Doraemon, Jepangisasi Yang Tidak Terlihat

Siang-siang jalan-jalan bersama dengan keluarga di mall sebelah rumah. Di hall utama terlihat meriah sekali dengan begitu banyak anak-anak. Selidik punya selidik, ternyata ada acara meet and greet Doraemon, si kucing ndut dari Jepang.

Doraemon bukanlah tokoh kartun kucing satu-satunya. Masih ada Garfield, Tom, Felix, Sylvester, dan jangan lupa Hello Kitty. Tapi Doraemon dengan pintu kemana saja, dan baling-baling kayunya mampu menjadi salah satu tokoh kucing yang mendunia, terutama di Indonesia.

Sepintas “bertemu” dengan si Dora dan teman setianya Nobita di Mall yang terletak di Sukoharjo membuat saya tiba-tiba mendapatkan pencerahan tentang terjadinya Jepangisasi di Indonesia.

Bayangkan lagu-lagu dalam bahasa Jepang dengan fasih dinyanyikan anak-anak, bahkan mereka berteriak “aku sayang Doraemon”. Ini luar biasa, karena yang saya lihat tidak terjadi di Singapore, Kuala Lumpur, atau minimal Jakarta dan Surabaya. Semua di Sukoharjo!

Bagi yang belum tahu Sukoharjo, perlu mengerti kabupaten ini pernah “tercemar” dan bahkan masih dikenal sebagai kabupaten yang menjadi zona nyaman teroris. Bahkan pesantren Nruki yang terkenal juga ada di kabupaten ini.

Bukan Arabisasi, Amerikanisasi, atau Chinaisasi, apalagi Israelisasi, yang jelas didepan manta kita adalah Jepangisasi yang dengan aman, tidak pernah didemo, tidak pernah direweli, berjalan dengan sangat smooth dan merata.

Doraemon adalah figur budaya populer Jepang yang mampu memenetrasi ke anak-anak kita dan dibelakang si kucing ndut masih ada raksasa bisnis seperti Honda, Toyota, Yamaha, Suzuki, Toshiba sampai Roland.  Brand-brand yang merupakan nama-nama Jepang yang seakan berdiri tidak tersentuh.

Jepang yang terpuruk di perang dunia kedua mampu kembali dengan demikan kuat di panggung dunia karena mereka fokus dengan membangun masyrakatnya kepada nilai-nilai asli Jepang. Modernisasi yang terjadi di Jepang tidak pernah menghilangkan nasionalisme Jepang yang luar biasa.

Kamikaze dan harakiri dua budaya Jepang yang membuat dunia terbelalak melihat bagaimana WNJ (Warga Negara Jepang) memegang teguh nilai-nilai bushido (tata cara ksatria) yang berakar kepada hormat kepada dewa Matahari.

Martir (marturia), jihad, kamizase, harakiri  adalah nilai-nilai universal yang hampir sama artinya yaitu totalitas dalam menghidupi nilai-nilai.

Disaat pencerahan muncul, dan menengok ke berita yang sedang viral di medsos tentang tukang lapor ke polisi, dan bagaimana anggota dewan yang mulai menjadikan koruptor menjadi narasumber sebuah audit kebijakan, maka lemas dan geramlah hati ini.

Tidak heran dengan gampang Doraemon menghancurkan Unyil, Nina Sahabatku, apalagi si Komo, karena memang tidak ada nilai-nilai lagi yang sedang dipertontonkan di panggung nasional.  Rakyat dan anak-anak tidak lagi paham arti menjadi Indonesia.

Intinya, anak-anak kita butuh CONTOH, bukan sekedar merombak kebijakan pendidikan.  Anak-anak kita butuh TELADAN, bukan sekedar foto-foto pencitraan yang membuat muak dan mual-mual.

Pendekar Solo

Pelayanan Apostolik Dan Kekristenan Egosentris

Kecenderungan manusia yang berpusatkan kepada diri sendiri alias egosentris telah mempengaruhi bentuk kekristenan yang egosentris juga. Bukan hanya egosentris soal jasmani, tapi secara rohani pun kristen telah menjadi agama barat yang kapitalis dan egosentris.  Berbeda sekali dengan kekristenan otentik yang berakar kepada pelayanan apostolik.

Pelayanan apostolik yang dipulihkan Tuhan dalam 50 tahun terakhir adalah model pelayanan Alkitabiah yang didesain  untuk membawa ekklesia atau tubuh kristrus atau gereja universal menuju kesempurnaannya.

Pelayanan apostolik secara natural bukanlah pelayanan yang one man show, tapi pelayanan yang saling melengkapi dan bergantung.  Rasul, Nabi, Penginjil, Gembala, dan Guru dikenal sebagai pelayanan lima jawatan (five fold ministry) yang adalah perpanjangan tangan dari Kristus sebagai kepala (Ef 4:11-16).

Lima jawatan ini dipimpin oleh rasul sebagai sebuah keluarga, sekaligus pasukan, dan bagian dari pemerintahan kerajaan yang dipimpin Yesus Kristus sendiri sebagai Raja yang duduk bertahta disebelah kanan Allah Bapa.

Code Archer dari Revive Israel menyatakan dengan jelas pelayanan lima jawatan ini sebagai berikut:

The worldwide church is supposed to be led by apostles, who work with skilled team members of prophets, evangelists, pastors and teachers. Together, they raise up many “colonies” (ekklesia – congregations), all of which have the same mission– to make earth like heaven! The apostle’s job description includes keeping his team unified and focused on the mission for which they were sent, without compromising the King’s commands and desires. (Sumber)

Rasul (apostle)  sebagai leader dari pelayanan lima jawatan berfungsi sebagai jendral lapangan yang memegang otoritas sebagai wakil dari sang Raja sendiri. Sebab itu pelayanan lima jawatan disebut juga sebagai pelayanan apostolik.

Pelayanan apostolik ini selalu melayani dalam konteks ekklesia atau tubuh Kristus tidak dalam konteks untuk pribadi. Panggilan Tuhan selalu pribadi tapi selalu untuk kepentingan tubuh Kristus. Jadi, kekristenan seharusnya tidak pernah bersifat egosentris, tapi Kristosentris.

Tanpa pelayanan apostolik, kekristenan pasti akan egosentris, minimal akan menjadi “grup-centris”.  Artinya, hanya berpusat kepada kelompok sendiri dan melupakan yang lebih besar, ekklesia.

Pemulihan dan pembangunan Ekklesia adalah manifestasi nyata dari doa Kristus di Yoh 17 untuk menjadikan kita semua satu. Ekklesia dibangun dari batu-batu hidup  (I Pet 2:5) menjadi sebuah rumah yang hidup rohani bagi semua orang percaya. Bukan batunya yang penting, tapi rumah rohani itulah yang menjadi tujuan akhir.

Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani (I Pet 2:5a)

Benar kita dipanggil, diproses, bahkan harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita secara pribadi. Tetapi Tuhan tidak pernah mendesain kita hidup untuk diri sendiri, dan semua yang menyenangkan Tuhan dibumi ini adalah untuk kepentingan Ekklesia, tubuh Kristus.

Hanny Setiawan

Bekerja Dalam Dimensi Kerajaan

Bekerja, baik wirausaha atau profesional, memiliki tujuan akhir adalah mendapatkan uang. Apabila tidak bermotivasi untuk mendapatkan uang maka disebut sukarelawan atau volunteer. Karena mendapatkan uang menjadi tujuan akhir maka lahirkan filosofi by all means yang artinya dengan berbagai cara asalkan untung.

Filosofi inilah yang sering dipakai para motivator sukses untuk mendorong karyawan, profesional, investor, sampai kepada pemilik untuk membangun bisnis yang sukses.

Asalkan tidak melanggar hukum, atau bahkan kadang menelikung hukum pun , orang bisa berani asalkan tidak ketahuan demi mendapatkan uang.  Filosofi modern inilah yang sekarang menguasai dunia usaha (marketplace) sehingga lahirlah kapitalisme ektstrem yang mementingkan uang daripada orangnya. Filosofi hidup sukses!

Lalu bagaimana pengikut Kristus seharusnya beroperasi di dunia usaha? Apakah kita tidak diperbolehkan untuk mencari uang? Apakah bisnis kerajaan harus semua sukarela?

Tentunya tidak seperti itu, bisnis tetap harus untung, tapi ternyata sejak awal pelayananNya Yesus sendiri sudah menyatakan secara prinsip bagaimana seharusnya bisnis dalam dimensi Kerajaan.

Yang pertama, dengan jelas Yesus menyatakan “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi (Mat 6:19a)”, dan Dia mengingatkan bahwa dimana harta kita berada disitu hati kita berada (Mat 6:21).

Disini, Yesus membuka rahasia kehidupan kelimpahan Salomo (Amsal 4:23) yaitu hati kita sangat bergantung dengan “harta”. Protokol hati ini mengharuskan kita memilih harta apa yang akan selaras dengan hati. Dan langkah awal adalah menyelaraskan hati kita dengan harta surgawi.

Yang kedua, mamon dianggap sebagai perwujudan dari semua kejahatan, sehingga tantangan utama adalah memilih antara Tuhan dan mamon.

Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. (Mat 6:24)
Intinya adalah kepada siapa kita akan mengabdi dan menyelaraskan diri dan bisnis kita itu yang terpenting.

Yang ketiga, “semua” adalah produk sampingan bukan produk utama. Artinya, uang bukanlah tujuan utama tapi hasil sampingan dari sebuah proses lain. Proses itu adalah mencari Kerajaan dan KebenaranNya.

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Mat 6:33)

Proses mencari dahulu inilah yang seringkali kita lupa. Sehingga yang sering terjadi adalah kekuatiran dalam bisnis, dan kekuatiran itu menghasilkan ketakutan terhadap manusia yang akhirnya mendatangkan jerat (Amsal 29:25)

Dalam dimensi Kerajaan, bekeja yang diberkati adalah bekerja yang membawa hati kita semakin selaras dengan harta surgawi, penuh pengabdian sebagai hamba kepada Tuhan, dan menjadi pencari pribadiNya (truthseeker). Inilah filosofi hidup benar!

Hanny Setiawan
Hidup Benar Lebih Baik Daripada Hidup Sukses

Saya Bukan Minoritas

Koq bisa, kamu kan Cina, sipit kuning, Kristen lagi. Itu kan jumlahnya ga banyak di Indonesia jadi sah dong disebut minoritas. Begitu katanya mereka.

Saya bilang tapi saya pemakan nasi putih. Pemakan nasi putih di Indonesia itu mayoritas kan, lebih banyak dari pemakan sagu, apalagi pemakan manusia alias kanibal. Sah dong saya bilang saya termasuk mayoritas dibidang pemakan nasi

Maksud saya gini poro sederek. Kita selalu bisa diposisi mayoritas atau minoritas tergantung dari sisi mana kita melihat. Sebab itu di negara hukum TIDAK ADA istilah mayoritas dan minoritas. Seharusnya!

Disitulah letak perbedaan pandangan antara orang sektarian dan nasionalis. Jadi, kalau masih memiliki pandangan aku mayoritas kamu minoritas, atau sebaliknya lebih baik jangan bilang nasionalis. Gitu aja sih.

Pendekar Solo

Wabah Persekusi Memperlihatkan Wajah Politikus Indonesia

Entah darimana mulainya, tiba-tiba istilah persekusi (persecution)menjadi populer menggantikan kata intimidasi, radikalisme, ataupun anarkis. Kata itu menjadi menarik diamati, karena dalam kitab suci kata persecution (aniaya) itu sangat erat hubungannya dengan penindasan kepercayaan.

Terlepas dari itu, fenomena yang terjadi sebenarnya tidak terjadi in a vacuum. Atau, terjadi dengan sendirinya. Tidak dengan sendirinya, lahir sekumpulan orang anarkis, radikal, dan intoleran.  Semua ini adalah puncak gunung es yang mulai terlihat.

Momentum Pilkada DKI 2017 adalah momentum penting yang membuka penutup (veil) selama ini.  Realitas pahitnya, ternyata sendi-sendi politik, ekononomi, sosial, dan budaya, bahkan sampai ideologi (ipoleksosbud) sudah mulai tercemari dengan virus radikalisme, dan sekatarianisme.

Tidak mengheran, terlihat seorang Jokowi pun menjadi “geram” dan dengan berapi-api mengeluarkan pernyataan “kita gebuk”. Meskipun, menurut beberapa pihak masih terlalu lembek, dan juga agak terlambat, tapi sisi positifnya, pemerintah mulai bergerak dan berpihak kepada rakyat yang was-was dengan kondisi yang memprihatinkan kita semua.

Persekusi yang ditengarai dilakukan ormas  sama dengan yang memotori demo 411, 212, dan juga menjadi pendukung Anies-Sandi jelas membuat kita bertanya-tanya. Tidak bisakah para politikus ini menghentikan, atau minimal menghimbau supaya persekusi dihentikan?

Habis manis sepah dibuang, ketika posisi sudah digapai, kekuasaan sudah ditangan, maka para pelaku persekusi ini terlihat dibiarkan sebagai korban politisasi. Begitulah kejamnya politik, dan begitulah wajah politikus Indonesia.

Terlihat “serigala-serigala” persekusi ini memang sudah dipelihara sejak lama untuk kepentingan politik. Setiap kali ada hajat demokrasi seperti pilpres, dan pilkada, maka dibiarkanlah para serigala ini untuk mencari makan.

Jadi, kalau mau fair, yang paling jahat disini adalah pemelihara dan pemilik gerombolan serigala ini.  Yaitu para politikus yang sudah sulit diidentifikasikan siapa yang memulai.  Paling tidak,  depan mata kita kita melihat, sejarah mencatat nama-nama yang nyaman menunggangi gerombolan ini.

Having all said, momentum sudah berbalik, pemerintah melalui Jokowi, dan Tito mendapatkan kesempatan untuk membersihkan NKRI dari serigala-serigala jahat.  Lupakan dulu para pemilik, pemelihara, pemberi makan yang bersembunyi, rakyat perlu diselamatkan.  Rakyat perlu bukti, bahwa pemerintah memang berani.  Gebuk!

Pendekar Solo

Terorisme Agama, Bagaimana Gereja Harus Bersikap?

Lagi-lagi bom bunuh diri meledak mengoyak tubuh ibu pertiwi. Di Kampung Melayu (24/5/2017), Jakarta Timur, 5 orang tewas dan sekitar 10 lainnya luka-luka.   Terorisme kembali hadir.

Timeline medsos penuh konspirasi teori, dan terasa ada settingan politik yang sangat teroganisir. Tensi politik Indonesia kembali meningkat, kita kembali was-was. Ibu pertiwi kembali menangis.

Kita hanya bisa menduga dan polisi yang akan bertugas membongkar semuanya. Tapi satu hal yang pasti, luka Pilkada DKI 2017 akibat politik SARA yang masih menganga tiba-tiba bagaikan tersiram cuka, sakit dan pedih rasanya.

Bom Kampung Melayu ini adalah yang ketiga selama periode Pilkada DKI 2017. Bom ke-3 ini mungkin bisa disebut injury time, karena terjadi setelah semua selesai : Pilkada, maupun proses hukum Ahok.

Bom pertama adalah bom molotov yang  ditujukan ke Gereja Oikumene Sengkotek, Samarinda. Bom yang membuat miris karena anak-anak  menjadi korban. Bom ini meledak 8 hari setelah demo 411 yaitu 13 November 2017.

Anak Intan Olivia Marbun berusia 2 tahun meninggal sehari setelah bom, tapi media tidak begitu menggubris kisah ini. Dan setahu saya pejabat tinggi negara pun terlihat tidak begitu mau memperpanjang soal ini.  Pilkada DKI 2017 tetap dengan gaya politik SARA-nya, bahkan menyiapkan yang lebih besar demo 212.

Bom kedua adalah bom panci di Bandung 27 Februari 2017, bom ini disinyalir serupa dengan bom yang meledak di Kampung Melayu. Bom kedua ini meledak setelah putaran Pilkada DKI yang pertama, yang dimenangkan Ahok 43%.

Setelah Bom itu, saya sempat menuliskan supaya Anies-Sandi menghentikan politik SARA supaya tidak membuka pintu dan celah untuk radikalisme menunggangi.

Apa daya, suara kecil saya di media sosial belum mampu mempengaruhi mereka. Putaran kedua menjadi lebih ngeri karena merubah pesta gagasan menjadi perang badar.

REFERENSI : Semoga Bom Bandung Menyadarkan Anies-Sandi Untuk Tidak Bermain SARA Lagi

Dan sekarang, bom ketiga sudah merenggut nyawa. Apa yang saya was-was-kan sudah terjadi.  Mungkin analisa amatir saya terlalu paranoid, ketiga bom itu tidak ada hubungannya dengan Pilkada DKI 2017. Tapi biarlah saya tetap menyuarakannya untuk tidak lagi bermain-main dengan isu sektarianisme.

Akan selalu ada penunggang gelap dalam setiap kampanye, tugas kita adalah membuang dan menjaga masing-masing kubu supaya penunggal gelap itu tidak menemukan momentum.

Jangan justru kita menunggangi penunggang gelap, itulah hancurnya batasan kampanye etika moral Anies-Sandi. Dan sekarang kita satu bangsa harus menghadapi yang lebih besar.

Hubungan bom bunuh diri dengan kepercayaan, dan agama tidak bisa ditutupi lagi. Dan hal ini adalah celah besar untuk dipolitisir lebih lanjut. Disini Gereja Tuhan harus berhikmat sehingga bisa berdiri di posisi yang benar.

Saya setuju dengan Denny Siregar ketika dia mengatakan akar perpecahan di Indonesia bukan syiah dan sunni, tapi salah satu yang terbesar adalah Kristen – Islam, kedua adalah Tionghoa – Pribumi, ketiga adalah PKI.

Ketiga isu besar ini sudah mengakar diindoktrinasi di akar rumput Indonesia, kita tidak bisa menganggap remeh, tapi harus menghadapi dengan kepala dingin dan berani. Bukan untuk saling menyalahkan tapi mencari jalan keluar. Itu semangat rekonsiliasi yang benar.

Dalam konteks terorisme agama, Gereja Tuhan harus menyatakan dengan tegas bahwa terorisme bukan bagian dari Islam.  Dan juga bagian dari agama manapun.  Agama langit haruslah bermanfaat untuk kemanusiaan, apabila tidak maka kita bisa pastikan itu adalah penyelewengan ajaran agama.

Aura adu domba sangat terasa, Gereja sebagai agen rekonsiliasi tidak bisa berdiam diri. Kita harus muncul sebagai anak-anak damai atau peacemakers.  Itulah esensi SALIB yang harus dimanifestasikan dalam kehidupan pengikut Yesus Kristus.

Saat-saat seperti ini adalah saat-saat yang dilematis. Karena kita menghadapi orang-orang yang tersamar dan terbungkus dengan simbol-simbol agama. Menyerang mereka akan bisa dengan gampang diplintir menyerang seluruh agama yang diwakili simbol-simbol tertentu.

Dilematis bukan berarti pasif. Kita harus dengan tegas menyatakan garis batas antara fanatik, sektarian, intoleran, radikal, sampai kepada terorisme. Dimana batasnya? Apakah ada batasnya? Apakah perlu dibatasi?

Pertanyaan-pertanyaan ini perlu diangkat dalam dialog-dialog antar umat beragama seperti yang Jokowi harapkan. Agama harus muncul sebagai kekuatan moral, bukan politik, untuk mengembalikan semangt kebhinekaan, tepo sliro, dan kemanusiaan yang menjadi esensi budaya Indonesia.

Doa kita bersama, para politisi dan pejabat negara BERHENTI memainkan politik SARA, dan kita mulai fokus menghadapi musuh ideologis yang sebenarnya.  Terorisme!

Hanny Setiawan

Perlukah Ahok Kembali ke Politik?

Sehari setelah mencabut hak banding, Ahok mengajukan surat pengunduran diri kepada Jokowi sebagai presiden RI. Dengan ini, secara legal maka Ahok 100% tidak ada ikatan politik  lagi  dengan pemerintahan baik secara hukum maupun praktis.

Ahok benar-benar dalam posisi bebas dari semua yang berbau politik praktis saat ini. Bagi yang punya perusahaan, ini bagaikan kehilangan CEO terbaik yang dimiliki. Bagaikan Steve Job meninggalkan Apple, atau Bill Gates meninggalkan Microsoft.  Bagi yang mengerti.

Berita berseliweran bahwa Ahok tidak mau lagi kembali ke politik, ada juga yang mengatakan Ahok lebih baik keluar negeri dan melupakan negeri ini, atau ada juga yang masih mengharapkan Ahok kembali dengan kekuatan massa lebih besar menghancurkan semua bigot-bigot Indonesia. Semuanya hanya berita.

Kita tidak mengerti apa yang di hati Ahok, bahkan mungkin sekarang ini dia sedang mencari apa yang lebih baik dia lakukan. Tapi, yang jelas, saya berani mengatakan bahwa pasti Ahok kecewa. Itu dinyatakan secara eksplisit dalam suratnya.

Siapa tidak kecewa dengan keadaan yang menyakitkan, memberikan terbaik untuk perusahaan, tapi malah dijebloskan ke penjara oleh majikannya.

Pengadilan mewakili rakyat, hasil Pilkada mewakili rakyat. Terlepas siapa aktor politik yang dibelakangnya, rakyat Indonesia adalah yang pihak yang menolak Ahok. Terutama rakyat Jakarta.  Itulah realitasnya.

Pernyataannya sekarang, apakah nantinya Ahok lebih baik kembali ke politik atau tidak?

Ahok sudah di penjara pun, lawan pun masih begitu takut Ahok kembali lagi ke gelanggang. Amien Rais, sang kakek kontroversial, bahkan berteriak-teriak untuk mengusut korupsi Ahok yang gilanya “buku fiksi” juga dibuat oleh Marwan Batubara dengan judul “Usut Tuntas Dugaan Korupsi Ahok” .  Paranoid!

Dalam prinsip Alkitab, pengikut Kristus tidak memiliki hak lagi. Hidupku bukan aku lagi, tapi Kristus yang didalamku (Gal 2:20).  Paulus mengatakan bahwa kita ini adalah tawanan Roh (Kis 20:22) artinya kita hanya bisa taat saja. Tuhan tahu yang terbaik dalam memutuskan.

Kristen tidak percaya takdir, tapi percaya destiny dan panggilan. Demikian juga Ahok, sebagai Tionghoa Kristen, Ahok sudah menunjukkan contoh bagaimana menjadi WNI Kristen yang baik dan benar, terlepas dari segala kelemahan dia sebagai manusia.

Dan fungsi dia untuk bangsa ini jelas, dia adalah seorang pendobrak, dan pembuka jalan (forrunner). Dalam bahasa kelompok Karismatik terikini, Ahok bergerak di apostolik profetik untuk menjadi garam dan terang di marketplace bukan saja dibalik dinding-dinding gereja.

Jadi, bagi Ahok, sebenarnya kembali atau tidak ke pemerintahan, bukan lagi pendapat pribadi Ahok atau pendukungnya. Tapi apa maunya Tuhan itu yang harus diselesaikan. Secara destiny, jelas Ahok tidak akan bisa dipisahkan dari sejarah perpolitikan Indonesia.

Ahok sudah jadi bagian wall of fame, politikus dan negarawan Indonesia. Tapi, secara panggilan, Apakah musim yang baru Ahok harus di politik praktis, atau menjadi “guru bangsa” hanya Ahok dan Tuhan yang tahu dan kita mendukung dalam doa.

Sebagai rakyat Indonesia, disisi lain, saya melihat bahwa Indonesia membutuhkan Ahok untuk kembali. Kembali bukan untuk menang atau kalah tapi kembali untuk memberi teladan dan contoh bagaimana berpolitik, bernegara, dan menjadi pejabat publik yang benar.

Bagaimana cara kembalinya? Saya juga tidak tahu. Tapi saya cuma percaya, Tuhan buka jalan saat tidak ada jalan. Cuma saya juga menyadari, bahwa Ahok butuh waktu untuk menyembuhkan diri dari luka dikhianati orang yang ditolong.

Jadi, sekarang ini pertanyaan yang benar adalah apakah Indonesia sudah siap menerima Ahok kembali? Karena bukan Ahok yang belum siap, tapi Indonesia yang belum siap.

“Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ.”
Kisah 20:22

Hanny Setiawan

Perjalanan Rohani Ahok di Penjara

Baru kali ini satu bangsa menangis bersama. Airmata ibu Veronika Tan, istri Ahok telah melelehkan Indonesia. Mungkin ini sebuah pernyataan hiperbola, tapi saya yakin yang melihat video pembacaan surat Ahok dari penjara akan tidak kuat melihat ketulusan seorang Vero.

Terasa sekali, dari kata demi kata yang dibacakan Vero, surat tersebut lebih terasa sebagai perjalanan rohani Ahok daripada surat politik apalagi surat hukum.

Ahok yang kasar, berangasan, dan siap untuk berperang dengan koruptor bahkan mati untuk apa yang dipercaya, tiba-tiba terasa sangat mellow dan menyerah dengan keadaan. Apa yang terjadi?

Kita sedang melihat proses transformasi pad diri Ahok yang secara Ilahi selaras dengan proses transformasi yang terjadi di bangsa ini.  Ahok adalah obat paling keras untuk Indonesia, karena dia langsung menghujam ke inti permasalahan di birokrasi, yaitu korupsi-kolusi-manipulasi.

Ketika dia hantam itu tanpa kompromi, maka teriakan kesakitan terjadi di semua lini baik kawan maupun lawan. Dan Indonesia tidak siap menerima perubahan sedrastis itu.  Ketika para elite politikus tidak lagi dapat “asupan anggaran” maka yang terjadi adalah Ahok terpental.

Persoalan penistaan agama, cara ngomong yang kasar, penggusuran, dan/atau reklamasi hanyalah bunga-bunga yang diciptakan untuk melengeser Ahok. Dan Ahok tahu benar hal itu. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan, karena Indonesia telah menolak dia.

Tapi yang tidak masuk hitungan para lawan politik adalah Tangan Tuhan. Kalau sudah memasukkan Tuhan dalam persamaan matematis maka kita sering akan terkejut dengan langkah-langkah ajaibnya.

Sebab itu tepat sekali ketika Ahok tidak bergantung kepada temannya Jokowi, parpol mengusung, atau jutaan relawan Ahok yang terus berkembang. Ahok berpaling kepada Tuhan untuk minta pertolongan. Ini luar biasa.

Sebab itu ayat yang dikutip bu Vero, “Tuhan akan menyelesaikannya” (Maz 138:8a) adalah ayat yang sangat pas dan berkuasa. Kali ini Ahok tidak berusaha untuk menyelesaikan apapun , tugas dia hanya berdiam diri dan mencari Tuhan, karena Tuhan yang akan didepan menyelesaikan semua.

Dalam iman Kristen, setiap kali Tuhan hanya membutuhkan ketaatan kita, karena pada akhirnya peperangan adalah milik Tuhan sendiri. Kalau Tuhan sudah berkehendak, maka pasti terjadi.

Ahok berkoalisi dengan Tuhan untuk menyelesaikan masa hukuman juga “what’s next”. Dan menuruh saya, ini justru lebih menakutkan dari skenario apapun. Semakin Ahok tidak membalas, semakin Indonesia harus merendahkan diri minta pengampunan dari Yang Maha Kuasa.

Perjalanan rohani Ahok dipenjara adalah sesuatu yang divine. Akan sulit untuk memahami apa yang terjadi tanpa melihat gambar besar yang Tuhan sedang kerjakan. Yang pasti adalah Ahok adalah pembuka jalan dan model kepimpinan Indonesia Baru.

Semua pemimpin yang akan maju di panggung nasional akan di-benchmark dengan Ahok.  Itulah sebabnya Tuhan sedang melengkapi yang masih kurang dalam hidupnya, untuk tugas yang lebih besar.  Membangun Keluara Indonesia Baru.

Hanny Setiawan

Ada Ahok Dalam Diri Adik Afi Nihaya Faradisa

Ditengah kegundahan hati melihat keadilan yang semakin menghilang dalam kasus Ahok, nama Afi Nihaya Faradisa telah muncul memberikan secercah harapan.

Bukan sekedar buah pikirannya, ataupun kemudaannya, tapi “ada Ahok” dalam diri adik Afi ini. Apa itu? Keberanian!  Keberanian dia menatap orang-orang yang jauh lebih dewasa, berpendidikan, dan berpengaruh dan mengungkap isi hatinya.

Banyak orang memiliki pemikiran yang sama dengan adik Afik, mungkin faktor kemudaannya memang menonjol. Tapi, seingat saya, sewaktu SMA saya pun mengingat banyak teman-teman yang pintar-pintar.

Artinya, tanpa merendahkan kemudaan adik Afi, hal tersebut justru bukan atau tidak seharusnya ditonjolkan.

Keberanian Afi inilah yang harus terus diekspose karena inilah spirit of Ahok. Di Indonesia sekarang ini yang dibutuhkan adalah orang-orang yang berani #hidupbenar ditengah segala kemunafikan.

Kita memiliki cukup politikus yang ok, dan banyak yang busuk. Tapi yang kita butuhkan adalah negarawan, orang-orang yang memiliki nilai-nilai dan berani untuk menyuarakan, dan menghidupinya.

Tidak heran salah satu testimony adik Afi distatus FB-nya yang terbaru mengungkapkan bagaimana seorang dosen pun meleleh melihat keberanian “anak kemarin sore”

Salah satu momen paling mengesankan dalam hidup saya adalah ketika setelah rampungnya acara, seorang ibu dosen tiba-tiba menghampiri dan memegang pipi saya, kemudian beliau berkata dengan mata yang berkaca-kaca,

“Nak, kau tahu tidak, begitu banyak orang yang punya pendapat dan suara tapi lebih memilih untuk tidak mengungkapkannya. Saya adalah salah satu orang diantara mereka. Dan kamu berani, Nak. Saya tidak tahu apa yang harus saya ungkapkan padamu. Saya terharu!.”

Anti Korupsi dan Reformasi Birokrasi adalah dua hal yang sulit untuk ditiru pejabat publik yang lain. Dalam soal anti korupsi, Ahok bukan hanya tidak nyolong, tapi dia juga tidak membiarkan orang lain nyolong.  Ini hal penting yang harus dicatat sejarah.

Kalimat “Pemahaman Nenek Lu” akan menjadi sebuh tugu peringatan, disini pernah ada seorang Gubernur yang tidak rela 1 rupiah pun uang rakyat dimainkan.

Dalam hal reformasi birokrasi, tidak perlu banyak penjelasan, bisa dilihat secara transparan bagaimana mengubah pemalas-pemalas di balikota menjadi pekerja-pekerja hebat.

Meskipun sayangnya, ketika proses belum selesai, ada om dan tante telolet yang memberi es, permen, dan mainan, sehingga anak-anak manja ini menjadi liar kembali.

Adik Afi mungkin bukan pejabat publik, tapi saya pribadi berharap dia terus bersuara. Karena suara adik Afik ini akan menjadi suara profetis yang akan membangkitkan spirit of Ahok didalam diri jutaan, puluhan juta, bahkan bisa sampai milyaran orang. Tidak ada yang mustahil di era sosial media ini.

Kalau tokoh NLP (Neuro Lingutistic Program), Anthony Robbins, pernah menulis top seller yang berjudul Awaken Giant Within You, tidaklah berlebihan apabila hari-hari ini kita melihat pentingnya untuk Awaken Ahok Within Us

Ini bukan waktunya diam, biarlah Ahok berdiam di penjara Mako Brimob bersama dengan Tuhan dan malaikat-malaikat yang menjaga dia, ini waktunya kita seperti adik Afi untuk keluar dari tempurung dan sama-sama mendeklarasikan “Bumi itu Bulat!”

Pendekar Solo

Catatan Kaki Ngopi Bareng Denny Siregar

Sangat inspiratif, menarik, sekaligus informatif itu yang saya rasakan ketika menghadiri acara “Ngopi Bareng Denny Siregar” di Omah Sinten, Solo (20/5/2017).

Acara yang di-host MAHS (Masyarakat Anti Hoax Soloraya) ini berlangsung secara interaktif dengan Denny dan dua narsum lainnya, Ichwan Prasetyo dari Solopos, dan “Gus Solah” mewakili MAHS.

Sang bintang tamu, Denny Siregar, terlihat tak berbeda jauh dari tulisan-tulisan yang selama ini bisa dinikmati di media sosial. Renyah, nyentil, informatif, sekaligus juga kontemplatif.  Yang terakhir ini justru rupa-rupanya menjadi kekuatan utama seorang Denny Siregar.

Denny mengaku bahwa sebenarnya dia menulis sebagai perjalanannya mencari jati diri dalam koridor kebenaran yang universal. Tidak heran, tulisan-tulisan Denny terkadang terasa imajinatif, dan menimbulkan pertanyaan siapa sebenarnya Denny ini.

Siapa yang mem-backing dia? Informasi koq sangat up-to-date, apakah dia dapat asupan dari BIN, atau intel kepolisian? Berderet pertanyaan terlihat ada dalam diskusi malam itu yang pas dengan kebangkitan Nasional ini.

Imagination is more powerful than knowledge (Albert Einsten).  Denny Siregar mampu menjadi contoh bagaimana imanjinasi benar-benar dapat menjadi sebuah pedang tajam.  Apabila digunakan untuk kebaikan, imajinasi ini bahkan mampu membangun sebuah bangsa. Itu pesan kuat yang tersirat.

Opini adalah hal yang subyektif. Sebab itu, dengan sendirinya pasti imajinatif. Apabila didasarkan informasi dan fakta yang ada, maka analis-analis hebat akan mampu merangkai menjadi narasi yang paling tidak mendekati kenyataan.

Selain imajinatif, Denny Siregar memiliki sebuah misi yang jelas supaya Indonesia tidak mengalami apa yang dialami Suriah, yang bisa dikatakan Holywood Live Show.

Misi inilah yang akhirnya membawa Denny kedalam perjalanan rohani melawan “kaum bumi datar”, dan ternyata disambut oleh kaum bumi bulat yang membutuhkan sosok pemimpin di dunia maya yang lugas menyatakan bahwa “Bumi itu bulat!”

Dari sinilah lahir pasukan emak-emak yang ternyata telah berkembang ke mbak-mbak serta bapak-bapak, bahkan engkoh-engkoh seperti saya.

Satu hal yang menarik perhatian saya, adalah closing statement Denny yang mengatakan sebagai influencer di media sosial, dia tidak lagi merasa senyaman dulu.

Dulu apapun yang dirasakan bisa dituliskan, sekarang semua harus dihitung, karena pengaruhnya telah sampai ke bumi kotak, lingkaran, dan segitiga. Denny sudah terkenal.

Dan puji Gusti, saya melihat Denny berusaha bertanggung jawab dengan nikmat Allah yang diberikan, sehingga tidak menggunakan kepopularannya untuk digadaikan, tapi masih tetap dalam misi bumi bulat.

Lesson Learned.  Sosial media adalah platform baru abad ke-21 ini yang bukan hanya telah mempengaruhi bisnis tapi sosial politik pun telah menjadikan sosmed bagian penting dalam narasi yang dibuat. Banyak hal buruk akibat sosmed, tapi hal yang baik pun tidak kurang.  Ini sebuah peradaban baru yang kita harus mulai menghidupnya.  

Denny telah memberi contoh kepada kita how we live it.   Kalau Denny suka kacang, karena saya lihat makan kacang godoknya banyak, saya pun suka kacang sampai sempat asam surat. Artinya, kalau Denny bisa memberi pengaruh yang baik untuk Indonesia, mengapa kita tidak? Saya pun termotivasi.  Tak susul mas 🙂

Pendekar Solo