Kelompok Haters Adalah Penyakit Sosial yang Sangat Menular

Demokrasi digital sudah hadir dengan segala kebaikan dan keburukannya. KawalPemilu.org, Jasmev, WikiDPR.org, sampai TemanAhok.com hanyalah sebagian contoh bagaimana demokrasi digital atau politik digital dalam lingkup lebih kecil harus mulai dipelajari dan diperhitungkan.

Salah satu keburukan dari demokrasi digital percepatan penularan kebencian terhadap masyarakat oleh kelompok haters.  Saya menyebutkan hanya kelompok haters karena kelompok lovers, pendukung, simpatisan bukanlah penyakit karena mereka menyebar kebaikan.

Kelompoak haters ada tidak hanya di dunia maya, didunia asli kita mengenal banyak kelompok-kelompok pembenci yang biasanya bersangkutan dengan SARA.  Ada kelompok Nazi yang sangat membenci orang Yahudi, mirip dengan kelompok anti-zionis. Ada juga kelompok benci orang hitam seperti Ku-Klux-Klan dengan simbol-simbol salib.  Ada juga kelompok pembenci LGBT yang justru membuat kelompok minoritas ini bangkit dan menjadi kekuatan laten.

Intinya, kebencian itu hadir bukan karena digital, tapi karena memang itu bagian dari penyakit sosial yang sama tuanya dengan perzinahan, pencurian, penipuan, dan lain sebagainya. Kehadiran teknologi digital hanya berperan mempercepat penularan.

Benar, Anda tidak salah baca.  Kebencian itu menular!  Kebencian bisa berganti obyek yang dibenci tapi sifat menularnya itu tetap.  Jokowi haters, Ahok haters, Prabowo haters, LGBT haters, sampai kepada Islamphobia, Kristenphobia, Hinduphobia, dan yang lain-lain.  Semua itu disadari atau tidak adalah PENYAKIT MENULAR.

***

Jack Scafer P.hd mengembangkan apa yang disebut the saven-stage hate model sebuah model untuk menerangkan psikopat kebencian.  Sangat menarik untuk disimak dan dipelajari sehingga sebagai pelaku demokrasi digital yang aktif, netizen tidak terjangkit wabah kebencian.

Indikasi awal pembenci baik itu karena di-setting (dibayar) atau karena benci secara natural adalah seluruh energi didedikasikan untuk satu obyek semata.  Bagi blogger bisa dicek 10 artikel terakhir apakah menulis hal yang sama dan ditujukkan untuk menjelekkan, mengkritik, mencari kesalahan obyek tersebut.

Ketidaknormalan terjadi diawal penyakit ini ketika kita selalu membicarakan, menuliskan, meneliti, bahkan dalam kasus tertentu sampai mengabadikan dengan foto atau video obyek yang kita tidak sukai.  Manusia normal akan membicarakan dan tertarik dengan apa yang kita sukai, bukan dengan apa yang kita benci. Camkan itu, itulah awalnya.

Dari ketidaknormalan itu, menurut Jack Scafer di Psychology Today, para pembenci obyek yang sama akan berkelompok dan kemudian dengan cepat akan memiliki identitas kelompok.  Kelompok ini kemudian meremehkan (disparage) dan menghina (taunt) obyek atau target kebencian.  Bahasa jawanya suka ngenyek (menghina) dan sangat nylekit (menyakitkan).

Setelah sampai stadium akut haters bisa menyerang baik dengan atau tidak dengan senjata bahkan sampai merusak target atau obyek. Sebagai contoh adalah yang terjadi hari ini dengan perusakan gedung KPK (Demo di Depan KPK Ricuh, Pendemo Lempari Polisi dan Gedung KPK) Gambar berikut memperlihatkan 7 tahap model kebencian tersebut.  Sangat berbahaya.

Ilustrasi: sowhatihearyousaying.blogspot.co.id
Ilustrasi: sowhatihearyousaying.blogspot.co.id

Karena mengerti dan percaya konsep ini, maka saya memang mengambil jarak dengan orang-orang yang terjangkiti dengan penyakit kebencian ini.  Saya melihatnya penyakit ini hanya bisa dikalahkan dengan unconditionalforgiveness atau pengampunan tanpa syarat.  Jadi kalau kita ikut sakit hati, maka kita sudah ketularan. Kita pun akan jadi haters, biarpun obyek/targetnya lain.

Sebab itu, meskipun tidak mendukung Prabowo saya tidak akan menjadi Prabowo haters.  Meskipun saya tidak mendukung LGBT saya pun tidak akan menjadi LGBT haters.  Dari hati terpancar kehidupan, demikan kata buku Amsal.  Lebih baik menjaga hati dan terus tetap waras sehingga tidak terjebak kebencian.

Meskipun sudah dibuat hukum yang melarang hate-speech, kebencian kadang lebih gampang dirasakan daripada dibuktikan. Kita akan merasakan seseorang menghina kita atau menghormati kita.

Sebagai contoh, sebagai keturunan Tionghoa, saya tidak keberatan dan happy-happy saja dipanggil Koh Hanny, dan sampai detik ini banyak yang memanggil saya koh, ko, bahkan yang aneh maskoh Hanny.  Tapi ketika seseorang memanggil ‘koh Hanny’ dengan nada yang berbeda, kita tahu bahwa itu maksudnya mengejek SARA.  Sesuatu yang saya kadang saya alami di kampung-kampung di masa kecil saya.

Intinya, kebencian tidak bisa dilawan hanya dengan dihukum dan dipenjarakan. Kita harus menghentikan penyebaran kebencian dengan berhenti memberikan feedback kepada para pembenci.   Seperti kata Jack Scafer yang adalah Analis Perilaku FBI:

Haters cannot stop hating without exposing their personal insecurities. Haters can only stop hating when they face their insecurities.

Bahasa gampangnya, haters butuh psikolog karena mereka sakit jiwa.  Believe it or not.

Pendekar Solo

 

Sumber : Tulisan ini pertama di unggah di sini

Malaysia & Brimob Panas, Apa Yang Terjadi?

9 Mei 2018 tiba-tiba menjadi hari bersejarah, bukan saja 1 tahun yang lalu seorang Ahok sudah dizolimi dan dimasukkan bui, tapi hari ini pemilu Malaysia mengalami pertempuran politik terbesar setelah Najib, Perdana Mentri yang ada dikalahkan Mahathir Mohammad yang sudah berumur 92 tahun.

Di lain pihak, hari ini di Mako Brimob, tempat Ahok ditahan, 6 orang meninggal (5 polisi, 1 tahanan). Kematian para polisi tersebut juga mencengangkan karena di gorok, dan diperlakukan diluar perikemanusiaan. Mirip dengan Tragedi G 30S  1963, biadab!

Dua peristiwa, 1 hari di dua dunia. Apakah ini kebetulan? Bisa ya bisa tidak. Tapi bagi saya tidak kebetulan. Indonesia – Malaysia memiliki destiny yang sudah menyatu.  Bahkan bahasa pun saling mengerti.

Gusti ora Sare, hari ini Dia menunjukkan bahwa Dia terus memperhatikan apa yang terjadi dan ikut aktif mengatur supaya semua baik adanya.

Ini waktunya kita semua berdoa supaya kerajaanNya datang kehendakNya untuk merelease Indonesia – Malaysia menjadi dua negara yang membawa Api ke bangsa-bangsa, terutama Timur Tengah.

 

Hanny Setiawan

Wajib atau Gemar Belajar?

Lagu wajib belajar sudah cukup lama mengindoktrinasi pendidikan Indonesia. Lagu yang bagus dan sangat inspiratif di awal-awal Indonesia berdiri. Dimana tidak semua keluarga mengerti arti pentinya pendidikan, maka pemerintah memaksa dengan kampanye WAJIB BELAJAR.

Akibat dari kampanye Wajib Belajar inilah yang membuat anak-anak tidak suka belajar, dan bahkan terkesan “membenci sekolah”.

Sekolah yang sudah menjadi penjara anak dalam arti sesungguhnya melahirkan robot-robot yang pada akhirnya menyamaratakan semua anak. Sangat sosialis.

Every child is different. Setiap anak itu beda, tapi setiap anak hidup dalam 1 generasi yang sama. oleh sebab itu, dalam satu generasi kita bisa melihat pola perilaku yang mirip dari satu anak ke anak yang lain meskipun secara individual berbeda. Generasi Milineal, sebagai contoh.

Sebab itu, sekolah yang baik adalah sebuah komunitas pembelajar dari semua stakeholder, yang pada akhirnya akan membuat anak-anak menjadi GEMAR BELAJAR.

Ketika anak-anak sudah gemar belajar, dengan sendirinya mereka akan terus mencari dan mencari. Inilah yang disebuth PEMBELAJAR (Learner).

Sebab itu saya ajak kita semua ikut mendorong #GerakanGemarBelajar untuk mengantikan pemikiran #WajibBelajar sehingga kita bisa melihat generasi baru Indonesia yang suka belajar untuk membangun Indonesia
Baru.

Hanny Setiawan
Relawan Indonesia Baru

Mengalir Dalam Kegerakan

Kemana air mengalir? Ketempat-tempat yang lebih rendah. Itu prinsip sederhana yang bisa digunakan untuk memahami bagaimana mengikuti aliran sungai kehidupan.

Sungai kehidupan akan mengalir menuju “tempat-tempat yang rendah” yang adalah orang-orang yang HAUS dan LAPAR akan Tuhan.

Ikutilah orang-orang yang haus dan lapar akan Tuhan, disanalah ada aliranNya, River of Fire.

Ketika aliran sudah berkumpul deras dalam bentuk Tsunami, tembok sebesar apapun akan dihancurkan, bahkan kota-kota bisa dilibas habis.

Jangan pernah meremehkan 1 hati yang haus dan lapar, karena ada kemungkinan besar kesanalah air itu mengalir.

Berbahagialah orang yang LAPAR dan HAUS akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan (Mat 5:6)

#message #principle #revelation

Hanny Setiawan

Ditunggu Tuhan

Ditunggu Tuhan

Ketika kita berdoa, kita menunggu Tuhan, memohon kepadaNya, bersyukur kepadaNya. Bagaimana apabila Tuhan yang ternyata menunggu kita?

Dia menunggu kita menari bersama denganNya, menarikan sebuah tarian baru yang diajarkanNya.

Dia menunggu kita menyanyi bersama denganNya, menyanyikan sebuah lagu baru yang ditulisNya.

70 tahun sudah selesai, waktu menunggu sudah selesai.

Ini waktunya menari.
Ini waktunya menyanyi.
Ini waktunya melangkah.

Tuhan sudah menunggu, malaikat-malaikatNya sudah mulai, bahkan kumpulan para saksi di awan-awan sudah menggoyangkan kaki

Mari kita menari!

#PesanProfetis #70thIsrael #NewDay #NewDance #NewSong

Kepentingan Bersama, Prinsip Penggunaan Karunia

Prinsip adalah sesuatu yang mutlak. Tidak perlu “tanya Tuhan”, sudah pasti jawabannya. Tidak perlu tanya Tuhan apakah kita harus mengampuni, karena kita harus selalu mengampuni, seperti Kristus sudah mengampuni. Sebagai contoh.

***

Perintah Tuhan untuk setiap individu, kelompok, dan golongan bersifat pribadi dan sangat subyektif yang kita semua tidak bisa menghakimi, kecuali secara khusus kita diberi pesan untuk disampaikan.

Ketika visi dan misi yang secara pribadi kita sudah dapat sudah ada diruang publik, maka tiba-tiba visi dan misi itu menjadi bagian dari Tubuh Kristus yang lebih besar, yang perlu DISELARASKAN (alignment) dengan bagian tubuh yang lain.

Itulah yang dikatakan Paulus sebagai KEPENTINGAN BERSAMA.

Ketika KEPENTINGAN BERSAMA terganggu, apalagi kepentingan nasional terganggu, apalagi kepentingan kemanusiaan (bangsa-bangsa, suku-suku) terganggu, sudah sepatutnya secara publik dipertanyakan.

Penggunaan karunia (gift) kepentingannya adalah untuk seluruh Tubuh Kristus. Itu PRINSIP yang tidak perlu ditanya lagi.

Sebab itu kalimat “Apa urusan kalian?” adalah contoh kalimat yang memperlihatkan ketidakmengertian prinsip sederhana yang sangat universal ini.

***

Ketidakdewasaan tubuh Kristus diperlihatkan dengan masing-masing menggunakan karunia, talenta, dan kekuatannya tanpa kita memperhatikan suasana kebatinan keluarga besar.

Lagi-lagi sebuah perenungan dan otokritik kita bersama. PRnya banyak 😉

#NewApostolicMission
#Otokritik

Zaadit Taqwa, Puncak Gunung Es “Keliaran” 10 Tahun SBY

Kartu kuning dan sempritan ketua BEM UI, Zaadit Taqwa, kepada Jokowi ditengah pidatonya menjadi viral. Pak Presiden dengan santai menanggapi, netizen seperti biasa menjadi ribut, sampai level menteri dan anggota DPR pun  ikut bersuara.

Bahkan yang terakhir, Mata Najwa pun menayangkan.  Artinya, Zaadit Taqwa berhasil mendapatkan panggung politik untuk bersuara lebih kencang. Biarpun terlihat Zaadit masih kurang pendukung, paling tidak letusan “bom kartu” bisa mencuri perhatian bangsa ini.  Sekelas ini, apakah kita masih bisa percaya hanya dinamika anak muda? Saya tidak percaya.

Pro dan Kontra masih seputar etis atau tidak, bully membully boleh tidak, sampai ke esensi kritik yang coba disampaikan. Tapi, belum ada yang betul-betul melihat bahwa Zaadit Taqwa hanyalah puncak gunung es dari sebuah keliaran politk selama 10 tahun jaman SBY.

Saya perkirakan Zaadit ada di awal 20-tahunan umurnya.  Di tahun 2004 (14 tahun yang lalu) ketika SBY mulai menjabat Zaadit masih SD-SMP. Umur yang dia belum tahu apa-apa. Minimal dia belum banyak mengerti tentang politik. Lalu pertanyaan besarnya adalah siapa yang meng-grooming (menyiapkan)  Zaadit Taqwa yang menjadi kader yang militan. Ada berapa banyak Zaadit-Zaadit yang lain?

Isu itu lebih menakutkan dan membahayakan negara. Bukan sekedar dinamika. Kartu kuning, bom molotov, sampai bom betulan secara filosofis adalah produk yang sama dari sel-sel radikalisme yang diaktifkan.  I will not take it easy, Mr. President!

10 tahun SBY adalah waktu bertumbuhnya benih-benih radikalisme yang akhirnya mulai kuncup dan muncul di jaman now.  Kebijiakan politik SBY yang selalu abu-abu dan “ngambang” yang terkenal dengan istilah one enemy is too many and a hundred friends too few telah membawa bangsa ini ketitik rawan ini.

Ketidaktegasan, anggap enteng, sampai bermain api dengan radikalisme dan sektarian harus dirubah.  Apabila Pak Jokowi masih menganggap ini hanya sebuah dinamika dan tidak ada narasi besarnya, terlalu naif.  Kalau kita cuma menganggap soal etika, itu juga masih naif.  Kalau kita menganggap kesalahan UI, berapa lama Zaadit Taqwa di UI, belum lama. Tidak dengan cepat dia menjadi seperti itu.

Narasi besar yang sudah disiapkan lama sejak jaman SBY telah terganggu dengan munculnya dua orang gila Jokowi-Ahok yang mampu membuat kelompok besar ini menjadi blingsatan.

BIN (Badan Intelijen Nasional), saya yakin sudah memetakan kekuatan yang mampu mengkaktifkan sel pasif sepert Zaadit ini menjadi aktif.  Kata kunci “Pribumi” sudah di suarakan dengan lantang 2017, mereka sudah siap perang, apakah kita cuma mau berdiam diri dengan pasrah, serta menganggap ini mainan anak-anak?

Saya berdoa dan berharap, para petinggi negara ini waspada, 10 tahun adalah waktu yang cukup untuk menyiapkan dana, tenaga, jaringan, dan rencana.  Apa yang kita lihat hanyalah letupan-letupan kecil untuk testing the water.

Be alert, wasapadah, karena yang Jahat akan bertambah jahat, yang baik akan bertambah baik.  Garis demarkasi hitam dan putih akan semakin kelihatan. Semua demi satu narasi lebih besar dari apa yang mereka bisa bayangkan, yaitu narasi Tuhan untuk Indonesia: Indonesia Baru!

Pendekar Solo

Tuduhan Kristenisasi Propaganda Murahan Politikus SARA

Kekristenan tidak mengenal Kristenisasi.  Itu harus dicatat dengan tinta tebal baik bagi pengikut Kristus maupun pemeluk agama lain, terutama para politikus, dan pejabat publik yang kerap menggunakan isu ini untuk kepentingan politik.

Related: Pernyataan Sultan Tentang Baksos Mengungkap Kenapa Intoleransi Semakin Tinggi

Tokoh sentral dalam iman Kristen adalah Yesus Kristus yang dipercaya mati di kayu Salib di Golgota karena konspirasi iman-imam Yahudi dan pejabat Romawi. Dipercaya bangkit di hari ketiga,bagi umat Kristen, Yesus Kristus tidak hanya menjadi tokoh, tapi juga Tuhan (Kurios).

Kematian dan kebangkitanNya memiliki otoritas (authority) dan kuasa (power) untuk membangun Ekklesia atau tubuh Kristus atau Gereja Universal  dan juga disebut christendom atau kekristenan dalam bahasa yang dimengerti umum.

Artinya, kekristenan tidak dimulai dengan pedang, dan perang, tetapi justru dimulai dari kematian Tuhan yang disertai kemenangan atas maut melalui kebangkitanNya.

Kalau kekristenan berkembang, bukan karena mengkristenkan dengan cara perang ataupun karena diakonia (pelayanan-pelayanan sosial) yang dilakukan. Tapi karena otoritas dan kuasa Yesus Kristus yang diakui sebagai Raja di bumi dan di surga.

Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.

PerintahNya jelas untuk mengajar, bukan memaksa, membujuk, atau bahkan menakut-kati sampai membunuh melalui perang-perang.  300 tahun pertama sejak Yesus, kekristenan dipenuhi dengan martir karena mempertahankan iman.

Perang Salib yang tejadi di abad pertengahan setelah jamannya Konstantin, tidak bisa menjadi sebuah model kekristenan yang benar. Dan sudah diakui sebagai sejarah kelam kekristenan yang disebabkan karena kekristenan yang diinstitusikan oleh Konstantin.

Tuduhan Gold, Glory, and Gospel yang konon dilakukan kerajaan Inggris yang kemudian dilabelkan sebagai pola kristenisasi sangat mengganggu, bahkan menyakitkan bagi umat Kristen.  Karena jelas itu hoax, dan kebohongan politis yang terus dipertahankan demi kepentingan-kepentingan politik.

Kekristenan dimulai dari iman yang sangat pribadi kepada pribadi dan pekerjaan Kristus.  Konsep kristenisasi tidak dikenal sama sekali dalam kekristenan aliran mainstream manapun (setahu saya).

Mulai dari Oikumene (ecumenical), Injili (evangelical), sampai kepada pentakota (pentecostal) atau yang liberal sekalipun, Kekristenan pada dasaranya sangat humanis bahkan cenderung spiritual dan sangat terbuka.

Perlu dicatat, radikalisme berdasarkan agama kristen jelas ada seperti Klux Klux Clan, tapi tentunya tidak bisa dijadikan model kekristenan yang umum.

Melabel baksos dengan Kristenisasi adalah bagian dari propaganda murahan para politikus SARA demi kepentingan kekuasaan.  Melayani sesama manusia dengan judul apapun bukanlah sesuatu yang menakutkan. seharusnya semua agama mendukung!

Pindah Agama

Selain alasan politis, isu Kristenisasi muncul takut jumlah Kristen meningkat alias pindah agama.  Sebuah alasan naif dan termasuk mempermalukan agama masing-masing.

Beragama adalah Hak Asasi Manusia, berarti pindah agama pun adalah hak masing-masing. Orang Kristen yang pindah ke agama lain pun tidak sedikit. Mengapa mereka pindah? Ya karena belum yakin dengan agamanya sendiri, dan masih mencari yang pas.  Kalau sudah yakin dan pas tidak mungkin orang pindah agama.

Negara harus menjamin semua aktifitas agama dan juga yang bersinggungan dengan ruang-ruang publik. Semua harus diberi kesempatan dan berdialog dengan bebas.

Dalam dialog-dialong akan muncul dinamika dan interaksi, dan selama itu tidak melanggar hukum pidana, dan batas-batas moral, biarkan semua berjalan dengan natural.

Ketakutan pindah agama sama absurdnya dengan kebanggaan orang-orang yang pindah agama (artis, tokoh, dan lain lain).  Tidak ada yang istimewanya, justru yang istimewa adalah ketakutan dengan baksos, batu di kali, lambang ambulan, sampai dengan bunga dan lilinnya Ahok.  Itu baru benar-benar istimewa, bloonnya.  Dah gitu aja. Bye.

Hanny Setiawan

Referensi:

Mencurigai Umat Kristen

Merindukan Pengganti Gus Dur

Pertemuan virtual saya dengan Gus Dur terjadi hampir seperempat abad yang lalu. Pertemuan melalui sebuah tulisan dia yang berjudul “Beri Jalan Orang Cina”. Seingat saya, tulisan itu ditayangkan disebuah harian terbitan Jogja yang setiap pagi rajin saya baca sejak SMP.

Tanpa sadar sejak itu saya mengikuti pemikiran-pemikian almarhum baik sengaja ataupun tidak.  Sayang, sampai kepergian Gus Dur, saya belum sempat ketemu beliau dan bercerita bagaima suka-duka menjadi WNI Kristen suku Cina.

Mencuatnya kasus Ahok 2017 mau tidak mau mengingatkan kita kepada sosok guru, negarawan, budayawan, dan pemikir Islam yang bisa diterima semua kalangan ini.

Gus Dur mampu mengayomi bukan hanya orang Islam tapi juga kelompok non Islam, itu yang membuat dia menjadi sangat spesial. Terlepas dari kelemahan sebagai manusia biasa, Gus Dur adalah sosok luar biasa yang menurut saya adalah sebuah manifestasi dari apa yang sekarang disebut Islam Nusantara.

Apa yang dimulai oleh Gus Dur harus bisa dilanjutkan bahkan dikembangkan. Secara budaya, sejak reformasi, Indonesia mengalami degradasi nilai ke titik nadir. Peristiwa-peristiwa now membuktikan rendahnya kebatinan bangsa sekarang.

Mulai dari demo berjilid, politisasi SARA masif, sampai sesederhana toko Coklat yang pro radikal, dan wartawan yang dipecat hariannya karena bersuara di sosmed pribadi, karena ketakutan kepada keroyokan massa.

Uniknya Gus Dur, bukan hanya dia mampu menjelaskan, dan mengayomi, dia berani untuk tegas dan berada di garis depan apabila dibutuhkan. Ketika dia diturunkan dari Presiden oleh Amien Rais, cs, Gus Dur memperlihatkan kenegarawannya dengan tidak membuat negara gaduh.

Paska menjadi Presiden, Gus Dur pun dengan tenang melanjutkan perjuangannya di Ciganjur sebagai seorang Gus. Itulah sosok yang dibutuhkan bangsa ini, terlebih waktu ini.

Sosok yang bisa mengajarkan bangsa ini arti “Rahmatan ‘lil Alamin” kepada semua WNI tanpa melihat suku, agama, ras, dan agama.

Catatan kecil ini saya tulis karena kegembiraan menemukan artikel lama Gus Dur di Gusdur.net online. Saya tidak berhalusinasi, tulisan itu betul-betul ada dan masih hidup sampai sekarang.

Seakan-akan Gus Dur ngomong, “Wis dikandani, beri jalan kepada orang Cina, tanah Abang ruwet kan?  Tinggal nyoblos Ahok aja koq repot…”  Gus…Gus..!

Pendekar Solo


Beri Jalan Orang China
Oleh: Abdurrahman Wahid
Sumber : Gusdur.net

Jadi orang Cina di negeri ini, di masa ini pula, memang serba salah. Walaupun sudah ganti nama, masih juga ditanyakan ‘nama asli’nya kalau mendaftarkan anak ke sekolah atau jika membuat paspor. Mungkin, karena memang nama yang digunakan terasa tidak pas bagi orang lain, seperti nama Nagaria. Biasanya naga menggambarkan kemarahan dan keganasan. Apakah si naga yang riang gembira ini tertawa-tawa? Hartadinata, terasa lucu, karena tidak klop antara kekayaan dan keanggunan jabatan, antara harta dan nata.

Ternyata bukan hanya karena nama baru orang-orang Cina terasa tidak sreg di telinga orang lain. Tetapi karena keputusan politik, untuk membedakan orang Cina dari pribumi. Memang tidak ada peraturan tertulis, melainkan dalam bentuk kesepakatan memperlakukan orang Cina tersendiri. Mengapa? Karena mereka kuat, punya kemampuan terlebih, sehingga dikhawatirkan akan meninggalkan suku-suku bangsa lainnya. Apalagi mereka terkenal dalam hal kewiraswastaan. Kombinasi kemampuan finansial yang kuat, dan kemampuan lain yang juga tinggi, dikhawatirkan akan membuat mereka jauh melebihi orang lain dalam waktu singkat.

Secara terasa, ‘kesepakatan’ meluas itu akhirnya mengambil bentuk pembatasan bagi ruang gerak orang Cina. Mau jadi tentara? Boleh masuk AKABRI, lulus jadi perwira. Tetapi harus siap menerima kenyataan, tidak akan dapat naik pangkat lebih dari kolonel. Mau jadi dokter? Silakan, namun jangan mimpi dapat meniti karier hingga menjadi kepala rumah sakit umum. Mau masuk dunia politik? Bagus, tetapi jangan menduduki jabatan kunci. Di birokrasi? Jadi pejabat urusan teknis sajalah, jangan jadi eselon satu. Apalagi jadi menteri.

Sialnya lagi, ‘jalan buntu’ itu ternyata tidak membawakan alternatif yang memuaskan. Jalan terbuka satu-satunya adalah mencari uang. Dan itu sesuai pula dengan kecenderungan sosiologis mereka sejak masa lampau, karena di masa kolonial pun mereka hanya boleh cari uang. Usaha berhasil, uang masuk berlimpah-limpah, kekayaan makin bertambah.

Celakanya, justru karena itu mereka disalahkan pula: penyebab kesenjangan sosial. Akumulasi modal dan bertambahnya kekayaan ternyata tidak membawa keberuntungan. Cara mereka menggunakan uang dinilai sebagai penyebab kecenderungan hedonistik di kalangan generasi muda kita, padahal permasalahannya sangat kompleks. Kekayaan mereka dianggap diperoleh melalui pengisapan si kecil, padahal orang Cina hanyalah satu saja dari sekian banyak faktor kemiskinan.

Dengan kata lain, orang Cina dipersalahkan bagi kebanyakan hal yang dirasakan tidak benar dalam kehidupan kita. Salah satu hukum kehidupan masyarakat adalah pentingnya kemampuan bertahan. Potensi untuk survive ini dimiliki orang Cina, di mana pun mereka berada. Dan potensi itu diwujudkan di negeri kita oleh mereka, dengan memanfaatkan satu-satunya ‘jalur kolektif’ yang masih terbuka: bidang ekonomi. Segala tenaga dan daya dicurahkan untuk mencari kekayaan. Perkecualiannya hanyalah sedikit orang Cina yang menjadi intelektual, akademisi, tenaga profesi, politisi dan sebagainya.

Kemampuan bertahan demikian tinggi bila dimampatkan ke dalam sebuah ‘sasaran kolektif’ mencari kekayaan, sudah tentu sangat besar hasilnya. Apa pula dibantu oleh kemudahan di segenap faktor produksi dan sektor usaha. Karenanya wajar-wajar saja bila mereka berhasil, tidak perlu dikembalikan kepada sifat serakah, atau direferensikan kepada rujukan akan licin dan sejenisnya. Bahwa banyak sekali orang Cina melakukan hal-hal seperti itu, tetapi tentunya tidak dapat dianggap sebagai watak rasial atau sifat etnis dari orang Cina. Orang lain juga berbuat sama.

Dengan demikian, persoalannya bukanlah bagaimana orang Cina itu bisa dibuktikan bersalah, melainkan bagaimana mereka dapat ditarik ke dalam alur umum (mainstream) kehidupan bangsa. Bagaimana kepada mereka dapat diberikan perlakuan yang benar-benar sama di segala bidang kehidupan.

Tanpa perlu ditakutkan bahwa sikap seperti itu akan memperkokoh ‘posisi kolektif’ mereka dalam kehidupan bangsa, karena hal-hal seperti itu dalam jangka panjang ternyata hanyalah sesuatu yang berupa mitos belaka. Keperkasaan orang putih ternyata dapat disaingi oleh keperkasaan orang hitam di Amerika Serikat. Orang Melayu di Singapura juga menyimpan kemampuan sama maju dengan orang Cina, seperti semakin banyak terbukti saat ini. Begitu pula bangsa-bangsa lain, baik yang menjadi minoritas maupun mayoritas.

Tesis pokoknya di sini adalah: dapatkah kelebihan kekayaan orang Cina dimanfaatkan bagi usaha lebih memeratakan lagi tingkat pendapatan segala lapisan masyarakat bangsa kita di masa depan?

Jawabnya, menurut penulis, adalah positif. Orang Cina, sebagaimana orang-orang lain juga, dapat di-appeal untuk berkorban bagi kepentingan masa depan bangsa dan negara. Tentu dengan tetap menghormati hal-hal mendasar yang mereka yakini, seperti kesucian hak-milik dari campur-tangan orang lain.

Pemindahan kekayaan secara masif bukanlah barang baru bagi orang Cina, karena mereka pun baru saja melakukan hal itu, dalam bentuk merampungkan upaya akumulasi modal yang bukan main besarnya. Salah satu instink untuk tetap bertahan hidup bagi orang Cina adalah realisme sangat besar yang mereka miliki. Akal mereka akan mendiktekan keputusan pemindahan kekayaan secara masif kepada mereka yang lebih lemah, dalam upaya mendukung pihak lemah itu agar juga menjadi kuat. Tetapi itu semua harus dilakukan dengan menghormati kesucian hak-milik mereka, bukan dengan cara paksaan atau keroyokan.

Kalau begitu duduk perkaranya, jelas akses orang Cina kepada semua bidang kehidupan harus dibuka, tanpa pembatasan apa pun. Kalau sekarang ada tiga orang Arab menjadi menteri, tanpa ada pertanyaan atau kaitan apa pun dengan asal-usul etnis atau rasial mereka, hal yang sama juga harus diberlakukan bagi orang Cina kepada semua bidang kehidupan harus dibuka, tanpa pembatasan apa pun. Kalau prestasi para dokter orang Cina sama baiknya dengan yang lain-lain, mereka pun berhak menjadi kepala rumah sakit umum. Begitu juga menjadi jenderal, dan demikian seterusnya.

Cerita gurau yang luas beredar menyebutkan perbedaan orang Jawa dari orang Cina. Orang Jawa, kata cerita itu, akan senantiasa menanyakan kesehatan kita kalau bertemu: “Sampean waras?” Bagi orang Jawa yang mudah masuk angin dan sebagainya, kesehatan adalah perhatian utama. Ini berbeda dengan orang Cina. Kalau berjumpa dengan orang lain, pertanyaan yang diajukan: “Sampean apa sudah cia?” alias apakah sudah makan atau belum. Mengapa? Karena mereka dahulu datang kemari akibat bahaya kelaparan di daratan Cina, negeri asal mereka.

“Keanehan” seperti itu adalah karakteristik etnis, yang tidak boleh mengganggu keserasian hidup sebuah bangsa. Apalagi bagi bangsa yang pada dasarnya sudah sangat heterogen, seperti bangsa kita. Kita sudah harus dapat melihat karakteristik khusus orang Cina seperti juga ‘keanehan’ suku-suku bangsa kita yang lain. Ini berarti kita harus mengubah cara pandang kita kepada orang Cina. Mereka harus dipandang sebagai unit etnis. Bukan unit rasial.

Kalau kita bisa menerima kehadiran orang Flores, Maluku dan Irian sebagai satuan etnis – padahal mereka bukan dari stok Melayu (karena stok mereka adalah Astromelanesia), maka secara jujur kita harus melakukan hal yang sama kepada stok Cina. Juga stok Arab. Mereka bukan orang luar, melainkan kita-kita juga.

Mudah dikatakan tapi sulit dilakukan. Itulah reaksi pertama pada ajakan “menyatukan dengan orang Cina”. Akan banyak alasan dikemukakan dan argumentasi diajukan. Karena, memang, dalam diri kita telah ada keengganan mendasar untuk menerima kehadiran orang Cina sebagai “orang sendiri”. Kita sudah terbiasa mau menerima uang mereka tanpa merasakan kehadiran mereka.

Boleh saja keengganan bahkan ketakutan seperti itu kita beri sofistikasi sangat canggih. Tetapi, ia tetap saja merupakan keengganan dan ketakutan. Sesuatu yang irasional. Justru itulah yang harus kita perangi, kita jauhi sejauh mungkin.

Mengapakah hal itu menjadi keharusan? Karena hanya dengan perlakuan wajar, jujur dan fair dari kita sebagai bangsa kepada orang Cina sajalah yang dapat mendorong timbulnya rasa berkewajiban berbagi kekayaan dan nasib antara mereka dan
pengusaha kecil kita. Ini kalau kita benar-benar jujur, lain halnya kalau tidak.

Sumber: Majalah Editor, 21 April 1990

Panggilan, Perjalanan, dan Perjuangan, Catatan Kecil “Pak Pendeta”

23 Desember 2017  telah terlampaui. 51 menit setelah 24 jam menikmati apa yang disebut “ulang tahun”.  Sebuah perjalanan baru di mulai lagi, perjuangan sudah terlihat di depan mata untuk menyelesaikan panggilan.

Beberapa catatan kecil menarik untuk dicoretkan secara digital supaya menjadi sejarah tersendiri didunia maya. Sehingga suatu kali catatan kecil ini mungkin bisa memberkati dan menginspirasi banyak orang untuk ikut serta menyelesaian panggilan-panggilan hidupnya masing-masing.

Setelah Surabaya, Jogja, Jakarta, Semarang, kembali juga ke kota Solo, dirumah pemberitan Tuhan di Joyontakan. Rumah yang sudah 1 tahun ini melindungi keluarga kecil saya untuk tidak kepanasan, kehujanan, dan tidak menjadi homeless. 

Selalu sebuah perasaan aneh tersendiri ketika “pulang rumah”. Tidak perduli berapa jauh, tidak perduli kemana kita pergi, pada akhirnya semua akan pulang ke rumah. Itulah realitasnya.  Home sweets home.

Pagi-pagi, si kecil Gio membawa 1 lilin dan mulai menyanyikan tiup lilinnya, dan memberi salam ulang tahun. She is an amazing sweet girl indeed. Sebuah ritual ultah yang sangat sederhana tapi sangat nikmat dengan makan pagi bersama Istri (Yanty), si sulung (Ting-Ting), dan bungsu (Gio).

Pagi 23 Desember 2017 adalah tepat 30 tahun lulus SMP Negeri 10 Surakarta. Dan ada reuni kecil di lapangan Sekolah lama pagi itu. Setelah makan pagi, saya ajak si Sulung untuk ikut bereuni dengan teman-teman SMP.

Singkat cerita, sampai di SMP Negeri 10 sekitar jam 10.20, acara belum dimulai, maka yang sudah hadir mulai salam kangen. Dan sepintas saya merasa pulang rumah sekali lagi.

Sekitar 32-33 tahun yang lalu  (1983-84) saya masuk sekolah itu, itu tahun dimana keluarga di Kratonan di resmikan oleh alm. Pdt. Yahya Setiawan (GBIS Kepunton). Sekitar Satu tahun setelah itu tanggal 10 November 1985, kami sekeluarga dipermandikan air (Baptis).  Papi, Mami, 2 Kakak, dan saya.  Sebuah momentum penting perjalanan.

Sebab itu, saya mulai mengerti mengapa Tuhan bawa saya kembali ke SMP Negeri 10 di hari ultah ini. Tuhan ingin mengingatkan sebuah awal perjalanan. Sejak awal Tuhan sudah menyiapkan untuk sebuah panggilan. Bahkan sekolah mana yang yang dimasuki pun  dipilihkan Tuhan. Amazing God, isn’t He?

Kembali ke reuni, saya coba masuk kelas-kelas, aula, sampai akhirnya kekantor guru, dan took me by surprise, saya ketemu guru agama saya, bu Dewi. Guru yang tidak bisa dilupakan dengan mudah, karena dialah orang pertama yang menjadi korban kegelisahan Ilahi saya.

Ketika bu Dewi masuk pertama di SMP N 10, dia hanyalah seorang guru magang muda yang terlihat takut-takut dalam mengajar. Dan di kelas agama dialah, pertama kali saya berdebat keras dengan seorang guru.

Di umur 12-13 tahun ternyata saya sudah berdebat agama, dan ternyata bu Dewi ingat, bukan hanya 1 kali, tapi 2 kali kelas dihabiskan untuk “berapologetika” soal baptisan : dipercik atau diselam.

Yang sangat menarik bagi saya, ketika dia mengingat sesuatu yang saya tidak pernah ingat. Waktu itu dia mengajar lagu Amazing Grace, dan ternyata dia ingat ketika saya protes kecil dan mengatakan, “Kita adalah orang Indonesia, dan punya bahasa Indonesia, mengapa kita harus pakai bahasa Inggris”.  Saya terperangah diingatkan soal itu. Tuhan sudah menempatkan panggilan untuk Indonesia Baru itu sedini itu.  Merinding.

Terus berlanjut, bu Dewi mengatakan tidak pernah habis pikir mengapa ada orang Cina, pinter, dan kaya (keluarga waktu itu memang kaya, tapi itu dulu #senyumsendiri…..) mau masuk ke SMP Negeri 10 yang notabene ada mayoritas Jawa.

Kemudian saya berkata kepada bu Dewi, “bu, 30 tahun yang lalu Tuhan tempatkan saya di SMP Negeri 10 untuk mengajar saya mencintai bangsa ini”. Hanya ada saya dan anak saya yang wajahnya seperti putri Shanghai yang berdarah Tionghoa di acara itu.

30 tahun lalu hanya ada saya dan 1 teman saya lagi yang bukan Jawa. Saya masih ingat awal-awal selalu ada bully, dan ketakutan dalam hati kalau nanti terjadi apa-apa. Sebuah proses pembauran yang tidak terasa sedang terjadi, dan puji Tuhan, sekarang saya mengerti.

Saya mengerti bahwa saya orang Cina, yang lahir di Indonesia, Tuhan punya rencana untuk memberkati bangsa ini melalui hidup saya. Mungkin orang tidak mengerti, dan tertawa, tapi saya paham betul bahwa Tuhan tidak pernah salah.

Dalam reuni itu ada yang tahunya saya pendeta, ada yang mengenali saya sebagai pebisnis, ada yang mengenali sebagai pemain piano, ada yang mengenali sebagi aktivis sosmed, bahkan rata-rata mengenali bahwa keluarga kita pernah jualan batik. Dan saya maklum memang begitulah hidup saya. Campur sari.

Melihat teman-teman yang berjoget campur sari “Bojo Loro”, “Bojo Galak”, sampai “Ditinggal Pegat”, saya tertawa dan menikmati itu semua. Tuhan mengingatkan bahwa Dia mencintai Campur Sari, dan budaya ini untuk kemuliaaNya.  Saya pun harus memiliki hati yang sama.

Indonesa yang baru bukan hanya sebuah panggilan utopis. Puluhan tahun yang lalu Tuhan sudah siapkan untuk memiliki hati bagi bangsa ini. Dan dari SMP yang sama ternyata  ibu Iriana Jokowi (ibu Presiden RI sekarang) berasal.

Ternyata saya 1 alumni dengan ibu Iriana, apakah kebetulan? Saya tidak melihat itu kebetulan, Tuhan berbicara bahwa kalau dari SMP ini lahir ibu negara, mengapa Tuhan tidak bisa menempatkan seorang Yusuf bagi Indonesia Baru?

30 tahun perjalanan yang cukup panjang. Tidak semua maksudNya saya kenali di awal-awal perjalanan. Tapi dari musim ke musim Tuhan membuka rencanaNya, dan semakin menua serta memutih rambut ini, saya bersyukur tidak habis.  PanggilanNya tidak pernah salah.

Menghidupi panggilan bagaikan menyusun novel dari bab pertama sampai selesai. Setiap bab adalah perjalanan, dan dinamika cerita itu adalah sebuah perjuangan.  Dan saya merasa bahwa perjalanan dan perjuangan saya masih cukup panjang untuk menghidupi kitab kehidupan yang ditulis Tuhan sejak saya dalam kandungan ibu.

60 menit tidak terasa saya menuangkan isi hati, menyiapkan musim yang baru, dengan semangat yang baru, menuju Indonesia Baru, panggilan yang dimulai dari sebuah sekolah bernama SMP Negeri 10 Surakarta.

Nama Saya, bukan Hanny Setiawan tapi Yusuf Hanny Setiawan. Itulah panggilan yang harus saya jalani dan perjuangkan.  Terima kasih Tuhan untuk perjalanan hari ulang tahun yang penuh berkat.

Saya akan selesaikan perjuangan ini sampai Indonesia menjadi RUMAH, sehingga anak-anak bangsa mau PULANG RUMAH.  Homecoming.

Lalu aku berkata: “Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku; aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku (Maz 40:8-9)

Hanny Setiawan
Alumni SMP Negeri 10, Surakarta
Angkatan 1987
Kelas 1A, 2A, dan 3A