Merindukan Pengganti Gus Dur

Pertemuan virtual saya dengan Gus Dur terjadi hampir seperempat abad yang lalu. Pertemuan melalui sebuah tulisan dia yang berjudul “Beri Jalan Orang Cina”. Seingat saya, tulisan itu ditayangkan disebuah harian terbitan Jogja yang setiap pagi rajin saya baca sejak SMP.

Tanpa sadar sejak itu saya mengikuti pemikiran-pemikian almarhum baik sengaja ataupun tidak.  Sayang, sampai kepergian Gus Dur, saya belum sempat ketemu beliau dan bercerita bagaima suka-duka menjadi WNI Kristen suku Cina.

Mencuatnya kasus Ahok 2017 mau tidak mau mengingatkan kita kepada sosok guru, negarawan, budayawan, dan pemikir Islam yang bisa diterima semua kalangan ini.

Gus Dur mampu mengayomi bukan hanya orang Islam tapi juga kelompok non Islam, itu yang membuat dia menjadi sangat spesial. Terlepas dari kelemahan sebagai manusia biasa, Gus Dur adalah sosok luar biasa yang menurut saya adalah sebuah manifestasi dari apa yang sekarang disebut Islam Nusantara.

Apa yang dimulai oleh Gus Dur harus bisa dilanjutkan bahkan dikembangkan. Secara budaya, sejak reformasi, Indonesia mengalami degradasi nilai ke titik nadir. Peristiwa-peristiwa now membuktikan rendahnya kebatinan bangsa sekarang.

Mulai dari demo berjilid, politisasi SARA masif, sampai sesederhana toko Coklat yang pro radikal, dan wartawan yang dipecat hariannya karena bersuara di sosmed pribadi, karena ketakutan kepada keroyokan massa.

Uniknya Gus Dur, bukan hanya dia mampu menjelaskan, dan mengayomi, dia berani untuk tegas dan berada di garis depan apabila dibutuhkan. Ketika dia diturunkan dari Presiden oleh Amien Rais, cs, Gus Dur memperlihatkan kenegarawannya dengan tidak membuat negara gaduh.

Paska menjadi Presiden, Gus Dur pun dengan tenang melanjutkan perjuangannya di Ciganjur sebagai seorang Gus. Itulah sosok yang dibutuhkan bangsa ini, terlebih waktu ini.

Sosok yang bisa mengajarkan bangsa ini arti “Rahmatan ‘lil Alamin” kepada semua WNI tanpa melihat suku, agama, ras, dan agama.

Catatan kecil ini saya tulis karena kegembiraan menemukan artikel lama Gus Dur di Gusdur.net online. Saya tidak berhalusinasi, tulisan itu betul-betul ada dan masih hidup sampai sekarang.

Seakan-akan Gus Dur ngomong, “Wis dikandani, beri jalan kepada orang Cina, tanah Abang ruwet kan?  Tinggal nyoblos Ahok aja koq repot…”  Gus…Gus..!

Pendekar Solo


Beri Jalan Orang China
Oleh: Abdurrahman Wahid
Sumber : Gusdur.net

Jadi orang Cina di negeri ini, di masa ini pula, memang serba salah. Walaupun sudah ganti nama, masih juga ditanyakan ‘nama asli’nya kalau mendaftarkan anak ke sekolah atau jika membuat paspor. Mungkin, karena memang nama yang digunakan terasa tidak pas bagi orang lain, seperti nama Nagaria. Biasanya naga menggambarkan kemarahan dan keganasan. Apakah si naga yang riang gembira ini tertawa-tawa? Hartadinata, terasa lucu, karena tidak klop antara kekayaan dan keanggunan jabatan, antara harta dan nata.

Ternyata bukan hanya karena nama baru orang-orang Cina terasa tidak sreg di telinga orang lain. Tetapi karena keputusan politik, untuk membedakan orang Cina dari pribumi. Memang tidak ada peraturan tertulis, melainkan dalam bentuk kesepakatan memperlakukan orang Cina tersendiri. Mengapa? Karena mereka kuat, punya kemampuan terlebih, sehingga dikhawatirkan akan meninggalkan suku-suku bangsa lainnya. Apalagi mereka terkenal dalam hal kewiraswastaan. Kombinasi kemampuan finansial yang kuat, dan kemampuan lain yang juga tinggi, dikhawatirkan akan membuat mereka jauh melebihi orang lain dalam waktu singkat.

Secara terasa, ‘kesepakatan’ meluas itu akhirnya mengambil bentuk pembatasan bagi ruang gerak orang Cina. Mau jadi tentara? Boleh masuk AKABRI, lulus jadi perwira. Tetapi harus siap menerima kenyataan, tidak akan dapat naik pangkat lebih dari kolonel. Mau jadi dokter? Silakan, namun jangan mimpi dapat meniti karier hingga menjadi kepala rumah sakit umum. Mau masuk dunia politik? Bagus, tetapi jangan menduduki jabatan kunci. Di birokrasi? Jadi pejabat urusan teknis sajalah, jangan jadi eselon satu. Apalagi jadi menteri.

Sialnya lagi, ‘jalan buntu’ itu ternyata tidak membawakan alternatif yang memuaskan. Jalan terbuka satu-satunya adalah mencari uang. Dan itu sesuai pula dengan kecenderungan sosiologis mereka sejak masa lampau, karena di masa kolonial pun mereka hanya boleh cari uang. Usaha berhasil, uang masuk berlimpah-limpah, kekayaan makin bertambah.

Celakanya, justru karena itu mereka disalahkan pula: penyebab kesenjangan sosial. Akumulasi modal dan bertambahnya kekayaan ternyata tidak membawa keberuntungan. Cara mereka menggunakan uang dinilai sebagai penyebab kecenderungan hedonistik di kalangan generasi muda kita, padahal permasalahannya sangat kompleks. Kekayaan mereka dianggap diperoleh melalui pengisapan si kecil, padahal orang Cina hanyalah satu saja dari sekian banyak faktor kemiskinan.

Dengan kata lain, orang Cina dipersalahkan bagi kebanyakan hal yang dirasakan tidak benar dalam kehidupan kita. Salah satu hukum kehidupan masyarakat adalah pentingnya kemampuan bertahan. Potensi untuk survive ini dimiliki orang Cina, di mana pun mereka berada. Dan potensi itu diwujudkan di negeri kita oleh mereka, dengan memanfaatkan satu-satunya ‘jalur kolektif’ yang masih terbuka: bidang ekonomi. Segala tenaga dan daya dicurahkan untuk mencari kekayaan. Perkecualiannya hanyalah sedikit orang Cina yang menjadi intelektual, akademisi, tenaga profesi, politisi dan sebagainya.

Kemampuan bertahan demikian tinggi bila dimampatkan ke dalam sebuah ‘sasaran kolektif’ mencari kekayaan, sudah tentu sangat besar hasilnya. Apa pula dibantu oleh kemudahan di segenap faktor produksi dan sektor usaha. Karenanya wajar-wajar saja bila mereka berhasil, tidak perlu dikembalikan kepada sifat serakah, atau direferensikan kepada rujukan akan licin dan sejenisnya. Bahwa banyak sekali orang Cina melakukan hal-hal seperti itu, tetapi tentunya tidak dapat dianggap sebagai watak rasial atau sifat etnis dari orang Cina. Orang lain juga berbuat sama.

Dengan demikian, persoalannya bukanlah bagaimana orang Cina itu bisa dibuktikan bersalah, melainkan bagaimana mereka dapat ditarik ke dalam alur umum (mainstream) kehidupan bangsa. Bagaimana kepada mereka dapat diberikan perlakuan yang benar-benar sama di segala bidang kehidupan.

Tanpa perlu ditakutkan bahwa sikap seperti itu akan memperkokoh ‘posisi kolektif’ mereka dalam kehidupan bangsa, karena hal-hal seperti itu dalam jangka panjang ternyata hanyalah sesuatu yang berupa mitos belaka. Keperkasaan orang putih ternyata dapat disaingi oleh keperkasaan orang hitam di Amerika Serikat. Orang Melayu di Singapura juga menyimpan kemampuan sama maju dengan orang Cina, seperti semakin banyak terbukti saat ini. Begitu pula bangsa-bangsa lain, baik yang menjadi minoritas maupun mayoritas.

Tesis pokoknya di sini adalah: dapatkah kelebihan kekayaan orang Cina dimanfaatkan bagi usaha lebih memeratakan lagi tingkat pendapatan segala lapisan masyarakat bangsa kita di masa depan?

Jawabnya, menurut penulis, adalah positif. Orang Cina, sebagaimana orang-orang lain juga, dapat di-appeal untuk berkorban bagi kepentingan masa depan bangsa dan negara. Tentu dengan tetap menghormati hal-hal mendasar yang mereka yakini, seperti kesucian hak-milik dari campur-tangan orang lain.

Pemindahan kekayaan secara masif bukanlah barang baru bagi orang Cina, karena mereka pun baru saja melakukan hal itu, dalam bentuk merampungkan upaya akumulasi modal yang bukan main besarnya. Salah satu instink untuk tetap bertahan hidup bagi orang Cina adalah realisme sangat besar yang mereka miliki. Akal mereka akan mendiktekan keputusan pemindahan kekayaan secara masif kepada mereka yang lebih lemah, dalam upaya mendukung pihak lemah itu agar juga menjadi kuat. Tetapi itu semua harus dilakukan dengan menghormati kesucian hak-milik mereka, bukan dengan cara paksaan atau keroyokan.

Kalau begitu duduk perkaranya, jelas akses orang Cina kepada semua bidang kehidupan harus dibuka, tanpa pembatasan apa pun. Kalau sekarang ada tiga orang Arab menjadi menteri, tanpa ada pertanyaan atau kaitan apa pun dengan asal-usul etnis atau rasial mereka, hal yang sama juga harus diberlakukan bagi orang Cina kepada semua bidang kehidupan harus dibuka, tanpa pembatasan apa pun. Kalau prestasi para dokter orang Cina sama baiknya dengan yang lain-lain, mereka pun berhak menjadi kepala rumah sakit umum. Begitu juga menjadi jenderal, dan demikian seterusnya.

Cerita gurau yang luas beredar menyebutkan perbedaan orang Jawa dari orang Cina. Orang Jawa, kata cerita itu, akan senantiasa menanyakan kesehatan kita kalau bertemu: “Sampean waras?” Bagi orang Jawa yang mudah masuk angin dan sebagainya, kesehatan adalah perhatian utama. Ini berbeda dengan orang Cina. Kalau berjumpa dengan orang lain, pertanyaan yang diajukan: “Sampean apa sudah cia?” alias apakah sudah makan atau belum. Mengapa? Karena mereka dahulu datang kemari akibat bahaya kelaparan di daratan Cina, negeri asal mereka.

“Keanehan” seperti itu adalah karakteristik etnis, yang tidak boleh mengganggu keserasian hidup sebuah bangsa. Apalagi bagi bangsa yang pada dasarnya sudah sangat heterogen, seperti bangsa kita. Kita sudah harus dapat melihat karakteristik khusus orang Cina seperti juga ‘keanehan’ suku-suku bangsa kita yang lain. Ini berarti kita harus mengubah cara pandang kita kepada orang Cina. Mereka harus dipandang sebagai unit etnis. Bukan unit rasial.

Kalau kita bisa menerima kehadiran orang Flores, Maluku dan Irian sebagai satuan etnis – padahal mereka bukan dari stok Melayu (karena stok mereka adalah Astromelanesia), maka secara jujur kita harus melakukan hal yang sama kepada stok Cina. Juga stok Arab. Mereka bukan orang luar, melainkan kita-kita juga.

Mudah dikatakan tapi sulit dilakukan. Itulah reaksi pertama pada ajakan “menyatukan dengan orang Cina”. Akan banyak alasan dikemukakan dan argumentasi diajukan. Karena, memang, dalam diri kita telah ada keengganan mendasar untuk menerima kehadiran orang Cina sebagai “orang sendiri”. Kita sudah terbiasa mau menerima uang mereka tanpa merasakan kehadiran mereka.

Boleh saja keengganan bahkan ketakutan seperti itu kita beri sofistikasi sangat canggih. Tetapi, ia tetap saja merupakan keengganan dan ketakutan. Sesuatu yang irasional. Justru itulah yang harus kita perangi, kita jauhi sejauh mungkin.

Mengapakah hal itu menjadi keharusan? Karena hanya dengan perlakuan wajar, jujur dan fair dari kita sebagai bangsa kepada orang Cina sajalah yang dapat mendorong timbulnya rasa berkewajiban berbagi kekayaan dan nasib antara mereka dan
pengusaha kecil kita. Ini kalau kita benar-benar jujur, lain halnya kalau tidak.

Sumber: Majalah Editor, 21 April 1990

Please follow and like us:

Panggilan, Perjalanan, dan Perjuangan, Catatan Kecil “Pak Pendeta”

23 Desember 2017  telah terlampaui. 51 menit setelah 24 jam menikmati apa yang disebut “ulang tahun”.  Sebuah perjalanan baru di mulai lagi, perjuangan sudah terlihat di depan mata untuk menyelesaikan panggilan.

Beberapa catatan kecil menarik untuk dicoretkan secara digital supaya menjadi sejarah tersendiri didunia maya. Sehingga suatu kali catatan kecil ini mungkin bisa memberkati dan menginspirasi banyak orang untuk ikut serta menyelesaian panggilan-panggilan hidupnya masing-masing.

Setelah Surabaya, Jogja, Jakarta, Semarang, kembali juga ke kota Solo, dirumah pemberitan Tuhan di Joyontakan. Rumah yang sudah 1 tahun ini melindungi keluarga kecil saya untuk tidak kepanasan, kehujanan, dan tidak menjadi homeless. 

Selalu sebuah perasaan aneh tersendiri ketika “pulang rumah”. Tidak perduli berapa jauh, tidak perduli kemana kita pergi, pada akhirnya semua akan pulang ke rumah. Itulah realitasnya.  Home sweets home.

Pagi-pagi, si kecil Gio membawa 1 lilin dan mulai menyanyikan tiup lilinnya, dan memberi salam ulang tahun. She is an amazing sweet girl indeed. Sebuah ritual ultah yang sangat sederhana tapi sangat nikmat dengan makan pagi bersama Istri (Yanty), si sulung (Ting-Ting), dan bungsu (Gio).

Pagi 23 Desember 2017 adalah tepat 30 tahun lulus SMP Negeri 10 Surakarta. Dan ada reuni kecil di lapangan Sekolah lama pagi itu. Setelah makan pagi, saya ajak si Sulung untuk ikut bereuni dengan teman-teman SMP.

Singkat cerita, sampai di SMP Negeri 10 sekitar jam 10.20, acara belum dimulai, maka yang sudah hadir mulai salam kangen. Dan sepintas saya merasa pulang rumah sekali lagi.

Sekitar 32-33 tahun yang lalu  (1983-84) saya masuk sekolah itu, itu tahun dimana keluarga di Kratonan di resmikan oleh alm. Pdt. Yahya Setiawan (GBIS Kepunton). Sekitar Satu tahun setelah itu tanggal 10 November 1985, kami sekeluarga dipermandikan air (Baptis).  Papi, Mami, 2 Kakak, dan saya.  Sebuah momentum penting perjalanan.

Sebab itu, saya mulai mengerti mengapa Tuhan bawa saya kembali ke SMP Negeri 10 di hari ultah ini. Tuhan ingin mengingatkan sebuah awal perjalanan. Sejak awal Tuhan sudah menyiapkan untuk sebuah panggilan. Bahkan sekolah mana yang yang dimasuki pun  dipilihkan Tuhan. Amazing God, isn’t He?

Kembali ke reuni, saya coba masuk kelas-kelas, aula, sampai akhirnya kekantor guru, dan took me by surprise, saya ketemu guru agama saya, bu Dewi. Guru yang tidak bisa dilupakan dengan mudah, karena dialah orang pertama yang menjadi korban kegelisahan Ilahi saya.

Ketika bu Dewi masuk pertama di SMP N 10, dia hanyalah seorang guru magang muda yang terlihat takut-takut dalam mengajar. Dan di kelas agama dialah, pertama kali saya berdebat keras dengan seorang guru.

Di umur 12-13 tahun ternyata saya sudah berdebat agama, dan ternyata bu Dewi ingat, bukan hanya 1 kali, tapi 2 kali kelas dihabiskan untuk “berapologetika” soal baptisan : dipercik atau diselam.

Yang sangat menarik bagi saya, ketika dia mengingat sesuatu yang saya tidak pernah ingat. Waktu itu dia mengajar lagu Amazing Grace, dan ternyata dia ingat ketika saya protes kecil dan mengatakan, “Kita adalah orang Indonesia, dan punya bahasa Indonesia, mengapa kita harus pakai bahasa Inggris”.  Saya terperangah diingatkan soal itu. Tuhan sudah menempatkan panggilan untuk Indonesia Baru itu sedini itu.  Merinding.

Terus berlanjut, bu Dewi mengatakan tidak pernah habis pikir mengapa ada orang Cina, pinter, dan kaya (keluarga waktu itu memang kaya, tapi itu dulu #senyumsendiri…..) mau masuk ke SMP Negeri 10 yang notabene ada mayoritas Jawa.

Kemudian saya berkata kepada bu Dewi, “bu, 30 tahun yang lalu Tuhan tempatkan saya di SMP Negeri 10 untuk mengajar saya mencintai bangsa ini”. Hanya ada saya dan anak saya yang wajahnya seperti putri Shanghai yang berdarah Tionghoa di acara itu.

30 tahun lalu hanya ada saya dan 1 teman saya lagi yang bukan Jawa. Saya masih ingat awal-awal selalu ada bully, dan ketakutan dalam hati kalau nanti terjadi apa-apa. Sebuah proses pembauran yang tidak terasa sedang terjadi, dan puji Tuhan, sekarang saya mengerti.

Saya mengerti bahwa saya orang Cina, yang lahir di Indonesia, Tuhan punya rencana untuk memberkati bangsa ini melalui hidup saya. Mungkin orang tidak mengerti, dan tertawa, tapi saya paham betul bahwa Tuhan tidak pernah salah.

Dalam reuni itu ada yang tahunya saya pendeta, ada yang mengenali saya sebagai pebisnis, ada yang mengenali sebagai pemain piano, ada yang mengenali sebagi aktivis sosmed, bahkan rata-rata mengenali bahwa keluarga kita pernah jualan batik. Dan saya maklum memang begitulah hidup saya. Campur sari.

Melihat teman-teman yang berjoget campur sari “Bojo Loro”, “Bojo Galak”, sampai “Ditinggal Pegat”, saya tertawa dan menikmati itu semua. Tuhan mengingatkan bahwa Dia mencintai Campur Sari, dan budaya ini untuk kemuliaaNya.  Saya pun harus memiliki hati yang sama.

Indonesa yang baru bukan hanya sebuah panggilan utopis. Puluhan tahun yang lalu Tuhan sudah siapkan untuk memiliki hati bagi bangsa ini. Dan dari SMP yang sama ternyata  ibu Iriana Jokowi (ibu Presiden RI sekarang) berasal.

Ternyata saya 1 alumni dengan ibu Iriana, apakah kebetulan? Saya tidak melihat itu kebetulan, Tuhan berbicara bahwa kalau dari SMP ini lahir ibu negara, mengapa Tuhan tidak bisa menempatkan seorang Yusuf bagi Indonesia Baru?

30 tahun perjalanan yang cukup panjang. Tidak semua maksudNya saya kenali di awal-awal perjalanan. Tapi dari musim ke musim Tuhan membuka rencanaNya, dan semakin menua serta memutih rambut ini, saya bersyukur tidak habis.  PanggilanNya tidak pernah salah.

Menghidupi panggilan bagaikan menyusun novel dari bab pertama sampai selesai. Setiap bab adalah perjalanan, dan dinamika cerita itu adalah sebuah perjuangan.  Dan saya merasa bahwa perjalanan dan perjuangan saya masih cukup panjang untuk menghidupi kitab kehidupan yang ditulis Tuhan sejak saya dalam kandungan ibu.

60 menit tidak terasa saya menuangkan isi hati, menyiapkan musim yang baru, dengan semangat yang baru, menuju Indonesia Baru, panggilan yang dimulai dari sebuah sekolah bernama SMP Negeri 10 Surakarta.

Nama Saya, bukan Hanny Setiawan tapi Yusuf Hanny Setiawan. Itulah panggilan yang harus saya jalani dan perjuangkan.  Terima kasih Tuhan untuk perjalanan hari ulang tahun yang penuh berkat.

Saya akan selesaikan perjuangan ini sampai Indonesia menjadi RUMAH, sehingga anak-anak bangsa mau PULANG RUMAH.  Homecoming.

Lalu aku berkata: “Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku; aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku (Maz 40:8-9)

Hanny Setiawan
Alumni SMP Negeri 10, Surakarta
Angkatan 1987
Kelas 1A, 2A, dan 3A

Please follow and like us:

Wabah Difteri Memperlihatkan Peradaban Bisa Hancur Karena Agama

Wabah Difteri sudah menjadi KLB (Kejadian Luar Biasa) Nasional 2017 di Indonesia. Dikala bangsa ini lagi digoyang radikalise, politik SARA, dan politisasi agama kronis, kabar wabah difteri ini menyakitkan hati.  Terutama karena masih berhubungan dengan agama.

Memiliki 2 anak putri 9 tahun dan 2 tahun, maka saya dan istri berinisiatif untuk segera memastikan vaksin DPT terutama untuk si bungsu yang memang belum sempat mendapatkannya.

Sampai Hari H, ternyata stok vaksin untuk orang dewasa dan si Sulung tidak ada (karena tidak lazim, sebab itu disebut luar biasa), dan hanya si kecil yang di vaksin. Di saat hati orang tua gembira melihat si anak “tidak ayis” waktu disuntik, bahkan dengan lucunya mengatakan, “sudah selesai mah?” :), hati ini teriris mendengar keterangan singkat bu Dokter.

Saya            :  Bu, apakah wabah Difteri sudah sampai Solo?
Bu Dokter : Belum pak.
Saya             : Wah, jangan belum bu, kalau bisa jangan datang wabahnya. Memangnya apa yang menyebabkan wabah ini bu?
Bu Dokter  :  Karena ada kelompok masyarakat yang menolak di vaksin, menjadi carrier yang akhirnya merebak menjadi wabah.
Saya              : Benaran Bu???!!!!

Dengan wajah kecut saya langsung mengerti bahwa wabah Difteri yang data terakhir mengatakan telah melanda 20 provinsi adalah akibat para penganut agama yang salah tafsir.  Atau mungkin dibodohi para petingginya.

Saya pun diingatkan ketika suatu sekte agama tidak mau ditranfusi darah sehingga menimbulkan banyak kematian. Atau tidak mau berobat, karena percaya Tuhan bisa menyembuhkan. Akibatnya kematian dalam rumah-rumah tangga juga.

Kembali ke perkataan Bu Dokter tadi, saya coba pastikan itu bukan sentimen pribadi. Dan ternyata memang betul.  Menteri kesehatan mengatakan:

Menurut Kementerian Kesehatan, Indonesia sebenarnya sudah terbebas dari wabah difteri sejak tahun 1990an akibat program imunisasi nasional. Namun pada tahun 2009, kasus infeksi difteri kembali meningkat. Bahkan angka kematian akibat penyakit ini sejak 2015 telah mencapai 502 kasus. (Sumber)

Artinya, penyeban wabah Difteri dipastikan karena tidak adanya vaksinasi. Dan kelompok penentang vaksinasi, adalah tersangka utama sebagai carried dan penyebar pertama tidak bisa dipungkiri.  Dan ini sangat menyedihkan.

Tidak bisa dibayangkan keluarga-keluarga lugu dan sederhana yang karena “iman” harus kehilangan orang-orang yang dicintainya. Apakah iman seperti ini tidak bisa disebut iman yang goblok? Apakah tidak bisa disebut orang-orang ini adalah korban pembodohan?

Kasus-kasus kebodohan agama seperti inilah yang akhirnya meningkatkan kelompok agnostik dan atheis yang pada akhirnya meningkatkan gerakan liberal humanisme seperti LGBT.

Kalau vaksin saja diharamkan sampai mengorbankan nyawa, jangan salahkan orang tidak percaya agama lagi, atau minimal pindah agama!

Tugas para rohaniwan, teolog, dan umat beragama apapun merknya untuk tetap waras dan menjaga iman kita tetap sehat sehingga tidak bisa dipolitisasi, sampai dikorbankan seperti dalam kasus Wabah Difteri.

Pembelajaran yang bisa diambil, peradaban manusia bisa hancur karena kebodohan agama. Dan sejarah telah mencatat itu berkali-kali. Semua agama memiliki bahaya laten untuk digunakan sebagai alat politik dan kekuasaan yang pada akhirnya manusia itu sendiri yang terkena azabnya.

Hal senada diungkapkan pendiri Rumah Vaksin dr. Piprim Basarah Yanuarso “Seruan anti vaksin bukan main-main bisa bikin wabah bermunculan ke mana-mana. Kalau orang tua yang galau ini sampai 40 persen dari populasi wabah bisa bangkit kembali,” ujarnya seperti dikutip Detik.com. (sumber)

#menolakdibodohi #menolakdipolitisasi #menolakdikorbankan

Pendekar Solo

Please follow and like us:

Posisi WNI Kristen Dalam Polemik Israel Palestina

Manuver politik Donald Trump menyatakan Yerusalem sebagai ibukota Israel, sekaligus memastikan akan memindahkan kedutaan besar Amerika dari Tel-Aviv ke Yerusalem mengejutkan seluruh dunia, baik yang pro maupun kontra. (7/12/2017).

Yerusalem, kota kuno yang dianggap suci bagi tiga agama besar Yahudi, Kristen, dan Islam seakan memenuhi destiny-nya untuk selalu menjadi pusat politik dunia yang sexy sejak ribuan tahun yang lalu.

Israel adalah negara unik yang secara bahasa, agama, ras, suku, sampai bangsa terintegrasi menjadi satu kata, yaitu Yahudi atau Jews.  Mereka memiliki agama Yahudi, bahasa Yahudi, ras Yahudi, sampai yang terakhir adalah Israel yang dianggal bangsa Yahudi (meskipun kenyataannya, bangsa Israel modern tidak semua Yahudi sekarang ini).

Jadi secara natural, semua yang melibatkan Israel akan selalu bernuansa agama, budaya, sekaligus politik, tidak bisa dipisahkan.

Hal ini perlu dimengerti supaya dalam menganalisa politik di Israel (apapun isunya) tidak gampang “dibodohi” para politikus yang memang hanya memiliki kepentingan politik, bukan kepentingan kemanusiaan ataupun menjalankan perintah agama.  Hanya kebohongan  dan retorika politik, demi kekuasaan sesaat, yang ujung-ujungnya adalah mamon.

Kristen, Yahudi, Islam :  Persamaan dan Perbedaan

Yahudi, Kristen, dan Islam adalah tiga agama yang memiliki akar sejarah yang sama. Dan salah satu akar utamanya adalah Bapak Abraham atau Nabi Ibrahim. Dari dialah lahir bangsa-bangsa sesuai yang dijanjikan Tuhannya Abraham.

Jadi sebenarnya secara logika sederhana, seharusnya Tuhannya Ibrahim adalah Tuhan yang dipercaya Yahudi, Kristen, dan Islam, karena ketiganya secara historis mempercayai sosok Ibrahim ini.  Belum lagi, kalau kita telusur ke Musa, dan Daud, maka kita menyadari ada kesamaan yang tidak bisa dihilangkan begitu saja.

Kesamaan ini seharusnya yang harus menjadi poin dialog dari ketiga agama untuk belajar hidup damai bersama sebagai “keluarga Ibrahim”, bukan perbedaan yang jelas ada setelah Isa Almasih atau Yesus Kristus, dan Nabi Muhammad.

Fokus kepada perbedaan hanya akan membuat keuntungan para politikus untuk menggunakan isu yang ada dan selalu membenturkan para pengikut disaat dibutuhkan.  Para pengikut sejati agama Samawi harus melawan dan menolak para politikus SARA ini.

Kristen Bukan Yahudi

Dalam polemik Israel Palestina, frame politik yang terjadi adalah Israel itu Yahudi-Kristen, dan Palestina itu Islam. Ini adalah frame yang secara logis memang mudah dipilih para politikus untuk meraup suara dari para fanatik agama.

Disini pentingnya dimengerti bahwa Kristen dan Yahudi bukan agama yang sama. Tapi memang Kristen mengakui bahwa iman Kristen berakar dari kepercayaan Yahudi. Sebab itu Kristen sering disebut Judeo-Christianity. Disinilah kemudian terjadi celah politik yang gampang digunakan para politikus untuk framing sesuai kepentingan mereka.

WNI Kristen tidak bisa serta merta ikut “mengutuk Israel” karena memang iman Kristen tidak diajar untuk mengutuki, tapi memberkati. Di lain pihak WNI Kristen, tidak mungkin membenci Palestina, karena Kristen percaya segala suku, kaum, bahasa, dan bangsa itu adalah milik Tuhan. Tuhan cinta segala bangsa!

WNI Kristen memiliki pandangan dunia (worldview) yang  paradoks antara Ilahi dan humanis.  Hukumnya orang Kristen, bukan hukum pedang, tapi hukum Kasih, yang secara eksplisit dinyatakan langsung oleh Yesus Kristus, tokoh sentral Iman Kristen.

Mat 22:37 Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
Mat 22:38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. 22:39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Mat 22:40 Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Inilah sebabnya Kristen diajar untuk selalu menghormati pemerintah (Rom 13) dan menjadi Garam dan Terang dimanapun berada. Agen perubahan dan perdamaian diseluruh dunia, bukan agen politik, teroris, dan penyebar kebencian.

WNI Kristen memberkati Israel dan Palestina, itulah yang seharusnya dilakukan. Secara politik dan negara, WNI Kristen tunduk dan menghormati langkah politik yang diambil Presiden Jokowi yang pasti untuk kepentingan perdamaian antara Israel-Palestina.

Secara teologis, pandangan Kristen terhadap Israel pun bermacam-macam ada yang percaya Israel tetap bangsa pilihan, ada yang tidak lagi percaya. Jadi, pandang teologis tidak bisa dipakai acuan dalam bernegara, tapi masing-masing WNI Kristen dapat  simpan sebagai iman pribadi.

Lalu bagaimana terhadap Donald Trump, dan Amerika? WNI Kristen pun harus memberkati Donald dan Amerika. Sekali lagi, pengikut Kristus tidak didesain untuk mengutuki dan menyebar kebencian, tapi didesain untuk melakukan kehendakNya demi kepentingan kemanusiaan.

Secara Eskatologis, Iman Kristen percaya Kebhinekaan dibawa sampai ke surga. Segala suku, bahasa, kaum, dan bangsa adalah elemen-elemen yang Tuhan sendiri ciptakan dan akan disempurnakan menjadi “satu manusia baru” (Ef 2:15)

Wahyu 5:9 Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya: “Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa
Wahyu 7:9 Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka.

Sebuah Kesimpulan Praktis

Polemik Israel dan Palestina harus dilihat dari bingkai politik praktis. Donald Trump adalah pemimpin politik bukan pemimpin agama. Tidak ada “fatwa Trump”, yang dia lakukan adalah sesederhana manuver politik yang Jokowi, JK, Prabowo, Mega, bahkan Ahok pun lakukan sebagai politisi.

Agama harus terus dipandang sebagai kekuatan moral (moral power) bukan sebagai kekuatan politik (political power) sehingga benturan antar umat dapat dihindarkan. Pandangan teologis apapun yang dipunyai atas sebuah peristiwa politik, tetaplah pandangan iman yang harus tetap disimpan dalam koridor iman, bukan politik.

Pernyataan lama Dubes Palestina berikut bisa memperlihatkan poin pemikiran artikel ini dari sisi yang berseberangan (sumber):

Di Palestina 50% penduduknya beragama Yahudi dan sisanya beragama Kristen dan Muslim yang berada di daerah Tepi Barat dan Yerusalem.” Ujarnya.
Mehdawi juga heran dengan beberapa orang dan kelompok yang selalu berteriak “alahu akbar” mendukung Palestina dan mengutuk Israel tetapi mereka tidak tahu permasalahannya yang terjadi di Palestina,
“Saya bingung dan heran dengan isu dan teriakan “alahu akbar” dari orang-orang terhadap yang terjadi antara Palestina dan Israel padahal mereka tidak tahu apa-apa dan tidak ada peran sama sekali untuk membantu kami, nol besar.” Ungkapnya

Hanny Setiawan

Please follow and like us:

Perjalanan Iman, Cinta, dan Panggilan

Waktu 10 tahun tak terasa telah berlalu. 26-27 Juli 2007, saya menikahi seorang gadis jelita bernama Yanty Yoyanto setelah hampir 35 tahun membujang. Sebuah penantian yang panjang dan tidak semua bujangan  “betah” untuk menunggu. Tapi itulah cerita 10 tahun lalu yang lalu.  Bagaimana dengan cerita yang sekarang?

10 tahun  berlalu, tidak ada complain apalagi regretyang bisa dikatakan. Pernikahan kami berjalan dengan baik, 2 putri diberikan Tuhan kepada kami , yaitu Tiffany Chisari Setiawan (9th) dan Giovanni Shekina Setiawan (2th). Semuanya berjalan dengan normal sesuai dengan apa yang dibayangkan waktu bujang. Lalu apa menariknya cerita kami?

Mungkin tidak ada menariknya, tapi ternyata “kenormalan” itu justru hal yang menarik untuk dibahas dan dibagikan. Mungkin tidak semua tertarik, tapi paling tidak bisa menjadi catatan kecil bagi yang membutuhkan.  Terutama, bagi yang tertarik untuk tetap hidup dalam panggilan, sekaligus tetap berjalan mengarungi bahtera samudera cinta.

****

Kurang lebih 32 tahun ikut Tuhan, berjalan dalam pergerakan rohani, terutama pelayanan muda-mudi, mendengar kata “menikah” adalah sebuah trauma tersendiri.  Sudah menjadi rahasia umum, setiap kali habis menikah maka tiba-tiba para aktivis pergerakan akan mundur teratur sampai pada akhirnya hilang.

Setelah itu, memilik anak, dan setelah anak-anak cukup dewasa maka orang-orang ini akan muncul lagi dipermukaan. Bahkan, kadang siklusnya lebih cepat lagi, belum menikah pun sudah “menghilang” karena alasan klasik, kerja.  Itulah “normalnya” pelayanan muda-mudi.

Inilah sebabnya, pergerakan kepemudaan dianggap sebelah mata dalam pelayanan gereja lokal.  Hubungan Gembala dan pengurus Youth yang tidak sinkron adalah salah satu bukti nyata bahwa pelayanan kepemudaan belum dianggap sebagai bagian utuh dari strategi pembangunan Tubuh Kristus.

Para Gembala/pemimpin/majelis/penatua/pembela sidang mengerti benar siklus umum diatas yang sayangnya dianggap sebagai sesuatu yang normal dalam gereja kebanyakan.

Disinilah saya memberanikan diri untuk membuka lebih banyak dengan catatan kecil ini, membuka rahasia sederhana bagaimana mengubah siklus hidup dari naik, turun, naik menjadi naik, naik, naik.

Dengan kata lain, perjalanan iman, sekaligus cinta selama 10 tahun terakhir yang saya anggap normal ternyata tidak normal. Saya menyadari bahwa ternyata hidup saya tidak normal dibanding kebanyakan orang banyak.

***

Kenormalan yang menjadi ketidaknormalan perjalanan biduk rumah tangga yang saya arungi terletak di terhubungnya antara pelayanan, pergerakan, kerja, dan kehidupan sehari-hari menjadi satu kesatuan.

Rupa-rupanya ini adalah kasih karunia yang Tuhan berikan dan saya hidupi sebagai panggilan. Sehingga puji Tuhan, tanpa disengaja saya menemukan rahasia bagaimana perjalanan iman kita tetap naik, tanpa harus mengalami turun, terutama dimasa hubungan, pernikahan, dan keluarga. Jadikan semua faktor didalam hidup kita menjadi satu misi, sebuah penyelarasan total!

Ketika pelayanan mengarah ke timur, pegerakan ke barat, pekerjaan ke utara, sementara keluarga ke selatan, maka bisa dibayang stress dan kegilaan yang terjadi.  Jadi memang intinya kita harus berani menyelaraskan hidup kita ke satu misi, tidak bisa banyak. Bahkan dua pun akan membuat pusing hidup kita.

Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya. (Yak 1:8)

Memilih pekerjaan, pasangan, bahkan pelayanan dan gereja lokal adalah kunci apakah kita akan tetap dalam misi Tuhan atau tidak. Panggilan pada dasarnya adalah posisi tetap kita dalam misi Ilahi pembangunan Tubuh Kristus, Ekklesia.

Artinya, panggilan tidak bisa berubah-rubah, yang bisa dirubah adalah seluruh faktor disekeliling hidup kita. Itulah yang disebut alignment atau penyelarasan.  Membutuhkan keteguhan iman untuk tetap teguh dalam posisi yang sudah disiapkan Tuhan bagi kita.

Posisi inilah yang secara legal akan memberikan kita otoritas rohani. Seperti posisi presiden, jendral, sampai lurah memperlihatkan otoritas yang mereka miliki. Lurah yang paling hebat dan berkuasa, dengan camat pun akan tunduk. Itulah kekuatan otoritas.

Pekerjaan, pelayanan, pernikahan, dan keluarga yang selaras akan membawa kita kepada posisi rohani yang solid dan membawa kepada level rohani yang Tuhan mau.

Puji syukur, saya merasakan itulah yang Tuhan sudah berikan selama 10 tahun ini.  Pasangan hidup dan keluarga yang membawa saya kepada otoritas rohani yang lebih tinggi.  What a blessing!

Tidak ada maksud untuk mengatakan keluarga saya yang terbaik dan paling rohani dimuka bumi, tapi paling tidak saya bisa bersaksi bahwa bukan hanya saya diberkati istri dan anak-anak cantik dan baik, tapi keberadaan mereka membawa saya lebih baik. Tidak turun tapi terus berapi-api melayani Tuhan.

Hanny Setiawan
A blessed husband and father.

Please follow and like us:

Chester Bennington Gantung Diri, Apakah Bisa Disebut RIP?

Dunia kembali digoncangkan dengan kasus bunuh diri selebriti. Chester Bennington, vokalis band papan atas Linkin Park, ditemukan menggantung diri hari Kamis (20/7/2017) waktu setempat. Chester, diumur 41, dan disaat puncak kejayaan, ternyata tidak lagi memiliki sebuah alasan pun untuk hidup.

Bisa ditebak, para penggemar diseluruh dunia terkejut dan menyatakan berbela sungkawa. Kematian yang bukan hanya terlalu dini dari musisi yang sangat berbakat ini, tapi juga kematian yang mengganjal dihati kita semua. Gantung Diri!

RIP – Rest In Peace bertaburan dimana-mana di sosial media mulai Twitter, FB, IG, dan online blog.  Pernyataan yang sopan dan terlihat simpatik ini terasa mengusik hati.  Mengapa?

Karena puluhan juta penggemar Linkin Park yang rata-rata anak muda yang tidak mengerti bisa salah mengerti dan mengganggap gantung diri adalah salah satu cara untuk RIP. Ngeri kan?

Jauhkan dari sentimen agama dulu. Saya tidak sedang berusaha masuk ke debat soteriologi, apakah Chester masuk neraka atau surga, atau apa penyebab Chester nekat, atau bahkan sekedar memperdebatkan masalah obat-obatan yang dikonsumsi.

Tapi saya menyoroti dampak sosial dari dukungan yang terkesan “Socially Correct” terhadap jalan yang ditempuh seorang Chester Bennington dengan melabeli kematiananya, Rest In Peace.

Saya berani mengatakan digantung, baik oleh orang lain, atau menggantung diri sendiri itu tidak ada nyamannya sama sekali. Jadi 100% saya berani mengatakan Chester Bennington tidak Rest In Peace.

Kita hargai semua karya musiknya, kita hargai semua perbuatan dan amal baiknya selama hidup. Karena saya tidak kenal dia, maka saya tidak bisa mengatakan apapun soal itu. Tapi kita harus berani mengatakan vokalis terkenal ini mengambil jalan yang salah. Titik!

Tujuannya apa kita harus menyatakan ini? Ribuan dan jutaan anak muda siap untuk mengikuti jalan pintas dari pecandu obat ini. Dan ketika kita menjadi bagian dari pendukung “aliran kematian” ini, maka kita ikut bertanggung jawab dengan semakin maraknya kasus bunuh diri.

Perlu diingatkan, Chester mengikuti jalan sahabatnya yang juga menggantung diri, Chris Cornell sahabatnya.

Chester Bennington, pentolan band Linkin Park, memutuskan bunuh diri di hari ulang tahun sahabatnya, mendiang Chris Cornell, Kamis (20/7). Bagi Chester, Cornell –yang juga tewas gantung diri– adalah panutan dan inspirasi baginya bermusik. (Sumber)

Jangan pernah meremehkan kekuatan dari sebuah panutan. Bisa dibayangkan berapa banyak anak muda yang terjangkiti sucidial spirit  atau kecenderungan untuk bunuh diri dari seorang Chester?

Chester sudah meninggal, sebagai sesama manusia, kita ikut berduka untuk istri dan anak yang ditinggal. Tapi kita juga harus berani mengatakan jalan yang ditempuh tidak benar, dan lebih dari itu kita harus hentikan rantai kematian “mengikuti panutan” sampai disini.

Ini waktunya generasi ini mulai harus diajar dengan nilai-nilai yang benar dari budaya populer. Lagu-lagu yang penuh pesimisme kehidupan, sebagus apapun musiknya, adalah sampah bagi jiwa yang sehat.  Pilihlah panutan yang benar, bukan sekedar yang trend.

Jadikan kematian Chester Bennington, Christ Cornell, Tommy Page, Robin Williams, Ian Curtis, Nick Drake, Kurt Cobain, sampai Whitney Houston dan Elvis Presley sebagai sebuah peringatan bagi kita. Ini bukan sebuah peristiwa bunuh diri dari seorang selebriti saja, melainkan ini sebuah epidemi sosial masyarkat yang harus dihentikan.

Pendekar Solo

Please follow and like us:

Saya Bukan Minoritas

Koq bisa, kamu kan Cina, sipit kuning, Kristen lagi. Itu kan jumlahnya ga banyak di Indonesia jadi sah dong disebut minoritas. Begitu katanya mereka.

Saya bilang tapi saya pemakan nasi putih. Pemakan nasi putih di Indonesia itu mayoritas kan, lebih banyak dari pemakan sagu, apalagi pemakan manusia alias kanibal. Sah dong saya bilang saya termasuk mayoritas dibidang pemakan nasi

Maksud saya gini poro sederek. Kita selalu bisa diposisi mayoritas atau minoritas tergantung dari sisi mana kita melihat. Sebab itu di negara hukum TIDAK ADA istilah mayoritas dan minoritas. Seharusnya!

Disitulah letak perbedaan pandangan antara orang sektarian dan nasionalis. Jadi, kalau masih memiliki pandangan aku mayoritas kamu minoritas, atau sebaliknya lebih baik jangan bilang nasionalis. Gitu aja sih.

Pendekar Solo

Please follow and like us: