Pertemuan Profetis di Tempat Kerja

Bisnis adalah sebuah sistem yang sangat kompleks, sama kompleksnya dengan sistem pemerintahan. Sebab itu dibisnis pun ada politik, intrik, dan perang.  Sama persis dengan apa yang terjadi antar negara, kerajaan, ataupun sesederhana antar suku.

Peperangan rohani ditempat kerja adalah sesuatu yang sangat nyata. Sebab itu di tempat kerja kita harus selalu aware dan sepenuhnya bergantung kepada Roh Kudus sebagai Pribadi yang menuntun kita kepada jalan-jalanNya.

Disinilah letak pentingnya pertemuan profetis di tempat kerja. Pertemua para pelaku bisnis yang tidak mengenal jabatan atau strata, tapi sama-sama haus dan lapar akan kehendakNya.  Upaya-upaya inilah yang dicari dalam sebuah “Marketplace Gathering”

Pertemuan untuk sama-sama mencari Tuhan sehingga kita bisa mendapatkan denah Ilahi bagi bisnis yang dipasrahkan kepada kita.  Gathering seperti ini sebenarnya adalah sebuah “rapat bisnis” dengan Roh Kudus sendiri yang memimpin rapat.  Kalau bisnis cara seperti ini apa mungkin bisa gagal?  Sebuah tantangan iman bagi kita semua untuk memulai cara bisnis yang berbasis Kerajaan, prophetic business.

Hanny Setiawan

Menjadi Suara Kecil di Tengah Kegaduhan

Koh kok sekarang sering ngomong politik?  Sebuah pertanyaan yang masuk ke inbox membuat berfikir. Benar juga ya, sudah hampir 5 tahun terakhir sangat aktif di medsos mengikuti perkembangan politik, negara, sampai aktor-aktor politiknya. Tapi setelah flashback, dan mulai direnungkan, ternyata sejak SMP sudah suka mengikuti politik, tapi tidak tahu saja bagaimana menyalurkan “kesenangan ini”

Pagi-pagi baca koran sebelum berangkat sekolah, ga lazim mungkin bagi anak SMP, tapi ternyata sarapan yang sangat disukai. Karena cukup mampu waktu itu, langganan koran sampai 3, ada Kedaulatan Rakyat atau KR, Kompas, dan Sinar Harapan.  Jadi bisa dibayangkan betapa informasi-informasi media menjadi makanan otak sehari-hari.

Tapi itu semua sebelum adanya medsos, sekarang, setelah adanya medsos, letupan dari hati bisa dengan gampang ditorehkan di twitter, fb, atau blog sendiri.  Pokoknya mudah dan ada rasa  menyenangkan di hati karena merasa bisa menjadi SUARA KECIL yang diperhitungkan ditengah kegaduhan informasi yang merusak.

Menjadi SUARA bagi bangsa ini, itulah rupa-rupanya yang menjadi panggilanNya.  Sekecil apapun suara yang diperdengarkan, ternyata mampu menggerakkan tulang-tulang kering yang berserakkan menjadi sebuah pasukan yang besar. Asalkan itu suara yang digerakkan Tuhan.

Sebagai corong Ilahi bagi bangsa ini biarpun hanya melalui tulisan-tulisan sederhana ternyata menjadi sebuah kenyamanan hati yang sulit untuk diceritakan. Mungkin inlah yang disebut panggilan Ilahi? Apabila sudah dipanggil, tidak bisa kita lari kemanapun.  Pilihannya hanya dua, Ya atau Tidak.  Dan saya pilih untuk taat saja.  Ku jawab Ya Tuhan untuk menjadi Suara Kecil bagi Indonesia Baru.

Pendekar Solo

Menjawab Panggilan Ilahi

Panggilan bukanlah pekerjaan. Panggilan cuma satu, tapi pekerjaan bisa banyak. Setiap musim dalam kehidupan adalah tahapan (stage) dimana Tuhan memimpin kita menuju destiny (tujuan akhir) dari panggilan hidup.

Indonesia Baru adalah destiny yang Tuhan tunjukkan, dan panggilan yang sudah Dia kumandangkan. Untuk itu saya berkata, “Ku Jawab Ya Tuhan”.

Dalam perjalanan rohani, Tuhan menyatakan bahwa Indonesia Baru harus dipengaruhi oleh tiga variabel dasar yaitu pemerintahan (government), dunia usaha (marketplace), dan agama (religion) yang tepat.

Tiga trinitas kota ini memiliki kekuasaan politis, keuangan, dan massa, dan ketiganya harus ditaklukkan dibawah kekuasaan Tuhan.

Blog ini adalah pemikiran-pemikiran diketiga bidang ini sebagai iuran saya sebagai WNI Kristen untuk Indonesia Baru.

Salam Damai,

Hanny Setiawan
aka Pendekar Solo