembicaraan.

Lagu yang digunakan untuk kampanye Anies-Sandi ternyata adalah plagiat dari lagu Hashem Meleach dari Band Israel Gads Elbaz (Sumber) yang artinya adalah “The Lord is King, Jehova our Lord and God!”

Bagi orang Kristen, terasa suasana kampanye secara budaya menjadi terasa tidak asing.  Karena memang pada dasarnya Kristen mengakui, Yehovah (Allah Israel) sebagai Tuhan yang berinkarnasi di dalam diri Yesus Kristus.

PKS (Partai Keadilan Sosial) sebagai partai Islam totok mungkin tidak begitu mengerti lagu ini, sehingga akhirnya menjadi bully di medsos.  Tapi, sebenarnya ada baiknya juga fenomena ini menjadi sebuah trigger untuk dialog kebangsaan berbasis agama Semitik.

Yahudi, Kristen, dan Islam adalah tiga agama besar yang berpusat secara historis kepada Ibrahim atau Abraham.  Jadi, sebelum ada perbedaan-perbedaan yang muncul, ketiga agama ini secara historis tidak bisa memungkiri memiliki kepercayaan kepada “Tuhan” yang sama.  Yaitu, Tuhannya Ibrahim atau Abraham.

Ketika pendekatan teologis dihilangkan, dan pendekatan historis lebih dikedepankan Yahudi, Kristen, dan Islam seharusnya bisa hidup lebih nyaman bersama-sama karena semuanya adalah anaknya bapak Ibrahim.  Paling tidak dengan “kecelakaan kampanye” Anies-Sandi dan PKS ini justru membuka wacana kita semua untuk berfikir kebangsaan.  Blessing in disguise.

Pendekar Solo

Please follow and like us: