Dalam Konflik Israel Palestina, Apa Yang Seharusnya Dilakukan Pemerintah RI?

Pernyataan Donald Trump di hari Kamis minggu lalu(7/12/2017)  berhasil mempengaruhi arah politik dunia, dan dalam  negeri Indonesia. Jokowi, dengan sigap melihat isu Israel Palestina sebagai isu politik sexy yang bisa digunakan untuk menetralkan politik SARA yang sangat bau di DKI Jakarta.

Tak urung Prabowo, Anies, bahkan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) mau tidak mau harus mengapresiasi langkah politik Jokowi ini. Dan hari ini Selasa, 12/12/2017, Jokowi berangkat ke KTT Luarbiasa OKI (Organisasi Kerjasama Islam) di Istanbul Turki.

Ada dua agenda Jokowi di Istanbul, yaitu menolak pernyataan Amerika melalui Donald Trump, dan memastikan pembelaan terhadap Palestina. Dua agenda yang jelas akan mampu menutup isu politik PKI, pro Amerika, bahkan pro China (karena China juga sejalan dengan Indonesia dalam hal ini).

Kondisi politik ini akan membingungkan dan tidak menguntungkan para radikalis, sektarian, dan oportunis yang hendak menggoyang Jokowi melalui isu ini. Inilah blessing in disguise yang Jokowi terima dari Donald Trump.

Secara politis, langkah Jokowi sudah tepat, tapi secara esensi apakah sudah benar? Artinya begini, isu boikot produk Amerika yang dihembuskan bahlul-bahlul politik SARA Indonesia adalah jebakan-jebakan batmen yang Jokowi harus perhatikan juga.

Jangan sampai Indonesia dibawa masuk perang yang tidak perlu, Indonesia harus tetap fokus untuk mengusahakan PERDAMAIAN bagi Israel dan Palestina. Itu adalah arti penting Indonesia bagi dunia yang harus dibangkitkan lagi.

Kita harus ingat, Soekarno, founding father, bangsa kita adalah pencetus gerakan Non-Blok yang sebenarnya waktu itu sangat cetar membahana, mampu membuat Barat maupun Timur berebut Indonesia. Destiny Indonesia sebagai penyeimbang inilah yang harus terus dipercaya.

Bukan Pro Israel, atau Pro Palestina, tapi harus tetap Pro Perdamaian. Itu posisi yang tepat. Jadi kalau dianggap Israel terlalu negatif, maka Indonesia harus mengingatkan Israel. Tapi kebalikannya kalau Palestina tidak benar, Indonesia juga harus menegur Palestina.

Keberhasilan Jokowi menjadi penengah akan membawa Indonesia ke panggung Dunia dan menjadi bangsa yang besar. Sekaligus, Jokowi akan ada diposisi yang tidak tergoyahkan sebagai politikus-negarawan Indonesia Modern.

Untuk bisa bisa menjadi penengah, Jokowi diuji keberaniannya.  Karena sebenarnya konflik Israel Palestina mirip dengan konflik G30S 1965, dan Reformasi 1998, semua jelas tapi karena politik yang diramu agama dan ideologi menjadi sensitif.

Doa saya untuk Jokowi, diberi Hikmat Tuhan seperti Salomo, dan keberanian seperti Daud  untuk dapat mengambil keputusan yang akan membawa perdamaian Israel Palestina. Bukan sekedar keputusan politis, tapi keputusan humanis negarawan level dunia.

Selamat berjuang, dan bekerja Mr. President!

Pendekar Solo

Please follow and like us: