Merindukan Pengganti Gus Dur

Pertemuan virtual saya dengan Gus Dur terjadi hampir seperempat abad yang lalu. Pertemuan melalui sebuah tulisan dia yang berjudul “Beri Jalan Orang Cina”. Seingat saya, tulisan itu ditayangkan disebuah harian terbitan Jogja yang setiap pagi rajin saya baca sejak SMP.

Tanpa sadar sejak itu saya mengikuti pemikiran-pemikian almarhum baik sengaja ataupun tidak.  Sayang, sampai kepergian Gus Dur, saya belum sempat ketemu beliau dan bercerita bagaima suka-duka menjadi WNI Kristen suku Cina.

Mencuatnya kasus Ahok 2017 mau tidak mau mengingatkan kita kepada sosok guru, negarawan, budayawan, dan pemikir Islam yang bisa diterima semua kalangan ini.

Gus Dur mampu mengayomi bukan hanya orang Islam tapi juga kelompok non Islam, itu yang membuat dia menjadi sangat spesial. Terlepas dari kelemahan sebagai manusia biasa, Gus Dur adalah sosok luar biasa yang menurut saya adalah sebuah manifestasi dari apa yang sekarang disebut Islam Nusantara.

Apa yang dimulai oleh Gus Dur harus bisa dilanjutkan bahkan dikembangkan. Secara budaya, sejak reformasi, Indonesia mengalami degradasi nilai ke titik nadir. Peristiwa-peristiwa now membuktikan rendahnya kebatinan bangsa sekarang.

Mulai dari demo berjilid, politisasi SARA masif, sampai sesederhana toko Coklat yang pro radikal, dan wartawan yang dipecat hariannya karena bersuara di sosmed pribadi, karena ketakutan kepada keroyokan massa.

Uniknya Gus Dur, bukan hanya dia mampu menjelaskan, dan mengayomi, dia berani untuk tegas dan berada di garis depan apabila dibutuhkan. Ketika dia diturunkan dari Presiden oleh Amien Rais, cs, Gus Dur memperlihatkan kenegarawannya dengan tidak membuat negara gaduh.

Paska menjadi Presiden, Gus Dur pun dengan tenang melanjutkan perjuangannya di Ciganjur sebagai seorang Gus. Itulah sosok yang dibutuhkan bangsa ini, terlebih waktu ini.

Sosok yang bisa mengajarkan bangsa ini arti “Rahmatan ‘lil Alamin” kepada semua WNI tanpa melihat suku, agama, ras, dan agama.

Catatan kecil ini saya tulis karena kegembiraan menemukan artikel lama Gus Dur di Gusdur.net online. Saya tidak berhalusinasi, tulisan itu betul-betul ada dan masih hidup sampai sekarang.

Seakan-akan Gus Dur ngomong, “Wis dikandani, beri jalan kepada orang Cina, tanah Abang ruwet kan?  Tinggal nyoblos Ahok aja koq repot…”  Gus…Gus..!

Pendekar Solo


Beri Jalan Orang China
Oleh: Abdurrahman Wahid
Sumber : Gusdur.net

Jadi orang Cina di negeri ini, di masa ini pula, memang serba salah. Walaupun sudah ganti nama, masih juga ditanyakan ‘nama asli’nya kalau mendaftarkan anak ke sekolah atau jika membuat paspor. Mungkin, karena memang nama yang digunakan terasa tidak pas bagi orang lain, seperti nama Nagaria. Biasanya naga menggambarkan kemarahan dan keganasan. Apakah si naga yang riang gembira ini tertawa-tawa? Hartadinata, terasa lucu, karena tidak klop antara kekayaan dan keanggunan jabatan, antara harta dan nata.

Ternyata bukan hanya karena nama baru orang-orang Cina terasa tidak sreg di telinga orang lain. Tetapi karena keputusan politik, untuk membedakan orang Cina dari pribumi. Memang tidak ada peraturan tertulis, melainkan dalam bentuk kesepakatan memperlakukan orang Cina tersendiri. Mengapa? Karena mereka kuat, punya kemampuan terlebih, sehingga dikhawatirkan akan meninggalkan suku-suku bangsa lainnya. Apalagi mereka terkenal dalam hal kewiraswastaan. Kombinasi kemampuan finansial yang kuat, dan kemampuan lain yang juga tinggi, dikhawatirkan akan membuat mereka jauh melebihi orang lain dalam waktu singkat.

Secara terasa, ‘kesepakatan’ meluas itu akhirnya mengambil bentuk pembatasan bagi ruang gerak orang Cina. Mau jadi tentara? Boleh masuk AKABRI, lulus jadi perwira. Tetapi harus siap menerima kenyataan, tidak akan dapat naik pangkat lebih dari kolonel. Mau jadi dokter? Silakan, namun jangan mimpi dapat meniti karier hingga menjadi kepala rumah sakit umum. Mau masuk dunia politik? Bagus, tetapi jangan menduduki jabatan kunci. Di birokrasi? Jadi pejabat urusan teknis sajalah, jangan jadi eselon satu. Apalagi jadi menteri.

Sialnya lagi, ‘jalan buntu’ itu ternyata tidak membawakan alternatif yang memuaskan. Jalan terbuka satu-satunya adalah mencari uang. Dan itu sesuai pula dengan kecenderungan sosiologis mereka sejak masa lampau, karena di masa kolonial pun mereka hanya boleh cari uang. Usaha berhasil, uang masuk berlimpah-limpah, kekayaan makin bertambah.

Celakanya, justru karena itu mereka disalahkan pula: penyebab kesenjangan sosial. Akumulasi modal dan bertambahnya kekayaan ternyata tidak membawa keberuntungan. Cara mereka menggunakan uang dinilai sebagai penyebab kecenderungan hedonistik di kalangan generasi muda kita, padahal permasalahannya sangat kompleks. Kekayaan mereka dianggap diperoleh melalui pengisapan si kecil, padahal orang Cina hanyalah satu saja dari sekian banyak faktor kemiskinan.

Dengan kata lain, orang Cina dipersalahkan bagi kebanyakan hal yang dirasakan tidak benar dalam kehidupan kita. Salah satu hukum kehidupan masyarakat adalah pentingnya kemampuan bertahan. Potensi untuk survive ini dimiliki orang Cina, di mana pun mereka berada. Dan potensi itu diwujudkan di negeri kita oleh mereka, dengan memanfaatkan satu-satunya ‘jalur kolektif’ yang masih terbuka: bidang ekonomi. Segala tenaga dan daya dicurahkan untuk mencari kekayaan. Perkecualiannya hanyalah sedikit orang Cina yang menjadi intelektual, akademisi, tenaga profesi, politisi dan sebagainya.

Kemampuan bertahan demikian tinggi bila dimampatkan ke dalam sebuah ‘sasaran kolektif’ mencari kekayaan, sudah tentu sangat besar hasilnya. Apa pula dibantu oleh kemudahan di segenap faktor produksi dan sektor usaha. Karenanya wajar-wajar saja bila mereka berhasil, tidak perlu dikembalikan kepada sifat serakah, atau direferensikan kepada rujukan akan licin dan sejenisnya. Bahwa banyak sekali orang Cina melakukan hal-hal seperti itu, tetapi tentunya tidak dapat dianggap sebagai watak rasial atau sifat etnis dari orang Cina. Orang lain juga berbuat sama.

Dengan demikian, persoalannya bukanlah bagaimana orang Cina itu bisa dibuktikan bersalah, melainkan bagaimana mereka dapat ditarik ke dalam alur umum (mainstream) kehidupan bangsa. Bagaimana kepada mereka dapat diberikan perlakuan yang benar-benar sama di segala bidang kehidupan.

Tanpa perlu ditakutkan bahwa sikap seperti itu akan memperkokoh ‘posisi kolektif’ mereka dalam kehidupan bangsa, karena hal-hal seperti itu dalam jangka panjang ternyata hanyalah sesuatu yang berupa mitos belaka. Keperkasaan orang putih ternyata dapat disaingi oleh keperkasaan orang hitam di Amerika Serikat. Orang Melayu di Singapura juga menyimpan kemampuan sama maju dengan orang Cina, seperti semakin banyak terbukti saat ini. Begitu pula bangsa-bangsa lain, baik yang menjadi minoritas maupun mayoritas.

Tesis pokoknya di sini adalah: dapatkah kelebihan kekayaan orang Cina dimanfaatkan bagi usaha lebih memeratakan lagi tingkat pendapatan segala lapisan masyarakat bangsa kita di masa depan?

Jawabnya, menurut penulis, adalah positif. Orang Cina, sebagaimana orang-orang lain juga, dapat di-appeal untuk berkorban bagi kepentingan masa depan bangsa dan negara. Tentu dengan tetap menghormati hal-hal mendasar yang mereka yakini, seperti kesucian hak-milik dari campur-tangan orang lain.

Pemindahan kekayaan secara masif bukanlah barang baru bagi orang Cina, karena mereka pun baru saja melakukan hal itu, dalam bentuk merampungkan upaya akumulasi modal yang bukan main besarnya. Salah satu instink untuk tetap bertahan hidup bagi orang Cina adalah realisme sangat besar yang mereka miliki. Akal mereka akan mendiktekan keputusan pemindahan kekayaan secara masif kepada mereka yang lebih lemah, dalam upaya mendukung pihak lemah itu agar juga menjadi kuat. Tetapi itu semua harus dilakukan dengan menghormati kesucian hak-milik mereka, bukan dengan cara paksaan atau keroyokan.

Kalau begitu duduk perkaranya, jelas akses orang Cina kepada semua bidang kehidupan harus dibuka, tanpa pembatasan apa pun. Kalau sekarang ada tiga orang Arab menjadi menteri, tanpa ada pertanyaan atau kaitan apa pun dengan asal-usul etnis atau rasial mereka, hal yang sama juga harus diberlakukan bagi orang Cina kepada semua bidang kehidupan harus dibuka, tanpa pembatasan apa pun. Kalau prestasi para dokter orang Cina sama baiknya dengan yang lain-lain, mereka pun berhak menjadi kepala rumah sakit umum. Begitu juga menjadi jenderal, dan demikian seterusnya.

Cerita gurau yang luas beredar menyebutkan perbedaan orang Jawa dari orang Cina. Orang Jawa, kata cerita itu, akan senantiasa menanyakan kesehatan kita kalau bertemu: “Sampean waras?” Bagi orang Jawa yang mudah masuk angin dan sebagainya, kesehatan adalah perhatian utama. Ini berbeda dengan orang Cina. Kalau berjumpa dengan orang lain, pertanyaan yang diajukan: “Sampean apa sudah cia?” alias apakah sudah makan atau belum. Mengapa? Karena mereka dahulu datang kemari akibat bahaya kelaparan di daratan Cina, negeri asal mereka.

“Keanehan” seperti itu adalah karakteristik etnis, yang tidak boleh mengganggu keserasian hidup sebuah bangsa. Apalagi bagi bangsa yang pada dasarnya sudah sangat heterogen, seperti bangsa kita. Kita sudah harus dapat melihat karakteristik khusus orang Cina seperti juga ‘keanehan’ suku-suku bangsa kita yang lain. Ini berarti kita harus mengubah cara pandang kita kepada orang Cina. Mereka harus dipandang sebagai unit etnis. Bukan unit rasial.

Kalau kita bisa menerima kehadiran orang Flores, Maluku dan Irian sebagai satuan etnis – padahal mereka bukan dari stok Melayu (karena stok mereka adalah Astromelanesia), maka secara jujur kita harus melakukan hal yang sama kepada stok Cina. Juga stok Arab. Mereka bukan orang luar, melainkan kita-kita juga.

Mudah dikatakan tapi sulit dilakukan. Itulah reaksi pertama pada ajakan “menyatukan dengan orang Cina”. Akan banyak alasan dikemukakan dan argumentasi diajukan. Karena, memang, dalam diri kita telah ada keengganan mendasar untuk menerima kehadiran orang Cina sebagai “orang sendiri”. Kita sudah terbiasa mau menerima uang mereka tanpa merasakan kehadiran mereka.

Boleh saja keengganan bahkan ketakutan seperti itu kita beri sofistikasi sangat canggih. Tetapi, ia tetap saja merupakan keengganan dan ketakutan. Sesuatu yang irasional. Justru itulah yang harus kita perangi, kita jauhi sejauh mungkin.

Mengapakah hal itu menjadi keharusan? Karena hanya dengan perlakuan wajar, jujur dan fair dari kita sebagai bangsa kepada orang Cina sajalah yang dapat mendorong timbulnya rasa berkewajiban berbagi kekayaan dan nasib antara mereka dan
pengusaha kecil kita. Ini kalau kita benar-benar jujur, lain halnya kalau tidak.

Sumber: Majalah Editor, 21 April 1990

Panggilan, Perjalanan, dan Perjuangan, Catatan Kecil “Pak Pendeta”

23 Desember 2017  telah terlampaui. 51 menit setelah 24 jam menikmati apa yang disebut “ulang tahun”.  Sebuah perjalanan baru di mulai lagi, perjuangan sudah terlihat di depan mata untuk menyelesaikan panggilan.

Beberapa catatan kecil menarik untuk dicoretkan secara digital supaya menjadi sejarah tersendiri didunia maya. Sehingga suatu kali catatan kecil ini mungkin bisa memberkati dan menginspirasi banyak orang untuk ikut serta menyelesaian panggilan-panggilan hidupnya masing-masing.

Setelah Surabaya, Jogja, Jakarta, Semarang, kembali juga ke kota Solo, dirumah pemberitan Tuhan di Joyontakan. Rumah yang sudah 1 tahun ini melindungi keluarga kecil saya untuk tidak kepanasan, kehujanan, dan tidak menjadi homeless. 

Selalu sebuah perasaan aneh tersendiri ketika “pulang rumah”. Tidak perduli berapa jauh, tidak perduli kemana kita pergi, pada akhirnya semua akan pulang ke rumah. Itulah realitasnya.  Home sweets home.

Pagi-pagi, si kecil Gio membawa 1 lilin dan mulai menyanyikan tiup lilinnya, dan memberi salam ulang tahun. She is an amazing sweet girl indeed. Sebuah ritual ultah yang sangat sederhana tapi sangat nikmat dengan makan pagi bersama Istri (Yanty), si sulung (Ting-Ting), dan bungsu (Gio).

Pagi 23 Desember 2017 adalah tepat 30 tahun lulus SMP Negeri 10 Surakarta. Dan ada reuni kecil di lapangan Sekolah lama pagi itu. Setelah makan pagi, saya ajak si Sulung untuk ikut bereuni dengan teman-teman SMP.

Singkat cerita, sampai di SMP Negeri 10 sekitar jam 10.20, acara belum dimulai, maka yang sudah hadir mulai salam kangen. Dan sepintas saya merasa pulang rumah sekali lagi.

Sekitar 32-33 tahun yang lalu  (1983-84) saya masuk sekolah itu, itu tahun dimana keluarga di Kratonan di resmikan oleh alm. Pdt. Yahya Setiawan (GBIS Kepunton). Sekitar Satu tahun setelah itu tanggal 10 November 1985, kami sekeluarga dipermandikan air (Baptis).  Papi, Mami, 2 Kakak, dan saya.  Sebuah momentum penting perjalanan.

Sebab itu, saya mulai mengerti mengapa Tuhan bawa saya kembali ke SMP Negeri 10 di hari ultah ini. Tuhan ingin mengingatkan sebuah awal perjalanan. Sejak awal Tuhan sudah menyiapkan untuk sebuah panggilan. Bahkan sekolah mana yang yang dimasuki pun  dipilihkan Tuhan. Amazing God, isn’t He?

Kembali ke reuni, saya coba masuk kelas-kelas, aula, sampai akhirnya kekantor guru, dan took me by surprise, saya ketemu guru agama saya, bu Dewi. Guru yang tidak bisa dilupakan dengan mudah, karena dialah orang pertama yang menjadi korban kegelisahan Ilahi saya.

Ketika bu Dewi masuk pertama di SMP N 10, dia hanyalah seorang guru magang muda yang terlihat takut-takut dalam mengajar. Dan di kelas agama dialah, pertama kali saya berdebat keras dengan seorang guru.

Di umur 12-13 tahun ternyata saya sudah berdebat agama, dan ternyata bu Dewi ingat, bukan hanya 1 kali, tapi 2 kali kelas dihabiskan untuk “berapologetika” soal baptisan : dipercik atau diselam.

Yang sangat menarik bagi saya, ketika dia mengingat sesuatu yang saya tidak pernah ingat. Waktu itu dia mengajar lagu Amazing Grace, dan ternyata dia ingat ketika saya protes kecil dan mengatakan, “Kita adalah orang Indonesia, dan punya bahasa Indonesia, mengapa kita harus pakai bahasa Inggris”.  Saya terperangah diingatkan soal itu. Tuhan sudah menempatkan panggilan untuk Indonesia Baru itu sedini itu.  Merinding.

Terus berlanjut, bu Dewi mengatakan tidak pernah habis pikir mengapa ada orang Cina, pinter, dan kaya (keluarga waktu itu memang kaya, tapi itu dulu #senyumsendiri…..) mau masuk ke SMP Negeri 10 yang notabene ada mayoritas Jawa.

Kemudian saya berkata kepada bu Dewi, “bu, 30 tahun yang lalu Tuhan tempatkan saya di SMP Negeri 10 untuk mengajar saya mencintai bangsa ini”. Hanya ada saya dan anak saya yang wajahnya seperti putri Shanghai yang berdarah Tionghoa di acara itu.

30 tahun lalu hanya ada saya dan 1 teman saya lagi yang bukan Jawa. Saya masih ingat awal-awal selalu ada bully, dan ketakutan dalam hati kalau nanti terjadi apa-apa. Sebuah proses pembauran yang tidak terasa sedang terjadi, dan puji Tuhan, sekarang saya mengerti.

Saya mengerti bahwa saya orang Cina, yang lahir di Indonesia, Tuhan punya rencana untuk memberkati bangsa ini melalui hidup saya. Mungkin orang tidak mengerti, dan tertawa, tapi saya paham betul bahwa Tuhan tidak pernah salah.

Dalam reuni itu ada yang tahunya saya pendeta, ada yang mengenali saya sebagai pebisnis, ada yang mengenali sebagai pemain piano, ada yang mengenali sebagi aktivis sosmed, bahkan rata-rata mengenali bahwa keluarga kita pernah jualan batik. Dan saya maklum memang begitulah hidup saya. Campur sari.

Melihat teman-teman yang berjoget campur sari “Bojo Loro”, “Bojo Galak”, sampai “Ditinggal Pegat”, saya tertawa dan menikmati itu semua. Tuhan mengingatkan bahwa Dia mencintai Campur Sari, dan budaya ini untuk kemuliaaNya.  Saya pun harus memiliki hati yang sama.

Indonesa yang baru bukan hanya sebuah panggilan utopis. Puluhan tahun yang lalu Tuhan sudah siapkan untuk memiliki hati bagi bangsa ini. Dan dari SMP yang sama ternyata  ibu Iriana Jokowi (ibu Presiden RI sekarang) berasal.

Ternyata saya 1 alumni dengan ibu Iriana, apakah kebetulan? Saya tidak melihat itu kebetulan, Tuhan berbicara bahwa kalau dari SMP ini lahir ibu negara, mengapa Tuhan tidak bisa menempatkan seorang Yusuf bagi Indonesia Baru?

30 tahun perjalanan yang cukup panjang. Tidak semua maksudNya saya kenali di awal-awal perjalanan. Tapi dari musim ke musim Tuhan membuka rencanaNya, dan semakin menua serta memutih rambut ini, saya bersyukur tidak habis.  PanggilanNya tidak pernah salah.

Menghidupi panggilan bagaikan menyusun novel dari bab pertama sampai selesai. Setiap bab adalah perjalanan, dan dinamika cerita itu adalah sebuah perjuangan.  Dan saya merasa bahwa perjalanan dan perjuangan saya masih cukup panjang untuk menghidupi kitab kehidupan yang ditulis Tuhan sejak saya dalam kandungan ibu.

60 menit tidak terasa saya menuangkan isi hati, menyiapkan musim yang baru, dengan semangat yang baru, menuju Indonesia Baru, panggilan yang dimulai dari sebuah sekolah bernama SMP Negeri 10 Surakarta.

Nama Saya, bukan Hanny Setiawan tapi Yusuf Hanny Setiawan. Itulah panggilan yang harus saya jalani dan perjuangkan.  Terima kasih Tuhan untuk perjalanan hari ulang tahun yang penuh berkat.

Saya akan selesaikan perjuangan ini sampai Indonesia menjadi RUMAH, sehingga anak-anak bangsa mau PULANG RUMAH.  Homecoming.

Lalu aku berkata: “Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku; aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku (Maz 40:8-9)

Hanny Setiawan
Alumni SMP Negeri 10, Surakarta
Angkatan 1987
Kelas 1A, 2A, dan 3A

Wabah Difteri Memperlihatkan Peradaban Bisa Hancur Karena Agama

Wabah Difteri sudah menjadi KLB (Kejadian Luar Biasa) Nasional 2017 di Indonesia. Dikala bangsa ini lagi digoyang radikalise, politik SARA, dan politisasi agama kronis, kabar wabah difteri ini menyakitkan hati.  Terutama karena masih berhubungan dengan agama.

Memiliki 2 anak putri 9 tahun dan 2 tahun, maka saya dan istri berinisiatif untuk segera memastikan vaksin DPT terutama untuk si bungsu yang memang belum sempat mendapatkannya.

Sampai Hari H, ternyata stok vaksin untuk orang dewasa dan si Sulung tidak ada (karena tidak lazim, sebab itu disebut luar biasa), dan hanya si kecil yang di vaksin. Di saat hati orang tua gembira melihat si anak “tidak ayis” waktu disuntik, bahkan dengan lucunya mengatakan, “sudah selesai mah?” :), hati ini teriris mendengar keterangan singkat bu Dokter.

Saya            :  Bu, apakah wabah Difteri sudah sampai Solo?
Bu Dokter : Belum pak.
Saya             : Wah, jangan belum bu, kalau bisa jangan datang wabahnya. Memangnya apa yang menyebabkan wabah ini bu?
Bu Dokter  :  Karena ada kelompok masyarakat yang menolak di vaksin, menjadi carrier yang akhirnya merebak menjadi wabah.
Saya              : Benaran Bu???!!!!

Dengan wajah kecut saya langsung mengerti bahwa wabah Difteri yang data terakhir mengatakan telah melanda 20 provinsi adalah akibat para penganut agama yang salah tafsir.  Atau mungkin dibodohi para petingginya.

Saya pun diingatkan ketika suatu sekte agama tidak mau ditranfusi darah sehingga menimbulkan banyak kematian. Atau tidak mau berobat, karena percaya Tuhan bisa menyembuhkan. Akibatnya kematian dalam rumah-rumah tangga juga.

Kembali ke perkataan Bu Dokter tadi, saya coba pastikan itu bukan sentimen pribadi. Dan ternyata memang betul.  Menteri kesehatan mengatakan:

Menurut Kementerian Kesehatan, Indonesia sebenarnya sudah terbebas dari wabah difteri sejak tahun 1990an akibat program imunisasi nasional. Namun pada tahun 2009, kasus infeksi difteri kembali meningkat. Bahkan angka kematian akibat penyakit ini sejak 2015 telah mencapai 502 kasus. (Sumber)

Artinya, penyeban wabah Difteri dipastikan karena tidak adanya vaksinasi. Dan kelompok penentang vaksinasi, adalah tersangka utama sebagai carried dan penyebar pertama tidak bisa dipungkiri.  Dan ini sangat menyedihkan.

Tidak bisa dibayangkan keluarga-keluarga lugu dan sederhana yang karena “iman” harus kehilangan orang-orang yang dicintainya. Apakah iman seperti ini tidak bisa disebut iman yang goblok? Apakah tidak bisa disebut orang-orang ini adalah korban pembodohan?

Kasus-kasus kebodohan agama seperti inilah yang akhirnya meningkatkan kelompok agnostik dan atheis yang pada akhirnya meningkatkan gerakan liberal humanisme seperti LGBT.

Kalau vaksin saja diharamkan sampai mengorbankan nyawa, jangan salahkan orang tidak percaya agama lagi, atau minimal pindah agama!

Tugas para rohaniwan, teolog, dan umat beragama apapun merknya untuk tetap waras dan menjaga iman kita tetap sehat sehingga tidak bisa dipolitisasi, sampai dikorbankan seperti dalam kasus Wabah Difteri.

Pembelajaran yang bisa diambil, peradaban manusia bisa hancur karena kebodohan agama. Dan sejarah telah mencatat itu berkali-kali. Semua agama memiliki bahaya laten untuk digunakan sebagai alat politik dan kekuasaan yang pada akhirnya manusia itu sendiri yang terkena azabnya.

Hal senada diungkapkan pendiri Rumah Vaksin dr. Piprim Basarah Yanuarso “Seruan anti vaksin bukan main-main bisa bikin wabah bermunculan ke mana-mana. Kalau orang tua yang galau ini sampai 40 persen dari populasi wabah bisa bangkit kembali,” ujarnya seperti dikutip Detik.com. (sumber)

#menolakdibodohi #menolakdipolitisasi #menolakdikorbankan

Pendekar Solo

Nekat Natalan Politik di Monas, Apa Maunya Para Pendeta?

Politisasi Natal Monas di DKI paska Pilkada SARA 2017 semakin pekat baunya. Dengan tidak malu lagi para politisi bermain mata dengan para rohinawan Kristen.  Kecut, tapi it’s happening.

Hashim Djojohadikusumo, politisi sekaligus pebisnis Gerinda yang dengan dingin terus menekan natalan politik ini terjadi. Diberitakan bahwa dia sambangi Balaikota DKI “menemani para pendeta”, katanya.

Hashim mengaku kedatangannya bersama sejumlah aras gereja itu untuk menyatakan dukungan terhadap perayaan Natal bersama yang akan digelar Pemprov DKI di Monas. Dia mengaku datang hanya sebagai pendamping.  (sumber)

Memang begitulah politisi, menggunakan berbagai cara demi kekuasaan. Bisa kiri, bisa kanan, bisa LGBT, bisa radikal, bisa santun, bisa kasar, pokoknya menang dan dapat posisi.

Kemenangan di DKI membuat para politisi oposisi terutama Gerindra, PKS, plus kelompok Jusuf Kalla benar-benar me-leverage DKI untuk Pilkada 2018, dan Pilpres 2019. Dan untuk konteks politik, itu tidak melanggar hukum dan ok saja. Biarkan saja.

Baca : Natal DKI Dipolitisasi, Akankah Petinggi Gereja Membiarkannya?

Tapi begitu menyentuh GerejaNya, kita patut mempertanyakan “para pendeta” yang menurut Hasyim yang “didampingi”. Kalau para pendeta ini memiliki hati nurani sudah sepatutnya Natal di Monas jangan dilakukan. Minimal tidak sekarang, karena sekarang ini jelas adalah sebuah upaya politik untuk meredam efek Pilkada SARA 2017, terutama kelompok 212.

Perselingkuhan antara rohaniwan dan politikus adalah virus kehidupan yang sejak jaman kuno sudah menjadi kekuatan yang dahsyat dalam menjajah masyarakat.

Bahkan Yesus pun disalib karena para rohaniwan (para Farisi) dan Iman-Iman yang lebih suka membebaskan penjahat Barabas daripada Yesus yang tidak bersalah.

Inilah wujud dari roh Agamawi yang terjadi karena manifestasi ajaran yang menyimpang disebabkan ajaran yang terkamiri ragi Farisi. Di lain pihak, ajaran yang disimpangkan ragi Herodes telah membangkitkan roh Izebel yang mengintimidasi, manipulasi, gairah palsu, dan penuh kebohongan.

Perselingkuhan kedua “spirit” ini semakin kuat ketika roh Mammon yang di hidupkan melalui ajaran yang disimpangkan ragi Saduki menjadi motor utama yang mendorong dua kelompok pertama.

Bisa dibayangkan, komplit. Ketika roh Agamawi, Izebel, dan Mamon berjalan bersamaan dan menghina tubuh Kristus dengan menggunakan ajaran-ajaran menyimpang karena fokus kepada kekuasaan (ragi Herodes), kebenaran palsu (ragi Farisi), dan kesuksesan duniawi (ragi Saduki).

Para Pendeta perlu diingatkan terus, tugas pemimpin rohani dalam Kekristenan adalah Gembala sekaligus Bapa rohani.  Memberikan terbaik untuk domba-dombaNya bukan mendayagunakan, dan memobiliasi untuk kepentingan politik kekuasaan.

Peringatan nabi Maleakhi berikut biarlah mengingatkan kita semua untuk BERTOBAT.

Murka TUHAN terhadap para Imam

Mal. 2:1 Maka sekarang, kepada kamulah tertuju perintah ini, hai para imam!

Mal 2:2 Jika kamu tidak mendengarkan, dan jika kamu tidak memberi perhatian untuk menghormati nama-Ku, firman TUHAN semesta alam, maka Aku akan mengirimkan kutuk ke antaramu dan akan membuat berkat-berkatmu menjadi kutuk, dan Aku telah membuatnya menjadi kutuk, sebab kamu ini tidak memperhatikan.

Mal 2:3 Sesungguhnya, Aku akan mematahkan lenganmu dan akan melemparkan kotoran ke mukamu, yakni kotoran korban dari hari-hari rayamu, dan orang akan menyeret kamu ke kotoran itu.

Mal 2:4  Maka kamu akan sadar, bahwa Kukirimkan perintah ini kepadamu, supaya perjanjian-Ku dengan Lewi tetap dipegang, firman TUHAN semesta alam.

Mal 2:5 Perjanjian-Kudengan dia pada satu pihak ialah kehidupan dan sejahtera dan itu Kuberikan kepadanya–pada pihak lain ketakutan–dan ia takut kepada-Ku dan gentar terhadap nama-Ku.

Mal 2:6  Pengajaran yang benar ada dalam mulutnya dan kecurangan tidak terdapat pada bibirnya. Dalam damai sejahtera dan kejujuran ia mengikuti Aku dan banyak orang dibuatnya berbalik dari pada kesalahan.

Mal 2:7 Sebab bibir seorang imam memelihara pengetahuan dan orang mencari pengajaran dari mulutnya, sebab dialah utusan TUHAN semesta alam./p>

Mal 2:8 Tetapi kamu ini menyimpang dari jalan; kamu membuat banyak orang tergelincir dengan pengajaranmu; kamu merusakkan perjanjian dengan Lewi, firman TUHAN semesta alam.

Mal 2:9 Maka Akupun akan membuat kamu hina dan rendahbagi seluruh umat ini, oleh karena kamu tidak mengikuti jalan yang Kutunjukkan, tetapi memandang bulu dalam pengajaranmu.

Politisasi Natal di Monas  adalah puncak kesabaran Tuhan. Jangan sentuh Tubuh Kristus, karena GerejaNya adalah kesayanganNya. Biarkan para politisi manuver sekehendak mereka, selama masih dalam koridor hukum Indonesia, tapi secara etika, moral dan sosial, GerejaNya harus berani berkati TIDAK, untuk politisasi Natal.  Yang setuju, wartakan ini ke pendeta kalian masing-masing!

Pak, stop now, or God will stop you!

Penulis : Hanny Setiawan

Dalam Konflik Israel Palestina, Apa Yang Seharusnya Dilakukan Pemerintah RI?

Pernyataan Donald Trump di hari Kamis minggu lalu(7/12/2017)  berhasil mempengaruhi arah politik dunia, dan dalam  negeri Indonesia. Jokowi, dengan sigap melihat isu Israel Palestina sebagai isu politik sexy yang bisa digunakan untuk menetralkan politik SARA yang sangat bau di DKI Jakarta.

Tak urung Prabowo, Anies, bahkan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) mau tidak mau harus mengapresiasi langkah politik Jokowi ini. Dan hari ini Selasa, 12/12/2017, Jokowi berangkat ke KTT Luarbiasa OKI (Organisasi Kerjasama Islam) di Istanbul Turki.

Ada dua agenda Jokowi di Istanbul, yaitu menolak pernyataan Amerika melalui Donald Trump, dan memastikan pembelaan terhadap Palestina. Dua agenda yang jelas akan mampu menutup isu politik PKI, pro Amerika, bahkan pro China (karena China juga sejalan dengan Indonesia dalam hal ini).

Kondisi politik ini akan membingungkan dan tidak menguntungkan para radikalis, sektarian, dan oportunis yang hendak menggoyang Jokowi melalui isu ini. Inilah blessing in disguise yang Jokowi terima dari Donald Trump.

Secara politis, langkah Jokowi sudah tepat, tapi secara esensi apakah sudah benar? Artinya begini, isu boikot produk Amerika yang dihembuskan bahlul-bahlul politik SARA Indonesia adalah jebakan-jebakan batmen yang Jokowi harus perhatikan juga.

Jangan sampai Indonesia dibawa masuk perang yang tidak perlu, Indonesia harus tetap fokus untuk mengusahakan PERDAMAIAN bagi Israel dan Palestina. Itu adalah arti penting Indonesia bagi dunia yang harus dibangkitkan lagi.

Kita harus ingat, Soekarno, founding father, bangsa kita adalah pencetus gerakan Non-Blok yang sebenarnya waktu itu sangat cetar membahana, mampu membuat Barat maupun Timur berebut Indonesia. Destiny Indonesia sebagai penyeimbang inilah yang harus terus dipercaya.

Bukan Pro Israel, atau Pro Palestina, tapi harus tetap Pro Perdamaian. Itu posisi yang tepat. Jadi kalau dianggap Israel terlalu negatif, maka Indonesia harus mengingatkan Israel. Tapi kebalikannya kalau Palestina tidak benar, Indonesia juga harus menegur Palestina.

Keberhasilan Jokowi menjadi penengah akan membawa Indonesia ke panggung Dunia dan menjadi bangsa yang besar. Sekaligus, Jokowi akan ada diposisi yang tidak tergoyahkan sebagai politikus-negarawan Indonesia Modern.

Untuk bisa bisa menjadi penengah, Jokowi diuji keberaniannya.  Karena sebenarnya konflik Israel Palestina mirip dengan konflik G30S 1965, dan Reformasi 1998, semua jelas tapi karena politik yang diramu agama dan ideologi menjadi sensitif.

Doa saya untuk Jokowi, diberi Hikmat Tuhan seperti Salomo, dan keberanian seperti Daud  untuk dapat mengambil keputusan yang akan membawa perdamaian Israel Palestina. Bukan sekedar keputusan politis, tapi keputusan humanis negarawan level dunia.

Selamat berjuang, dan bekerja Mr. President!

Pendekar Solo

Posisi WNI Kristen Dalam Polemik Israel Palestina

Manuver politik Donald Trump menyatakan Yerusalem sebagai ibukota Israel, sekaligus memastikan akan memindahkan kedutaan besar Amerika dari Tel-Aviv ke Yerusalem mengejutkan seluruh dunia, baik yang pro maupun kontra. (7/12/2017).

Yerusalem, kota kuno yang dianggap suci bagi tiga agama besar Yahudi, Kristen, dan Islam seakan memenuhi destiny-nya untuk selalu menjadi pusat politik dunia yang sexy sejak ribuan tahun yang lalu.

Israel adalah negara unik yang secara bahasa, agama, ras, suku, sampai bangsa terintegrasi menjadi satu kata, yaitu Yahudi atau Jews.  Mereka memiliki agama Yahudi, bahasa Yahudi, ras Yahudi, sampai yang terakhir adalah Israel yang dianggal bangsa Yahudi (meskipun kenyataannya, bangsa Israel modern tidak semua Yahudi sekarang ini).

Jadi secara natural, semua yang melibatkan Israel akan selalu bernuansa agama, budaya, sekaligus politik, tidak bisa dipisahkan.

Hal ini perlu dimengerti supaya dalam menganalisa politik di Israel (apapun isunya) tidak gampang “dibodohi” para politikus yang memang hanya memiliki kepentingan politik, bukan kepentingan kemanusiaan ataupun menjalankan perintah agama.  Hanya kebohongan  dan retorika politik, demi kekuasaan sesaat, yang ujung-ujungnya adalah mamon.

Kristen, Yahudi, Islam :  Persamaan dan Perbedaan

Yahudi, Kristen, dan Islam adalah tiga agama yang memiliki akar sejarah yang sama. Dan salah satu akar utamanya adalah Bapak Abraham atau Nabi Ibrahim. Dari dialah lahir bangsa-bangsa sesuai yang dijanjikan Tuhannya Abraham.

Jadi sebenarnya secara logika sederhana, seharusnya Tuhannya Ibrahim adalah Tuhan yang dipercaya Yahudi, Kristen, dan Islam, karena ketiganya secara historis mempercayai sosok Ibrahim ini.  Belum lagi, kalau kita telusur ke Musa, dan Daud, maka kita menyadari ada kesamaan yang tidak bisa dihilangkan begitu saja.

Kesamaan ini seharusnya yang harus menjadi poin dialog dari ketiga agama untuk belajar hidup damai bersama sebagai “keluarga Ibrahim”, bukan perbedaan yang jelas ada setelah Isa Almasih atau Yesus Kristus, dan Nabi Muhammad.

Fokus kepada perbedaan hanya akan membuat keuntungan para politikus untuk menggunakan isu yang ada dan selalu membenturkan para pengikut disaat dibutuhkan.  Para pengikut sejati agama Samawi harus melawan dan menolak para politikus SARA ini.

Kristen Bukan Yahudi

Dalam polemik Israel Palestina, frame politik yang terjadi adalah Israel itu Yahudi-Kristen, dan Palestina itu Islam. Ini adalah frame yang secara logis memang mudah dipilih para politikus untuk meraup suara dari para fanatik agama.

Disini pentingnya dimengerti bahwa Kristen dan Yahudi bukan agama yang sama. Tapi memang Kristen mengakui bahwa iman Kristen berakar dari kepercayaan Yahudi. Sebab itu Kristen sering disebut Judeo-Christianity. Disinilah kemudian terjadi celah politik yang gampang digunakan para politikus untuk framing sesuai kepentingan mereka.

WNI Kristen tidak bisa serta merta ikut “mengutuk Israel” karena memang iman Kristen tidak diajar untuk mengutuki, tapi memberkati. Di lain pihak WNI Kristen, tidak mungkin membenci Palestina, karena Kristen percaya segala suku, kaum, bahasa, dan bangsa itu adalah milik Tuhan. Tuhan cinta segala bangsa!

WNI Kristen memiliki pandangan dunia (worldview) yang  paradoks antara Ilahi dan humanis.  Hukumnya orang Kristen, bukan hukum pedang, tapi hukum Kasih, yang secara eksplisit dinyatakan langsung oleh Yesus Kristus, tokoh sentral Iman Kristen.

Mat 22:37 Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
Mat 22:38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. 22:39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Mat 22:40 Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Inilah sebabnya Kristen diajar untuk selalu menghormati pemerintah (Rom 13) dan menjadi Garam dan Terang dimanapun berada. Agen perubahan dan perdamaian diseluruh dunia, bukan agen politik, teroris, dan penyebar kebencian.

WNI Kristen memberkati Israel dan Palestina, itulah yang seharusnya dilakukan. Secara politik dan negara, WNI Kristen tunduk dan menghormati langkah politik yang diambil Presiden Jokowi yang pasti untuk kepentingan perdamaian antara Israel-Palestina.

Secara teologis, pandangan Kristen terhadap Israel pun bermacam-macam ada yang percaya Israel tetap bangsa pilihan, ada yang tidak lagi percaya. Jadi, pandang teologis tidak bisa dipakai acuan dalam bernegara, tapi masing-masing WNI Kristen dapat  simpan sebagai iman pribadi.

Lalu bagaimana terhadap Donald Trump, dan Amerika? WNI Kristen pun harus memberkati Donald dan Amerika. Sekali lagi, pengikut Kristus tidak didesain untuk mengutuki dan menyebar kebencian, tapi didesain untuk melakukan kehendakNya demi kepentingan kemanusiaan.

Secara Eskatologis, Iman Kristen percaya Kebhinekaan dibawa sampai ke surga. Segala suku, bahasa, kaum, dan bangsa adalah elemen-elemen yang Tuhan sendiri ciptakan dan akan disempurnakan menjadi “satu manusia baru” (Ef 2:15)

Wahyu 5:9 Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya: “Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa
Wahyu 7:9 Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka.

Sebuah Kesimpulan Praktis

Polemik Israel dan Palestina harus dilihat dari bingkai politik praktis. Donald Trump adalah pemimpin politik bukan pemimpin agama. Tidak ada “fatwa Trump”, yang dia lakukan adalah sesederhana manuver politik yang Jokowi, JK, Prabowo, Mega, bahkan Ahok pun lakukan sebagai politisi.

Agama harus terus dipandang sebagai kekuatan moral (moral power) bukan sebagai kekuatan politik (political power) sehingga benturan antar umat dapat dihindarkan. Pandangan teologis apapun yang dipunyai atas sebuah peristiwa politik, tetaplah pandangan iman yang harus tetap disimpan dalam koridor iman, bukan politik.

Pernyataan lama Dubes Palestina berikut bisa memperlihatkan poin pemikiran artikel ini dari sisi yang berseberangan (sumber):

Di Palestina 50% penduduknya beragama Yahudi dan sisanya beragama Kristen dan Muslim yang berada di daerah Tepi Barat dan Yerusalem.” Ujarnya.
Mehdawi juga heran dengan beberapa orang dan kelompok yang selalu berteriak “alahu akbar” mendukung Palestina dan mengutuk Israel tetapi mereka tidak tahu permasalahannya yang terjadi di Palestina,
“Saya bingung dan heran dengan isu dan teriakan “alahu akbar” dari orang-orang terhadap yang terjadi antara Palestina dan Israel padahal mereka tidak tahu apa-apa dan tidak ada peran sama sekali untuk membantu kami, nol besar.” Ungkapnya

Hanny Setiawan

Mengukur Dampak “Tamparan” Ananda Sukarlan

Jagad sosmed Indonesia kembali bergetar, dan menggeliat. Setelah Pilkada DKI 2017 yang memang mengecewan begitu banyak pihak, tak henti-hentinya Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih menuai berita tak baik. Kali ini, pianis terkemuka Ananda Sukarlan yang menampar muka sang Gubernur demikan telak.

Maestro piano Indonesia yang sudah sangat teruji keIndonesiaannya, melakan Walk Out ketika Gubernur terpilih sedang berpidato.  Bahkan mengkritik secara langsung panita mengapa harus mengundang Gubernur yang secara tidak elok memenangkan Pilkada.  Sangar tenan, bukan? (baca)

Para penulis dan pemerhati isu terkini sosmed seperti Denny Siregar, Eko Kunthadi , Pepih Nugraha dengan gesit menayangkan interpretasi dan opini mereka akan kejadian yang sangat “bersejarah ini”.

Denny dalam tulisannya Perlawanan Ananda Sukarlan pada dasarnya melihat bahwa improvisasi Sang Maestro di acara 90th berdirinya Kolose Kanisus bisa dimaklumi karena masalah hati nurani. Pendukung keras Kebhinekaan ini jelas 100% mendukung Ananda.

Eko lebih lugas lagi bahkan mengajak netizen untuk menjadikan tamparan Ananda ini menjadi sebuah momentum untuk sebuah pergerakan (baca). Pergerakan melawan politisasi agama, dan cara-cara yang tidak benar dalam meraih posisi.

Ajakan Eko ini jelas sangat menarik dikaji. 42% dari penduduk Jakarta (mungkin lebih) masih terluka dan bukan tidak mungkin akan terbakar dengan ajakan ini.  Artinya, Walk Out – Walk Out terhadap pidato DKI1 dan DKI2 akan lebih sering lagi terdengar.  Ngeri juga.

Pepih, dari sudut lain, melihat bahayanya penolakan terhadap gubernur terpilih ini bisa jadi berbau “inkonsistusional” karena sang Gubernur datang melalui undangan resmi bukan penyusup (baca).

Tapi disisi yang lain, dia melihat secara moral tidak bisa dipungkiri luka Pilkada masih mengaga, dan satu-satunya cara bukti kerja DKI1 dan DKI2 harus lebih baik dari Ahok – Djarot, atau Jokowi – Ahok.  Itu yang masih diragukan.

42% adalah sekitar 4 juta penduduk Jakarta, ditambah pendukung Ahok – Djarot dalam dan luar negeri yang kemungkinan bahkan lebih besar jelas bukan hal yang remeh untuk tidak dianggap.

Harapan sang juara untuk merangkul pun sudah pupus dengan pidato pribumi yang seakan-akan memanggil semua sel-sel tidur yang selama jaman reformasi tiarap.

Sebuah “panggilan terselubung” yang sangat meyakitkan hati para pendukung NKRI sejati.  Sudah begitu jauhkan kesesatan itu terjadi, atau memang agenda sesungguhnya baru terlihat sekarang?

Apapaun itu, tamparan Ananda Sukarlan adalah indeed momentum yang baik untuk mengingatkan semua pihak, terutama yang bernafsu jadi pejabat publik dan berlomba di Pilkada 2018.  Mengingatkan bahwa jaman now adalah jaman digital, dimana jejak-jejak digital itu sangat transparan.

Kita bisa berdalih apapun, tapi pada akhirnya rekam jejak kita yang akan menyatakan siapa kita yang sebenarnya. Dan sang Pianis seakan-akan hanya memberikan “Cue” kepada sang Gubernur untuk bertobat.  Mungkin dia tidak begitu mengerti musik. ETA terangkanlah.

Atau mungkin eforia naik jabatan masih belum selesai, sehingga responnya pun tidak pas lagi.  Karena dia menganggap tamparan Ananda sebagai angin lalu, dan berkata

“Bagian kami adalah menyapa semua, mengayomi semua. Jadi itu tanggung jawab saya sebagai gubernur. Jadi saya akan menyapa semua mengayomi semua kalau kemudian ada reaksi negatif, ya itu bonus aja buat saya. Nggak ada sesuatu yang, biasa aja. Rileks” (baca)

Terlihat tidak ada penyesalan sama sekali dengan Pilkada DKI 2017 dan isu yang sesungguhnya yang sedang terjadi. Itu yang sangat disayangkan. Point of No Return, aliran SARA ini terlihat tidak akan dihentikan dan akan terus digunakan untuk tetap menjaga kekuasaan.  Asem tenan!

Benar atau tidak tindakan Ananda, akan bisa dibaca dari banyak sisi, esensi, dan hati nurani. Saya memilih untuk melihat tindakan Ananda adalah ejakulasi kemarahan yang terpendam, dan mewakili ribuan bunga, balon, dan lilin karena begitu laknat dan pekatnya Pilkada DKI 2017.  Anggap saja Ananda sedang berimprovisasi setelah sekian lama hidup dalam musik klasik. Ayo nge-jamz mas 🙂 I love your groove !

Pendekar Solo

Bagaimana Perasaan Ahok Hari Ini?

Hari ini 16 Oktober 2017, Anies – Sandi resmi menjadi Gubernur dan Wakil DKI 2017 – 2022.  Dunia sosmed pun bermunculan opini kanan dan kiri seperti biasa. Proses pahit Pilkada DKI 2017 masih menyisakan luka-luka yang entah kapan bisa sembuh.

Entah dimana Jokowi berpihak, yang jelas sebagai dia tidak mungkin lari dari pelantikan Anies – Sandi. Tahun politik 2019 sudah begitu dekat, Jokowi pun manusia politik yang berhitung untung dan ruginya.  Suara relawan Ahok yang sangat dini menyuarakan mendukung Jokowi terasa sebuah narasi yang sedang dimainkan.

Narasi – narasi tandingan dari pihak Anies – Sandi yang memang lihai dalam membuat framing-framing politis terlihat sedang menyusun cerita baru. Melihat rekam jejak Anies dan timnya, Uno dan gerombolannya, mereka tidak akan kesulitan “membuat bungkusan” menjadi indah, untuk membuat cerita yang indah tentang “Jakarta tanpa Ahok lebih baik.”

Jangan heran juga, kalau berbondong-bodong Prabowo, Setyo Novanto, AHY, Fahri, dan segolongannya muncul dalam pelantikan Anies – Sandi, mereka semua memiliki kepentingan ikut kereta yang sedang berjalan. Sebuah pemandangan yang menggetarkan bagi para relawan Indonesia Baru. Bagaimana nasib Indonesia Baru?

Djarot yang “menolak” untuk hadir bagaikan sebuah oase ditengah pesta kemenangan “tak halal” yang sedang terjadi. Atau mungkin dia hanya lelah melihat semua kemunafikan yang terjadi. Entahlah.

Yang terpikir bagiku cuma satu pertanyaan, “Bagaiman Perasaan Ahok Hari Ini?” Sebuah pertanyaan yang hanya Ahok sendiri yang bisa menjawab selugas-lugasnya.  Meskipun demikan, melihat konstruksi berfikir Ahok, dan pola psikologi dia selama ini, maka kegeraman itu akan tetap ada didalam hati.

Ahok adalah manusia biasa yang memiliki defense mechanism ketika ada pihak lain yang menyerang. Geram melihat ketidakadilan, dan ketidakberdayaan melawan gelombong pengeroyokan politik yang bagaikan begundal-begundal anak sekolah yang menyerang si mata sipit dilorong kampung sebelah rumah.

Tapi Ahok adalah sebuah ciptaan yang baru, yang lama berlalu dan yang baru sudah terbit. Ketika dagingnya dipenuhi dengan kegeraman, ada suara lembut yang memanggil dia, “Ahok, Ahok dimanakah engkau?”

Panggilan itulah yang membuat dia berani mengatakan “Pemahaman Nenek Loe!” demi perang suci melawan korupsi.

Panggilan itu juga yang membuat dia menjadi “binatang yang berbeda” di hutan politik Indonesia.

Panggilan itu jugalah yang akan menenangkan sebuah badai, dan kemustahilan pun menjadi mujizat yang biasa.

Semua orang boleh membuat cerita, narasi, dan frame politiknya, tapi pada akhirnya History adalah His Story – Cerita Nya.  Itulah yang akan membuat Ahok tersenyum, dan bisa berkata, “Setelah aku ingat apa yang mereka lakukan kepadaMu, apa yang mereka lakukan kepadaku tidaklah seberapa“.  Itulah yang disebut percaya.

Be strong my bother. God is with you. 

Pendekar Solo

Politisasi Rohingya Memperlihatkan Pertarungan Sebenarnya

Setelah terbongkarnya kasus Saracen yang telah menjadi “skandal nasional”, lawan politik Jokowi terus mencari celah untuk menghantam Jokowi.  Hadirnya isu Rohingya seakan-akan menjadi jalan orgasme kebencian kelompok anti Jokowi.

Tidak main-main Fadli Zon, Fahri Hamza, Tifatul Sembiring, sampai FPI semua menekan pemerintah, bahkan candi Borobudur pun hendak didemo. Entah kegilaan politik apa lagi yang sedang di rencanakan mereka ini. Mendemo Candi? Come on man.

Meremehkan narasi “Jokowi anti Islam” seperti sudah terlihat dengan jelas sejak Jokowi – Ahok muncul di Jakarta Baru 2012 bukanlah hal yang tepat. Narasi ini telah mampu menjungkalkan, dan membui Ahok dengan memaksa Jokowi melepaskan benteng politiknya. Artinya, narasi ini akan terus dipakai sampai 2019.

Pilihan menggunakan narasi SARA ini adalah pilihan yang tidak bisa dielakkan. Karena pilihan lain seperti “Jokowi tidak mampu”, “Jokowi PKI”, sampai “Jokowi keturunan Cina” ternyata tidak begitu efektif menyalakan sumbu – sumbu pendek.

Tapi kalau sudah sentimen SARA, narasi menjadi liar, ganas, amoral, tapi sangat efektif.  Bagi politikus, godaan menjala pemilih subyektif agama tidak bisa dilepaskan dengan mudah. Sebab itu agama mayoritas akan menjadi sasaran pertempuran para politikus untuk meraup suara.

Kita bisa mengatakan tidak nalar, tidak obyektif, tidak manusiawi, sampai bejar tak bermoral, tapi apakah mereka peduli? TIDAK, dengan huruf besar dan tanda seru yang banyak !!!!!!  Mereka hanya perlu menang dan mendapatkan posisi yang diinginkan. Politikus bro, bukan negarawan. What more can we expect?

Pertarungan sebenarnya Jokowi di 2019, dan bangsa ini secara gambar besar terletak ditangan para pemilih subyektif agamis, selama mereka masih bisa “dibodohi” maka sekuat apapun Jokowi, Ahok, atau siapapun yang melawan arus kebodohan politik SARA ini akan kelibas.

Pendekatan Jokowi dengan Kaos dan Sepeda, yang menjadi puisi  sindiran tidak lucu  Fadli Zon, justru memperlihatkan betapa Jokowi mampu melihat pertempuran yang sebenarnya. Yaitu, pertempuran hati.

Rakyat memilihi Jokowi bukan karena dia gagah perkara dalam diplomasi dan politik, ataupun berhasil di kabinet kerja, ataupun karena infrastruktur yang terbukti benar-benar dibangun. Semuanya itu hanyalah bukti fisik yang bisa diperdebatkan para politikus bermulut nyinyir.

Yang benar-benar membuat rakyat memilih Jokowi, dan terlihat yang pro Jokowi semakin menguat sejak 2014 adalah Jokowi mampu memenangkan hati rakyat. Rakyat jatuh cinta kepada sosok Jokowi sebagai harapan dan pembaharu.

Narasi apapun akan mampu dipatahkan Jokowi, apabila dia tetap dalam track hubungan yang tanpa kepalsuan dengan rakyatnya.

Alias kata, semakin lawan politik Jokowi “neko-neko”(macam-macam, jw), semakin rakyat akan muak dan mengatakan go to hell untuk politisi lintah yang tega menggunakan tragedi kemanusiaan Rohingya untuk kepentingan politik.

Pendekar Solo

Pelajaran Sebuah Kapsul Kosong

Ketika kita percaya, maka kita diciptakan kembali, sebab itu disebut ciptaan baru (II Kor 5:17). Kekuatan dari “percaya” tidak bisa dipungkiri lagi. Bahkan dalam dunia kesehatan ada yang disebut efek placebo, dimana kapsul kosong bisa lebih berhasil dari kapsul yang berisi, semua karena percaya.

Martin Luther pun mengingatkan kembali kepada Ekklesia, GerejaNya, untuk kembali kepada simple credo, “percaya saja” dengan mengingatkan bahwa orang benar hidup dari iman (Rom 1:16-17). Artinya, bukan karena perbuatan manusia tapi perbuatan Tuhan.

Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat  (II Kor. 5:7)

Kebenaran-kebenaran Firman Tuhan yang demikan berkuasa menjadi tidak efektif dalam kehidupan sehari-hari orang beriman karena kita tidak trust lagi dengan semuanya.

Pertempuran awal yang menggoyahkan sebuah kepercayaan, dimulai dengan serangan  doubt  atau ragu-ragu.

Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? (Luk 24:38).

Dari keraguan, akan muncul ketidakpedulian (ignorance), yang akhirnya membawa kepada ketidakpercayaan (unbelief). Lebih hebatnya, apabila diteruskan ketidakpercayaan akan membawa kepada kebencian (hate) terhadap orang yang percaya.

Percaya atau trust tidak memiliki level atau tingkatan. Either kita percaya, atau tidak. 99% percaya adalah sebuah keraguan. Dan kita mengerti percaya yang 100% itulah yang membuat kebenaran menjadi hidup (rhema).

Implikasinya, pertempuran antara keinginan daging dan roh (Rom 8:5) sebenarnya adalah pertempuran antara percaya atau tidak. Dan pertempuran itu ada di pikiran dan perasaan kita. Karena kita melihat dengan mata jasmani, merasakan yang terjadi, sehingga untuk percaya menjadi terasa sulit.

Kepercayaan membutuhkan asupan makanan.  Kita perlu banyak mendengar (Rom 10:17). Artinya, tidak mengkonsumsi ketidakbenaran, lebih fokus kepada kebenaran.

Ketika kita paham bahwa inti pertempuran adalah antara percaya atau tidak, kita tidak akan mudah membuka pintu ketidakbenaran, dan kebohongan didalam hidup kita. Ketika Hawa membuka pintu, maka yang terjadi akhirnya dia tidak lagi percaya FirmanNya, tapi justru percaya dusta si jahat.

Ef 4:27 menyatakan untuk kita tidak memberikan kesempatan kepada si jahat. Si bapak pendusta sekarang ini hanya memiliki satu proyek, menyebarkan kebohongan sehingga orang percaya menjadi ragu-ragu, sampai akhirnya menjadi tidak percaya bahkan membenci kebenaran.

Akankah kemenangan salib tidak lebih meyakinkan daripada sebuah kapsul kosong? KorbanNya sempurna, rencanaNya yang terbaik, pertolonganNya tidak pernah terlambat. Apa yang membuat kita ragu? Percaya saja, pasti kita menang. Just believe.

Hanny Setiawan