Mengaburkan Radikalisme Dengan Islamphobia Sebagai Cara Adu Domba

Encounter  langsung pertama saya dengan isu radikalisme dan terorisme justru bukan di Indonesia, tapi di Amerika.  9 September 2001 adalah hari tak terlupakan bagi orang Amerika, bahkan seluruh dunia.  World Trade Center  (WTC) attack yang mengagetkan memperlihatkan bahwa radikalisme, dan terorisme itu sebuah realitas.

Bentuk-bentuk radikalisme ada disemua agama, tapi tidak bisa dipungkiri penggunaan attribut, icon, dan istilah yang Islami membuat agama Rahmatan ‘lil Alamin ini mendapatkan publikasi yang tidak baik di dunia barat.

Hari Minggu pagi, 15 September 2001 tepat 1 minggu setelah ditabrakannya pesawat ke menara WTC, gereja-gereja di Amerika penuh karena ketakutan akan serangan teroris.  Saat itu, saya berdiri di depan sebuah komunitas orang bule dan menyatakan bahwa Islam tidak selalu radikal, apalagi teroris.

Saya merasa bertanggung jawab untuk menerangkan kepada teman-teman bule saya bahwa Islam tidak sama dengan radikalisme, apalagi terorisme. Tinggal sepanjang hidup dengan teman, tetangga, dan rekan sekerja muslim memperlihatkan bahwa Islam bukan seperti yang dibayangkan mereka.

Meskipun demikan, saya menyadari bahwa tingkat kesulitan untuk menerangkan dan menjelaskan sangat sulit terutama karena saya sendiri bukan seorang muslim, kedua dan yang terutama karena begitu banyaknya penggunaan bahasa Islam dalam beberapa kejadian radikalisme dan terorisme.

Dari sana saya mulai mengerti bahwa mewaspadai radikalisme harus dibedakan dari Islamphobia.  Apabila tidak dipisahkan, kerugian tidak hanya ditanggung teman-teman Islam, tapi juga bagi kita semua karena akan gampang di adu domba.

Isu ini sudah terjadi dan meledak di Pilkada DKI 2017. Setiap kali kita menekan para radikal maka dengan licinnnya akan dikatakan kita telah terjangkiti Islamphobia.

Modus operandi ini semakin diperparah oleh politikus-politikus SARA yang dengan tega mengorbankan persatuan bangsa demi posisi sesaat. Menjijikan atau disgusting adalah kata yang menurut saya mungkin  lebih tepat.

PR besar ada di teman-teman Nahdatul Ulama sebagai benteng Islam moderat untuk terus melakukan tindakan-tindakan proaktif menanggulangi berkembangnya paham radikalisme.  Dan NU tidak harus sendiri, karena teman-teman non Muslim dan organisasi yang lain seperti Muhammadiah seharusnya bekerja sama dan bergandeng tangan untuk NKRI yang benar.

Phobia adalah sebuah ketakutan yang irasional.  Tapi takut terhadap para radikal dan teroris yang menggunakan Islam sebagai alasan politis adalah sesuatu yang rasional.

Melawan para radikal adalah kerja kolektif bersama, bukan cuma pekerjaan agama-agama tertentu.  Kita waspadai usah-usaha mengadu domba dan membenturkan kelompok yang satu dengan yang lain.

Cara pertama yang bisa dilakukan, jangan pilih wakil rakyat, dan pejabat publik yang menggunakan isu SARA dalam proses kampanye mereka.  Merekalah pintu masuk all this mess.

Pendekar Solo

Please follow and like us: