Perlukah Ahok Kembali ke Politik?

Sehari setelah mencabut hak banding, Ahok mengajukan surat pengunduran diri kepada Jokowi sebagai presiden RI. Dengan ini, secara legal maka Ahok 100% tidak ada ikatan politik  lagi  dengan pemerintahan baik secara hukum maupun praktis.

Ahok benar-benar dalam posisi bebas dari semua yang berbau politik praktis saat ini. Bagi yang punya perusahaan, ini bagaikan kehilangan CEO terbaik yang dimiliki. Bagaikan Steve Job meninggalkan Apple, atau Bill Gates meninggalkan Microsoft.  Bagi yang mengerti.

Berita berseliweran bahwa Ahok tidak mau lagi kembali ke politik, ada juga yang mengatakan Ahok lebih baik keluar negeri dan melupakan negeri ini, atau ada juga yang masih mengharapkan Ahok kembali dengan kekuatan massa lebih besar menghancurkan semua bigot-bigot Indonesia. Semuanya hanya berita.

Kita tidak mengerti apa yang di hati Ahok, bahkan mungkin sekarang ini dia sedang mencari apa yang lebih baik dia lakukan. Tapi, yang jelas, saya berani mengatakan bahwa pasti Ahok kecewa. Itu dinyatakan secara eksplisit dalam suratnya.

Siapa tidak kecewa dengan keadaan yang menyakitkan, memberikan terbaik untuk perusahaan, tapi malah dijebloskan ke penjara oleh majikannya.

Pengadilan mewakili rakyat, hasil Pilkada mewakili rakyat. Terlepas siapa aktor politik yang dibelakangnya, rakyat Indonesia adalah yang pihak yang menolak Ahok. Terutama rakyat Jakarta.  Itulah realitasnya.

Pernyataannya sekarang, apakah nantinya Ahok lebih baik kembali ke politik atau tidak?

Ahok sudah di penjara pun, lawan pun masih begitu takut Ahok kembali lagi ke gelanggang. Amien Rais, sang kakek kontroversial, bahkan berteriak-teriak untuk mengusut korupsi Ahok yang gilanya “buku fiksi” juga dibuat oleh Marwan Batubara dengan judul “Usut Tuntas Dugaan Korupsi Ahok” .  Paranoid!

Dalam prinsip Alkitab, pengikut Kristus tidak memiliki hak lagi. Hidupku bukan aku lagi, tapi Kristus yang didalamku (Gal 2:20).  Paulus mengatakan bahwa kita ini adalah tawanan Roh (Kis 20:22) artinya kita hanya bisa taat saja. Tuhan tahu yang terbaik dalam memutuskan.

Kristen tidak percaya takdir, tapi percaya destiny dan panggilan. Demikian juga Ahok, sebagai Tionghoa Kristen, Ahok sudah menunjukkan contoh bagaimana menjadi WNI Kristen yang baik dan benar, terlepas dari segala kelemahan dia sebagai manusia.

Dan fungsi dia untuk bangsa ini jelas, dia adalah seorang pendobrak, dan pembuka jalan (forrunner). Dalam bahasa kelompok Karismatik terikini, Ahok bergerak di apostolik profetik untuk menjadi garam dan terang di marketplace bukan saja dibalik dinding-dinding gereja.

Jadi, bagi Ahok, sebenarnya kembali atau tidak ke pemerintahan, bukan lagi pendapat pribadi Ahok atau pendukungnya. Tapi apa maunya Tuhan itu yang harus diselesaikan. Secara destiny, jelas Ahok tidak akan bisa dipisahkan dari sejarah perpolitikan Indonesia.

Ahok sudah jadi bagian wall of fame, politikus dan negarawan Indonesia. Tapi, secara panggilan, Apakah musim yang baru Ahok harus di politik praktis, atau menjadi “guru bangsa” hanya Ahok dan Tuhan yang tahu dan kita mendukung dalam doa.

Sebagai rakyat Indonesia, disisi lain, saya melihat bahwa Indonesia membutuhkan Ahok untuk kembali. Kembali bukan untuk menang atau kalah tapi kembali untuk memberi teladan dan contoh bagaimana berpolitik, bernegara, dan menjadi pejabat publik yang benar.

Bagaimana cara kembalinya? Saya juga tidak tahu. Tapi saya cuma percaya, Tuhan buka jalan saat tidak ada jalan. Cuma saya juga menyadari, bahwa Ahok butuh waktu untuk menyembuhkan diri dari luka dikhianati orang yang ditolong.

Jadi, sekarang ini pertanyaan yang benar adalah apakah Indonesia sudah siap menerima Ahok kembali? Karena bukan Ahok yang belum siap, tapi Indonesia yang belum siap.

“Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ.”
Kisah 20:22

Hanny Setiawan

Please follow and like us: