Perlukah Ahok Kembali ke Politik?

Sehari setelah mencabut hak banding, Ahok mengajukan surat pengunduran diri kepada Jokowi sebagai presiden RI. Dengan ini, secara legal maka Ahok 100% tidak ada ikatan politik  lagi  dengan pemerintahan baik secara hukum maupun praktis.

Ahok benar-benar dalam posisi bebas dari semua yang berbau politik praktis saat ini. Bagi yang punya perusahaan, ini bagaikan kehilangan CEO terbaik yang dimiliki. Bagaikan Steve Job meninggalkan Apple, atau Bill Gates meninggalkan Microsoft.  Bagi yang mengerti.

Berita berseliweran bahwa Ahok tidak mau lagi kembali ke politik, ada juga yang mengatakan Ahok lebih baik keluar negeri dan melupakan negeri ini, atau ada juga yang masih mengharapkan Ahok kembali dengan kekuatan massa lebih besar menghancurkan semua bigot-bigot Indonesia. Semuanya hanya berita.

Kita tidak mengerti apa yang di hati Ahok, bahkan mungkin sekarang ini dia sedang mencari apa yang lebih baik dia lakukan. Tapi, yang jelas, saya berani mengatakan bahwa pasti Ahok kecewa. Itu dinyatakan secara eksplisit dalam suratnya.

Siapa tidak kecewa dengan keadaan yang menyakitkan, memberikan terbaik untuk perusahaan, tapi malah dijebloskan ke penjara oleh majikannya.

Pengadilan mewakili rakyat, hasil Pilkada mewakili rakyat. Terlepas siapa aktor politik yang dibelakangnya, rakyat Indonesia adalah yang pihak yang menolak Ahok. Terutama rakyat Jakarta.  Itulah realitasnya.

Pernyataannya sekarang, apakah nantinya Ahok lebih baik kembali ke politik atau tidak?

Ahok sudah di penjara pun, lawan pun masih begitu takut Ahok kembali lagi ke gelanggang. Amien Rais, sang kakek kontroversial, bahkan berteriak-teriak untuk mengusut korupsi Ahok yang gilanya “buku fiksi” juga dibuat oleh Marwan Batubara dengan judul “Usut Tuntas Dugaan Korupsi Ahok” .  Paranoid!

Dalam prinsip Alkitab, pengikut Kristus tidak memiliki hak lagi. Hidupku bukan aku lagi, tapi Kristus yang didalamku (Gal 2:20).  Paulus mengatakan bahwa kita ini adalah tawanan Roh (Kis 20:22) artinya kita hanya bisa taat saja. Tuhan tahu yang terbaik dalam memutuskan.

Kristen tidak percaya takdir, tapi percaya destiny dan panggilan. Demikian juga Ahok, sebagai Tionghoa Kristen, Ahok sudah menunjukkan contoh bagaimana menjadi WNI Kristen yang baik dan benar, terlepas dari segala kelemahan dia sebagai manusia.

Dan fungsi dia untuk bangsa ini jelas, dia adalah seorang pendobrak, dan pembuka jalan (forrunner). Dalam bahasa kelompok Karismatik terikini, Ahok bergerak di apostolik profetik untuk menjadi garam dan terang di marketplace bukan saja dibalik dinding-dinding gereja.

Jadi, bagi Ahok, sebenarnya kembali atau tidak ke pemerintahan, bukan lagi pendapat pribadi Ahok atau pendukungnya. Tapi apa maunya Tuhan itu yang harus diselesaikan. Secara destiny, jelas Ahok tidak akan bisa dipisahkan dari sejarah perpolitikan Indonesia.

Ahok sudah jadi bagian wall of fame, politikus dan negarawan Indonesia. Tapi, secara panggilan, Apakah musim yang baru Ahok harus di politik praktis, atau menjadi “guru bangsa” hanya Ahok dan Tuhan yang tahu dan kita mendukung dalam doa.

Sebagai rakyat Indonesia, disisi lain, saya melihat bahwa Indonesia membutuhkan Ahok untuk kembali. Kembali bukan untuk menang atau kalah tapi kembali untuk memberi teladan dan contoh bagaimana berpolitik, bernegara, dan menjadi pejabat publik yang benar.

Bagaimana cara kembalinya? Saya juga tidak tahu. Tapi saya cuma percaya, Tuhan buka jalan saat tidak ada jalan. Cuma saya juga menyadari, bahwa Ahok butuh waktu untuk menyembuhkan diri dari luka dikhianati orang yang ditolong.

Jadi, sekarang ini pertanyaan yang benar adalah apakah Indonesia sudah siap menerima Ahok kembali? Karena bukan Ahok yang belum siap, tapi Indonesia yang belum siap.

“Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ.”
Kisah 20:22

Hanny Setiawan

Please follow and like us:

Ada Ahok Dalam Diri Adik Afi Nihaya Faradisa

Ditengah kegundahan hati melihat keadilan yang semakin menghilang dalam kasus Ahok, nama Afi Nihaya Faradisa telah muncul memberikan secercah harapan.

Bukan sekedar buah pikirannya, ataupun kemudaannya, tapi “ada Ahok” dalam diri adik Afi ini. Apa itu? Keberanian!  Keberanian dia menatap orang-orang yang jauh lebih dewasa, berpendidikan, dan berpengaruh dan mengungkap isi hatinya.

Banyak orang memiliki pemikiran yang sama dengan adik Afik, mungkin faktor kemudaannya memang menonjol. Tapi, seingat saya, sewaktu SMA saya pun mengingat banyak teman-teman yang pintar-pintar.

Artinya, tanpa merendahkan kemudaan adik Afi, hal tersebut justru bukan atau tidak seharusnya ditonjolkan.

Keberanian Afi inilah yang harus terus diekspose karena inilah spirit of Ahok. Di Indonesia sekarang ini yang dibutuhkan adalah orang-orang yang berani #hidupbenar ditengah segala kemunafikan.

Kita memiliki cukup politikus yang ok, dan banyak yang busuk. Tapi yang kita butuhkan adalah negarawan, orang-orang yang memiliki nilai-nilai dan berani untuk menyuarakan, dan menghidupinya.

Tidak heran salah satu testimony adik Afi distatus FB-nya yang terbaru mengungkapkan bagaimana seorang dosen pun meleleh melihat keberanian “anak kemarin sore”

Salah satu momen paling mengesankan dalam hidup saya adalah ketika setelah rampungnya acara, seorang ibu dosen tiba-tiba menghampiri dan memegang pipi saya, kemudian beliau berkata dengan mata yang berkaca-kaca,

“Nak, kau tahu tidak, begitu banyak orang yang punya pendapat dan suara tapi lebih memilih untuk tidak mengungkapkannya. Saya adalah salah satu orang diantara mereka. Dan kamu berani, Nak. Saya tidak tahu apa yang harus saya ungkapkan padamu. Saya terharu!.”

Anti Korupsi dan Reformasi Birokrasi adalah dua hal yang sulit untuk ditiru pejabat publik yang lain. Dalam soal anti korupsi, Ahok bukan hanya tidak nyolong, tapi dia juga tidak membiarkan orang lain nyolong.  Ini hal penting yang harus dicatat sejarah.

Kalimat “Pemahaman Nenek Lu” akan menjadi sebuh tugu peringatan, disini pernah ada seorang Gubernur yang tidak rela 1 rupiah pun uang rakyat dimainkan.

Dalam hal reformasi birokrasi, tidak perlu banyak penjelasan, bisa dilihat secara transparan bagaimana mengubah pemalas-pemalas di balikota menjadi pekerja-pekerja hebat.

Meskipun sayangnya, ketika proses belum selesai, ada om dan tante telolet yang memberi es, permen, dan mainan, sehingga anak-anak manja ini menjadi liar kembali.

Adik Afi mungkin bukan pejabat publik, tapi saya pribadi berharap dia terus bersuara. Karena suara adik Afik ini akan menjadi suara profetis yang akan membangkitkan spirit of Ahok didalam diri jutaan, puluhan juta, bahkan bisa sampai milyaran orang. Tidak ada yang mustahil di era sosial media ini.

Kalau tokoh NLP (Neuro Lingutistic Program), Anthony Robbins, pernah menulis top seller yang berjudul Awaken Giant Within You, tidaklah berlebihan apabila hari-hari ini kita melihat pentingnya untuk Awaken Ahok Within Us

Ini bukan waktunya diam, biarlah Ahok berdiam di penjara Mako Brimob bersama dengan Tuhan dan malaikat-malaikat yang menjaga dia, ini waktunya kita seperti adik Afi untuk keluar dari tempurung dan sama-sama mendeklarasikan “Bumi itu Bulat!”

Pendekar Solo

Please follow and like us:

Daripada Selingkuh, Nikahkah Agama dan Politik!

9 Mei 2017 menjadi catatan hitam reformasi Indonesia.  Seringai serigala-serigala orde baru yang selingkuh dengan kekuatan radikal ditunggangi para oportunis sektarian telah menjungkalkan Ahok ke tahanan.

Supaya fair, Ahok jatuh bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Secara pribadi, Ahok sedang menjalani proses kenosis, yaitu proses menjadi kenos atau kosong. Karena semakin dia berkurang, maka Tuhan akan semakin bertambah.  Itulah iman yang Ahok anut.

Dari sudut politik, pemerintahan Jokowi yang sedang membangun jelas sedang dijadikan sasaran tembak, dan Ahok adalah pintu masuk menuju Jokowi. Apakah Jokowi mengorbankan Ahok?

Bisa ya, bisa tidak. Hanya Jokowi yang tahu, tapi yang jelas Jokowi tidak melanggar apapun, dan dia tetap pilihan terbaik melanjutkan reformasi.  Sebab itu dukungan ke Jokowi harus terus diperkuat.

Yang menarik untuk dikaji, supaya kedepan tidak terjadi lagi, adalah hubungan antara agama dan politik.  Jokowi pun sampai harus menyatakan agama dan politik harus dipisahkan.

Dan itupun akan dipermasalahkan orang-orang radikal yang akan mem-frame. Jokowi PKI!  As stupid as it sound, tapi spanduk-spanduk soal PKI ada dimana-mana.  Itulah realitasnya, ada kelompok yang bermain.

Realitas selingkuh agama dan politik terpampang jelas di Pilkada DKI 2017. Bagi Anies-Sandi itu hanya strategi pemenangan.  Bagi kita yang waras, muak bin mules-mules melihat agama digunakan untuk meraih posisi.  So low!

Tapi apakah agama harus dipisahkan dari politik? Bagaimana memisahnya? Sebagai orang beragama, saya juga berfikir bagaimana memisah kedua kekuatan ini.  Ternyata jawabannya, bukan dipisahkan tapi dinikahkan!  

Agama harus dipandang sebagai sumber akhlak, karakter, dan moral. Sebab itu kekuatan agama seharusnya adalah kekuatan yang membuat para pejabat publik alias politikus BERMORAL.  Tapi, ketika agama dijadikan kekuatan politik maka lahirlah radikalisme dan intoleran yang menyedihkan.

Jadi yang disebut pernikahan antara agama dan politik adalah agama tidak diletakkan dimesjid, gereja, kelenteng, atau rumah ketika kita berpolitik. Tapi justru dibawa ke Istana, DPR, Balai Kota, sampai RW & RT supaya semua pejabat yang melayani masyarakat bermoral.

Perselingkuhan agama dan politik membawa kepada imoralitas, pernikahan agama dan politik akan membawa kepada moralitas pelayanan publik. Nikahkan!

Pendekar Solo

Please follow and like us:

Mengapa Umat Kristen Lebih Mendukung Ahok Daripada Hari Tanoe?

Politik, agama, dan bisnis adalah tiga pilar bangsa yang masing-masing memiliki warna dan kekuatan tersendiri.  Pemimpin dimasing-masing bidang ini memiliki kekuasaan yang apabila digabungkan menjadi kekuatan yang luar biasa.  Anies Baswedan membuktikannya di Pilkada DKI 2017.  Hari Tanoe menjadi pemain lainnya yang terlihat menggunakan taktik yang sama.

Anies melalui konsultan politiknya EEP S. Fatah bukan hanya telah berselingkuh dengan para pemimpin agama, di akhir Pilkada terkuak para pebisnis kelas berat juga ada dibelakag mereka.  Lengkap sudah threesome politika yang berakhir dengan kekalahan Ahok, dan menyisakan PR bersama, radikalisme.

Narasi perselingkuhan inilah yang membuat umat Kristen lebih mendukung Ahok daripada Hari Tanoe (HT).

Ahok dengan konsep BTP (Bersih, Transparan, Profesional) sangat kukuh untuk tetap berpolitik dengan murni tanpa melibatkan gereja, mapun bisnis secara langsung.

Meskipun diisukan dibelakang Ahok ada 9 naga, realitasnya dilapangan adalah hal terbalik.  Para pebisnis yang mendukung Ahok menyadari bahwa bisnis akan mengalami disruption apabila revolusi Ahok dilakukan.  Tapi mereka menyadari dan percaya bahwa dikemudian hari ini akan lebih baik untuk anak-cucu.  Nasionalisme yang mengalahkan kapitalisme.

Sebaliknya, pebisnis murni seperti Hari Tanoe dan Sandiaga Uno yang melompat ke politik sulit sekali dilepaskan dari kepentingan bisnis grup dan kelompok masing-masing.

Sandiaga Uno mungkin adalah satu-satunya wagub yang fokus utamanya menjual saham BUMD yang profitable, sementara PR pemprov yang lain masih menumpuk. Mengapa?

Karena memang itu yang biasa dia kerjakan, jual beli saham. Dan dengan lihai dia melibatkan sentimen agama untuk mendukung alasannya.  Itulah pebisnis oportunis, yang penting cuan atau untung.

Bosowa, Kalla Group, MNC Group, Para Group, dll terlihat dengan jelas memiliki kepentingan dan menggunakan kekuatan mereka untuk menghancurkan Ahok dengan segala idealismenya.

Hari Tanoe dan Hasyim Djojohadikusumo adalah dua pebisnis kristen yang tidak malu-malu lagi menggunakan gererja sebagai jaringan mereka meraup dukungan.  Sama dengan Anies-Sandi menggunakan mesjid.

James Riady, adalah pebisnis kristen lainnya yang sering disinggung bersebrangan dengan Ahok, tapi James tidak secara terang-terangan bergerilya menggunakan gereja.

Umat Kristen terutama dari kelompok protestan sejak Martin Luther lebih condong untuk memisahkan agama dan politik terutama secara institusi. Sebab itu, melihat gereja yang diacak-acak secara politis, bukannya dukungan, justru antipati yang didapat.

Sebagai misal, apabila Hari Tanoe vs Jokowi dalam pilpres 2019, hampir dipastikan suara orang Kristen “normal” akan ke Jokowi bukan ke Hari Tanoe. Artinya, orang Kristen tidak pernah diindoktrinasi untuk harus memilih orang kristen siapa yang harus jadi pemimpin bangsa.

Tapi siapa yang berkompeten dan tepat itu yang harus dipilih, dan terutama lagi yang tidak menggunakan nama Tuhan untuk digadaikan justru yang akan mendapatkan simpati.

Realitas threesome politika ini harus menjadi PR bersama dalam usaha mencerdaskan kehidupang bangsa.  Para pemimpin agama (apapun merk-nya), dan pemimpin bisnis telah terbukti menjadi pemain-pemain penting dalam menentukan arah bangsa. Mereka inilah yang akan dirayu para pemain politik.

Para pemimpin agama menjadi titik kunci karena mereka memegang massa, para pemimpin bisnis karena mereka memiliki uang, sementara para pemimpin politik memiliki legalitas.  Oligarki yang sempurna.

Tidaklah heran, gugurnya Ahok adalah sebuah signal bahwa oligarki tidak menyukai pemisahan kekuasan, mereka lebih menyukai perselingkuhan antar mereka.

Tidak penting itu mesjid, gereja, kuil, candi, atau klentheng, yang penting adalah kekuasaan yang didapat, itulah nafsu memimpin sang oligarki.

Jadi jelas, mengapa Ahok lebih disukai umat Kristen daripada Hari Tanoe, karena dengan segala kelemahannya, Ahok mewakili kristen yang benar, sementara Hari Tanoe entah mewakili siapa.

Pendekar Solo

Please follow and like us:

Rekonsiliasi Seperti Apa Mas Anies?

Paska Pilkada DKI, rekonsiliasi adalah kata kunci yang diteriakkan Anies-Sandi dan jendral perangnya Eep S. Fatah yang sukses secara mengejutkan dengan dengan strategi politisasi mesjid.    Suatu himbauan yang positif, dan simpatik yang jelas dengan gampang diterima kita-kita pembela NKRI.

Tapi, realitas kampanye horor 8 bulan yang merobek-robek janji tenun kebangsaan telah membuat skeptis, dan sulit untuk mempercayai lagi ketulusan ajakan itu. Apa yang sebenarnya  menjadi motivasi politik Anies-Sandi?

Apakah cukup dengan mengajak relawan-relawan Badja nonton bioskop, mengumpulkan lagi simpul-simpul relawan nasionalis dan menyuarakan “Ayo Ikut Kerja”.  Kerja apa saudara-saudari sebangsa dan setanah air? Kerja ikut mensukseskan Prabowo jadi Presiden 2019 dan HT menjadi wakilnya?

Melanjutkan merajut tenun kebangsaan?  Maaf ya, saya tidak pernah berhenti untuk merajutnya, sedikit pun tidak pernah mencoba merobek. Tapi kampanye-kampanye SARA yang menyesakkan dada, menyakitkan hati, merusak mimpi, dan sangat tidak manusiawi yang telah menginjak-injak apa yang telah dikerjakan bertahun-tahun.

Tapi rekonsiliasi tetaplah rekonsiliasi. Rekonsiliasi tidak bisa ditawar, itu komitmen kita sejak awal.  Bahkan menurut saya, rekonsiliasi bangsa harus dikerjakan bukan hanya di Jakarta.  Yang menjadi pertanyaan saya, rekonsiliasi seperti apa?

Rekonsiliasi memiliki akar kata konsiliasi yang artinya menghentikan kemarahan.  Dan itu dimulai dari apology atau kata maaf.  Dalam kasus Pilkada, kalau umat Islam marah kepada Ahok, Ahok sudah minta maaf dan sudah diadili secara hukum.  Bahkan sudah kalah Pilkada. Kurang apa lagi?

Tapi sebaliknya, saya ini adalah orang yang marah besar karena seorang Anies yang notabene saya dukung untuk membangun Indonesia Baru ternyata dengan semena-mena melacurkan diri dengan politik SARA.

Dan saya yakin orang seperti saya ini banyak sekali.  Dan sampai detik ini, permintaan maaf itu tidak ada sama sekali.  Merasa bersalah pun tidak.  Rekonsiliasi seperti apa yang ditawarkan?

Saya tidak ada partai politik, saya bukan orang politik.  Saya hanya seorang WNI biasa dipinggiran kota Solo yang tetap mendukung Anies-Sandi menjadi gubernur yang amanah di Jakarta, tapi tidak bisa menerima cara kampanye yang kotor selama Pilada DKI 2017.

Tapi, saya terinspirasi dengan Finding Nemo seperti Ahok untuk melawan arus, mungkin arus yang sangat kecil dalam gelombang samudra politik yang sangat deras.  Tapi saya yakin true voice akan mengalahkan false noise,sekecil apapun suara itu.

Tidak ada mayoritas atau minoritas dalam pandangan tenun kebangsaan. Selama “kredo” ini masih dipercaya, maka langkah awal rekonsiliasi yang harus dilakukan adalah pernyataan apakah hak untuk menjadi pemimpin bangsa ini masih dimiliki semua WNI, atau hanya agama tertentu?

Apabila seorang Anies tidak mempercayai ini lagi, tenunan seperti apa yang diharapkan?

Berhentilah bermain-main dengan kata. Apabila benar mau menjadi pemersatu, dan jembatan bagi semua, marilah kita mulai dari titik nol.

“Maafkan saya Jakarta, karena cara kampanye saya yang menyakiti, saya akan tebus dengan bekerja dengan baik dan benar dalam 5 tahun kedepan.

Kalimat yang saya dan bangsa ini tunggu, untuk awal sebuah proses panjang rekonsiliasi.  I am ready, are you?

Pendekar Solo

Please follow and like us:

Upaya Menjadikan Ahok Kartu Mati

Pilkada DKI sudah selesai, tapi terjadi anomali yang membuat sejarah harus menuliskan dengan tinta emasnya.  “Pesta Kekalahan” Ahok alias BTP telah membuat dunia menengok.  Sampai detik ini, 1000 bunga dikirim ke balaikota untuk menghantar kekalahan BTP. Luar Biasa.

Entah siapa yang memulai, haters akan mengatakan ini rekayasa, berbagai nyinyiran dilontarkan terhadap fenomena alam ini, tapi yang jelas hati nurani melihat Ahok dicintai rakyat DKI, baik yang memilih atau yang tidak.  Paling tidak, 70% menyukai kerjanya.

Arus opini Ahok dizolimi dengan politisi SARA sangat deras karena datang dari luar kota, luar pulau, bahkan sampai luar negeri.  Bahkan tebakan saya, sampai “dunia lain” pun ikut mendukung 🙂  Karena ajaib sekali jalan hidup seorang Ahok.

Bisa dikatakan, bagi BTP,Pilkada DKI 2017 adalah kekalahan yang paling sukses yang pernah dia alami.

Arus yang deras ini diantispiasi pihak lawan maupun musuh politik BTP. Terlihat bahwa mereka membuat sebuah cerita bahwa apabila BTP tetap mendapat posisi di pemerintahan, terutama kabinet, revolusi akan terjadi.
Sebuah intimidasi yang frontal.

Intimidasi yang mungkin bukan omong kosong, karena mereka mungkin membuat strategi mengejar Jokowi melalui BTP.  Tapi kita harus mengerti, persis seperti kata BTP, “kekuasaan itu ditangan Tuhan. Dia yang memberi, dia yang akan mengambil”.

Artinya, mencoba membuat BTP kartu mati di politik Indonesia adalah usaha yang sia-sia apabila Tuhan berkenan yang lain.  Intimidasi seperti apapun, itu hanya seperti singa yang mengaum-aum hendak menerkam, tapi tidak bisa melompati pagar Ilahi yang mengitarinya.

Saat ini, BTP bagaikan sedang memasuki fase kepompong dalam perjalanannya mengabdi ke masyarakat. Fase yang tidak mudah bagi ulat pekerja yang terus menghasilkan karya-karya terbaik. Tapi fase ini adalah fase yang harus dilalui.  Itu saya setuju dan sepakat.

Tapi fase kepompong adalah fase sementara. Cepat atau lambat, kepompong akan jadi kupu-kupu.  So beautiful.  Tugas kita, adalah menjaga tidak ada tangan jahil yang mengganggu kepompong itu.  Tidak untuk dibuka terlalu cepat, apalagi dimatikan.

BTP bermula dari politisi biasa, mungkin dengan kemampuan diatas rata-rata. Tapi sebenarnya banyak politisi yang bisa melakukan pekerjaan sekualitas BTP.

Tapi itulah sejarah, semua adalah cerita Tuhan.  Dan keberanian serta kejujuran yang eksepsional membuat BTP bertahan. Semakin ditekan, BTP telah muncul bagaikan rembang tengah hari.

Pledoi BTP dipengadilan, menjadi pledoi bersejarah yang lucu, inspiratif, religius, pluralis, sekaligus berani dan akademis.  BTP telah berhasil naik kelas.

Selamat saya ucapkan.  Tetap rendah hati dan tunggu kairos, dan waktu Tuhan.  Ketika waktuNya tiba, Indonesia akan menerima BTP.  Bukan sebagai pemimpin Jakarta, tetapi pemimpin Indonesia.

Pendekar Solo

Please follow and like us:

Perang Badar Kembali Disebut, Masihkah Adakah Harapan?

Pilkada DKI 2017 adalah pilkada yang tidak hanya menguras uang, tenaga, dan pikiran para paslon.  Emosi dan kebatinan rakyat Indonesia, baik dalam maupun luar negeri benar-benar terkuras.  Semua nge-fb, nge-blog, nge-tweet, dan nge-nge yang lain mempertanyakan masa depan Indonesia. Mengajak Perang Badar?

Perang antara kewarasan dan kegilaan agama membuat miris orang yang bertaqwa dengan benar.  Ajakan “perang badar” dari Anies dan Amien Rais di malam Pilkada benar-benar diluar nalar kewarasan seorang yang mengaku Pancasilais. Agama diobok-obok sampai titik memalukan.

Kalau dikatakan kita harus selalu optimis, dan punya harapan, di malam pilkada ini harapan terhadap Anies untuk menjadi bapak bangsa semakin menipis atau bahkan sudah menghilang.  Tapi itu tidak membuat harapan akan Indonesia Baru itu lenyap.

Optimisme untuk membangun bangsa dengan kewarasan, niat baik, dan semangat nasionalisme selalu ada.  Karena masih banyak relawan-relawan yang tulus yang bekerja dalam diam, tidak ada dalam radar media manapun, tapi tetap bekerja untuk bangsa dan negara.

Dalam sebuah peperangan, kita tidak bisa mengharapkan semua akan survive, selalu akan ada yang gugur. Biarlah yang gugur dikenang masa lalunya yang indah dan menawan, karena bagi yang mati hanyalah kembang melati dan rasa simpati.

Pekerjaan Rumah (PR) terbesar setelah Pilkada adalah radikalisme, sektarianisme, dan primodialisme yang sudah terbukti adalah kuda-kuda liar yang gampang ditunggangi para opportunis.

Dengan munculnya para opportunis sektarian ke pemermukaan maka harapan untuk sapu bersih Indonesia dari oknum-oknum lebih dipermudah.  Ada analogi lalang dan gandum. Diawalnya, lalang dan gandum kelihatan sama, tapi diwaktu yang tepat, lalang dan gandum akan terlihat dengan jelas.  Sehingga, mencabut lalang tidak akan merusak gandum.

Saat ini, melalui Pilkada, lalang dan gandum terpisah dengan sangat jelas. Seakan-akan Tuhan sendiri yang menarik garis demarkasi.  Dengan dibersihkannya lalang-lalang dari gandum, maka hasil yang diberikan akan semakin besar.  Itulah harapan yang harus terus kita pegang.

Jargon “perang Badar” bagi Anies mungkin sekedar kata-kata memotivasi untuk memenangkan 19 April, tapi bagi WNI itu adalah tanda perang melawan para radikalis, oportunis, dan yang cuma suka manies-manies karena terbukti terlalu banyak makanan manies bisa terkena diabetes.

Masih mau perang? Bukannya takut mas Anies, mbah Amien, tapi maaf ga level lagi.  Karena Nabi Sulaiman mengajarkan:

Batu adalah berat dan pasirpun ada beratnya, tetapi lebih berat dari kedua-duanya adalah sakit hati terhadap orang bodoh

Pendekar Solo

Please follow and like us:

GP Ansor Mendukung Ahok, Pertanda Anies Melewati Batas

Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Yaqut Cholil menyatakan dengan blak-blakan mendukung Ahok-Djarot terutama karena hendak melawan radikalisme.  Sikap politik para pemuda ini bagaikan sebuah tempelengan ke Anies-Sandi yang didukung kelompok-kelompok radikal.

Istilah “sangat menolak” yang digunakan Cholil menandaskan bahwa GP Ansor tidak main-main dengan isu kesatuan bangsa. Bisa diartikan, Anies-Sandi dianggap sudah kelewat batas, sehingga membuat GP Ansor yang bisa dikatakan adalah barisan NU Muda meradang.

NU (Nahdatul Ulama) yang mengusung Islam Nusantara dalam berteologi adalah pilar NKRI yang dari waktu ke waktu selalu muncul untuk menyelamatkan bangsa dari perpecahan berbasis agama. Dukungan politik GP Ansor ini mengimplikasikan Anies-Sandi adalah pintu perpecahan bangsa, dan harus dihentikan.

Dengan jumlah Nahdliyin yang puluhan juta, melawan NU jelas merugikan Anies-Sandi sendiri.  Bukan hanya di Pilkada DKI, tapi juga di karir politik kedepan.

Stigma boneka radikal, mencla-mencle, bahkan pemecah belah bangsa bukan hal yang gampang untuk dihilangkan.  Sebuah harga yang seharusnya terlalu mahal untuk ukuran seorang Anies, bahkan Sandi.

Meskipun semua baru ditentukan 19 April 2017, manuver politik GP Ansor memberikan dorongan angin politik yang sangat kencang kepada Ahok. 30% pemilih yang “takut” memilih Ahok walaupun puas dengan kinerjanya mendapat kepastian teologis, praktis, sekaligus politis untuk memilih Ahok.

Apalagi perlu dicatat bahwa GP Ansor bukanlah barisan relawan yang hanya berkoar-koar di media sosial, mereka adalah banser-banser yang bergerak bagaikan panser Jerman di lapangan.

Terbukti, mereka bahkan membuka Posko di 47 tempat pemilihan (TPS) yang disinyalir rawan dengan intimidasi.  Ini merupakan tandem yang luarbiasa dengan relawan-relawan medsos Ahok yang super militan.

Terlepas dari pilhan politik, kepentingan, dan juga selera, keputusan politik GP Ansor ini akan dicatat sejarah sebagai sebuah pembelajaran penting bagi politisi-politisi di Indonesia.

Jangan pernah bermain-main dengan politik SARA, bahaya transnasional yang mengintip akan menyatukan seluruh elemen kebhinekaan di Indonesia untuk melawan siapapun boneka yang dipasang didepan.

Ketegasan GP Ansor dan NU secara keseluruhan adalah sebuah angin sejuk yang menyegarkan ketika Indonesia sedang dilanda badai angin bau SARA. Kamsia GP Ansor, Kamsia NU.  Tuhan memberkati, dan teruslah menjadi Rahmatan ‘lil Alamin.

Pendekar Solo

Please follow and like us: