Kristen Tidak Mengenal Golput

Golput itu adalah “roh pilatus” yang cuci tangan dalam kondisi pilihan-pilihan yang sulit. Menariknya spirit ini melekat kepada orang-orang “baik” tapi picik. Picik karena tidak mampu melihat narasi Ilahi yang lebih besar.

*Kemurahan Tuhan*

Untuk bisa memilih secara demokratis adalah hak istimewa dan kemurahan Tuhan. Tidak memilih atau menganjurkan tidak memilih adalah hoax lain yang sebenarnya tdk kalah jahatnya dengan hoax Ratna Sarumpaet.

Daniel 2:21-22 (TB) Dia mengubah saat dan waktu, Dia memecat raja dan mengangkat raja, Dia memberi hikmat kepada orang bijaksana dan pengetahuan kepada orang yang berpengertian;

Dialah yang menyingkapkan hal-hal yang tidak terduga dan yang tersembunyi, Dia tahu apa yang ada di dalam gelap, dan terang ada pada-Nya.

Artinya, siapapun yang jadi pemimpin karena seijin Tuhan. Tugas kita adalah memilih yang terbaik sesuai dengan prinsip, petunjuk, dan hikmat Ilahi yang kita dapat.

*Hikmat Salomo*

Kisah Raja Salomo yang meminta bayi dibagi dua untuk dua ibu yang mengaku sebagai ibu kandung adalah kisah klasik yang tidak pernah lekang oleh waktu.

Kisah yang memberikan kita keyakinan bahwa dalam kondisi sesulit apapun tidak memilih bukanlah pilihan. Selalu ada pilihan Ilahi dan pasti adil dan baik hasilnya.

“Sebagai raja” kita harus selalu mengambil keputusan, termasuk dalam memilih pemimpin. Terutama dalam Demokrasi yang bergantung dengan pemilih, anak-anak Tuhan harus mengerti bahwa pilihan-pilihan kita ikut menentukan jalan cerita bangsa kita.

Sebagai terang dan garam, “teologi golput” tidak bisa fit in dalam usaha kita menjadi bagian dari solusi dan justru malah menjadi bagian dari masalah.

*Baasyir, Ahok, dan Demo Salibisasi*

Sebelum kasus Baasyir, pemilihan baju Koko yang religius oleh Jokowi memperlihatkan bahwa kondisi negara belum aman dari radikalisasi, dan intoleransi.

Ahok biarpun mau disebut BTP ataupun jadi mualaf atau menikah 1000 kali, tidak akan merubah sejarah bagaimana seorang Kristen Tionghoa telah bekerja keras bersih, transparan profesional dan tetap didemo u/ dijatuhkan.

Artinya negara ini sakit, dan perlu “diluruskan”. Kasus terbaru soal konblok di Solo dengan diakhirinya polemik melalui “cat ulang” memperlihatkan bahwa usaha meruwetkan dan merusak merusak negara ini tidak main-main.

Kondisi negara membutuhkan anak-anak Tuhan yang mengerti hatiNya dan bersama-sama mendeklarasikan semua keputusan pengadilan Ilahi. Bukannya menjadi pilatus-pilatus yang ikut menyalibkan Yesus.

Pendekar Solo

Kejahatan Moral Politik SARA

Dalam hitungan hari, Ahok akan keluar dari penjara karena penistaan agama. Sejarah hitam Pilkada DKI 2017 tidak akan dengan mudah, atau mungkin tidak akan terhapuskan dalam sejarah Indonesia.

Pekatnya Politik SARA di Pilkada DKI 2017 melekat kepada sosok kontroversial, Ahok. Seorang yang diakui pekerjaannya, tapi tidak diakui eksistensinya, karena dia suku lain, dan agama lain dari mayoritas negara ini.

Fakta menyedihkan ini semakin membuat Indonesia semakin was-was, karena notabene, simbol perlawanan terhadap nasionalisme Pancasila justru dilakukan orang dua politikus muda Anies & Sandi. Dua politikus muda yang diharapkan membawa kebaruan dalam menenun kebangsaan, akhirnya harus jatuh dalam “kejahatan moral” Politik SARA.

Suara profetis palsu yang membangkitkan pasukan-pasukan tidur, dan robot-robot ideologis telah memunculkan pemimpin-pemimpin muda radikal lainnya, dan ini sangat memprihatinkan dan perlu diwaspadai.

Benteng ideologis PDI-P pun terseok-seok dalam menahan serangan politik identitas karena sudah ada di zona nyaman perpolitikan. Munculnya PSI yang langsung menembak isu-isu ideologis seperti Perda Syariah, poligami, sampai kepada award Hoax mau tidak mau menarik perhatian kita semua. Masih ada harapan.

Nahdlatul Ulama (NU), disisi lain, masih menjadi harapan Indonesia untuk menjadi benteng utama ideologi Pancasila. Dengan paham Islam Nusantara, NU mampu dengan luar biasa memformulasikan nasionalisme Islam yang bisa dipahami lintas agama, seluruh WNI.

Bagaimana dengan agama lain? Terlihat takut, dan ragu-ragu dalam berbangsa. Menjaga “bentrok” dengan mayoritas, membuat agama-agama lain terlihat hanya mengikuti arus pertempuran ideologis teologis yang terpapar dengan jelas di perpolitikan Indonesia.

Perlu dicatat, keputusan Jokowi-Amin untuk memakai baju Koko dan Peci sebagai simbol-simbol pemimpin agama dalam Pilpres 2019 memperlihatkan bahwa ternyata Pilkada DKI 2017 telah membawa dampak parah sampai ke akar rumput. Jokowi-Amin hendak menuntaskannya.

Rusaknya mental anak-anak muda dengan politik SARA sehingga melupakan mimpi bersama Indonesia yang ramah untuk semua agama adalah sebuah kejahatan moral yang harus dicatat dan diingatkan kepada anak cucu kita.

Rekonsiliasi Tidak Bisa Ditawar

Kiai Maruf Amin awalnya menjadi sebuah tanda tanya besar di kubu Jokowi. Tapi sekarang terlihat semakin jelas, KMA memiliki peran penting untuk menjadi Bapak bagi robot-robot ideologis yang sudah bangkit dan hendak digunakan begundal-begundal politik untuk meraih kekuasaan.

Mulai dari KMA justru ada pintu terbuka untuk membangun jembatan yang menenum kembali mimpi Tenun Kebangsaan.

Usaha-usaha untuk rekonsiliasi bangsa harus dimulai sedini mungkin, bahkan dilevel-level SD-SMP-SMA wawasan nasionalisme kebangsaan harus segera diupayakan.

Karena dalam Pemilu 2024, dan 2029 apabila tidak berhasil dijinakkan, kemenangan Jokowi-Amin di 2019, keberhasilan pekerjaan mereka nantinya, akan dinafikan, dan bahkan dihancurkan kembali.

Pertanyaan seorang teman, “Siapa yang tidak mau kekuasaan?” Pada akhirnya pertanyaan itu dapat dijawab dengan jelas, agama telah digunakkan untuk meraih kekuasaan. Mereka hanya ingin kekuasaan. Jahat sekali!

Penulis : Hanny Setiawan

35 Tahun Menjomblo, 11 Tahun Menikah: Beberapa Catatan Penting

Tidak terasa 11 tahun telah berlalu. 26-27 Jui 2007 di Gereja Bethany Solo Baru, dan di Diamond International Resto, selama dua hari melalui peneguhan dan perayaan pernikahan, saya resmi menjadi suami dari gadis cantik Yanty Yoyanto.

Setelah 35 tahun menjomblo dan 0 kali pacaran, tentunya sebuah “record khusus” yang selalu ditanyakan dan diulang-ulang kembali cerita jomblo pak pendeta :).

Membandingkan masa jomblo dan masa menikah tentunya tidak bisa apple to apple,  tapi paling tidak saya mencoba mencatat beberapa hal yang mungkin bisa berguna bagi yang masih mencari pasangan, ataupun yang sudah menikah.

Paling tidak, bagi saya pribadi, bisa menjadi sebuah tulisan refleksi yang bisa membantu untuk menjadi sebuah intropeksi bagaimana menjadi suami dan sekaligus seorang ayah yang baik dan benar.

So  there we go….

Catatan pertama. Menjomblo 35 tahun tanpa pernah pacaran adalah sebuah rekor tersendiri yang sampai sekarang selalu menjadi pertanyaan. Koq bisa, koq betah, apa benar-benar tidak pernah suka cewe, atau yang paling parah tidak homo kan? …please deh 🙂

Contenment adalah 1 kata penting yang perlu dicatat. Kata itu saya artikan sebagai rasa puas yang sepenuhnya, dan konteksnya dalam Tuhan.  Kepuasan hidup bukan didapatkan dari menikah atau dapat pasangan. Tapi karena ada Tuhan didalamnya.

Artinya, ada pasangan atau tidak, kepuasan akan Tuhan itu sudah final dan penuh. Dengan demikian, hubungan dengan pasangan tidak akan bisa mengurangi kepuasan itu. Tapi yang ada malah “ditambahkan” (Mat 6:33). Ada kebahagian, kepuasan, dan sukacita “tambahan” yang menjadi akibat dari menjalani hidup dengan pasangan yang tepat.

Sudah dong ya, itu penting dimengerti dulu sehingga catatan yang kedua jadi lebih asyik dibacanya ….. 🙂

Catatan kedua.  Sejak baptis 10 November 1985 sampai sekarang selama 32 jalan 33 tahun ikut Tuhan, pelayanan di gereja, dan keliling-keliling. Pertanyaan yang sering muncul adalah bagaimana prioritas antara sekolah dengan pelayanan, antara pasangan dengan pelayanan, dan yang lebih heboh antara keluarga dan pelayanan.

Masing segar dalam ingatan pernyataan-pernyataan:

  • Coba lihat aja nanti Hanny setelah kuliah apa masih bisa aktif dan bersemangat…
  • Coba lihat aja nanti Hanny setelah punya pacar apa masih berapi-api…
  • Coba lihat aja nanti Hanny kalau sudah bekerja apa masih seperti waktu pemuda
  • Coba lihat aja nanti Hanny itu kalau sudah punya keluarga masih bisa tiap hari mikirkan Tuhan tidak 
  • Dst…

Puji Tuhan semua pernyataan negatif tersebut sampai detik ini, karena kemurahanNya semua tidak terjadi, dan tidak benar. Dulu saya berapi-api, setelah punya pasangan semakin berapi-api, sekarang punya anak dua sudah gosong jadi item sehitam kali item Jakarta mungkin karena saking panasnya api dalam tulang-tulang 🙂

Dan kata yang penting dalam catatan ini adalah Calling atau panggilan. Pekerjaan bisa banyak, tapi panggilan cuma satu. Dalam Tubuh Kristus kita perlu mengerti dimana bagian kita. Itulah panggilan kita.

Ketika kita sudah mengerti dimana panggilan kita, maka dengan sendirinya sekolah, pekerjaan, dan pasangan hidup  harus menjadi satu bagian dengan panggilan itu. Itu sebab tidak ada cerita setelah pacaran berhenti, atau setelah menikah tidak mau melayani lagi.

Jadi begini guys and gals …

Berhenti mengerjakan panggilan dengan alasan melayani keluarga dulu bagi saya adalah kebohongan besar, bahkan fully bullshit….oops maaf ya agak vulgar.

Keluarga harus menjadi satu dalam panggilan yang sama dan tetap mengerjakannya sampai mati. Berapapun harganya!

Yosua 24:15 jelas memperlihatkan kita bahwa Yosua memilih tetap dalam panggilannya bersama keluarganya untuk menghidupi panggilanNya.

Bagaimana kalau keluarganya tidak mau?  Istri yang lebay, atau suami yang keras kepala?

Salah sendiri dinikahi…wkwkwk….itu biasanya jawaban saya bro/sis maaf ya..memang salah nikah itu sulit.  Salah pilih gubernur DKI aja sudah setengah mati, apalagi salah nikah :).

Ini membawa saya memberanikan diri memberikan catatan ketiga yang menggelegar.  Are you ready…?

11 tahun menikah saya cuma bisa mengatakan, “untung ga salah nikah” 🙂 Karena salah nikah itu saya tidak bisa membayangkan dampak psikologis apalagi rohaninya.

Panggilan yang berhenti karena pernikahan membuat ketidakpuasan dalam kehidupan.

Akibatnya, ketidakpuasan akan membawa kepada berbagai macam masalah hati, sampai kepada kepahitan dan kebencian kepada diri sendiri yang bisa di manifestakan ke orang lain (dengan meyalahkan orang lain).

Kata kunci dalam catatan ini adalah Continuity atau kesinambungan.

Bisnis, Musik, Teknologi, dan Teologi adalah 4 hal yang menjadi minat dan pergulatan ketika masih menjomblo, menikah sampai setelah Tiffany Chisari Setiawan (10 th) dan Giovanni Shekina Setiawan (3th) menjadi bagian dalam keluarga.

Tidak berhenti, tapi berkembang. Itu yang seharusnya terjadi dalam kehidupan kita.  Seperti benih, yang kemudian kuncup, kemudian tumbuh menjadi tanaman, sampai akhirnya berbuah, setiap fase kehidupan kita adalaah sebuah proses yang terus berjalan, tidak bisa dihentikan dan tidak bisa digantikan.

Jadi jelas ya all…

Menjomblo, menikah, dan punya anak bukanlah alasan untuk berhenti, berbelok, atau bahkan mundur dan murtad.  Justru semakin lama semakin manis seperti anggur di Kana.

… “Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang. (Yoh 2:10)

Happy Wedding Anniversary My Beloved Wife Yanty Yoyanto.  Thank you for the wonderful 11 years, and more to come.

Hanny Setiawan

Kelompok Haters Adalah Penyakit Sosial yang Sangat Menular

Demokrasi digital sudah hadir dengan segala kebaikan dan keburukannya. KawalPemilu.org, Jasmev, WikiDPR.org, sampai TemanAhok.com hanyalah sebagian contoh bagaimana demokrasi digital atau politik digital dalam lingkup lebih kecil harus mulai dipelajari dan diperhitungkan.

Salah satu keburukan dari demokrasi digital percepatan penularan kebencian terhadap masyarakat oleh kelompok haters.  Saya menyebutkan hanya kelompok haters karena kelompok lovers, pendukung, simpatisan bukanlah penyakit karena mereka menyebar kebaikan.

Kelompoak haters ada tidak hanya di dunia maya, didunia asli kita mengenal banyak kelompok-kelompok pembenci yang biasanya bersangkutan dengan SARA.  Ada kelompok Nazi yang sangat membenci orang Yahudi, mirip dengan kelompok anti-zionis. Ada juga kelompok benci orang hitam seperti Ku-Klux-Klan dengan simbol-simbol salib.  Ada juga kelompok pembenci LGBT yang justru membuat kelompok minoritas ini bangkit dan menjadi kekuatan laten.

Intinya, kebencian itu hadir bukan karena digital, tapi karena memang itu bagian dari penyakit sosial yang sama tuanya dengan perzinahan, pencurian, penipuan, dan lain sebagainya. Kehadiran teknologi digital hanya berperan mempercepat penularan.

Benar, Anda tidak salah baca.  Kebencian itu menular!  Kebencian bisa berganti obyek yang dibenci tapi sifat menularnya itu tetap.  Jokowi haters, Ahok haters, Prabowo haters, LGBT haters, sampai kepada Islamphobia, Kristenphobia, Hinduphobia, dan yang lain-lain.  Semua itu disadari atau tidak adalah PENYAKIT MENULAR.

***

Jack Scafer P.hd mengembangkan apa yang disebut the saven-stage hate model sebuah model untuk menerangkan psikopat kebencian.  Sangat menarik untuk disimak dan dipelajari sehingga sebagai pelaku demokrasi digital yang aktif, netizen tidak terjangkit wabah kebencian.

Indikasi awal pembenci baik itu karena di-setting (dibayar) atau karena benci secara natural adalah seluruh energi didedikasikan untuk satu obyek semata.  Bagi blogger bisa dicek 10 artikel terakhir apakah menulis hal yang sama dan ditujukkan untuk menjelekkan, mengkritik, mencari kesalahan obyek tersebut.

Ketidaknormalan terjadi diawal penyakit ini ketika kita selalu membicarakan, menuliskan, meneliti, bahkan dalam kasus tertentu sampai mengabadikan dengan foto atau video obyek yang kita tidak sukai.  Manusia normal akan membicarakan dan tertarik dengan apa yang kita sukai, bukan dengan apa yang kita benci. Camkan itu, itulah awalnya.

Dari ketidaknormalan itu, menurut Jack Scafer di Psychology Today, para pembenci obyek yang sama akan berkelompok dan kemudian dengan cepat akan memiliki identitas kelompok.  Kelompok ini kemudian meremehkan (disparage) dan menghina (taunt) obyek atau target kebencian.  Bahasa jawanya suka ngenyek (menghina) dan sangat nylekit (menyakitkan).

Setelah sampai stadium akut haters bisa menyerang baik dengan atau tidak dengan senjata bahkan sampai merusak target atau obyek. Sebagai contoh adalah yang terjadi hari ini dengan perusakan gedung KPK (Demo di Depan KPK Ricuh, Pendemo Lempari Polisi dan Gedung KPK) Gambar berikut memperlihatkan 7 tahap model kebencian tersebut.  Sangat berbahaya.

Ilustrasi: sowhatihearyousaying.blogspot.co.id
Ilustrasi: sowhatihearyousaying.blogspot.co.id

Karena mengerti dan percaya konsep ini, maka saya memang mengambil jarak dengan orang-orang yang terjangkiti dengan penyakit kebencian ini.  Saya melihatnya penyakit ini hanya bisa dikalahkan dengan unconditionalforgiveness atau pengampunan tanpa syarat.  Jadi kalau kita ikut sakit hati, maka kita sudah ketularan. Kita pun akan jadi haters, biarpun obyek/targetnya lain.

Sebab itu, meskipun tidak mendukung Prabowo saya tidak akan menjadi Prabowo haters.  Meskipun saya tidak mendukung LGBT saya pun tidak akan menjadi LGBT haters.  Dari hati terpancar kehidupan, demikan kata buku Amsal.  Lebih baik menjaga hati dan terus tetap waras sehingga tidak terjebak kebencian.

Meskipun sudah dibuat hukum yang melarang hate-speech, kebencian kadang lebih gampang dirasakan daripada dibuktikan. Kita akan merasakan seseorang menghina kita atau menghormati kita.

Sebagai contoh, sebagai keturunan Tionghoa, saya tidak keberatan dan happy-happy saja dipanggil Koh Hanny, dan sampai detik ini banyak yang memanggil saya koh, ko, bahkan yang aneh maskoh Hanny.  Tapi ketika seseorang memanggil ‘koh Hanny’ dengan nada yang berbeda, kita tahu bahwa itu maksudnya mengejek SARA.  Sesuatu yang saya kadang saya alami di kampung-kampung di masa kecil saya.

Intinya, kebencian tidak bisa dilawan hanya dengan dihukum dan dipenjarakan. Kita harus menghentikan penyebaran kebencian dengan berhenti memberikan feedback kepada para pembenci.   Seperti kata Jack Scafer yang adalah Analis Perilaku FBI:

Haters cannot stop hating without exposing their personal insecurities. Haters can only stop hating when they face their insecurities.

Bahasa gampangnya, haters butuh psikolog karena mereka sakit jiwa.  Believe it or not.

Pendekar Solo

 

Sumber : Tulisan ini pertama di unggah di sini

Malaysia & Brimob Panas, Apa Yang Terjadi?

9 Mei 2018 tiba-tiba menjadi hari bersejarah, bukan saja 1 tahun yang lalu seorang Ahok sudah dizolimi dan dimasukkan bui, tapi hari ini pemilu Malaysia mengalami pertempuran politik terbesar setelah Najib, Perdana Mentri yang ada dikalahkan Mahathir Mohammad yang sudah berumur 92 tahun.

Di lain pihak, hari ini di Mako Brimob, tempat Ahok ditahan, 6 orang meninggal (5 polisi, 1 tahanan). Kematian para polisi tersebut juga mencengangkan karena di gorok, dan diperlakukan diluar perikemanusiaan. Mirip dengan Tragedi G 30S  1963, biadab!

Dua peristiwa, 1 hari di dua dunia. Apakah ini kebetulan? Bisa ya bisa tidak. Tapi bagi saya tidak kebetulan. Indonesia – Malaysia memiliki destiny yang sudah menyatu.  Bahkan bahasa pun saling mengerti.

Gusti ora Sare, hari ini Dia menunjukkan bahwa Dia terus memperhatikan apa yang terjadi dan ikut aktif mengatur supaya semua baik adanya.

Ini waktunya kita semua berdoa supaya kerajaanNya datang kehendakNya untuk merelease Indonesia – Malaysia menjadi dua negara yang membawa Api ke bangsa-bangsa, terutama Timur Tengah.

 

Hanny Setiawan

Wajib atau Gemar Belajar?

Lagu wajib belajar sudah cukup lama mengindoktrinasi pendidikan Indonesia. Lagu yang bagus dan sangat inspiratif di awal-awal Indonesia berdiri. Dimana tidak semua keluarga mengerti arti pentinya pendidikan, maka pemerintah memaksa dengan kampanye WAJIB BELAJAR.

Akibat dari kampanye Wajib Belajar inilah yang membuat anak-anak tidak suka belajar, dan bahkan terkesan “membenci sekolah”.

Sekolah yang sudah menjadi penjara anak dalam arti sesungguhnya melahirkan robot-robot yang pada akhirnya menyamaratakan semua anak. Sangat sosialis.

Every child is different. Setiap anak itu beda, tapi setiap anak hidup dalam 1 generasi yang sama. oleh sebab itu, dalam satu generasi kita bisa melihat pola perilaku yang mirip dari satu anak ke anak yang lain meskipun secara individual berbeda. Generasi Milineal, sebagai contoh.

Sebab itu, sekolah yang baik adalah sebuah komunitas pembelajar dari semua stakeholder, yang pada akhirnya akan membuat anak-anak menjadi GEMAR BELAJAR.

Ketika anak-anak sudah gemar belajar, dengan sendirinya mereka akan terus mencari dan mencari. Inilah yang disebuth PEMBELAJAR (Learner).

Sebab itu saya ajak kita semua ikut mendorong #GerakanGemarBelajar untuk mengantikan pemikiran #WajibBelajar sehingga kita bisa melihat generasi baru Indonesia yang suka belajar untuk membangun Indonesia
Baru.

Hanny Setiawan
Relawan Indonesia Baru

Mengalir Dalam Kegerakan

Kemana air mengalir? Ketempat-tempat yang lebih rendah. Itu prinsip sederhana yang bisa digunakan untuk memahami bagaimana mengikuti aliran sungai kehidupan.

Sungai kehidupan akan mengalir menuju “tempat-tempat yang rendah” yang adalah orang-orang yang HAUS dan LAPAR akan Tuhan.

Ikutilah orang-orang yang haus dan lapar akan Tuhan, disanalah ada aliranNya, River of Fire.

Ketika aliran sudah berkumpul deras dalam bentuk Tsunami, tembok sebesar apapun akan dihancurkan, bahkan kota-kota bisa dilibas habis.

Jangan pernah meremehkan 1 hati yang haus dan lapar, karena ada kemungkinan besar kesanalah air itu mengalir.

Berbahagialah orang yang LAPAR dan HAUS akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan (Mat 5:6)

#message #principle #revelation

Hanny Setiawan

Ditunggu Tuhan

Ditunggu Tuhan

Ketika kita berdoa, kita menunggu Tuhan, memohon kepadaNya, bersyukur kepadaNya. Bagaimana apabila Tuhan yang ternyata menunggu kita?

Dia menunggu kita menari bersama denganNya, menarikan sebuah tarian baru yang diajarkanNya.

Dia menunggu kita menyanyi bersama denganNya, menyanyikan sebuah lagu baru yang ditulisNya.

70 tahun sudah selesai, waktu menunggu sudah selesai.

Ini waktunya menari.
Ini waktunya menyanyi.
Ini waktunya melangkah.

Tuhan sudah menunggu, malaikat-malaikatNya sudah mulai, bahkan kumpulan para saksi di awan-awan sudah menggoyangkan kaki

Mari kita menari!

#PesanProfetis #70thIsrael #NewDay #NewDance #NewSong

Kepentingan Bersama, Prinsip Penggunaan Karunia

Prinsip adalah sesuatu yang mutlak. Tidak perlu “tanya Tuhan”, sudah pasti jawabannya. Tidak perlu tanya Tuhan apakah kita harus mengampuni, karena kita harus selalu mengampuni, seperti Kristus sudah mengampuni. Sebagai contoh.

***

Perintah Tuhan untuk setiap individu, kelompok, dan golongan bersifat pribadi dan sangat subyektif yang kita semua tidak bisa menghakimi, kecuali secara khusus kita diberi pesan untuk disampaikan.

Ketika visi dan misi yang secara pribadi kita sudah dapat sudah ada diruang publik, maka tiba-tiba visi dan misi itu menjadi bagian dari Tubuh Kristus yang lebih besar, yang perlu DISELARASKAN (alignment) dengan bagian tubuh yang lain.

Itulah yang dikatakan Paulus sebagai KEPENTINGAN BERSAMA.

Ketika KEPENTINGAN BERSAMA terganggu, apalagi kepentingan nasional terganggu, apalagi kepentingan kemanusiaan (bangsa-bangsa, suku-suku) terganggu, sudah sepatutnya secara publik dipertanyakan.

Penggunaan karunia (gift) kepentingannya adalah untuk seluruh Tubuh Kristus. Itu PRINSIP yang tidak perlu ditanya lagi.

Sebab itu kalimat “Apa urusan kalian?” adalah contoh kalimat yang memperlihatkan ketidakmengertian prinsip sederhana yang sangat universal ini.

***

Ketidakdewasaan tubuh Kristus diperlihatkan dengan masing-masing menggunakan karunia, talenta, dan kekuatannya tanpa kita memperhatikan suasana kebatinan keluarga besar.

Lagi-lagi sebuah perenungan dan otokritik kita bersama. PRnya banyak 😉

#NewApostolicMission
#Otokritik

Zaadit Taqwa, Puncak Gunung Es “Keliaran” 10 Tahun SBY

Kartu kuning dan sempritan ketua BEM UI, Zaadit Taqwa, kepada Jokowi ditengah pidatonya menjadi viral. Pak Presiden dengan santai menanggapi, netizen seperti biasa menjadi ribut, sampai level menteri dan anggota DPR pun  ikut bersuara.

Bahkan yang terakhir, Mata Najwa pun menayangkan.  Artinya, Zaadit Taqwa berhasil mendapatkan panggung politik untuk bersuara lebih kencang. Biarpun terlihat Zaadit masih kurang pendukung, paling tidak letusan “bom kartu” bisa mencuri perhatian bangsa ini.  Sekelas ini, apakah kita masih bisa percaya hanya dinamika anak muda? Saya tidak percaya.

Pro dan Kontra masih seputar etis atau tidak, bully membully boleh tidak, sampai ke esensi kritik yang coba disampaikan. Tapi, belum ada yang betul-betul melihat bahwa Zaadit Taqwa hanyalah puncak gunung es dari sebuah keliaran politk selama 10 tahun jaman SBY.

Saya perkirakan Zaadit ada di awal 20-tahunan umurnya.  Di tahun 2004 (14 tahun yang lalu) ketika SBY mulai menjabat Zaadit masih SD-SMP. Umur yang dia belum tahu apa-apa. Minimal dia belum banyak mengerti tentang politik. Lalu pertanyaan besarnya adalah siapa yang meng-grooming (menyiapkan)  Zaadit Taqwa yang menjadi kader yang militan. Ada berapa banyak Zaadit-Zaadit yang lain?

Isu itu lebih menakutkan dan membahayakan negara. Bukan sekedar dinamika. Kartu kuning, bom molotov, sampai bom betulan secara filosofis adalah produk yang sama dari sel-sel radikalisme yang diaktifkan.  I will not take it easy, Mr. President!

10 tahun SBY adalah waktu bertumbuhnya benih-benih radikalisme yang akhirnya mulai kuncup dan muncul di jaman now.  Kebijiakan politik SBY yang selalu abu-abu dan “ngambang” yang terkenal dengan istilah one enemy is too many and a hundred friends too few telah membawa bangsa ini ketitik rawan ini.

Ketidaktegasan, anggap enteng, sampai bermain api dengan radikalisme dan sektarian harus dirubah.  Apabila Pak Jokowi masih menganggap ini hanya sebuah dinamika dan tidak ada narasi besarnya, terlalu naif.  Kalau kita cuma menganggap soal etika, itu juga masih naif.  Kalau kita menganggap kesalahan UI, berapa lama Zaadit Taqwa di UI, belum lama. Tidak dengan cepat dia menjadi seperti itu.

Narasi besar yang sudah disiapkan lama sejak jaman SBY telah terganggu dengan munculnya dua orang gila Jokowi-Ahok yang mampu membuat kelompok besar ini menjadi blingsatan.

BIN (Badan Intelijen Nasional), saya yakin sudah memetakan kekuatan yang mampu mengkaktifkan sel pasif sepert Zaadit ini menjadi aktif.  Kata kunci “Pribumi” sudah di suarakan dengan lantang 2017, mereka sudah siap perang, apakah kita cuma mau berdiam diri dengan pasrah, serta menganggap ini mainan anak-anak?

Saya berdoa dan berharap, para petinggi negara ini waspada, 10 tahun adalah waktu yang cukup untuk menyiapkan dana, tenaga, jaringan, dan rencana.  Apa yang kita lihat hanyalah letupan-letupan kecil untuk testing the water.

Be alert, wasapadah, karena yang Jahat akan bertambah jahat, yang baik akan bertambah baik.  Garis demarkasi hitam dan putih akan semakin kelihatan. Semua demi satu narasi lebih besar dari apa yang mereka bisa bayangkan, yaitu narasi Tuhan untuk Indonesia: Indonesia Baru!

Pendekar Solo