Mengukur Dampak “Tamparan” Ananda Sukarlan

Jagad sosmed Indonesia kembali bergetar, dan menggeliat. Setelah Pilkada DKI 2017 yang memang mengecewan begitu banyak pihak, tak henti-hentinya Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih menuai berita tak baik. Kali ini, pianis terkemuka Ananda Sukarlan yang menampar muka sang Gubernur demikan telak.

Maestro piano Indonesia yang sudah sangat teruji keIndonesiaannya, melakan Walk Out ketika Gubernur terpilih sedang berpidato.  Bahkan mengkritik secara langsung panita mengapa harus mengundang Gubernur yang secara tidak elok memenangkan Pilkada.  Sangar tenan, bukan? (baca)

Para penulis dan pemerhati isu terkini sosmed seperti Denny Siregar, Eko Kunthadi , Pepih Nugraha dengan gesit menayangkan interpretasi dan opini mereka akan kejadian yang sangat “bersejarah ini”.

Denny dalam tulisannya Perlawanan Ananda Sukarlan pada dasarnya melihat bahwa improvisasi Sang Maestro di acara 90th berdirinya Kolose Kanisus bisa dimaklumi karena masalah hati nurani. Pendukung keras Kebhinekaan ini jelas 100% mendukung Ananda.

Eko lebih lugas lagi bahkan mengajak netizen untuk menjadikan tamparan Ananda ini menjadi sebuah momentum untuk sebuah pergerakan (baca). Pergerakan melawan politisasi agama, dan cara-cara yang tidak benar dalam meraih posisi.

Ajakan Eko ini jelas sangat menarik dikaji. 42% dari penduduk Jakarta (mungkin lebih) masih terluka dan bukan tidak mungkin akan terbakar dengan ajakan ini.  Artinya, Walk Out – Walk Out terhadap pidato DKI1 dan DKI2 akan lebih sering lagi terdengar.  Ngeri juga.

Pepih, dari sudut lain, melihat bahayanya penolakan terhadap gubernur terpilih ini bisa jadi berbau “inkonsistusional” karena sang Gubernur datang melalui undangan resmi bukan penyusup (baca).

Tapi disisi yang lain, dia melihat secara moral tidak bisa dipungkiri luka Pilkada masih mengaga, dan satu-satunya cara bukti kerja DKI1 dan DKI2 harus lebih baik dari Ahok – Djarot, atau Jokowi – Ahok.  Itu yang masih diragukan.

42% adalah sekitar 4 juta penduduk Jakarta, ditambah pendukung Ahok – Djarot dalam dan luar negeri yang kemungkinan bahkan lebih besar jelas bukan hal yang remeh untuk tidak dianggap.

Harapan sang juara untuk merangkul pun sudah pupus dengan pidato pribumi yang seakan-akan memanggil semua sel-sel tidur yang selama jaman reformasi tiarap.

Sebuah “panggilan terselubung” yang sangat meyakitkan hati para pendukung NKRI sejati.  Sudah begitu jauhkan kesesatan itu terjadi, atau memang agenda sesungguhnya baru terlihat sekarang?

Apapaun itu, tamparan Ananda Sukarlan adalah indeed momentum yang baik untuk mengingatkan semua pihak, terutama yang bernafsu jadi pejabat publik dan berlomba di Pilkada 2018.  Mengingatkan bahwa jaman now adalah jaman digital, dimana jejak-jejak digital itu sangat transparan.

Kita bisa berdalih apapun, tapi pada akhirnya rekam jejak kita yang akan menyatakan siapa kita yang sebenarnya. Dan sang Pianis seakan-akan hanya memberikan “Cue” kepada sang Gubernur untuk bertobat.  Mungkin dia tidak begitu mengerti musik. ETA terangkanlah.

Atau mungkin eforia naik jabatan masih belum selesai, sehingga responnya pun tidak pas lagi.  Karena dia menganggap tamparan Ananda sebagai angin lalu, dan berkata

“Bagian kami adalah menyapa semua, mengayomi semua. Jadi itu tanggung jawab saya sebagai gubernur. Jadi saya akan menyapa semua mengayomi semua kalau kemudian ada reaksi negatif, ya itu bonus aja buat saya. Nggak ada sesuatu yang, biasa aja. Rileks” (baca)

Terlihat tidak ada penyesalan sama sekali dengan Pilkada DKI 2017 dan isu yang sesungguhnya yang sedang terjadi. Itu yang sangat disayangkan. Point of No Return, aliran SARA ini terlihat tidak akan dihentikan dan akan terus digunakan untuk tetap menjaga kekuasaan.  Asem tenan!

Benar atau tidak tindakan Ananda, akan bisa dibaca dari banyak sisi, esensi, dan hati nurani. Saya memilih untuk melihat tindakan Ananda adalah ejakulasi kemarahan yang terpendam, dan mewakili ribuan bunga, balon, dan lilin karena begitu laknat dan pekatnya Pilkada DKI 2017.  Anggap saja Ananda sedang berimprovisasi setelah sekian lama hidup dalam musik klasik. Ayo nge-jamz mas 🙂 I love your groove !

Pendekar Solo

Bagaimana Perasaan Ahok Hari Ini?

Hari ini 16 Oktober 2017, Anies – Sandi resmi menjadi Gubernur dan Wakil DKI 2017 – 2022.  Dunia sosmed pun bermunculan opini kanan dan kiri seperti biasa. Proses pahit Pilkada DKI 2017 masih menyisakan luka-luka yang entah kapan bisa sembuh.

Entah dimana Jokowi berpihak, yang jelas sebagai dia tidak mungkin lari dari pelantikan Anies – Sandi. Tahun politik 2019 sudah begitu dekat, Jokowi pun manusia politik yang berhitung untung dan ruginya.  Suara relawan Ahok yang sangat dini menyuarakan mendukung Jokowi terasa sebuah narasi yang sedang dimainkan.

Narasi – narasi tandingan dari pihak Anies – Sandi yang memang lihai dalam membuat framing-framing politis terlihat sedang menyusun cerita baru. Melihat rekam jejak Anies dan timnya, Uno dan gerombolannya, mereka tidak akan kesulitan “membuat bungkusan” menjadi indah, untuk membuat cerita yang indah tentang “Jakarta tanpa Ahok lebih baik.”

Jangan heran juga, kalau berbondong-bodong Prabowo, Setyo Novanto, AHY, Fahri, dan segolongannya muncul dalam pelantikan Anies – Sandi, mereka semua memiliki kepentingan ikut kereta yang sedang berjalan. Sebuah pemandangan yang menggetarkan bagi para relawan Indonesia Baru. Bagaimana nasib Indonesia Baru?

Djarot yang “menolak” untuk hadir bagaikan sebuah oase ditengah pesta kemenangan “tak halal” yang sedang terjadi. Atau mungkin dia hanya lelah melihat semua kemunafikan yang terjadi. Entahlah.

Yang terpikir bagiku cuma satu pertanyaan, “Bagaiman Perasaan Ahok Hari Ini?” Sebuah pertanyaan yang hanya Ahok sendiri yang bisa menjawab selugas-lugasnya.  Meskipun demikan, melihat konstruksi berfikir Ahok, dan pola psikologi dia selama ini, maka kegeraman itu akan tetap ada didalam hati.

Ahok adalah manusia biasa yang memiliki defense mechanism ketika ada pihak lain yang menyerang. Geram melihat ketidakadilan, dan ketidakberdayaan melawan gelombong pengeroyokan politik yang bagaikan begundal-begundal anak sekolah yang menyerang si mata sipit dilorong kampung sebelah rumah.

Tapi Ahok adalah sebuah ciptaan yang baru, yang lama berlalu dan yang baru sudah terbit. Ketika dagingnya dipenuhi dengan kegeraman, ada suara lembut yang memanggil dia, “Ahok, Ahok dimanakah engkau?”

Panggilan itulah yang membuat dia berani mengatakan “Pemahaman Nenek Loe!” demi perang suci melawan korupsi.

Panggilan itu juga yang membuat dia menjadi “binatang yang berbeda” di hutan politik Indonesia.

Panggilan itu jugalah yang akan menenangkan sebuah badai, dan kemustahilan pun menjadi mujizat yang biasa.

Semua orang boleh membuat cerita, narasi, dan frame politiknya, tapi pada akhirnya History adalah His Story – Cerita Nya.  Itulah yang akan membuat Ahok tersenyum, dan bisa berkata, “Setelah aku ingat apa yang mereka lakukan kepadaMu, apa yang mereka lakukan kepadaku tidaklah seberapa“.  Itulah yang disebut percaya.

Be strong my bother. God is with you. 

Pendekar Solo

Politisasi Rohingya Memperlihatkan Pertarungan Sebenarnya

Setelah terbongkarnya kasus Saracen yang telah menjadi “skandal nasional”, lawan politik Jokowi terus mencari celah untuk menghantam Jokowi.  Hadirnya isu Rohingya seakan-akan menjadi jalan orgasme kebencian kelompok anti Jokowi.

Tidak main-main Fadli Zon, Fahri Hamza, Tifatul Sembiring, sampai FPI semua menekan pemerintah, bahkan candi Borobudur pun hendak didemo. Entah kegilaan politik apa lagi yang sedang di rencanakan mereka ini. Mendemo Candi? Come on man.

Meremehkan narasi “Jokowi anti Islam” seperti sudah terlihat dengan jelas sejak Jokowi – Ahok muncul di Jakarta Baru 2012 bukanlah hal yang tepat. Narasi ini telah mampu menjungkalkan, dan membui Ahok dengan memaksa Jokowi melepaskan benteng politiknya. Artinya, narasi ini akan terus dipakai sampai 2019.

Pilihan menggunakan narasi SARA ini adalah pilihan yang tidak bisa dielakkan. Karena pilihan lain seperti “Jokowi tidak mampu”, “Jokowi PKI”, sampai “Jokowi keturunan Cina” ternyata tidak begitu efektif menyalakan sumbu – sumbu pendek.

Tapi kalau sudah sentimen SARA, narasi menjadi liar, ganas, amoral, tapi sangat efektif.  Bagi politikus, godaan menjala pemilih subyektif agama tidak bisa dilepaskan dengan mudah. Sebab itu agama mayoritas akan menjadi sasaran pertempuran para politikus untuk meraup suara.

Kita bisa mengatakan tidak nalar, tidak obyektif, tidak manusiawi, sampai bejar tak bermoral, tapi apakah mereka peduli? TIDAK, dengan huruf besar dan tanda seru yang banyak !!!!!!  Mereka hanya perlu menang dan mendapatkan posisi yang diinginkan. Politikus bro, bukan negarawan. What more can we expect?

Pertarungan sebenarnya Jokowi di 2019, dan bangsa ini secara gambar besar terletak ditangan para pemilih subyektif agamis, selama mereka masih bisa “dibodohi” maka sekuat apapun Jokowi, Ahok, atau siapapun yang melawan arus kebodohan politik SARA ini akan kelibas.

Pendekatan Jokowi dengan Kaos dan Sepeda, yang menjadi puisi  sindiran tidak lucu  Fadli Zon, justru memperlihatkan betapa Jokowi mampu melihat pertempuran yang sebenarnya. Yaitu, pertempuran hati.

Rakyat memilihi Jokowi bukan karena dia gagah perkara dalam diplomasi dan politik, ataupun berhasil di kabinet kerja, ataupun karena infrastruktur yang terbukti benar-benar dibangun. Semuanya itu hanyalah bukti fisik yang bisa diperdebatkan para politikus bermulut nyinyir.

Yang benar-benar membuat rakyat memilih Jokowi, dan terlihat yang pro Jokowi semakin menguat sejak 2014 adalah Jokowi mampu memenangkan hati rakyat. Rakyat jatuh cinta kepada sosok Jokowi sebagai harapan dan pembaharu.

Narasi apapun akan mampu dipatahkan Jokowi, apabila dia tetap dalam track hubungan yang tanpa kepalsuan dengan rakyatnya.

Alias kata, semakin lawan politik Jokowi “neko-neko”(macam-macam, jw), semakin rakyat akan muak dan mengatakan go to hell untuk politisi lintah yang tega menggunakan tragedi kemanusiaan Rohingya untuk kepentingan politik.

Pendekar Solo

Pelajaran Sebuah Kapsul Kosong

Ketika kita percaya, maka kita diciptakan kembali, sebab itu disebut ciptaan baru (II Kor 5:17). Kekuatan dari “percaya” tidak bisa dipungkiri lagi. Bahkan dalam dunia kesehatan ada yang disebut efek placebo, dimana kapsul kosong bisa lebih berhasil dari kapsul yang berisi, semua karena percaya.

Martin Luther pun mengingatkan kembali kepada Ekklesia, GerejaNya, untuk kembali kepada simple credo, “percaya saja” dengan mengingatkan bahwa orang benar hidup dari iman (Rom 1:16-17). Artinya, bukan karena perbuatan manusia tapi perbuatan Tuhan.

Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat  (II Kor. 5:7)

Kebenaran-kebenaran Firman Tuhan yang demikan berkuasa menjadi tidak efektif dalam kehidupan sehari-hari orang beriman karena kita tidak trust lagi dengan semuanya.

Pertempuran awal yang menggoyahkan sebuah kepercayaan, dimulai dengan serangan  doubt  atau ragu-ragu.

Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? (Luk 24:38).

Dari keraguan, akan muncul ketidakpedulian (ignorance), yang akhirnya membawa kepada ketidakpercayaan (unbelief). Lebih hebatnya, apabila diteruskan ketidakpercayaan akan membawa kepada kebencian (hate) terhadap orang yang percaya.

Percaya atau trust tidak memiliki level atau tingkatan. Either kita percaya, atau tidak. 99% percaya adalah sebuah keraguan. Dan kita mengerti percaya yang 100% itulah yang membuat kebenaran menjadi hidup (rhema).

Implikasinya, pertempuran antara keinginan daging dan roh (Rom 8:5) sebenarnya adalah pertempuran antara percaya atau tidak. Dan pertempuran itu ada di pikiran dan perasaan kita. Karena kita melihat dengan mata jasmani, merasakan yang terjadi, sehingga untuk percaya menjadi terasa sulit.

Kepercayaan membutuhkan asupan makanan.  Kita perlu banyak mendengar (Rom 10:17). Artinya, tidak mengkonsumsi ketidakbenaran, lebih fokus kepada kebenaran.

Ketika kita paham bahwa inti pertempuran adalah antara percaya atau tidak, kita tidak akan mudah membuka pintu ketidakbenaran, dan kebohongan didalam hidup kita. Ketika Hawa membuka pintu, maka yang terjadi akhirnya dia tidak lagi percaya FirmanNya, tapi justru percaya dusta si jahat.

Ef 4:27 menyatakan untuk kita tidak memberikan kesempatan kepada si jahat. Si bapak pendusta sekarang ini hanya memiliki satu proyek, menyebarkan kebohongan sehingga orang percaya menjadi ragu-ragu, sampai akhirnya menjadi tidak percaya bahkan membenci kebenaran.

Akankah kemenangan salib tidak lebih meyakinkan daripada sebuah kapsul kosong? KorbanNya sempurna, rencanaNya yang terbaik, pertolonganNya tidak pernah terlambat. Apa yang membuat kita ragu? Percaya saja, pasti kita menang. Just believe.

Hanny Setiawan

Perjalanan Iman, Cinta, dan Panggilan

Waktu 10 tahun tak terasa telah berlalu. 26-27 Juli 2007, saya menikahi seorang gadis jelita bernama Yanty Yoyanto setelah hampir 35 tahun membujang. Sebuah penantian yang panjang dan tidak semua bujangan  “betah” untuk menunggu. Tapi itulah cerita 10 tahun lalu yang lalu.  Bagaimana dengan cerita yang sekarang?

10 tahun  berlalu, tidak ada complain apalagi regretyang bisa dikatakan. Pernikahan kami berjalan dengan baik, 2 putri diberikan Tuhan kepada kami , yaitu Tiffany Chisari Setiawan (9th) dan Giovanni Shekina Setiawan (2th). Semuanya berjalan dengan normal sesuai dengan apa yang dibayangkan waktu bujang. Lalu apa menariknya cerita kami?

Mungkin tidak ada menariknya, tapi ternyata “kenormalan” itu justru hal yang menarik untuk dibahas dan dibagikan. Mungkin tidak semua tertarik, tapi paling tidak bisa menjadi catatan kecil bagi yang membutuhkan.  Terutama, bagi yang tertarik untuk tetap hidup dalam panggilan, sekaligus tetap berjalan mengarungi bahtera samudera cinta.

****

Kurang lebih 32 tahun ikut Tuhan, berjalan dalam pergerakan rohani, terutama pelayanan muda-mudi, mendengar kata “menikah” adalah sebuah trauma tersendiri.  Sudah menjadi rahasia umum, setiap kali habis menikah maka tiba-tiba para aktivis pergerakan akan mundur teratur sampai pada akhirnya hilang.

Setelah itu, memilik anak, dan setelah anak-anak cukup dewasa maka orang-orang ini akan muncul lagi dipermukaan. Bahkan, kadang siklusnya lebih cepat lagi, belum menikah pun sudah “menghilang” karena alasan klasik, kerja.  Itulah “normalnya” pelayanan muda-mudi.

Inilah sebabnya, pergerakan kepemudaan dianggap sebelah mata dalam pelayanan gereja lokal.  Hubungan Gembala dan pengurus Youth yang tidak sinkron adalah salah satu bukti nyata bahwa pelayanan kepemudaan belum dianggap sebagai bagian utuh dari strategi pembangunan Tubuh Kristus.

Para Gembala/pemimpin/majelis/penatua/pembela sidang mengerti benar siklus umum diatas yang sayangnya dianggap sebagai sesuatu yang normal dalam gereja kebanyakan.

Disinilah saya memberanikan diri untuk membuka lebih banyak dengan catatan kecil ini, membuka rahasia sederhana bagaimana mengubah siklus hidup dari naik, turun, naik menjadi naik, naik, naik.

Dengan kata lain, perjalanan iman, sekaligus cinta selama 10 tahun terakhir yang saya anggap normal ternyata tidak normal. Saya menyadari bahwa ternyata hidup saya tidak normal dibanding kebanyakan orang banyak.

***

Kenormalan yang menjadi ketidaknormalan perjalanan biduk rumah tangga yang saya arungi terletak di terhubungnya antara pelayanan, pergerakan, kerja, dan kehidupan sehari-hari menjadi satu kesatuan.

Rupa-rupanya ini adalah kasih karunia yang Tuhan berikan dan saya hidupi sebagai panggilan. Sehingga puji Tuhan, tanpa disengaja saya menemukan rahasia bagaimana perjalanan iman kita tetap naik, tanpa harus mengalami turun, terutama dimasa hubungan, pernikahan, dan keluarga. Jadikan semua faktor didalam hidup kita menjadi satu misi, sebuah penyelarasan total!

Ketika pelayanan mengarah ke timur, pegerakan ke barat, pekerjaan ke utara, sementara keluarga ke selatan, maka bisa dibayang stress dan kegilaan yang terjadi.  Jadi memang intinya kita harus berani menyelaraskan hidup kita ke satu misi, tidak bisa banyak. Bahkan dua pun akan membuat pusing hidup kita.

Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya. (Yak 1:8)

Memilih pekerjaan, pasangan, bahkan pelayanan dan gereja lokal adalah kunci apakah kita akan tetap dalam misi Tuhan atau tidak. Panggilan pada dasarnya adalah posisi tetap kita dalam misi Ilahi pembangunan Tubuh Kristus, Ekklesia.

Artinya, panggilan tidak bisa berubah-rubah, yang bisa dirubah adalah seluruh faktor disekeliling hidup kita. Itulah yang disebut alignment atau penyelarasan.  Membutuhkan keteguhan iman untuk tetap teguh dalam posisi yang sudah disiapkan Tuhan bagi kita.

Posisi inilah yang secara legal akan memberikan kita otoritas rohani. Seperti posisi presiden, jendral, sampai lurah memperlihatkan otoritas yang mereka miliki. Lurah yang paling hebat dan berkuasa, dengan camat pun akan tunduk. Itulah kekuatan otoritas.

Pekerjaan, pelayanan, pernikahan, dan keluarga yang selaras akan membawa kita kepada posisi rohani yang solid dan membawa kepada level rohani yang Tuhan mau.

Puji syukur, saya merasakan itulah yang Tuhan sudah berikan selama 10 tahun ini.  Pasangan hidup dan keluarga yang membawa saya kepada otoritas rohani yang lebih tinggi.  What a blessing!

Tidak ada maksud untuk mengatakan keluarga saya yang terbaik dan paling rohani dimuka bumi, tapi paling tidak saya bisa bersaksi bahwa bukan hanya saya diberkati istri dan anak-anak cantik dan baik, tapi keberadaan mereka membawa saya lebih baik. Tidak turun tapi terus berapi-api melayani Tuhan.

Hanny Setiawan
A blessed husband and father.

Chester Bennington Gantung Diri, Apakah Bisa Disebut RIP?

Dunia kembali digoncangkan dengan kasus bunuh diri selebriti. Chester Bennington, vokalis band papan atas Linkin Park, ditemukan menggantung diri hari Kamis (20/7/2017) waktu setempat. Chester, diumur 41, dan disaat puncak kejayaan, ternyata tidak lagi memiliki sebuah alasan pun untuk hidup.

Bisa ditebak, para penggemar diseluruh dunia terkejut dan menyatakan berbela sungkawa. Kematian yang bukan hanya terlalu dini dari musisi yang sangat berbakat ini, tapi juga kematian yang mengganjal dihati kita semua. Gantung Diri!

RIP – Rest In Peace bertaburan dimana-mana di sosial media mulai Twitter, FB, IG, dan online blog.  Pernyataan yang sopan dan terlihat simpatik ini terasa mengusik hati.  Mengapa?

Karena puluhan juta penggemar Linkin Park yang rata-rata anak muda yang tidak mengerti bisa salah mengerti dan mengganggap gantung diri adalah salah satu cara untuk RIP. Ngeri kan?

Jauhkan dari sentimen agama dulu. Saya tidak sedang berusaha masuk ke debat soteriologi, apakah Chester masuk neraka atau surga, atau apa penyebab Chester nekat, atau bahkan sekedar memperdebatkan masalah obat-obatan yang dikonsumsi.

Tapi saya menyoroti dampak sosial dari dukungan yang terkesan “Socially Correct” terhadap jalan yang ditempuh seorang Chester Bennington dengan melabeli kematiananya, Rest In Peace.

Saya berani mengatakan digantung, baik oleh orang lain, atau menggantung diri sendiri itu tidak ada nyamannya sama sekali. Jadi 100% saya berani mengatakan Chester Bennington tidak Rest In Peace.

Kita hargai semua karya musiknya, kita hargai semua perbuatan dan amal baiknya selama hidup. Karena saya tidak kenal dia, maka saya tidak bisa mengatakan apapun soal itu. Tapi kita harus berani mengatakan vokalis terkenal ini mengambil jalan yang salah. Titik!

Tujuannya apa kita harus menyatakan ini? Ribuan dan jutaan anak muda siap untuk mengikuti jalan pintas dari pecandu obat ini. Dan ketika kita menjadi bagian dari pendukung “aliran kematian” ini, maka kita ikut bertanggung jawab dengan semakin maraknya kasus bunuh diri.

Perlu diingatkan, Chester mengikuti jalan sahabatnya yang juga menggantung diri, Chris Cornell sahabatnya.

Chester Bennington, pentolan band Linkin Park, memutuskan bunuh diri di hari ulang tahun sahabatnya, mendiang Chris Cornell, Kamis (20/7). Bagi Chester, Cornell –yang juga tewas gantung diri– adalah panutan dan inspirasi baginya bermusik. (Sumber)

Jangan pernah meremehkan kekuatan dari sebuah panutan. Bisa dibayangkan berapa banyak anak muda yang terjangkiti sucidial spirit  atau kecenderungan untuk bunuh diri dari seorang Chester?

Chester sudah meninggal, sebagai sesama manusia, kita ikut berduka untuk istri dan anak yang ditinggal. Tapi kita juga harus berani mengatakan jalan yang ditempuh tidak benar, dan lebih dari itu kita harus hentikan rantai kematian “mengikuti panutan” sampai disini.

Ini waktunya generasi ini mulai harus diajar dengan nilai-nilai yang benar dari budaya populer. Lagu-lagu yang penuh pesimisme kehidupan, sebagus apapun musiknya, adalah sampah bagi jiwa yang sehat.  Pilihlah panutan yang benar, bukan sekedar yang trend.

Jadikan kematian Chester Bennington, Christ Cornell, Tommy Page, Robin Williams, Ian Curtis, Nick Drake, Kurt Cobain, sampai Whitney Houston dan Elvis Presley sebagai sebuah peringatan bagi kita. Ini bukan sebuah peristiwa bunuh diri dari seorang selebriti saja, melainkan ini sebuah epidemi sosial masyarkat yang harus dihentikan.

Pendekar Solo

Doraemon, Jepangisasi Yang Tidak Terlihat

Siang-siang jalan-jalan bersama dengan keluarga di mall sebelah rumah. Di hall utama terlihat meriah sekali dengan begitu banyak anak-anak. Selidik punya selidik, ternyata ada acara meet and greet Doraemon, si kucing ndut dari Jepang.

Doraemon bukanlah tokoh kartun kucing satu-satunya. Masih ada Garfield, Tom, Felix, Sylvester, dan jangan lupa Hello Kitty. Tapi Doraemon dengan pintu kemana saja, dan baling-baling kayunya mampu menjadi salah satu tokoh kucing yang mendunia, terutama di Indonesia.

Sepintas “bertemu” dengan si Dora dan teman setianya Nobita di Mall yang terletak di Sukoharjo membuat saya tiba-tiba mendapatkan pencerahan tentang terjadinya Jepangisasi di Indonesia.

Bayangkan lagu-lagu dalam bahasa Jepang dengan fasih dinyanyikan anak-anak, bahkan mereka berteriak “aku sayang Doraemon”. Ini luar biasa, karena yang saya lihat tidak terjadi di Singapore, Kuala Lumpur, atau minimal Jakarta dan Surabaya. Semua di Sukoharjo!

Bagi yang belum tahu Sukoharjo, perlu mengerti kabupaten ini pernah “tercemar” dan bahkan masih dikenal sebagai kabupaten yang menjadi zona nyaman teroris. Bahkan pesantren Nruki yang terkenal juga ada di kabupaten ini.

Bukan Arabisasi, Amerikanisasi, atau Chinaisasi, apalagi Israelisasi, yang jelas didepan manta kita adalah Jepangisasi yang dengan aman, tidak pernah didemo, tidak pernah direweli, berjalan dengan sangat smooth dan merata.

Doraemon adalah figur budaya populer Jepang yang mampu memenetrasi ke anak-anak kita dan dibelakang si kucing ndut masih ada raksasa bisnis seperti Honda, Toyota, Yamaha, Suzuki, Toshiba sampai Roland.  Brand-brand yang merupakan nama-nama Jepang yang seakan berdiri tidak tersentuh.

Jepang yang terpuruk di perang dunia kedua mampu kembali dengan demikan kuat di panggung dunia karena mereka fokus dengan membangun masyrakatnya kepada nilai-nilai asli Jepang. Modernisasi yang terjadi di Jepang tidak pernah menghilangkan nasionalisme Jepang yang luar biasa.

Kamikaze dan harakiri dua budaya Jepang yang membuat dunia terbelalak melihat bagaimana WNJ (Warga Negara Jepang) memegang teguh nilai-nilai bushido (tata cara ksatria) yang berakar kepada hormat kepada dewa Matahari.

Martir (marturia), jihad, kamizase, harakiri  adalah nilai-nilai universal yang hampir sama artinya yaitu totalitas dalam menghidupi nilai-nilai.

Disaat pencerahan muncul, dan menengok ke berita yang sedang viral di medsos tentang tukang lapor ke polisi, dan bagaimana anggota dewan yang mulai menjadikan koruptor menjadi narasumber sebuah audit kebijakan, maka lemas dan geramlah hati ini.

Tidak heran dengan gampang Doraemon menghancurkan Unyil, Nina Sahabatku, apalagi si Komo, karena memang tidak ada nilai-nilai lagi yang sedang dipertontonkan di panggung nasional.  Rakyat dan anak-anak tidak lagi paham arti menjadi Indonesia.

Intinya, anak-anak kita butuh CONTOH, bukan sekedar merombak kebijakan pendidikan.  Anak-anak kita butuh TELADAN, bukan sekedar foto-foto pencitraan yang membuat muak dan mual-mual.

Pendekar Solo

Pelayanan Apostolik Dan Kekristenan Egosentris

Kecenderungan manusia yang berpusatkan kepada diri sendiri alias egosentris telah mempengaruhi bentuk kekristenan yang egosentris juga. Bukan hanya egosentris soal jasmani, tapi secara rohani pun kristen telah menjadi agama barat yang kapitalis dan egosentris.  Berbeda sekali dengan kekristenan otentik yang berakar kepada pelayanan apostolik.

Pelayanan apostolik yang dipulihkan Tuhan dalam 50 tahun terakhir adalah model pelayanan Alkitabiah yang didesain  untuk membawa ekklesia atau tubuh kristrus atau gereja universal menuju kesempurnaannya.

Pelayanan apostolik secara natural bukanlah pelayanan yang one man show, tapi pelayanan yang saling melengkapi dan bergantung.  Rasul, Nabi, Penginjil, Gembala, dan Guru dikenal sebagai pelayanan lima jawatan (five fold ministry) yang adalah perpanjangan tangan dari Kristus sebagai kepala (Ef 4:11-16).

Lima jawatan ini dipimpin oleh rasul sebagai sebuah keluarga, sekaligus pasukan, dan bagian dari pemerintahan kerajaan yang dipimpin Yesus Kristus sendiri sebagai Raja yang duduk bertahta disebelah kanan Allah Bapa.

Code Archer dari Revive Israel menyatakan dengan jelas pelayanan lima jawatan ini sebagai berikut:

The worldwide church is supposed to be led by apostles, who work with skilled team members of prophets, evangelists, pastors and teachers. Together, they raise up many “colonies” (ekklesia – congregations), all of which have the same mission– to make earth like heaven! The apostle’s job description includes keeping his team unified and focused on the mission for which they were sent, without compromising the King’s commands and desires. (Sumber)

Rasul (apostle)  sebagai leader dari pelayanan lima jawatan berfungsi sebagai jendral lapangan yang memegang otoritas sebagai wakil dari sang Raja sendiri. Sebab itu pelayanan lima jawatan disebut juga sebagai pelayanan apostolik.

Pelayanan apostolik ini selalu melayani dalam konteks ekklesia atau tubuh Kristus tidak dalam konteks untuk pribadi. Panggilan Tuhan selalu pribadi tapi selalu untuk kepentingan tubuh Kristus. Jadi, kekristenan seharusnya tidak pernah bersifat egosentris, tapi Kristosentris.

Tanpa pelayanan apostolik, kekristenan pasti akan egosentris, minimal akan menjadi “grup-centris”.  Artinya, hanya berpusat kepada kelompok sendiri dan melupakan yang lebih besar, ekklesia.

Pemulihan dan pembangunan Ekklesia adalah manifestasi nyata dari doa Kristus di Yoh 17 untuk menjadikan kita semua satu. Ekklesia dibangun dari batu-batu hidup  (I Pet 2:5) menjadi sebuah rumah yang hidup rohani bagi semua orang percaya. Bukan batunya yang penting, tapi rumah rohani itulah yang menjadi tujuan akhir.

Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani (I Pet 2:5a)

Benar kita dipanggil, diproses, bahkan harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita secara pribadi. Tetapi Tuhan tidak pernah mendesain kita hidup untuk diri sendiri, dan semua yang menyenangkan Tuhan dibumi ini adalah untuk kepentingan Ekklesia, tubuh Kristus.

Hanny Setiawan

Bekerja Dalam Dimensi Kerajaan

Bekerja, baik wirausaha atau profesional, memiliki tujuan akhir adalah mendapatkan uang. Apabila tidak bermotivasi untuk mendapatkan uang maka disebut sukarelawan atau volunteer. Karena mendapatkan uang menjadi tujuan akhir maka lahirkan filosofi by all means yang artinya dengan berbagai cara asalkan untung.

Filosofi inilah yang sering dipakai para motivator sukses untuk mendorong karyawan, profesional, investor, sampai kepada pemilik untuk membangun bisnis yang sukses.

Asalkan tidak melanggar hukum, atau bahkan kadang menelikung hukum pun , orang bisa berani asalkan tidak ketahuan demi mendapatkan uang.  Filosofi modern inilah yang sekarang menguasai dunia usaha (marketplace) sehingga lahirlah kapitalisme ektstrem yang mementingkan uang daripada orangnya. Filosofi hidup sukses!

Lalu bagaimana pengikut Kristus seharusnya beroperasi di dunia usaha? Apakah kita tidak diperbolehkan untuk mencari uang? Apakah bisnis kerajaan harus semua sukarela?

Tentunya tidak seperti itu, bisnis tetap harus untung, tapi ternyata sejak awal pelayananNya Yesus sendiri sudah menyatakan secara prinsip bagaimana seharusnya bisnis dalam dimensi Kerajaan.

Yang pertama, dengan jelas Yesus menyatakan “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi (Mat 6:19a)”, dan Dia mengingatkan bahwa dimana harta kita berada disitu hati kita berada (Mat 6:21).

Disini, Yesus membuka rahasia kehidupan kelimpahan Salomo (Amsal 4:23) yaitu hati kita sangat bergantung dengan “harta”. Protokol hati ini mengharuskan kita memilih harta apa yang akan selaras dengan hati. Dan langkah awal adalah menyelaraskan hati kita dengan harta surgawi.

Yang kedua, mamon dianggap sebagai perwujudan dari semua kejahatan, sehingga tantangan utama adalah memilih antara Tuhan dan mamon.

Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. (Mat 6:24)
Intinya adalah kepada siapa kita akan mengabdi dan menyelaraskan diri dan bisnis kita itu yang terpenting.

Yang ketiga, “semua” adalah produk sampingan bukan produk utama. Artinya, uang bukanlah tujuan utama tapi hasil sampingan dari sebuah proses lain. Proses itu adalah mencari Kerajaan dan KebenaranNya.

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Mat 6:33)

Proses mencari dahulu inilah yang seringkali kita lupa. Sehingga yang sering terjadi adalah kekuatiran dalam bisnis, dan kekuatiran itu menghasilkan ketakutan terhadap manusia yang akhirnya mendatangkan jerat (Amsal 29:25)

Dalam dimensi Kerajaan, bekeja yang diberkati adalah bekerja yang membawa hati kita semakin selaras dengan harta surgawi, penuh pengabdian sebagai hamba kepada Tuhan, dan menjadi pencari pribadiNya (truthseeker). Inilah filosofi hidup benar!

Hanny Setiawan
Hidup Benar Lebih Baik Daripada Hidup Sukses

Saya Bukan Minoritas

Koq bisa, kamu kan Cina, sipit kuning, Kristen lagi. Itu kan jumlahnya ga banyak di Indonesia jadi sah dong disebut minoritas. Begitu katanya mereka.

Saya bilang tapi saya pemakan nasi putih. Pemakan nasi putih di Indonesia itu mayoritas kan, lebih banyak dari pemakan sagu, apalagi pemakan manusia alias kanibal. Sah dong saya bilang saya termasuk mayoritas dibidang pemakan nasi

Maksud saya gini poro sederek. Kita selalu bisa diposisi mayoritas atau minoritas tergantung dari sisi mana kita melihat. Sebab itu di negara hukum TIDAK ADA istilah mayoritas dan minoritas. Seharusnya!

Disitulah letak perbedaan pandangan antara orang sektarian dan nasionalis. Jadi, kalau masih memiliki pandangan aku mayoritas kamu minoritas, atau sebaliknya lebih baik jangan bilang nasionalis. Gitu aja sih.

Pendekar Solo