Perjalanan Iman, Cinta, dan Panggilan

Waktu 10 tahun tak terasa telah berlalu. 26-27 Juli 2007, saya menikahi seorang gadis jelita bernama Yanty Yoyanto setelah hampir 35 tahun membujang. Sebuah penantian yang panjang dan tidak semua bujangan  “betah” untuk menunggu. Tapi itulah cerita 10 tahun lalu yang lalu.  Bagaimana dengan cerita yang sekarang?

10 tahun  berlalu, tidak ada complain apalagi regretyang bisa dikatakan. Pernikahan kami berjalan dengan baik, 2 putri diberikan Tuhan kepada kami , yaitu Tiffany Chisari Setiawan (9th) dan Giovanni Shekina Setiawan (2th). Semuanya berjalan dengan normal sesuai dengan apa yang dibayangkan waktu bujang. Lalu apa menariknya cerita kami?

Mungkin tidak ada menariknya, tapi ternyata “kenormalan” itu justru hal yang menarik untuk dibahas dan dibagikan. Mungkin tidak semua tertarik, tapi paling tidak bisa menjadi catatan kecil bagi yang membutuhkan.  Terutama, bagi yang tertarik untuk tetap hidup dalam panggilan, sekaligus tetap berjalan mengarungi bahtera samudera cinta.

****

Kurang lebih 32 tahun ikut Tuhan, berjalan dalam pergerakan rohani, terutama pelayanan muda-mudi, mendengar kata “menikah” adalah sebuah trauma tersendiri.  Sudah menjadi rahasia umum, setiap kali habis menikah maka tiba-tiba para aktivis pergerakan akan mundur teratur sampai pada akhirnya hilang.

Setelah itu, memilik anak, dan setelah anak-anak cukup dewasa maka orang-orang ini akan muncul lagi dipermukaan. Bahkan, kadang siklusnya lebih cepat lagi, belum menikah pun sudah “menghilang” karena alasan klasik, kerja.  Itulah “normalnya” pelayanan muda-mudi.

Inilah sebabnya, pergerakan kepemudaan dianggap sebelah mata dalam pelayanan gereja lokal.  Hubungan Gembala dan pengurus Youth yang tidak sinkron adalah salah satu bukti nyata bahwa pelayanan kepemudaan belum dianggap sebagai bagian utuh dari strategi pembangunan Tubuh Kristus.

Para Gembala/pemimpin/majelis/penatua/pembela sidang mengerti benar siklus umum diatas yang sayangnya dianggap sebagai sesuatu yang normal dalam gereja kebanyakan.

Disinilah saya memberanikan diri untuk membuka lebih banyak dengan catatan kecil ini, membuka rahasia sederhana bagaimana mengubah siklus hidup dari naik, turun, naik menjadi naik, naik, naik.

Dengan kata lain, perjalanan iman, sekaligus cinta selama 10 tahun terakhir yang saya anggap normal ternyata tidak normal. Saya menyadari bahwa ternyata hidup saya tidak normal dibanding kebanyakan orang banyak.

***

Kenormalan yang menjadi ketidaknormalan perjalanan biduk rumah tangga yang saya arungi terletak di terhubungnya antara pelayanan, pergerakan, kerja, dan kehidupan sehari-hari menjadi satu kesatuan.

Rupa-rupanya ini adalah kasih karunia yang Tuhan berikan dan saya hidupi sebagai panggilan. Sehingga puji Tuhan, tanpa disengaja saya menemukan rahasia bagaimana perjalanan iman kita tetap naik, tanpa harus mengalami turun, terutama dimasa hubungan, pernikahan, dan keluarga. Jadikan semua faktor didalam hidup kita menjadi satu misi, sebuah penyelarasan total!

Ketika pelayanan mengarah ke timur, pegerakan ke barat, pekerjaan ke utara, sementara keluarga ke selatan, maka bisa dibayang stress dan kegilaan yang terjadi.  Jadi memang intinya kita harus berani menyelaraskan hidup kita ke satu misi, tidak bisa banyak. Bahkan dua pun akan membuat pusing hidup kita.

Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya. (Yak 1:8)

Memilih pekerjaan, pasangan, bahkan pelayanan dan gereja lokal adalah kunci apakah kita akan tetap dalam misi Tuhan atau tidak. Panggilan pada dasarnya adalah posisi tetap kita dalam misi Ilahi pembangunan Tubuh Kristus, Ekklesia.

Artinya, panggilan tidak bisa berubah-rubah, yang bisa dirubah adalah seluruh faktor disekeliling hidup kita. Itulah yang disebut alignment atau penyelarasan.  Membutuhkan keteguhan iman untuk tetap teguh dalam posisi yang sudah disiapkan Tuhan bagi kita.

Posisi inilah yang secara legal akan memberikan kita otoritas rohani. Seperti posisi presiden, jendral, sampai lurah memperlihatkan otoritas yang mereka miliki. Lurah yang paling hebat dan berkuasa, dengan camat pun akan tunduk. Itulah kekuatan otoritas.

Pekerjaan, pelayanan, pernikahan, dan keluarga yang selaras akan membawa kita kepada posisi rohani yang solid dan membawa kepada level rohani yang Tuhan mau.

Puji syukur, saya merasakan itulah yang Tuhan sudah berikan selama 10 tahun ini.  Pasangan hidup dan keluarga yang membawa saya kepada otoritas rohani yang lebih tinggi.  What a blessing!

Tidak ada maksud untuk mengatakan keluarga saya yang terbaik dan paling rohani dimuka bumi, tapi paling tidak saya bisa bersaksi bahwa bukan hanya saya diberkati istri dan anak-anak cantik dan baik, tapi keberadaan mereka membawa saya lebih baik. Tidak turun tapi terus berapi-api melayani Tuhan.

Hanny Setiawan
A blessed husband and father.

Chester Bennington Gantung Diri, Apakah Bisa Disebut RIP?

Dunia kembali digoncangkan dengan kasus bunuh diri selebriti. Chester Bennington, vokalis band papan atas Linkin Park, ditemukan menggantung diri hari Kamis (20/7/2017) waktu setempat. Chester, diumur 41, dan disaat puncak kejayaan, ternyata tidak lagi memiliki sebuah alasan pun untuk hidup.

Bisa ditebak, para penggemar diseluruh dunia terkejut dan menyatakan berbela sungkawa. Kematian yang bukan hanya terlalu dini dari musisi yang sangat berbakat ini, tapi juga kematian yang mengganjal dihati kita semua. Gantung Diri!

RIP – Rest In Peace bertaburan dimana-mana di sosial media mulai Twitter, FB, IG, dan online blog.  Pernyataan yang sopan dan terlihat simpatik ini terasa mengusik hati.  Mengapa?

Karena puluhan juta penggemar Linkin Park yang rata-rata anak muda yang tidak mengerti bisa salah mengerti dan mengganggap gantung diri adalah salah satu cara untuk RIP. Ngeri kan?

Jauhkan dari sentimen agama dulu. Saya tidak sedang berusaha masuk ke debat soteriologi, apakah Chester masuk neraka atau surga, atau apa penyebab Chester nekat, atau bahkan sekedar memperdebatkan masalah obat-obatan yang dikonsumsi.

Tapi saya menyoroti dampak sosial dari dukungan yang terkesan “Socially Correct” terhadap jalan yang ditempuh seorang Chester Bennington dengan melabeli kematiananya, Rest In Peace.

Saya berani mengatakan digantung, baik oleh orang lain, atau menggantung diri sendiri itu tidak ada nyamannya sama sekali. Jadi 100% saya berani mengatakan Chester Bennington tidak Rest In Peace.

Kita hargai semua karya musiknya, kita hargai semua perbuatan dan amal baiknya selama hidup. Karena saya tidak kenal dia, maka saya tidak bisa mengatakan apapun soal itu. Tapi kita harus berani mengatakan vokalis terkenal ini mengambil jalan yang salah. Titik!

Tujuannya apa kita harus menyatakan ini? Ribuan dan jutaan anak muda siap untuk mengikuti jalan pintas dari pecandu obat ini. Dan ketika kita menjadi bagian dari pendukung “aliran kematian” ini, maka kita ikut bertanggung jawab dengan semakin maraknya kasus bunuh diri.

Perlu diingatkan, Chester mengikuti jalan sahabatnya yang juga menggantung diri, Chris Cornell sahabatnya.

Chester Bennington, pentolan band Linkin Park, memutuskan bunuh diri di hari ulang tahun sahabatnya, mendiang Chris Cornell, Kamis (20/7). Bagi Chester, Cornell –yang juga tewas gantung diri– adalah panutan dan inspirasi baginya bermusik. (Sumber)

Jangan pernah meremehkan kekuatan dari sebuah panutan. Bisa dibayangkan berapa banyak anak muda yang terjangkiti sucidial spirit  atau kecenderungan untuk bunuh diri dari seorang Chester?

Chester sudah meninggal, sebagai sesama manusia, kita ikut berduka untuk istri dan anak yang ditinggal. Tapi kita juga harus berani mengatakan jalan yang ditempuh tidak benar, dan lebih dari itu kita harus hentikan rantai kematian “mengikuti panutan” sampai disini.

Ini waktunya generasi ini mulai harus diajar dengan nilai-nilai yang benar dari budaya populer. Lagu-lagu yang penuh pesimisme kehidupan, sebagus apapun musiknya, adalah sampah bagi jiwa yang sehat.  Pilihlah panutan yang benar, bukan sekedar yang trend.

Jadikan kematian Chester Bennington, Christ Cornell, Tommy Page, Robin Williams, Ian Curtis, Nick Drake, Kurt Cobain, sampai Whitney Houston dan Elvis Presley sebagai sebuah peringatan bagi kita. Ini bukan sebuah peristiwa bunuh diri dari seorang selebriti saja, melainkan ini sebuah epidemi sosial masyarkat yang harus dihentikan.

Pendekar Solo

Doraemon, Jepangisasi Yang Tidak Terlihat

Siang-siang jalan-jalan bersama dengan keluarga di mall sebelah rumah. Di hall utama terlihat meriah sekali dengan begitu banyak anak-anak. Selidik punya selidik, ternyata ada acara meet and greet Doraemon, si kucing ndut dari Jepang.

Doraemon bukanlah tokoh kartun kucing satu-satunya. Masih ada Garfield, Tom, Felix, Sylvester, dan jangan lupa Hello Kitty. Tapi Doraemon dengan pintu kemana saja, dan baling-baling kayunya mampu menjadi salah satu tokoh kucing yang mendunia, terutama di Indonesia.

Sepintas “bertemu” dengan si Dora dan teman setianya Nobita di Mall yang terletak di Sukoharjo membuat saya tiba-tiba mendapatkan pencerahan tentang terjadinya Jepangisasi di Indonesia.

Bayangkan lagu-lagu dalam bahasa Jepang dengan fasih dinyanyikan anak-anak, bahkan mereka berteriak “aku sayang Doraemon”. Ini luar biasa, karena yang saya lihat tidak terjadi di Singapore, Kuala Lumpur, atau minimal Jakarta dan Surabaya. Semua di Sukoharjo!

Bagi yang belum tahu Sukoharjo, perlu mengerti kabupaten ini pernah “tercemar” dan bahkan masih dikenal sebagai kabupaten yang menjadi zona nyaman teroris. Bahkan pesantren Nruki yang terkenal juga ada di kabupaten ini.

Bukan Arabisasi, Amerikanisasi, atau Chinaisasi, apalagi Israelisasi, yang jelas didepan manta kita adalah Jepangisasi yang dengan aman, tidak pernah didemo, tidak pernah direweli, berjalan dengan sangat smooth dan merata.

Doraemon adalah figur budaya populer Jepang yang mampu memenetrasi ke anak-anak kita dan dibelakang si kucing ndut masih ada raksasa bisnis seperti Honda, Toyota, Yamaha, Suzuki, Toshiba sampai Roland.  Brand-brand yang merupakan nama-nama Jepang yang seakan berdiri tidak tersentuh.

Jepang yang terpuruk di perang dunia kedua mampu kembali dengan demikan kuat di panggung dunia karena mereka fokus dengan membangun masyrakatnya kepada nilai-nilai asli Jepang. Modernisasi yang terjadi di Jepang tidak pernah menghilangkan nasionalisme Jepang yang luar biasa.

Kamikaze dan harakiri dua budaya Jepang yang membuat dunia terbelalak melihat bagaimana WNJ (Warga Negara Jepang) memegang teguh nilai-nilai bushido (tata cara ksatria) yang berakar kepada hormat kepada dewa Matahari.

Martir (marturia), jihad, kamizase, harakiri  adalah nilai-nilai universal yang hampir sama artinya yaitu totalitas dalam menghidupi nilai-nilai.

Disaat pencerahan muncul, dan menengok ke berita yang sedang viral di medsos tentang tukang lapor ke polisi, dan bagaimana anggota dewan yang mulai menjadikan koruptor menjadi narasumber sebuah audit kebijakan, maka lemas dan geramlah hati ini.

Tidak heran dengan gampang Doraemon menghancurkan Unyil, Nina Sahabatku, apalagi si Komo, karena memang tidak ada nilai-nilai lagi yang sedang dipertontonkan di panggung nasional.  Rakyat dan anak-anak tidak lagi paham arti menjadi Indonesia.

Intinya, anak-anak kita butuh CONTOH, bukan sekedar merombak kebijakan pendidikan.  Anak-anak kita butuh TELADAN, bukan sekedar foto-foto pencitraan yang membuat muak dan mual-mual.

Pendekar Solo

Pelayanan Apostolik Dan Kekristenan Egosentris

Kecenderungan manusia yang berpusatkan kepada diri sendiri alias egosentris telah mempengaruhi bentuk kekristenan yang egosentris juga. Bukan hanya egosentris soal jasmani, tapi secara rohani pun kristen telah menjadi agama barat yang kapitalis dan egosentris.  Berbeda sekali dengan kekristenan otentik yang berakar kepada pelayanan apostolik.

Pelayanan apostolik yang dipulihkan Tuhan dalam 50 tahun terakhir adalah model pelayanan Alkitabiah yang didesain  untuk membawa ekklesia atau tubuh kristrus atau gereja universal menuju kesempurnaannya.

Pelayanan apostolik secara natural bukanlah pelayanan yang one man show, tapi pelayanan yang saling melengkapi dan bergantung.  Rasul, Nabi, Penginjil, Gembala, dan Guru dikenal sebagai pelayanan lima jawatan (five fold ministry) yang adalah perpanjangan tangan dari Kristus sebagai kepala (Ef 4:11-16).

Lima jawatan ini dipimpin oleh rasul sebagai sebuah keluarga, sekaligus pasukan, dan bagian dari pemerintahan kerajaan yang dipimpin Yesus Kristus sendiri sebagai Raja yang duduk bertahta disebelah kanan Allah Bapa.

Code Archer dari Revive Israel menyatakan dengan jelas pelayanan lima jawatan ini sebagai berikut:

The worldwide church is supposed to be led by apostles, who work with skilled team members of prophets, evangelists, pastors and teachers. Together, they raise up many “colonies” (ekklesia – congregations), all of which have the same mission– to make earth like heaven! The apostle’s job description includes keeping his team unified and focused on the mission for which they were sent, without compromising the King’s commands and desires. (Sumber)

Rasul (apostle)  sebagai leader dari pelayanan lima jawatan berfungsi sebagai jendral lapangan yang memegang otoritas sebagai wakil dari sang Raja sendiri. Sebab itu pelayanan lima jawatan disebut juga sebagai pelayanan apostolik.

Pelayanan apostolik ini selalu melayani dalam konteks ekklesia atau tubuh Kristus tidak dalam konteks untuk pribadi. Panggilan Tuhan selalu pribadi tapi selalu untuk kepentingan tubuh Kristus. Jadi, kekristenan seharusnya tidak pernah bersifat egosentris, tapi Kristosentris.

Tanpa pelayanan apostolik, kekristenan pasti akan egosentris, minimal akan menjadi “grup-centris”.  Artinya, hanya berpusat kepada kelompok sendiri dan melupakan yang lebih besar, ekklesia.

Pemulihan dan pembangunan Ekklesia adalah manifestasi nyata dari doa Kristus di Yoh 17 untuk menjadikan kita semua satu. Ekklesia dibangun dari batu-batu hidup  (I Pet 2:5) menjadi sebuah rumah yang hidup rohani bagi semua orang percaya. Bukan batunya yang penting, tapi rumah rohani itulah yang menjadi tujuan akhir.

Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani (I Pet 2:5a)

Benar kita dipanggil, diproses, bahkan harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita secara pribadi. Tetapi Tuhan tidak pernah mendesain kita hidup untuk diri sendiri, dan semua yang menyenangkan Tuhan dibumi ini adalah untuk kepentingan Ekklesia, tubuh Kristus.

Hanny Setiawan

Bekerja Dalam Dimensi Kerajaan

Bekerja, baik wirausaha atau profesional, memiliki tujuan akhir adalah mendapatkan uang. Apabila tidak bermotivasi untuk mendapatkan uang maka disebut sukarelawan atau volunteer. Karena mendapatkan uang menjadi tujuan akhir maka lahirkan filosofi by all means yang artinya dengan berbagai cara asalkan untung.

Filosofi inilah yang sering dipakai para motivator sukses untuk mendorong karyawan, profesional, investor, sampai kepada pemilik untuk membangun bisnis yang sukses.

Asalkan tidak melanggar hukum, atau bahkan kadang menelikung hukum pun , orang bisa berani asalkan tidak ketahuan demi mendapatkan uang.  Filosofi modern inilah yang sekarang menguasai dunia usaha (marketplace) sehingga lahirlah kapitalisme ektstrem yang mementingkan uang daripada orangnya. Filosofi hidup sukses!

Lalu bagaimana pengikut Kristus seharusnya beroperasi di dunia usaha? Apakah kita tidak diperbolehkan untuk mencari uang? Apakah bisnis kerajaan harus semua sukarela?

Tentunya tidak seperti itu, bisnis tetap harus untung, tapi ternyata sejak awal pelayananNya Yesus sendiri sudah menyatakan secara prinsip bagaimana seharusnya bisnis dalam dimensi Kerajaan.

Yang pertama, dengan jelas Yesus menyatakan “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi (Mat 6:19a)”, dan Dia mengingatkan bahwa dimana harta kita berada disitu hati kita berada (Mat 6:21).

Disini, Yesus membuka rahasia kehidupan kelimpahan Salomo (Amsal 4:23) yaitu hati kita sangat bergantung dengan “harta”. Protokol hati ini mengharuskan kita memilih harta apa yang akan selaras dengan hati. Dan langkah awal adalah menyelaraskan hati kita dengan harta surgawi.

Yang kedua, mamon dianggap sebagai perwujudan dari semua kejahatan, sehingga tantangan utama adalah memilih antara Tuhan dan mamon.

Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. (Mat 6:24)
Intinya adalah kepada siapa kita akan mengabdi dan menyelaraskan diri dan bisnis kita itu yang terpenting.

Yang ketiga, “semua” adalah produk sampingan bukan produk utama. Artinya, uang bukanlah tujuan utama tapi hasil sampingan dari sebuah proses lain. Proses itu adalah mencari Kerajaan dan KebenaranNya.

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Mat 6:33)

Proses mencari dahulu inilah yang seringkali kita lupa. Sehingga yang sering terjadi adalah kekuatiran dalam bisnis, dan kekuatiran itu menghasilkan ketakutan terhadap manusia yang akhirnya mendatangkan jerat (Amsal 29:25)

Dalam dimensi Kerajaan, bekeja yang diberkati adalah bekerja yang membawa hati kita semakin selaras dengan harta surgawi, penuh pengabdian sebagai hamba kepada Tuhan, dan menjadi pencari pribadiNya (truthseeker). Inilah filosofi hidup benar!

Hanny Setiawan
Hidup Benar Lebih Baik Daripada Hidup Sukses

Saya Bukan Minoritas

Koq bisa, kamu kan Cina, sipit kuning, Kristen lagi. Itu kan jumlahnya ga banyak di Indonesia jadi sah dong disebut minoritas. Begitu katanya mereka.

Saya bilang tapi saya pemakan nasi putih. Pemakan nasi putih di Indonesia itu mayoritas kan, lebih banyak dari pemakan sagu, apalagi pemakan manusia alias kanibal. Sah dong saya bilang saya termasuk mayoritas dibidang pemakan nasi

Maksud saya gini poro sederek. Kita selalu bisa diposisi mayoritas atau minoritas tergantung dari sisi mana kita melihat. Sebab itu di negara hukum TIDAK ADA istilah mayoritas dan minoritas. Seharusnya!

Disitulah letak perbedaan pandangan antara orang sektarian dan nasionalis. Jadi, kalau masih memiliki pandangan aku mayoritas kamu minoritas, atau sebaliknya lebih baik jangan bilang nasionalis. Gitu aja sih.

Pendekar Solo

Wabah Persekusi Memperlihatkan Wajah Politikus Indonesia

Entah darimana mulainya, tiba-tiba istilah persekusi (persecution)menjadi populer menggantikan kata intimidasi, radikalisme, ataupun anarkis. Kata itu menjadi menarik diamati, karena dalam kitab suci kata persecution (aniaya) itu sangat erat hubungannya dengan penindasan kepercayaan.

Terlepas dari itu, fenomena yang terjadi sebenarnya tidak terjadi in a vacuum. Atau, terjadi dengan sendirinya. Tidak dengan sendirinya, lahir sekumpulan orang anarkis, radikal, dan intoleran.  Semua ini adalah puncak gunung es yang mulai terlihat.

Momentum Pilkada DKI 2017 adalah momentum penting yang membuka penutup (veil) selama ini.  Realitas pahitnya, ternyata sendi-sendi politik, ekononomi, sosial, dan budaya, bahkan sampai ideologi (ipoleksosbud) sudah mulai tercemari dengan virus radikalisme, dan sekatarianisme.

Tidak mengheran, terlihat seorang Jokowi pun menjadi “geram” dan dengan berapi-api mengeluarkan pernyataan “kita gebuk”. Meskipun, menurut beberapa pihak masih terlalu lembek, dan juga agak terlambat, tapi sisi positifnya, pemerintah mulai bergerak dan berpihak kepada rakyat yang was-was dengan kondisi yang memprihatinkan kita semua.

Persekusi yang ditengarai dilakukan ormas  sama dengan yang memotori demo 411, 212, dan juga menjadi pendukung Anies-Sandi jelas membuat kita bertanya-tanya. Tidak bisakah para politikus ini menghentikan, atau minimal menghimbau supaya persekusi dihentikan?

Habis manis sepah dibuang, ketika posisi sudah digapai, kekuasaan sudah ditangan, maka para pelaku persekusi ini terlihat dibiarkan sebagai korban politisasi. Begitulah kejamnya politik, dan begitulah wajah politikus Indonesia.

Terlihat “serigala-serigala” persekusi ini memang sudah dipelihara sejak lama untuk kepentingan politik. Setiap kali ada hajat demokrasi seperti pilpres, dan pilkada, maka dibiarkanlah para serigala ini untuk mencari makan.

Jadi, kalau mau fair, yang paling jahat disini adalah pemelihara dan pemilik gerombolan serigala ini.  Yaitu para politikus yang sudah sulit diidentifikasikan siapa yang memulai.  Paling tidak,  depan mata kita kita melihat, sejarah mencatat nama-nama yang nyaman menunggangi gerombolan ini.

Having all said, momentum sudah berbalik, pemerintah melalui Jokowi, dan Tito mendapatkan kesempatan untuk membersihkan NKRI dari serigala-serigala jahat.  Lupakan dulu para pemilik, pemelihara, pemberi makan yang bersembunyi, rakyat perlu diselamatkan.  Rakyat perlu bukti, bahwa pemerintah memang berani.  Gebuk!

Pendekar Solo

Terorisme Agama, Bagaimana Gereja Harus Bersikap?

Lagi-lagi bom bunuh diri meledak mengoyak tubuh ibu pertiwi. Di Kampung Melayu (24/5/2017), Jakarta Timur, 5 orang tewas dan sekitar 10 lainnya luka-luka.   Terorisme kembali hadir.

Timeline medsos penuh konspirasi teori, dan terasa ada settingan politik yang sangat teroganisir. Tensi politik Indonesia kembali meningkat, kita kembali was-was. Ibu pertiwi kembali menangis.

Kita hanya bisa menduga dan polisi yang akan bertugas membongkar semuanya. Tapi satu hal yang pasti, luka Pilkada DKI 2017 akibat politik SARA yang masih menganga tiba-tiba bagaikan tersiram cuka, sakit dan pedih rasanya.

Bom Kampung Melayu ini adalah yang ketiga selama periode Pilkada DKI 2017. Bom ke-3 ini mungkin bisa disebut injury time, karena terjadi setelah semua selesai : Pilkada, maupun proses hukum Ahok.

Bom pertama adalah bom molotov yang  ditujukan ke Gereja Oikumene Sengkotek, Samarinda. Bom yang membuat miris karena anak-anak  menjadi korban. Bom ini meledak 8 hari setelah demo 411 yaitu 13 November 2017.

Anak Intan Olivia Marbun berusia 2 tahun meninggal sehari setelah bom, tapi media tidak begitu menggubris kisah ini. Dan setahu saya pejabat tinggi negara pun terlihat tidak begitu mau memperpanjang soal ini.  Pilkada DKI 2017 tetap dengan gaya politik SARA-nya, bahkan menyiapkan yang lebih besar demo 212.

Bom kedua adalah bom panci di Bandung 27 Februari 2017, bom ini disinyalir serupa dengan bom yang meledak di Kampung Melayu. Bom kedua ini meledak setelah putaran Pilkada DKI yang pertama, yang dimenangkan Ahok 43%.

Setelah Bom itu, saya sempat menuliskan supaya Anies-Sandi menghentikan politik SARA supaya tidak membuka pintu dan celah untuk radikalisme menunggangi.

Apa daya, suara kecil saya di media sosial belum mampu mempengaruhi mereka. Putaran kedua menjadi lebih ngeri karena merubah pesta gagasan menjadi perang badar.

REFERENSI : Semoga Bom Bandung Menyadarkan Anies-Sandi Untuk Tidak Bermain SARA Lagi

Dan sekarang, bom ketiga sudah merenggut nyawa. Apa yang saya was-was-kan sudah terjadi.  Mungkin analisa amatir saya terlalu paranoid, ketiga bom itu tidak ada hubungannya dengan Pilkada DKI 2017. Tapi biarlah saya tetap menyuarakannya untuk tidak lagi bermain-main dengan isu sektarianisme.

Akan selalu ada penunggang gelap dalam setiap kampanye, tugas kita adalah membuang dan menjaga masing-masing kubu supaya penunggal gelap itu tidak menemukan momentum.

Jangan justru kita menunggangi penunggang gelap, itulah hancurnya batasan kampanye etika moral Anies-Sandi. Dan sekarang kita satu bangsa harus menghadapi yang lebih besar.

Hubungan bom bunuh diri dengan kepercayaan, dan agama tidak bisa ditutupi lagi. Dan hal ini adalah celah besar untuk dipolitisir lebih lanjut. Disini Gereja Tuhan harus berhikmat sehingga bisa berdiri di posisi yang benar.

Saya setuju dengan Denny Siregar ketika dia mengatakan akar perpecahan di Indonesia bukan syiah dan sunni, tapi salah satu yang terbesar adalah Kristen – Islam, kedua adalah Tionghoa – Pribumi, ketiga adalah PKI.

Ketiga isu besar ini sudah mengakar diindoktrinasi di akar rumput Indonesia, kita tidak bisa menganggap remeh, tapi harus menghadapi dengan kepala dingin dan berani. Bukan untuk saling menyalahkan tapi mencari jalan keluar. Itu semangat rekonsiliasi yang benar.

Dalam konteks terorisme agama, Gereja Tuhan harus menyatakan dengan tegas bahwa terorisme bukan bagian dari Islam.  Dan juga bagian dari agama manapun.  Agama langit haruslah bermanfaat untuk kemanusiaan, apabila tidak maka kita bisa pastikan itu adalah penyelewengan ajaran agama.

Aura adu domba sangat terasa, Gereja sebagai agen rekonsiliasi tidak bisa berdiam diri. Kita harus muncul sebagai anak-anak damai atau peacemakers.  Itulah esensi SALIB yang harus dimanifestasikan dalam kehidupan pengikut Yesus Kristus.

Saat-saat seperti ini adalah saat-saat yang dilematis. Karena kita menghadapi orang-orang yang tersamar dan terbungkus dengan simbol-simbol agama. Menyerang mereka akan bisa dengan gampang diplintir menyerang seluruh agama yang diwakili simbol-simbol tertentu.

Dilematis bukan berarti pasif. Kita harus dengan tegas menyatakan garis batas antara fanatik, sektarian, intoleran, radikal, sampai kepada terorisme. Dimana batasnya? Apakah ada batasnya? Apakah perlu dibatasi?

Pertanyaan-pertanyaan ini perlu diangkat dalam dialog-dialog antar umat beragama seperti yang Jokowi harapkan. Agama harus muncul sebagai kekuatan moral, bukan politik, untuk mengembalikan semangt kebhinekaan, tepo sliro, dan kemanusiaan yang menjadi esensi budaya Indonesia.

Doa kita bersama, para politisi dan pejabat negara BERHENTI memainkan politik SARA, dan kita mulai fokus menghadapi musuh ideologis yang sebenarnya.  Terorisme!

Hanny Setiawan

Perlukah Ahok Kembali ke Politik?

Sehari setelah mencabut hak banding, Ahok mengajukan surat pengunduran diri kepada Jokowi sebagai presiden RI. Dengan ini, secara legal maka Ahok 100% tidak ada ikatan politik  lagi  dengan pemerintahan baik secara hukum maupun praktis.

Ahok benar-benar dalam posisi bebas dari semua yang berbau politik praktis saat ini. Bagi yang punya perusahaan, ini bagaikan kehilangan CEO terbaik yang dimiliki. Bagaikan Steve Job meninggalkan Apple, atau Bill Gates meninggalkan Microsoft.  Bagi yang mengerti.

Berita berseliweran bahwa Ahok tidak mau lagi kembali ke politik, ada juga yang mengatakan Ahok lebih baik keluar negeri dan melupakan negeri ini, atau ada juga yang masih mengharapkan Ahok kembali dengan kekuatan massa lebih besar menghancurkan semua bigot-bigot Indonesia. Semuanya hanya berita.

Kita tidak mengerti apa yang di hati Ahok, bahkan mungkin sekarang ini dia sedang mencari apa yang lebih baik dia lakukan. Tapi, yang jelas, saya berani mengatakan bahwa pasti Ahok kecewa. Itu dinyatakan secara eksplisit dalam suratnya.

Siapa tidak kecewa dengan keadaan yang menyakitkan, memberikan terbaik untuk perusahaan, tapi malah dijebloskan ke penjara oleh majikannya.

Pengadilan mewakili rakyat, hasil Pilkada mewakili rakyat. Terlepas siapa aktor politik yang dibelakangnya, rakyat Indonesia adalah yang pihak yang menolak Ahok. Terutama rakyat Jakarta.  Itulah realitasnya.

Pernyataannya sekarang, apakah nantinya Ahok lebih baik kembali ke politik atau tidak?

Ahok sudah di penjara pun, lawan pun masih begitu takut Ahok kembali lagi ke gelanggang. Amien Rais, sang kakek kontroversial, bahkan berteriak-teriak untuk mengusut korupsi Ahok yang gilanya “buku fiksi” juga dibuat oleh Marwan Batubara dengan judul “Usut Tuntas Dugaan Korupsi Ahok” .  Paranoid!

Dalam prinsip Alkitab, pengikut Kristus tidak memiliki hak lagi. Hidupku bukan aku lagi, tapi Kristus yang didalamku (Gal 2:20).  Paulus mengatakan bahwa kita ini adalah tawanan Roh (Kis 20:22) artinya kita hanya bisa taat saja. Tuhan tahu yang terbaik dalam memutuskan.

Kristen tidak percaya takdir, tapi percaya destiny dan panggilan. Demikian juga Ahok, sebagai Tionghoa Kristen, Ahok sudah menunjukkan contoh bagaimana menjadi WNI Kristen yang baik dan benar, terlepas dari segala kelemahan dia sebagai manusia.

Dan fungsi dia untuk bangsa ini jelas, dia adalah seorang pendobrak, dan pembuka jalan (forrunner). Dalam bahasa kelompok Karismatik terikini, Ahok bergerak di apostolik profetik untuk menjadi garam dan terang di marketplace bukan saja dibalik dinding-dinding gereja.

Jadi, bagi Ahok, sebenarnya kembali atau tidak ke pemerintahan, bukan lagi pendapat pribadi Ahok atau pendukungnya. Tapi apa maunya Tuhan itu yang harus diselesaikan. Secara destiny, jelas Ahok tidak akan bisa dipisahkan dari sejarah perpolitikan Indonesia.

Ahok sudah jadi bagian wall of fame, politikus dan negarawan Indonesia. Tapi, secara panggilan, Apakah musim yang baru Ahok harus di politik praktis, atau menjadi “guru bangsa” hanya Ahok dan Tuhan yang tahu dan kita mendukung dalam doa.

Sebagai rakyat Indonesia, disisi lain, saya melihat bahwa Indonesia membutuhkan Ahok untuk kembali. Kembali bukan untuk menang atau kalah tapi kembali untuk memberi teladan dan contoh bagaimana berpolitik, bernegara, dan menjadi pejabat publik yang benar.

Bagaimana cara kembalinya? Saya juga tidak tahu. Tapi saya cuma percaya, Tuhan buka jalan saat tidak ada jalan. Cuma saya juga menyadari, bahwa Ahok butuh waktu untuk menyembuhkan diri dari luka dikhianati orang yang ditolong.

Jadi, sekarang ini pertanyaan yang benar adalah apakah Indonesia sudah siap menerima Ahok kembali? Karena bukan Ahok yang belum siap, tapi Indonesia yang belum siap.

“Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ.”
Kisah 20:22

Hanny Setiawan

Perjalanan Rohani Ahok di Penjara

Baru kali ini satu bangsa menangis bersama. Airmata ibu Veronika Tan, istri Ahok telah melelehkan Indonesia. Mungkin ini sebuah pernyataan hiperbola, tapi saya yakin yang melihat video pembacaan surat Ahok dari penjara akan tidak kuat melihat ketulusan seorang Vero.

Terasa sekali, dari kata demi kata yang dibacakan Vero, surat tersebut lebih terasa sebagai perjalanan rohani Ahok daripada surat politik apalagi surat hukum.

Ahok yang kasar, berangasan, dan siap untuk berperang dengan koruptor bahkan mati untuk apa yang dipercaya, tiba-tiba terasa sangat mellow dan menyerah dengan keadaan. Apa yang terjadi?

Kita sedang melihat proses transformasi pad diri Ahok yang secara Ilahi selaras dengan proses transformasi yang terjadi di bangsa ini.  Ahok adalah obat paling keras untuk Indonesia, karena dia langsung menghujam ke inti permasalahan di birokrasi, yaitu korupsi-kolusi-manipulasi.

Ketika dia hantam itu tanpa kompromi, maka teriakan kesakitan terjadi di semua lini baik kawan maupun lawan. Dan Indonesia tidak siap menerima perubahan sedrastis itu.  Ketika para elite politikus tidak lagi dapat “asupan anggaran” maka yang terjadi adalah Ahok terpental.

Persoalan penistaan agama, cara ngomong yang kasar, penggusuran, dan/atau reklamasi hanyalah bunga-bunga yang diciptakan untuk melengeser Ahok. Dan Ahok tahu benar hal itu. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan, karena Indonesia telah menolak dia.

Tapi yang tidak masuk hitungan para lawan politik adalah Tangan Tuhan. Kalau sudah memasukkan Tuhan dalam persamaan matematis maka kita sering akan terkejut dengan langkah-langkah ajaibnya.

Sebab itu tepat sekali ketika Ahok tidak bergantung kepada temannya Jokowi, parpol mengusung, atau jutaan relawan Ahok yang terus berkembang. Ahok berpaling kepada Tuhan untuk minta pertolongan. Ini luar biasa.

Sebab itu ayat yang dikutip bu Vero, “Tuhan akan menyelesaikannya” (Maz 138:8a) adalah ayat yang sangat pas dan berkuasa. Kali ini Ahok tidak berusaha untuk menyelesaikan apapun , tugas dia hanya berdiam diri dan mencari Tuhan, karena Tuhan yang akan didepan menyelesaikan semua.

Dalam iman Kristen, setiap kali Tuhan hanya membutuhkan ketaatan kita, karena pada akhirnya peperangan adalah milik Tuhan sendiri. Kalau Tuhan sudah berkehendak, maka pasti terjadi.

Ahok berkoalisi dengan Tuhan untuk menyelesaikan masa hukuman juga “what’s next”. Dan menuruh saya, ini justru lebih menakutkan dari skenario apapun. Semakin Ahok tidak membalas, semakin Indonesia harus merendahkan diri minta pengampunan dari Yang Maha Kuasa.

Perjalanan rohani Ahok dipenjara adalah sesuatu yang divine. Akan sulit untuk memahami apa yang terjadi tanpa melihat gambar besar yang Tuhan sedang kerjakan. Yang pasti adalah Ahok adalah pembuka jalan dan model kepimpinan Indonesia Baru.

Semua pemimpin yang akan maju di panggung nasional akan di-benchmark dengan Ahok.  Itulah sebabnya Tuhan sedang melengkapi yang masih kurang dalam hidupnya, untuk tugas yang lebih besar.  Membangun Keluara Indonesia Baru.

Hanny Setiawan