Wabah Difteri Memperlihatkan Peradaban Bisa Hancur Karena Agama

Wabah Difteri sudah menjadi KLB (Kejadian Luar Biasa) Nasional 2017 di Indonesia. Dikala bangsa ini lagi digoyang radikalise, politik SARA, dan politisasi agama kronis, kabar wabah difteri ini menyakitkan hati.  Terutama karena masih berhubungan dengan agama.

Memiliki 2 anak putri 9 tahun dan 2 tahun, maka saya dan istri berinisiatif untuk segera memastikan vaksin DPT terutama untuk si bungsu yang memang belum sempat mendapatkannya.

Sampai Hari H, ternyata stok vaksin untuk orang dewasa dan si Sulung tidak ada (karena tidak lazim, sebab itu disebut luar biasa), dan hanya si kecil yang di vaksin. Di saat hati orang tua gembira melihat si anak “tidak ayis” waktu disuntik, bahkan dengan lucunya mengatakan, “sudah selesai mah?” :), hati ini teriris mendengar keterangan singkat bu Dokter.

Saya            :  Bu, apakah wabah Difteri sudah sampai Solo?
Bu Dokter : Belum pak.
Saya             : Wah, jangan belum bu, kalau bisa jangan datang wabahnya. Memangnya apa yang menyebabkan wabah ini bu?
Bu Dokter  :  Karena ada kelompok masyarakat yang menolak di vaksin, menjadi carrier yang akhirnya merebak menjadi wabah.
Saya              : Benaran Bu???!!!!

Dengan wajah kecut saya langsung mengerti bahwa wabah Difteri yang data terakhir mengatakan telah melanda 20 provinsi adalah akibat para penganut agama yang salah tafsir.  Atau mungkin dibodohi para petingginya.

Saya pun diingatkan ketika suatu sekte agama tidak mau ditranfusi darah sehingga menimbulkan banyak kematian. Atau tidak mau berobat, karena percaya Tuhan bisa menyembuhkan. Akibatnya kematian dalam rumah-rumah tangga juga.

Kembali ke perkataan Bu Dokter tadi, saya coba pastikan itu bukan sentimen pribadi. Dan ternyata memang betul.  Menteri kesehatan mengatakan:

Menurut Kementerian Kesehatan, Indonesia sebenarnya sudah terbebas dari wabah difteri sejak tahun 1990an akibat program imunisasi nasional. Namun pada tahun 2009, kasus infeksi difteri kembali meningkat. Bahkan angka kematian akibat penyakit ini sejak 2015 telah mencapai 502 kasus. (Sumber)

Artinya, penyeban wabah Difteri dipastikan karena tidak adanya vaksinasi. Dan kelompok penentang vaksinasi, adalah tersangka utama sebagai carried dan penyebar pertama tidak bisa dipungkiri.  Dan ini sangat menyedihkan.

Tidak bisa dibayangkan keluarga-keluarga lugu dan sederhana yang karena “iman” harus kehilangan orang-orang yang dicintainya. Apakah iman seperti ini tidak bisa disebut iman yang goblok? Apakah tidak bisa disebut orang-orang ini adalah korban pembodohan?

Kasus-kasus kebodohan agama seperti inilah yang akhirnya meningkatkan kelompok agnostik dan atheis yang pada akhirnya meningkatkan gerakan liberal humanisme seperti LGBT.

Kalau vaksin saja diharamkan sampai mengorbankan nyawa, jangan salahkan orang tidak percaya agama lagi, atau minimal pindah agama!

Tugas para rohaniwan, teolog, dan umat beragama apapun merknya untuk tetap waras dan menjaga iman kita tetap sehat sehingga tidak bisa dipolitisasi, sampai dikorbankan seperti dalam kasus Wabah Difteri.

Pembelajaran yang bisa diambil, peradaban manusia bisa hancur karena kebodohan agama. Dan sejarah telah mencatat itu berkali-kali. Semua agama memiliki bahaya laten untuk digunakan sebagai alat politik dan kekuasaan yang pada akhirnya manusia itu sendiri yang terkena azabnya.

Hal senada diungkapkan pendiri Rumah Vaksin dr. Piprim Basarah Yanuarso “Seruan anti vaksin bukan main-main bisa bikin wabah bermunculan ke mana-mana. Kalau orang tua yang galau ini sampai 40 persen dari populasi wabah bisa bangkit kembali,” ujarnya seperti dikutip Detik.com. (sumber)

#menolakdibodohi #menolakdipolitisasi #menolakdikorbankan

Pendekar Solo

Please follow and like us:

Daripada Selingkuh, Nikahkah Agama dan Politik!

9 Mei 2017 menjadi catatan hitam reformasi Indonesia.  Seringai serigala-serigala orde baru yang selingkuh dengan kekuatan radikal ditunggangi para oportunis sektarian telah menjungkalkan Ahok ke tahanan.

Supaya fair, Ahok jatuh bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Secara pribadi, Ahok sedang menjalani proses kenosis, yaitu proses menjadi kenos atau kosong. Karena semakin dia berkurang, maka Tuhan akan semakin bertambah.  Itulah iman yang Ahok anut.

Dari sudut politik, pemerintahan Jokowi yang sedang membangun jelas sedang dijadikan sasaran tembak, dan Ahok adalah pintu masuk menuju Jokowi. Apakah Jokowi mengorbankan Ahok?

Bisa ya, bisa tidak. Hanya Jokowi yang tahu, tapi yang jelas Jokowi tidak melanggar apapun, dan dia tetap pilihan terbaik melanjutkan reformasi.  Sebab itu dukungan ke Jokowi harus terus diperkuat.

Yang menarik untuk dikaji, supaya kedepan tidak terjadi lagi, adalah hubungan antara agama dan politik.  Jokowi pun sampai harus menyatakan agama dan politik harus dipisahkan.

Dan itupun akan dipermasalahkan orang-orang radikal yang akan mem-frame. Jokowi PKI!  As stupid as it sound, tapi spanduk-spanduk soal PKI ada dimana-mana.  Itulah realitasnya, ada kelompok yang bermain.

Realitas selingkuh agama dan politik terpampang jelas di Pilkada DKI 2017. Bagi Anies-Sandi itu hanya strategi pemenangan.  Bagi kita yang waras, muak bin mules-mules melihat agama digunakan untuk meraih posisi.  So low!

Tapi apakah agama harus dipisahkan dari politik? Bagaimana memisahnya? Sebagai orang beragama, saya juga berfikir bagaimana memisah kedua kekuatan ini.  Ternyata jawabannya, bukan dipisahkan tapi dinikahkan!  

Agama harus dipandang sebagai sumber akhlak, karakter, dan moral. Sebab itu kekuatan agama seharusnya adalah kekuatan yang membuat para pejabat publik alias politikus BERMORAL.  Tapi, ketika agama dijadikan kekuatan politik maka lahirlah radikalisme dan intoleran yang menyedihkan.

Jadi yang disebut pernikahan antara agama dan politik adalah agama tidak diletakkan dimesjid, gereja, kelenteng, atau rumah ketika kita berpolitik. Tapi justru dibawa ke Istana, DPR, Balai Kota, sampai RW & RT supaya semua pejabat yang melayani masyarakat bermoral.

Perselingkuhan agama dan politik membawa kepada imoralitas, pernikahan agama dan politik akan membawa kepada moralitas pelayanan publik. Nikahkan!

Pendekar Solo

Please follow and like us: