Saya Bukan Minoritas

Koq bisa, kamu kan Cina, sipit kuning, Kristen lagi. Itu kan jumlahnya ga banyak di Indonesia jadi sah dong disebut minoritas. Begitu katanya mereka.

Saya bilang tapi saya pemakan nasi putih. Pemakan nasi putih di Indonesia itu mayoritas kan, lebih banyak dari pemakan sagu, apalagi pemakan manusia alias kanibal. Sah dong saya bilang saya termasuk mayoritas dibidang pemakan nasi

Maksud saya gini poro sederek. Kita selalu bisa diposisi mayoritas atau minoritas tergantung dari sisi mana kita melihat. Sebab itu di negara hukum TIDAK ADA istilah mayoritas dan minoritas. Seharusnya!

Disitulah letak perbedaan pandangan antara orang sektarian dan nasionalis. Jadi, kalau masih memiliki pandangan aku mayoritas kamu minoritas, atau sebaliknya lebih baik jangan bilang nasionalis. Gitu aja sih.

Pendekar Solo

Wabah Persekusi Memperlihatkan Wajah Politikus Indonesia

Entah darimana mulainya, tiba-tiba istilah persekusi (persecution)menjadi populer menggantikan kata intimidasi, radikalisme, ataupun anarkis. Kata itu menjadi menarik diamati, karena dalam kitab suci kata persecution (aniaya) itu sangat erat hubungannya dengan penindasan kepercayaan.

Terlepas dari itu, fenomena yang terjadi sebenarnya tidak terjadi in a vacuum. Atau, terjadi dengan sendirinya. Tidak dengan sendirinya, lahir sekumpulan orang anarkis, radikal, dan intoleran.  Semua ini adalah puncak gunung es yang mulai terlihat.

Momentum Pilkada DKI 2017 adalah momentum penting yang membuka penutup (veil) selama ini.  Realitas pahitnya, ternyata sendi-sendi politik, ekononomi, sosial, dan budaya, bahkan sampai ideologi (ipoleksosbud) sudah mulai tercemari dengan virus radikalisme, dan sekatarianisme.

Tidak mengheran, terlihat seorang Jokowi pun menjadi “geram” dan dengan berapi-api mengeluarkan pernyataan “kita gebuk”. Meskipun, menurut beberapa pihak masih terlalu lembek, dan juga agak terlambat, tapi sisi positifnya, pemerintah mulai bergerak dan berpihak kepada rakyat yang was-was dengan kondisi yang memprihatinkan kita semua.

Persekusi yang ditengarai dilakukan ormas  sama dengan yang memotori demo 411, 212, dan juga menjadi pendukung Anies-Sandi jelas membuat kita bertanya-tanya. Tidak bisakah para politikus ini menghentikan, atau minimal menghimbau supaya persekusi dihentikan?

Habis manis sepah dibuang, ketika posisi sudah digapai, kekuasaan sudah ditangan, maka para pelaku persekusi ini terlihat dibiarkan sebagai korban politisasi. Begitulah kejamnya politik, dan begitulah wajah politikus Indonesia.

Terlihat “serigala-serigala” persekusi ini memang sudah dipelihara sejak lama untuk kepentingan politik. Setiap kali ada hajat demokrasi seperti pilpres, dan pilkada, maka dibiarkanlah para serigala ini untuk mencari makan.

Jadi, kalau mau fair, yang paling jahat disini adalah pemelihara dan pemilik gerombolan serigala ini.  Yaitu para politikus yang sudah sulit diidentifikasikan siapa yang memulai.  Paling tidak,  depan mata kita kita melihat, sejarah mencatat nama-nama yang nyaman menunggangi gerombolan ini.

Having all said, momentum sudah berbalik, pemerintah melalui Jokowi, dan Tito mendapatkan kesempatan untuk membersihkan NKRI dari serigala-serigala jahat.  Lupakan dulu para pemilik, pemelihara, pemberi makan yang bersembunyi, rakyat perlu diselamatkan.  Rakyat perlu bukti, bahwa pemerintah memang berani.  Gebuk!

Pendekar Solo

Terorisme Agama, Bagaimana Gereja Harus Bersikap?

Lagi-lagi bom bunuh diri meledak mengoyak tubuh ibu pertiwi. Di Kampung Melayu (24/5/2017), Jakarta Timur, 5 orang tewas dan sekitar 10 lainnya luka-luka.   Terorisme kembali hadir.

Timeline medsos penuh konspirasi teori, dan terasa ada settingan politik yang sangat teroganisir. Tensi politik Indonesia kembali meningkat, kita kembali was-was. Ibu pertiwi kembali menangis.

Kita hanya bisa menduga dan polisi yang akan bertugas membongkar semuanya. Tapi satu hal yang pasti, luka Pilkada DKI 2017 akibat politik SARA yang masih menganga tiba-tiba bagaikan tersiram cuka, sakit dan pedih rasanya.

Bom Kampung Melayu ini adalah yang ketiga selama periode Pilkada DKI 2017. Bom ke-3 ini mungkin bisa disebut injury time, karena terjadi setelah semua selesai : Pilkada, maupun proses hukum Ahok.

Bom pertama adalah bom molotov yang  ditujukan ke Gereja Oikumene Sengkotek, Samarinda. Bom yang membuat miris karena anak-anak  menjadi korban. Bom ini meledak 8 hari setelah demo 411 yaitu 13 November 2017.

Anak Intan Olivia Marbun berusia 2 tahun meninggal sehari setelah bom, tapi media tidak begitu menggubris kisah ini. Dan setahu saya pejabat tinggi negara pun terlihat tidak begitu mau memperpanjang soal ini.  Pilkada DKI 2017 tetap dengan gaya politik SARA-nya, bahkan menyiapkan yang lebih besar demo 212.

Bom kedua adalah bom panci di Bandung 27 Februari 2017, bom ini disinyalir serupa dengan bom yang meledak di Kampung Melayu. Bom kedua ini meledak setelah putaran Pilkada DKI yang pertama, yang dimenangkan Ahok 43%.

Setelah Bom itu, saya sempat menuliskan supaya Anies-Sandi menghentikan politik SARA supaya tidak membuka pintu dan celah untuk radikalisme menunggangi.

Apa daya, suara kecil saya di media sosial belum mampu mempengaruhi mereka. Putaran kedua menjadi lebih ngeri karena merubah pesta gagasan menjadi perang badar.

REFERENSI : Semoga Bom Bandung Menyadarkan Anies-Sandi Untuk Tidak Bermain SARA Lagi

Dan sekarang, bom ketiga sudah merenggut nyawa. Apa yang saya was-was-kan sudah terjadi.  Mungkin analisa amatir saya terlalu paranoid, ketiga bom itu tidak ada hubungannya dengan Pilkada DKI 2017. Tapi biarlah saya tetap menyuarakannya untuk tidak lagi bermain-main dengan isu sektarianisme.

Akan selalu ada penunggang gelap dalam setiap kampanye, tugas kita adalah membuang dan menjaga masing-masing kubu supaya penunggal gelap itu tidak menemukan momentum.

Jangan justru kita menunggangi penunggang gelap, itulah hancurnya batasan kampanye etika moral Anies-Sandi. Dan sekarang kita satu bangsa harus menghadapi yang lebih besar.

Hubungan bom bunuh diri dengan kepercayaan, dan agama tidak bisa ditutupi lagi. Dan hal ini adalah celah besar untuk dipolitisir lebih lanjut. Disini Gereja Tuhan harus berhikmat sehingga bisa berdiri di posisi yang benar.

Saya setuju dengan Denny Siregar ketika dia mengatakan akar perpecahan di Indonesia bukan syiah dan sunni, tapi salah satu yang terbesar adalah Kristen – Islam, kedua adalah Tionghoa – Pribumi, ketiga adalah PKI.

Ketiga isu besar ini sudah mengakar diindoktrinasi di akar rumput Indonesia, kita tidak bisa menganggap remeh, tapi harus menghadapi dengan kepala dingin dan berani. Bukan untuk saling menyalahkan tapi mencari jalan keluar. Itu semangat rekonsiliasi yang benar.

Dalam konteks terorisme agama, Gereja Tuhan harus menyatakan dengan tegas bahwa terorisme bukan bagian dari Islam.  Dan juga bagian dari agama manapun.  Agama langit haruslah bermanfaat untuk kemanusiaan, apabila tidak maka kita bisa pastikan itu adalah penyelewengan ajaran agama.

Aura adu domba sangat terasa, Gereja sebagai agen rekonsiliasi tidak bisa berdiam diri. Kita harus muncul sebagai anak-anak damai atau peacemakers.  Itulah esensi SALIB yang harus dimanifestasikan dalam kehidupan pengikut Yesus Kristus.

Saat-saat seperti ini adalah saat-saat yang dilematis. Karena kita menghadapi orang-orang yang tersamar dan terbungkus dengan simbol-simbol agama. Menyerang mereka akan bisa dengan gampang diplintir menyerang seluruh agama yang diwakili simbol-simbol tertentu.

Dilematis bukan berarti pasif. Kita harus dengan tegas menyatakan garis batas antara fanatik, sektarian, intoleran, radikal, sampai kepada terorisme. Dimana batasnya? Apakah ada batasnya? Apakah perlu dibatasi?

Pertanyaan-pertanyaan ini perlu diangkat dalam dialog-dialog antar umat beragama seperti yang Jokowi harapkan. Agama harus muncul sebagai kekuatan moral, bukan politik, untuk mengembalikan semangt kebhinekaan, tepo sliro, dan kemanusiaan yang menjadi esensi budaya Indonesia.

Doa kita bersama, para politisi dan pejabat negara BERHENTI memainkan politik SARA, dan kita mulai fokus menghadapi musuh ideologis yang sebenarnya.  Terorisme!

Hanny Setiawan

Perlukah Ahok Kembali ke Politik?

Sehari setelah mencabut hak banding, Ahok mengajukan surat pengunduran diri kepada Jokowi sebagai presiden RI. Dengan ini, secara legal maka Ahok 100% tidak ada ikatan politik  lagi  dengan pemerintahan baik secara hukum maupun praktis.

Ahok benar-benar dalam posisi bebas dari semua yang berbau politik praktis saat ini. Bagi yang punya perusahaan, ini bagaikan kehilangan CEO terbaik yang dimiliki. Bagaikan Steve Job meninggalkan Apple, atau Bill Gates meninggalkan Microsoft.  Bagi yang mengerti.

Berita berseliweran bahwa Ahok tidak mau lagi kembali ke politik, ada juga yang mengatakan Ahok lebih baik keluar negeri dan melupakan negeri ini, atau ada juga yang masih mengharapkan Ahok kembali dengan kekuatan massa lebih besar menghancurkan semua bigot-bigot Indonesia. Semuanya hanya berita.

Kita tidak mengerti apa yang di hati Ahok, bahkan mungkin sekarang ini dia sedang mencari apa yang lebih baik dia lakukan. Tapi, yang jelas, saya berani mengatakan bahwa pasti Ahok kecewa. Itu dinyatakan secara eksplisit dalam suratnya.

Siapa tidak kecewa dengan keadaan yang menyakitkan, memberikan terbaik untuk perusahaan, tapi malah dijebloskan ke penjara oleh majikannya.

Pengadilan mewakili rakyat, hasil Pilkada mewakili rakyat. Terlepas siapa aktor politik yang dibelakangnya, rakyat Indonesia adalah yang pihak yang menolak Ahok. Terutama rakyat Jakarta.  Itulah realitasnya.

Pernyataannya sekarang, apakah nantinya Ahok lebih baik kembali ke politik atau tidak?

Ahok sudah di penjara pun, lawan pun masih begitu takut Ahok kembali lagi ke gelanggang. Amien Rais, sang kakek kontroversial, bahkan berteriak-teriak untuk mengusut korupsi Ahok yang gilanya “buku fiksi” juga dibuat oleh Marwan Batubara dengan judul “Usut Tuntas Dugaan Korupsi Ahok” .  Paranoid!

Dalam prinsip Alkitab, pengikut Kristus tidak memiliki hak lagi. Hidupku bukan aku lagi, tapi Kristus yang didalamku (Gal 2:20).  Paulus mengatakan bahwa kita ini adalah tawanan Roh (Kis 20:22) artinya kita hanya bisa taat saja. Tuhan tahu yang terbaik dalam memutuskan.

Kristen tidak percaya takdir, tapi percaya destiny dan panggilan. Demikian juga Ahok, sebagai Tionghoa Kristen, Ahok sudah menunjukkan contoh bagaimana menjadi WNI Kristen yang baik dan benar, terlepas dari segala kelemahan dia sebagai manusia.

Dan fungsi dia untuk bangsa ini jelas, dia adalah seorang pendobrak, dan pembuka jalan (forrunner). Dalam bahasa kelompok Karismatik terikini, Ahok bergerak di apostolik profetik untuk menjadi garam dan terang di marketplace bukan saja dibalik dinding-dinding gereja.

Jadi, bagi Ahok, sebenarnya kembali atau tidak ke pemerintahan, bukan lagi pendapat pribadi Ahok atau pendukungnya. Tapi apa maunya Tuhan itu yang harus diselesaikan. Secara destiny, jelas Ahok tidak akan bisa dipisahkan dari sejarah perpolitikan Indonesia.

Ahok sudah jadi bagian wall of fame, politikus dan negarawan Indonesia. Tapi, secara panggilan, Apakah musim yang baru Ahok harus di politik praktis, atau menjadi “guru bangsa” hanya Ahok dan Tuhan yang tahu dan kita mendukung dalam doa.

Sebagai rakyat Indonesia, disisi lain, saya melihat bahwa Indonesia membutuhkan Ahok untuk kembali. Kembali bukan untuk menang atau kalah tapi kembali untuk memberi teladan dan contoh bagaimana berpolitik, bernegara, dan menjadi pejabat publik yang benar.

Bagaimana cara kembalinya? Saya juga tidak tahu. Tapi saya cuma percaya, Tuhan buka jalan saat tidak ada jalan. Cuma saya juga menyadari, bahwa Ahok butuh waktu untuk menyembuhkan diri dari luka dikhianati orang yang ditolong.

Jadi, sekarang ini pertanyaan yang benar adalah apakah Indonesia sudah siap menerima Ahok kembali? Karena bukan Ahok yang belum siap, tapi Indonesia yang belum siap.

“Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ.”
Kisah 20:22

Hanny Setiawan

Perjalanan Rohani Ahok di Penjara

Baru kali ini satu bangsa menangis bersama. Airmata ibu Veronika Tan, istri Ahok telah melelehkan Indonesia. Mungkin ini sebuah pernyataan hiperbola, tapi saya yakin yang melihat video pembacaan surat Ahok dari penjara akan tidak kuat melihat ketulusan seorang Vero.

Terasa sekali, dari kata demi kata yang dibacakan Vero, surat tersebut lebih terasa sebagai perjalanan rohani Ahok daripada surat politik apalagi surat hukum.

Ahok yang kasar, berangasan, dan siap untuk berperang dengan koruptor bahkan mati untuk apa yang dipercaya, tiba-tiba terasa sangat mellow dan menyerah dengan keadaan. Apa yang terjadi?

Kita sedang melihat proses transformasi pad diri Ahok yang secara Ilahi selaras dengan proses transformasi yang terjadi di bangsa ini.  Ahok adalah obat paling keras untuk Indonesia, karena dia langsung menghujam ke inti permasalahan di birokrasi, yaitu korupsi-kolusi-manipulasi.

Ketika dia hantam itu tanpa kompromi, maka teriakan kesakitan terjadi di semua lini baik kawan maupun lawan. Dan Indonesia tidak siap menerima perubahan sedrastis itu.  Ketika para elite politikus tidak lagi dapat “asupan anggaran” maka yang terjadi adalah Ahok terpental.

Persoalan penistaan agama, cara ngomong yang kasar, penggusuran, dan/atau reklamasi hanyalah bunga-bunga yang diciptakan untuk melengeser Ahok. Dan Ahok tahu benar hal itu. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan, karena Indonesia telah menolak dia.

Tapi yang tidak masuk hitungan para lawan politik adalah Tangan Tuhan. Kalau sudah memasukkan Tuhan dalam persamaan matematis maka kita sering akan terkejut dengan langkah-langkah ajaibnya.

Sebab itu tepat sekali ketika Ahok tidak bergantung kepada temannya Jokowi, parpol mengusung, atau jutaan relawan Ahok yang terus berkembang. Ahok berpaling kepada Tuhan untuk minta pertolongan. Ini luar biasa.

Sebab itu ayat yang dikutip bu Vero, “Tuhan akan menyelesaikannya” (Maz 138:8a) adalah ayat yang sangat pas dan berkuasa. Kali ini Ahok tidak berusaha untuk menyelesaikan apapun , tugas dia hanya berdiam diri dan mencari Tuhan, karena Tuhan yang akan didepan menyelesaikan semua.

Dalam iman Kristen, setiap kali Tuhan hanya membutuhkan ketaatan kita, karena pada akhirnya peperangan adalah milik Tuhan sendiri. Kalau Tuhan sudah berkehendak, maka pasti terjadi.

Ahok berkoalisi dengan Tuhan untuk menyelesaikan masa hukuman juga “what’s next”. Dan menuruh saya, ini justru lebih menakutkan dari skenario apapun. Semakin Ahok tidak membalas, semakin Indonesia harus merendahkan diri minta pengampunan dari Yang Maha Kuasa.

Perjalanan rohani Ahok dipenjara adalah sesuatu yang divine. Akan sulit untuk memahami apa yang terjadi tanpa melihat gambar besar yang Tuhan sedang kerjakan. Yang pasti adalah Ahok adalah pembuka jalan dan model kepimpinan Indonesia Baru.

Semua pemimpin yang akan maju di panggung nasional akan di-benchmark dengan Ahok.  Itulah sebabnya Tuhan sedang melengkapi yang masih kurang dalam hidupnya, untuk tugas yang lebih besar.  Membangun Keluara Indonesia Baru.

Hanny Setiawan

Ada Ahok Dalam Diri Adik Afi Nihaya Faradisa

Ditengah kegundahan hati melihat keadilan yang semakin menghilang dalam kasus Ahok, nama Afi Nihaya Faradisa telah muncul memberikan secercah harapan.

Bukan sekedar buah pikirannya, ataupun kemudaannya, tapi “ada Ahok” dalam diri adik Afi ini. Apa itu? Keberanian!  Keberanian dia menatap orang-orang yang jauh lebih dewasa, berpendidikan, dan berpengaruh dan mengungkap isi hatinya.

Banyak orang memiliki pemikiran yang sama dengan adik Afik, mungkin faktor kemudaannya memang menonjol. Tapi, seingat saya, sewaktu SMA saya pun mengingat banyak teman-teman yang pintar-pintar.

Artinya, tanpa merendahkan kemudaan adik Afi, hal tersebut justru bukan atau tidak seharusnya ditonjolkan.

Keberanian Afi inilah yang harus terus diekspose karena inilah spirit of Ahok. Di Indonesia sekarang ini yang dibutuhkan adalah orang-orang yang berani #hidupbenar ditengah segala kemunafikan.

Kita memiliki cukup politikus yang ok, dan banyak yang busuk. Tapi yang kita butuhkan adalah negarawan, orang-orang yang memiliki nilai-nilai dan berani untuk menyuarakan, dan menghidupinya.

Tidak heran salah satu testimony adik Afi distatus FB-nya yang terbaru mengungkapkan bagaimana seorang dosen pun meleleh melihat keberanian “anak kemarin sore”

Salah satu momen paling mengesankan dalam hidup saya adalah ketika setelah rampungnya acara, seorang ibu dosen tiba-tiba menghampiri dan memegang pipi saya, kemudian beliau berkata dengan mata yang berkaca-kaca,

“Nak, kau tahu tidak, begitu banyak orang yang punya pendapat dan suara tapi lebih memilih untuk tidak mengungkapkannya. Saya adalah salah satu orang diantara mereka. Dan kamu berani, Nak. Saya tidak tahu apa yang harus saya ungkapkan padamu. Saya terharu!.”

Anti Korupsi dan Reformasi Birokrasi adalah dua hal yang sulit untuk ditiru pejabat publik yang lain. Dalam soal anti korupsi, Ahok bukan hanya tidak nyolong, tapi dia juga tidak membiarkan orang lain nyolong.  Ini hal penting yang harus dicatat sejarah.

Kalimat “Pemahaman Nenek Lu” akan menjadi sebuh tugu peringatan, disini pernah ada seorang Gubernur yang tidak rela 1 rupiah pun uang rakyat dimainkan.

Dalam hal reformasi birokrasi, tidak perlu banyak penjelasan, bisa dilihat secara transparan bagaimana mengubah pemalas-pemalas di balikota menjadi pekerja-pekerja hebat.

Meskipun sayangnya, ketika proses belum selesai, ada om dan tante telolet yang memberi es, permen, dan mainan, sehingga anak-anak manja ini menjadi liar kembali.

Adik Afi mungkin bukan pejabat publik, tapi saya pribadi berharap dia terus bersuara. Karena suara adik Afik ini akan menjadi suara profetis yang akan membangkitkan spirit of Ahok didalam diri jutaan, puluhan juta, bahkan bisa sampai milyaran orang. Tidak ada yang mustahil di era sosial media ini.

Kalau tokoh NLP (Neuro Lingutistic Program), Anthony Robbins, pernah menulis top seller yang berjudul Awaken Giant Within You, tidaklah berlebihan apabila hari-hari ini kita melihat pentingnya untuk Awaken Ahok Within Us

Ini bukan waktunya diam, biarlah Ahok berdiam di penjara Mako Brimob bersama dengan Tuhan dan malaikat-malaikat yang menjaga dia, ini waktunya kita seperti adik Afi untuk keluar dari tempurung dan sama-sama mendeklarasikan “Bumi itu Bulat!”

Pendekar Solo

Catatan Kaki Ngopi Bareng Denny Siregar

Sangat inspiratif, menarik, sekaligus informatif itu yang saya rasakan ketika menghadiri acara “Ngopi Bareng Denny Siregar” di Omah Sinten, Solo (20/5/2017).

Acara yang di-host MAHS (Masyarakat Anti Hoax Soloraya) ini berlangsung secara interaktif dengan Denny dan dua narsum lainnya, Ichwan Prasetyo dari Solopos, dan “Gus Solah” mewakili MAHS.

Sang bintang tamu, Denny Siregar, terlihat tak berbeda jauh dari tulisan-tulisan yang selama ini bisa dinikmati di media sosial. Renyah, nyentil, informatif, sekaligus juga kontemplatif.  Yang terakhir ini justru rupa-rupanya menjadi kekuatan utama seorang Denny Siregar.

Denny mengaku bahwa sebenarnya dia menulis sebagai perjalanannya mencari jati diri dalam koridor kebenaran yang universal. Tidak heran, tulisan-tulisan Denny terkadang terasa imajinatif, dan menimbulkan pertanyaan siapa sebenarnya Denny ini.

Siapa yang mem-backing dia? Informasi koq sangat up-to-date, apakah dia dapat asupan dari BIN, atau intel kepolisian? Berderet pertanyaan terlihat ada dalam diskusi malam itu yang pas dengan kebangkitan Nasional ini.

Imagination is more powerful than knowledge (Albert Einsten).  Denny Siregar mampu menjadi contoh bagaimana imanjinasi benar-benar dapat menjadi sebuah pedang tajam.  Apabila digunakan untuk kebaikan, imajinasi ini bahkan mampu membangun sebuah bangsa. Itu pesan kuat yang tersirat.

Opini adalah hal yang subyektif. Sebab itu, dengan sendirinya pasti imajinatif. Apabila didasarkan informasi dan fakta yang ada, maka analis-analis hebat akan mampu merangkai menjadi narasi yang paling tidak mendekati kenyataan.

Selain imajinatif, Denny Siregar memiliki sebuah misi yang jelas supaya Indonesia tidak mengalami apa yang dialami Suriah, yang bisa dikatakan Holywood Live Show.

Misi inilah yang akhirnya membawa Denny kedalam perjalanan rohani melawan “kaum bumi datar”, dan ternyata disambut oleh kaum bumi bulat yang membutuhkan sosok pemimpin di dunia maya yang lugas menyatakan bahwa “Bumi itu bulat!”

Dari sinilah lahir pasukan emak-emak yang ternyata telah berkembang ke mbak-mbak serta bapak-bapak, bahkan engkoh-engkoh seperti saya.

Satu hal yang menarik perhatian saya, adalah closing statement Denny yang mengatakan sebagai influencer di media sosial, dia tidak lagi merasa senyaman dulu.

Dulu apapun yang dirasakan bisa dituliskan, sekarang semua harus dihitung, karena pengaruhnya telah sampai ke bumi kotak, lingkaran, dan segitiga. Denny sudah terkenal.

Dan puji Gusti, saya melihat Denny berusaha bertanggung jawab dengan nikmat Allah yang diberikan, sehingga tidak menggunakan kepopularannya untuk digadaikan, tapi masih tetap dalam misi bumi bulat.

Lesson Learned.  Sosial media adalah platform baru abad ke-21 ini yang bukan hanya telah mempengaruhi bisnis tapi sosial politik pun telah menjadikan sosmed bagian penting dalam narasi yang dibuat. Banyak hal buruk akibat sosmed, tapi hal yang baik pun tidak kurang.  Ini sebuah peradaban baru yang kita harus mulai menghidupnya.  

Denny telah memberi contoh kepada kita how we live it.   Kalau Denny suka kacang, karena saya lihat makan kacang godoknya banyak, saya pun suka kacang sampai sempat asam surat. Artinya, kalau Denny bisa memberi pengaruh yang baik untuk Indonesia, mengapa kita tidak? Saya pun termotivasi.  Tak susul mas 🙂

Pendekar Solo

Daripada Selingkuh, Nikahkah Agama dan Politik!

9 Mei 2017 menjadi catatan hitam reformasi Indonesia.  Seringai serigala-serigala orde baru yang selingkuh dengan kekuatan radikal ditunggangi para oportunis sektarian telah menjungkalkan Ahok ke tahanan.

Supaya fair, Ahok jatuh bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Secara pribadi, Ahok sedang menjalani proses kenosis, yaitu proses menjadi kenos atau kosong. Karena semakin dia berkurang, maka Tuhan akan semakin bertambah.  Itulah iman yang Ahok anut.

Dari sudut politik, pemerintahan Jokowi yang sedang membangun jelas sedang dijadikan sasaran tembak, dan Ahok adalah pintu masuk menuju Jokowi. Apakah Jokowi mengorbankan Ahok?

Bisa ya, bisa tidak. Hanya Jokowi yang tahu, tapi yang jelas Jokowi tidak melanggar apapun, dan dia tetap pilihan terbaik melanjutkan reformasi.  Sebab itu dukungan ke Jokowi harus terus diperkuat.

Yang menarik untuk dikaji, supaya kedepan tidak terjadi lagi, adalah hubungan antara agama dan politik.  Jokowi pun sampai harus menyatakan agama dan politik harus dipisahkan.

Dan itupun akan dipermasalahkan orang-orang radikal yang akan mem-frame. Jokowi PKI!  As stupid as it sound, tapi spanduk-spanduk soal PKI ada dimana-mana.  Itulah realitasnya, ada kelompok yang bermain.

Realitas selingkuh agama dan politik terpampang jelas di Pilkada DKI 2017. Bagi Anies-Sandi itu hanya strategi pemenangan.  Bagi kita yang waras, muak bin mules-mules melihat agama digunakan untuk meraih posisi.  So low!

Tapi apakah agama harus dipisahkan dari politik? Bagaimana memisahnya? Sebagai orang beragama, saya juga berfikir bagaimana memisah kedua kekuatan ini.  Ternyata jawabannya, bukan dipisahkan tapi dinikahkan!  

Agama harus dipandang sebagai sumber akhlak, karakter, dan moral. Sebab itu kekuatan agama seharusnya adalah kekuatan yang membuat para pejabat publik alias politikus BERMORAL.  Tapi, ketika agama dijadikan kekuatan politik maka lahirlah radikalisme dan intoleran yang menyedihkan.

Jadi yang disebut pernikahan antara agama dan politik adalah agama tidak diletakkan dimesjid, gereja, kelenteng, atau rumah ketika kita berpolitik. Tapi justru dibawa ke Istana, DPR, Balai Kota, sampai RW & RT supaya semua pejabat yang melayani masyarakat bermoral.

Perselingkuhan agama dan politik membawa kepada imoralitas, pernikahan agama dan politik akan membawa kepada moralitas pelayanan publik. Nikahkan!

Pendekar Solo

Mengaburkan Radikalisme Dengan Islamphobia Sebagai Cara Adu Domba

Encounter  langsung pertama saya dengan isu radikalisme dan terorisme justru bukan di Indonesia, tapi di Amerika.  9 September 2001 adalah hari tak terlupakan bagi orang Amerika, bahkan seluruh dunia.  World Trade Center  (WTC) attack yang mengagetkan memperlihatkan bahwa radikalisme, dan terorisme itu sebuah realitas.

Bentuk-bentuk radikalisme ada disemua agama, tapi tidak bisa dipungkiri penggunaan attribut, icon, dan istilah yang Islami membuat agama Rahmatan ‘lil Alamin ini mendapatkan publikasi yang tidak baik di dunia barat.

Hari Minggu pagi, 15 September 2001 tepat 1 minggu setelah ditabrakannya pesawat ke menara WTC, gereja-gereja di Amerika penuh karena ketakutan akan serangan teroris.  Saat itu, saya berdiri di depan sebuah komunitas orang bule dan menyatakan bahwa Islam tidak selalu radikal, apalagi teroris.

Saya merasa bertanggung jawab untuk menerangkan kepada teman-teman bule saya bahwa Islam tidak sama dengan radikalisme, apalagi terorisme. Tinggal sepanjang hidup dengan teman, tetangga, dan rekan sekerja muslim memperlihatkan bahwa Islam bukan seperti yang dibayangkan mereka.

Meskipun demikan, saya menyadari bahwa tingkat kesulitan untuk menerangkan dan menjelaskan sangat sulit terutama karena saya sendiri bukan seorang muslim, kedua dan yang terutama karena begitu banyaknya penggunaan bahasa Islam dalam beberapa kejadian radikalisme dan terorisme.

Dari sana saya mulai mengerti bahwa mewaspadai radikalisme harus dibedakan dari Islamphobia.  Apabila tidak dipisahkan, kerugian tidak hanya ditanggung teman-teman Islam, tapi juga bagi kita semua karena akan gampang di adu domba.

Isu ini sudah terjadi dan meledak di Pilkada DKI 2017. Setiap kali kita menekan para radikal maka dengan licinnnya akan dikatakan kita telah terjangkiti Islamphobia.

Modus operandi ini semakin diperparah oleh politikus-politikus SARA yang dengan tega mengorbankan persatuan bangsa demi posisi sesaat. Menjijikan atau disgusting adalah kata yang menurut saya mungkin  lebih tepat.

PR besar ada di teman-teman Nahdatul Ulama sebagai benteng Islam moderat untuk terus melakukan tindakan-tindakan proaktif menanggulangi berkembangnya paham radikalisme.  Dan NU tidak harus sendiri, karena teman-teman non Muslim dan organisasi yang lain seperti Muhammadiah seharusnya bekerja sama dan bergandeng tangan untuk NKRI yang benar.

Phobia adalah sebuah ketakutan yang irasional.  Tapi takut terhadap para radikal dan teroris yang menggunakan Islam sebagai alasan politis adalah sesuatu yang rasional.

Melawan para radikal adalah kerja kolektif bersama, bukan cuma pekerjaan agama-agama tertentu.  Kita waspadai usah-usaha mengadu domba dan membenturkan kelompok yang satu dengan yang lain.

Cara pertama yang bisa dilakukan, jangan pilih wakil rakyat, dan pejabat publik yang menggunakan isu SARA dalam proses kampanye mereka.  Merekalah pintu masuk all this mess.

Pendekar Solo

Bagaimana Cara Roh Kudus Memimpin Bisnis Kita?

Panggilan untuk bisnis (wirausaha) bukanlah panggilan kelas dua.  Sama dengan pendeta, dokter, pengacara, pejabat publik, atau guru semua profesi adalah penting dalam hitungan kerajaanNya.

Sayangnya pengertian ini tidak sampai ke mayoritas orang percaya. Gereja lebih percaya pengertian hirarkhis dimana pendeta adalah tokoh sentral yang mewakili umat kepada Tuhan, dan profesi yang lain profesi pendukung.

Pengertian yang sudah bertahun-tahun dihidupi sehingga akhirnya lahirlah clergy-based church atau gereja yang digerakkan oleh kependetaan dan tim pastoral (biasa disebut fulltimer).  Gereja dengan model pelayanan seperti ini tidak serta merta dikategorikan gereja sesat, tapi bisa disebut gereja tradisional.

Dalam dunia modern, manusia sangat bergantung kepada sistem. Semua disistemkan, di bisnis, mulai dari akuntansi, keuangan, pemasaran, produksi, sampai strategi pun ada sistemnya. Di politik, organisasi nir laba, bahkan di komunitas sederhana pun semua ada sistem dan aturan.

Tanpa disadari, sebenarnya disinilah letak peperangan yang esensi dalam mengiring Tuhan. Tuhan punya sistem sendiri, dan cara sendiri.  Kadang termanifestasi dalam bentuk sistem yang kita pakai sekarang, tapi  juga sering Tuhan bergerak di luar sistem yang ada.

Tatkala sistem yang ada berlawanan dengan gerak Tuhan, maka kita akan kesulitan memilih. Semakin pandai, dan berpendidikan, ironisnya akan semakin sulit untuk terus percaya bahwa Tuhan diatas sistem dunia, sebagus apapun dunia itu.

Tuhan memimpin melalui Roh Kudus dan Firman yang tertulis (Alkitab) adalah dasar yang hampit semua aliran kekristenan percaya.  Apabila kita terus berpegang dengan prinsip itu kekristenan akan bersinar dengan sangat terang disetiap segmen kehidupan.

Artinya, bagaimana Tuhan memimpin di bisnis hal itu sama dengan bagaimana Tuhan memimpin mencari istri, memilik sekolah, pekerjaan, bahkan sesederhana memilih lagu untuk pujian.

Roh Kudus akan terus berbicara untuk mengajar, mendidik, dan membimbing kita sesuai hati dan pikiran Yesus sendiri (Yoh 14, 16).  Tugas kita adalah mendengar dan melakukan (hear and obey).  Itulah dasar yang teguh yang dikatakan Yesus pertama kali dibukit (Mat 7).

Dalam konteks bisnis, kita bisa bayangkan bagaimana kalau Roh Kudus bicara dalam memutuskan strategi bisnis, membuat rancangan marketing/sales, mendesain brosus, membuat produk baru, sampai strukturisasi keuangan. Perusahaan yang langsung di pimpin Roh Kudus pasti akan memberkati sekaligus profitable.   Tingkat kesulitan membangun bisnis seperti ini hampir dilevel mustahil.

Realitas lapangan, logika dan hikmat manusia lebih sering mendominasi bagaimana kita bergerak dalam bisnis daripada pendekatan “Tanya Roh Kudus”.

Didepan mata mungkinta kita melihat proyek yang menggiurkan, tapi Roh Kudus bicara, jangan diambil Nak, karena itu bukan bagianmu.  Apakah itu akan mudah bila terjadi?  Super sulit.  Bukan hanya membutuhkan iman, tapi juga keberanian untuk melawan arus yang ada.

Tidaklah salah apabila Paulus mendefinisikan dengan jelas bahwa orang yang dipimpin Roh Kudus disebut anak-anak Allah (Rom. 8:14).  Dengan jalan kita terus berdialog dengan Roh Kudus maka kita akan semakin mengenali “bahasaNya”, dari sana kita terus mengalir bersama aliran Tuhan bukan saja di bisnis tapi disemua aspek kehidupan.

Hanny Setiawan