Chester Bennington Gantung Diri, Apakah Bisa Disebut RIP?

Dunia kembali digoncangkan dengan kasus bunuh diri selebriti. Chester Bennington, vokalis band papan atas Linkin Park, ditemukan menggantung diri hari Kamis (20/7/2017) waktu setempat. Chester, diumur 41, dan disaat puncak kejayaan, ternyata tidak lagi memiliki sebuah alasan pun untuk hidup.

Bisa ditebak, para penggemar diseluruh dunia terkejut dan menyatakan berbela sungkawa. Kematian yang bukan hanya terlalu dini dari musisi yang sangat berbakat ini, tapi juga kematian yang mengganjal dihati kita semua. Gantung Diri!

RIP – Rest In Peace bertaburan dimana-mana di sosial media mulai Twitter, FB, IG, dan online blog.  Pernyataan yang sopan dan terlihat simpatik ini terasa mengusik hati.  Mengapa?

Karena puluhan juta penggemar Linkin Park yang rata-rata anak muda yang tidak mengerti bisa salah mengerti dan mengganggap gantung diri adalah salah satu cara untuk RIP. Ngeri kan?

Jauhkan dari sentimen agama dulu. Saya tidak sedang berusaha masuk ke debat soteriologi, apakah Chester masuk neraka atau surga, atau apa penyebab Chester nekat, atau bahkan sekedar memperdebatkan masalah obat-obatan yang dikonsumsi.

Tapi saya menyoroti dampak sosial dari dukungan yang terkesan “Socially Correct” terhadap jalan yang ditempuh seorang Chester Bennington dengan melabeli kematiananya, Rest In Peace.

Saya berani mengatakan digantung, baik oleh orang lain, atau menggantung diri sendiri itu tidak ada nyamannya sama sekali. Jadi 100% saya berani mengatakan Chester Bennington tidak Rest In Peace.

Kita hargai semua karya musiknya, kita hargai semua perbuatan dan amal baiknya selama hidup. Karena saya tidak kenal dia, maka saya tidak bisa mengatakan apapun soal itu. Tapi kita harus berani mengatakan vokalis terkenal ini mengambil jalan yang salah. Titik!

Tujuannya apa kita harus menyatakan ini? Ribuan dan jutaan anak muda siap untuk mengikuti jalan pintas dari pecandu obat ini. Dan ketika kita menjadi bagian dari pendukung “aliran kematian” ini, maka kita ikut bertanggung jawab dengan semakin maraknya kasus bunuh diri.

Perlu diingatkan, Chester mengikuti jalan sahabatnya yang juga menggantung diri, Chris Cornell sahabatnya.

Chester Bennington, pentolan band Linkin Park, memutuskan bunuh diri di hari ulang tahun sahabatnya, mendiang Chris Cornell, Kamis (20/7). Bagi Chester, Cornell –yang juga tewas gantung diri– adalah panutan dan inspirasi baginya bermusik. (Sumber)

Jangan pernah meremehkan kekuatan dari sebuah panutan. Bisa dibayangkan berapa banyak anak muda yang terjangkiti sucidial spirit  atau kecenderungan untuk bunuh diri dari seorang Chester?

Chester sudah meninggal, sebagai sesama manusia, kita ikut berduka untuk istri dan anak yang ditinggal. Tapi kita juga harus berani mengatakan jalan yang ditempuh tidak benar, dan lebih dari itu kita harus hentikan rantai kematian “mengikuti panutan” sampai disini.

Ini waktunya generasi ini mulai harus diajar dengan nilai-nilai yang benar dari budaya populer. Lagu-lagu yang penuh pesimisme kehidupan, sebagus apapun musiknya, adalah sampah bagi jiwa yang sehat.  Pilihlah panutan yang benar, bukan sekedar yang trend.

Jadikan kematian Chester Bennington, Christ Cornell, Tommy Page, Robin Williams, Ian Curtis, Nick Drake, Kurt Cobain, sampai Whitney Houston dan Elvis Presley sebagai sebuah peringatan bagi kita. Ini bukan sebuah peristiwa bunuh diri dari seorang selebriti saja, melainkan ini sebuah epidemi sosial masyarkat yang harus dihentikan.

Pendekar Solo

Please follow and like us: